Sebatas Angan

Sebatas Angan
Hadiah yang tak terduga


__ADS_3

Sampai di rumah keluarga Toni, aku disambut dengan hangat oleh mereka.


Nadia mengajakku masuk.


"Ayo, kak." ucapnya manja.


"Yu, selamat datang di keluarga kami. Walau kita baru sekali bertemu, tapi mama yakin, kamu anak baik."


Makan malampun berjalan normal. Selayaknya rumah itu kedatangan anggota keluarga baru, yaitu aku.


Setelah makan, kami duduk di ruang keluarga.


Nadia mengeluarkan album foto. Ia menunjukkan sebuah foto jaman mereka masih kecil.


"Loh, jadi, kalian 3 saudara ya?" tanyaku.


Nadia dan Toni langsung saling pandang.


"Ah.. iya.. Kami 3 saudara" ucap Toni yang tiba-tiba menjadi salah tingkah.


"Kemana Abang?"


"Abang sudah meninggal 2 tahun yang lalu" ucap Nadia sedih


"Sakit?"


"Gak, kak. Abang kecelakaan"


Aku terkejut. Nadia menangis.


"Nadia sayang sama Abang"


Aku hanya bisa memeluknya.

__ADS_1


"Sudah dong, Nadia kan sekarang punya kakak. Jangan sedih lagi, ya" aku menghapus air mata yang mengalir di pipi Nadia.


"Mana foto Abang yang sudah besarnya, nad?"


"Semua disimpan papa"


"Kenapa papa?"


"Sejak kepergian Abang, papa jadi murung, dan papa sakit, sejak Abang meninggal"


Aku melihat papa yang hanya diam di kursi rodanya. Aku menghampirinya.


"Pa.. Ayu janji akan menjaga papa"


Sorot mata tajamnya melihat ke arahku. Seketika aku merasa kebencian dalam dirinya.


Toni meraih tanganku,


"Ayo, kita pulang" ajaknya.


Ketika Nadia bangun, sebuah foto jatuh.


Aku segera mengambilnya, dan hendak menyerahkan kembali ke tangan Nadia. Tapi, aku merasa tidak asing dengan wajah yang diapit oleh Toni dan Nadia.


Mataku seketika mengeluarkan cairan.


Aku melihat Toni,


"Ini... ini.. Apa ini? Siapa ini di keluarga ini?"


Toni melepaskan foto itu dari tanganku.


"Ada apa sebenarnya? Jelaskan semua, Ton"

__ADS_1


Toni masih menggenggam tanganku.


"Kita pulang dulu, nanti kita bicarakan di rumah. Ma, kami pamit"


"Maafkan kami, nak" ucap mama yang makin membuat aku bingung.


Toni membawaku kembali ke rumahnya.


Di rumah itu, juga sudah dihias sedemikian rupa. Tapi aku rasa hambar. Teka teki itu belum terungkap.


Aku duduk di ruang tamu.


"Ayo, kamu harus istirahat"


"Tidak. Aku mau penjelasan dulu."


Di sofa yang aku tau harganya mahal, aku menanti jawaban dari Toni, Ia ke kamar untuk mengganti pakaiannya. Dan aku masih tetap terdiam membisu.


"Aku punya hadiah, untukmu." Toni menyerahkan kotak perhiasan.


Tapi aku meletakkan kembali ke meja.


"Aku tidak butuh hadiah ini, yang aku butuhkan kejelasan dari semua ini. Ada apa ini? Apa yang kalian rahasiakan dari aku?"


"Baiklah," Toni duduk di sampingku.


"Apa kamu sudah siap mendengar ceritaku?" tanyanya lagi.


Aku mengangguk.


"Ya, abangku adalah orang yang sangat kamu kenal. Abang Roni, adalah abangku. Abang adalah sosok yang sangat mandiri, hingga ketika Abang diminta untuk memegang perusahaan papa, dia menolak, dan malah bekerja di perusahaan lain. Ia ingin membuktikan kalau dia mampu hidup tanpa bantuan papa. Hingga terjadilah pertengkaran hebat, yang membuat papa mengusirnya dari sini. Kamu lihat cluster ini? Perumahan ini tidak banyak dibuat. Karena papa ingin sekali tetap bersama anak-anaknya, walau tidak dalam 1 rumah. Dan rumah ini, sebenarnya sudah disiapkan untuk bang Romi. Sekarang kamu sudah berada di rumah almarhum."


Aku mendengarkan dengan seksama cerita Toni.

__ADS_1


"Kamu tau, papa sudah mengetahui hubungan kalian, dan papa melarang untuk kalian berhubungan lagi. Tapi bang Romi dengan tegas mengatakan, kalau dia sangat mencintai kamu"


__ADS_2