
"Lepaskan aku. Atau aku akan membencimu" ucapku sambil mendorong tubuhnya yang sudah hampir menindihku di atas sofa.
Toni melepaskanku pergi, dan masuk ke dalam kamar.
"Yu, buka Yu. Maaf yu.." dia terus mengetuk pintu
Terserah, aku hanya kecewa atas tindakannya.
"Yu, maaf yu. Aku tidak bermaksud seperti itu. Baik, yu. Aku akan mengikuti kemuanmu. Keluar Yu." ucapnya terus mengetuk pintu.
Aku merapikan baju yang ada, dan keluar dari kamar itu dengan membawa beberapa baju.
"Yu, Yu.." ia menahan tanganku.
"Yu, mau kemana?"
"Aku akan kembali ke kosanku." ucapku melepas tangan yang menahanku pergi.
"Oke. Oke.. Oke.. Aku akan mengikuti kemauanmu. Tapi tidak pergi dari sini."
pinta Toni.
"Maafkan aku, Yu. Aku tidak bermaksud demikian. Baiklah. Kita akan menjalani hari seperti biasa. Tapi, jangan memainkan sumpah yang aku keluarkan saat menikahimu"
"Menikahiku? Aku rasa pernikahan ini palsu. Dan tidak sebenarnya."
"Ayu!!" teriaknya
"Kali ini aku harus keras padamu. Apa kamu kira pernikahan hanya dibuat untuk mainan? Ini pertanggung jawabannya aku dan Allah. Kamu harus ingat itu! Suka atau tidak suka!" ucapnya masuk ke dalam kamar.
Aku harus bagaimana.
Akhirnya aku masuk ke dalam kamar sebelah yang tidak sebesar kamar utama.
Ku rebahkan tubuhku di atas tempat tidur itu.
"Sampai kapan aku harus bertahan?" ucapnya.
__ADS_1
Aku berbaring dan tidur sejenak.
Dan saat aku bangun, Toni sudah berada di sampingku.
"Maafkan aku" ucapnya.
"Kita mulai dari awal ya." pintanya.
"Aku akan coba meyakinkanmu"
Aku harus apa?
Tapi aku melihat ketulusan dari mata berwarna cokelat itu dari dekat.
Aku mendorong mukanya dengan tanganku.
"Sana.." tapi tanganku diambilnya dan ia mencium punggung tanganku.
Aku terdiam. Kemudian menyadarinya, dan melepasnya.
"Kamu tidak kerja lagi?" tanyaku.
"Aku sudah sehat, kok. Sana pergi." usirku.
"Sudah sehat? Ayo ikut aku. Ganti pakaianmu." pintanya serat menutup pintu kamar itu, dan tak lama dia membukanya lagi. Aku tunggu. 10 menit dari sekarang." suara itu seperti sedang di dalam kantor.
Aku menarik nafas, dan menggeleng kepala.
Aku keluar kamar dengan hanya memakai celana panjang, kaos oblong, dan topi. Ya, Topi, aku tidak akan melupakan topiku.
Toni yang melihatku, hanya tersenyum.
"ayo" ia menarik tanganku menuju mobilnya.
"Mau kemana kita?" tanyaku.
Tapi dia diam.
__ADS_1
Mobil itu berhenti di sebuah lapangan baseball.
"Ayo turun" ucapnya, membuka pintuku.
Aku bingung, tidak ada orang di sana. Hanya lampu yang menerangi lapangan itu.
"Kamu tunggu di sini" pintanya, dan meletakkan barang bawannya di tanganku. Dompet dan Ponsel. Kemudian dia berlari keliling lapangan itu,
Aku hanya diam dan memainkan ponsel milikku, dan membalas chatting.
"Yu, kapan masuk. Aku gak ada teman berantem" Ina mengirimku sebuah pesan.
A : Aku ingin besok sudah ke kantor
I : Tapi kalau belum sehat, jangan dipaksa. Nanti sakit di kantor, aku yang sengsar.
A : Untuk apa ada kamu. 😂
I : Si bos pergi terus, sibuk banget sepertinya. Tadi siang, doi gak balik ke kantor.
Kalian beneran pacaran kan?
A : Memangnya kenapa?
I : Aku cemburu. 😂😂
A : Ambil aja, aku gak butuh.
I : Dikira rongsokan? Tapi sekarang dia berbeda ya. Dulu dia galak bener. Sekarang, udah gak galak seperti dulu. Apa karena dia udah kamu jampi-jampi ya?
Aku tertawa, membaca isi chatting itu.
"Sibuk sekali" ucap Toni.
Aku buru-buru menutup layar ponselku.
"Mana, aku mau lihat.. siapa itu."
__ADS_1
"Tidak.. lepaskan tanganku" teriakku, bagaimana kalau dia tau kami sedang menggosipkan dia. Bisa-bisa dia besar kepala. Aku bangun dan berlari menjauh darinya.
"Aku mau lihat" ucapnya mengejar ku di lapangan luas itu.