Sebatas Angan

Sebatas Angan
Mandiri


__ADS_3

Saatnya jam pulang kerja


Aku sudah berada di atas motorku.


"Ini, aku pinjamkan dulu, helm milikku. Nanti Senin balikin ya" ucap Arya.


"Oke deh" jawabku sambil memakai helm itu


Aku melajukan motor itu menuju rumah. Dan aku selamat sampai di sana. Sesuai perjanjian, Toni mengikutiku dari belakang.


"Biar aku yang masukkan ke garasi. Ini kunci rumah" Toni menyerahkan kunci rumah itu ke tanganku.


Aku membersihkan tubuhku, dan rebahan di depan televisi. Mataku sejak tadi ingin sekali terpejam. Mungkin kejadian subuh tadi, membuat aku mengantuk seharian ini.


"kamu kenapa?" tanya Toni khawatir.


"Aku ngantuk" jawabku menutup mata.


"Ya sudah, tidurlah dulu. Aku mau main ke rumah mama dulu. Siapa tau ada yang bisa dimakan" ucapnya berlalu dari pandanganku.


Bang Romi muncul kembali ke dalam mimpiku. Tapi, dia hanya tersenyum bahagia melihatku. Dia memegang tanganku, dan melihat cincin yang ada di jariku. Setelah itu, dia jalan meninggalkanku, sambil sesekali menoleh ke tempatku berdiri, dan hilang seketika.


"Bang.. Bang.. Bang.." aku berteriak memanggil namanya.


"Ayu.. bangun, Yu.."


Aku duduk.


Aku memimpikan lagi.


"Abang? lagi?" tanya Toni.


"Besok apakah aku bisa diajak ke pemakaman bang Romi?" ucapku sedih.

__ADS_1


Toni mengangguk.


"Kamu mau makan atau langsung tidur?"


"Aku tidur di sini saja" aku menepuk bantalku.


"Mana boleh, badanmu akan sakit"


"Aku takut sendirian. Biasanya ada Aca yang menemaniku"


"Kan ada aku. Aku akan menemanimu. Dan tidak akan terjadi apa-apa"


"Baiklah" ucapku ragu.


"Yakin, tidak ingin makan?" tanyanya lagi


Aku mengangguk dan masuk ke dalam kamar. Dan lagi, Toni membatasi dengan guling.


"Hm.."


"Apa papa marah padaku?"


"Tidak"


"Tapi aku takut. Papa selalu diam saat aku dekati"


"Yu.." panggilnya membalikkan badannya menghadap aku.


"Apa keinginanmu tentang kita?"


"Maksudmu?"


"Kita sudah hampir 1 bulan hidup bersama. Tapi aku belum pernah kamu minta sesuatu dariku"

__ADS_1


"Karena aku tidak pernah meminta kepada siapapun. Aku sudah terbiasa mandiri. Aku sudah terbiasa sendiri, dan aku harus mengurus diriku sendiri. Aku harus menjaga hatiku sendiri"


"Tapi, kamu sekarang kan tidak sendiri"


"Itu yang membuatku harus menyesuaikan diri. Tapi, aku takut tidak bisa sepenuhnya menyesuaikan diri dengan kehidupan yang baru"


"Kamu harus bisa. Aku akan anggap kita baru memulai hubungan. Aku anggap kita sekarang sedang pacaran, tapi halal. Kita akan menyesuaikan satu sama lain. Kita belajar sama-sama. Kamu mau?" tanyanya


"Aku akan mencoba. Tapi aku minta jangan paksa aku ya." ucapku menarik selimutku.


"Ton, apakah kamu tidak berniat untuk melegalkan pernikahan ini?"


"Maksudmu? Nikah secara negara? Ke KUA?"


"Sudahlah, tidak usah dibahas lagi. Kita tidur saja" ucapku memejamkan mata.


Aku merasakan Toni belum tidur, kegelisahan itu nampak dari gerakan berganti posisinya.


Hingga aku tidak tau lagi, mataku masih sangat lelah, dan tertidur.


"Yu.." panggilnya.


"Bagaimana kalau kita urus hari Senin. Kita izin dari kantor."


Mulutku tertutup, aku tidak memberikan jawaban apa-apa. Hanya suara itu masih saja terdengar di telingaku.


"Yu.." panggilnya lagi


"Apa kamu sudah tidur?"


"Hmm" aku hanya bisa menjawab dengan dehaman itu saja.


"Ya sudah, istirahatlah, besok kita bicarakan lagi ya." dia membenahi selimutku. Aku merasa nyaman, dan tanpa sadar, aku memeluk gulingku dengan hangat.

__ADS_1


__ADS_2