Sebatas Angan

Sebatas Angan
Tidak Sengaja


__ADS_3

"Kamu, diam di sini!" perintahnya, kemudian dia mengambil sekop dan sapu.


Aku mencuci tanganku di kamar mandi dapur.


Setelah selesai ia membersihkan sisa beling dari piring itu, ia melihat ke arahku. Memeriksa tangan dan kakiku.


"Pecahannya tidak mengenaimu kan?" tanya Toni.


Aku menggeleng. Tapi aku melihat kakinya mengeluarkan darah.


"Kamu" ucapku mengambil tisue, dan mendorongnya ke atas sofa, tapi dia menarik tanganku, hingga saat ini, tubuhku berada di atas tubuhnya yang lebar dalam keadaan memeluknya.


"Aaahh... bilang saja kalau mau seperti ini"


ucapnya sambil meletakkan kedua tangannya di bawah kepalanya.


Aku tersadar. Dan melepaskan pelukanku yang tidak sengaja.


"Jangan pergi. Sebentar saja" ia buru-buru menarik tanganku lagi, dan memelukku kembali.


"Sebentar saja. Aku ingin merasakan cintamu, seperti kamu mencintai abangku"


Kami terhanyut dalam suasana.


Tapi, saat aku sadar, aku melepaskan pelukan itu.


"Ini, bersihkan sendiri lukamu" ucapku berlalu masuk ke dalam kamar dan menguncinya.


Aku menenggelamkan tubuhku di atas kasur dan menutup mukaku dengan selimut.


Pipiku panas.


Jantungku berdegup kencang.


Dan aku lagi-lagi tidak bisa berkata apa-apa.


"Aaahhh... apa secepat itu aku mulai mencintainya" aku menutup mataku. Dan entah kenapa aku tertidur dengan nyenyak.

__ADS_1


**


Azan subuh sudah berkumandang.


Aku segera bangun, dan melaksanakan kewajibanku sebagai seorang umat manusia kepada sang penciptanya.


Aku buru-buru memasak pesanan Toni.


Telur, bawang bombai, cabe, kornet, aku aduk bersamaan. Kalau cuma omelet, aku bisa.


"Kamu semalam tidak ganti baju?" suara itu mengagetkan aku.


Aku diam. Mataku jangan sampai melihatnya. Jantungku mulai berdegup kencang.


"Aku nanya loh" tiba-tiba dia sudah berada dekat di sampingku, dengan muka bantal, dan rambut yang acak-acakan.


Walau begitu, ketampanannya masih terpancar


"Gak, aku gak sempat. Aku langsung tidur"


"Oh, ya sudah. Aku mau masuk kamar. Mau mandi." ucapnya berlalu sambil mengelus rambutku.


Sial.


Ketauan, kalau aku tidak mandi semalam.


"Ton, sudah selesai belum?" ucapku di depan pintu kamar. Tapi tidak ada jawaban darinya.


Aku melirik ke dalam kamar, seorang lelaki sedang duduk di atas sajadahnya, sambil memegang Al-Qur'an.


Apa yang ia lakukan?


Mengaji di pagi hari?


Dia menutup Al Qur'an itu, dan memandang ke arahku.


"Kamu mau mandi? Baiklah, aku akan keluar."

__ADS_1


Sambil melipat sajadah itu, dan keluar dengan memakai kaos oblong dan sarung yang di pakainya.


Setelah mandi, aku keluar dari kamar dalam keadaan setengah siap berangkat kerja.


Tapi, dia masih duduk sambil nonton TV.


"Kenapa belum makan? Nanti keburu dingin omeletnya" Aku segera menuju meja makan.


"Kamu buat seporsi saja omeletnya?"


"Iya, kan kamu mau makan omelet" jawabku.


"Mana mungkin aku makan, sedang kamu tidak makan."


"Aku belum lapar" dalihku.


Toni mengambil nasi dan duduk di meja makan.


"Sini" pintanya untuk aku duduk di sebelahnya.


Ia menyendoki nasi dan memotong omelet.


"Buka mulutmu" pintanya


"Tapi, ini kan makanmu"


"Aku tidak akan makan kalau kamu tidak makan" ucapnya.


"Buka mulutmu" ucapnya lagi.


Aku membuka mulutku dan sendok yang sudah berisi nasi dan potongan omelet itu masuk ke dalam mulutku.


Akhirnya kami makan sepiring berdua.


Benih-benih itu, mampir ke jantungku seiring butiran nasi yang masuk ke dalam mulutku.


Aah. sudah, lupakan semua. Aku tidak mau mengasumsikan perasaanku saat ini.

__ADS_1


**Terima kasih, yang sudah berkenan mampir di novel ini, jangan lupa like, koment, dan voteny ya.. Aku tunggu 😍😍


__ADS_2