
Subuh sudah berkumandang.
Aku membuka mataku.
Dan aku melihat, dia sudah ada di sisi tempat tidur ini.
"Assalamualaikum" sapanya.
Aku tersenyum dan duduk.
"Kok udah bangun, kan lagi gak solat" sapanya ramah.
"Kok duduk di sini? Bukannya sholat?"
"Aku baru mau sholat, tapi aku mau melihatmu dulu"
Ucapan apa itu, jangan membuat perasaan aneh sepagi ini. Aku kembali berbaring dan menutup tubuhku dengan selimut tebal itu, karena hanya itu tempat untuk berlindung paling ampuh, sambil tersenyum malu.
Dia mengelus pundakku, dan berlalu dari sana.
Huft..
Sepi, ah, paling dia masih sholat, aku segera bangun dan menuju dapur.
Nasi goreng sudah selesai, teh juga sudah aku buat. Kenapa dia belum keluar dari kamar?
Ku intip pelan-pelan menuju arah kamar, dengan mengendap-endap.
Duh..
Kepalaku menabrak dada Toni.
"Maaf" ucapku
"Sakit?" ucapnya menyentuh kepalaku.
Aku menggeleng sambil memegang kepalaku.
"Kenapa jalannya begitu?" tanyanya sambil tersenyum
"Tidak, aku hanya mau melihat kamu aja, kenapa belum keluar juga. Sarapan kamu nanti dingin loh"
Kemudian dia merangkulku, dan menuju dapur.
"Terima kasih istri yang baik" ucapnya sambil mengecup kepalaku.
Di meja makan kami bercerita.
__ADS_1
"Sebelum sama bang Romi, pernah pacaran?" tanyanya.
Aku menggeleng.
"Jadi, bang Romi itu first love?"
Aku mengangguk
"Beruntung sekali bang Romi"
Aku tersenyum.
"Kamu? Pasti banyak ya pacarmu" tanyaku
Toni tersenyum.
"Secara, orang ganteng, berwibawa, punya pekerjaan yang baik. Siapa yang tidak suka sama kamu" lanjutku
"Kamu" jawabnya sambil terus makan.
Aku yang sedang minum teh, langsung tersedak.
Toni bangun dan menepuk pundakku.
"Pelan-pelan, baby"
Baby.. aku bukan bayi.
"Udah" ucapku
"Kamu ini, orang jawab jujur, malah tersedak. Deketin kamu itu susah. Kamu sinis, jutek. Karena kesetiaan kamu sama bang Romi. Tapi aku berharap, aku dapat kesetiaan dari kamu, setelah tau semua kejadiannya. Oke baby"
"I'm not a baby," ucapku kesal.
"But, you are my baby. Big baby" dia tertawa dan meletakkan gelasnya di atas piring yang sudah habis isinya.
"Aku yakin, aku bisa mendapatkan cintamu itu."
"PD sekali" ucapku sambil berlalu menuju dapur.
"Aku harus, karena aku tidak mau kamu lepas dariku" dia mengangkat tubuhku.
"Toni, lepasss" ucapku sambil berteriak.
Tapi dia tidak menghiraukanku. Dan dia meletakkan ku di atas sofa.
Dia menatapku dalam.
__ADS_1
Apa yang akan terjadi?
"Aku mencintaimu, Yu"
Kepalanya semakin dekat dengan kepalaku,
Aku terbawa suasana pagi yang diiringi dengan rintikan hujan.
Dia mengecup bibirku, Aku mendorong tubuhnya, tapi entah bagaimana caranya, bibir kami akhirnya sudah menyatu, saling berbalas, dan untuk pertama kalinya aku merasakan ciuman dan aku merasa ikhlas. Dan aku menikmati sensasi itu untuk saat itu. Ciuman yang walau dengan bang Romi pun belum pernah aku lakukan. Aku melingkarkan tanganku di lehernya, dan dia dengan cepat ******* bibir ini.
"Ton,.. " desahku saat dia mencium leherku,
dan..
"Ton, hentikan" ucapku pelan, tapi dia tidak mendengarkan dan terus ******* bibirku.
Ketegangan terjadi, tapi aku menghentikannya, aku mendorongnya.
"Aku masih pakai pembalut" ucapku
Toni tertawa,
si pemilik mata cokelat itu sudah mencuri keperawanan bibirku.
Aku menggigit bibirku.
Toni duduk di sampingku, sambil memelukku.
"Aah, akhirnya, aku menunggu sampai 1 bulan lebih, dan aku berhasil mendapatkanmu" ucapnya jahat.
Aku memukul tangannya.
Malu, hanya kata itu yang ada di kepalaku.
Tapi, ketika kejadian itu, aku merasa, jantungku ingin meledak. Tapi aku menikmatinya. Aku menepuk pipiku, yang panas. Apa ini?
**Terima kasih sudah membaca sampai di episode ini, jangan lupa like, komen, dan vote sebanyak-banyaknya ya.. Kalian terbaik๐๐๐
Jangan lupa untuk mampir ke novelku lainnya.
* Soulmate
*Status Palsu
* Cinta di atas kontrak
*Mengejar Cinta Rania
__ADS_1