
Malam ini, Aca tidak bisa menemaniku. karena Aca harus mengunjungi keluarganya.
"Maaf ya Yu, mendadak banget pertemuannya. Orang tuaku juga menungguku di sana" ucap Aca melalui pesan singkat.
Sejak siang, setelah dokter visit, Aku hanya sendiri di ruangan sebesar ini. Hanya perawat yang bolak balik memeriksa keadaanku.
Kenapa malam ini aku kembali merasakan demam lagi. Padahal tadi siang sudah normal. Aah.. sendiri, tidak ada kerabat, jauh dari orang tua, membuat aku membutuhkan mereka saat itu. Mataku yang panas, ataukah perasaanku yang sedih, merasa sendiri, membuat aku menangis. Aku sendiri.
Dingin, aku kedinginan.
Kutarik sendiri selimut tebal itu, sambil menangis. Aku tidak mau sakit. Aku tidak mau sakit.
Pintu kamar dibuka.
Aku hanya berpikir, siapa lagi, malam-malam begini akan dapat kunjungan kalau bukan dari perawat, Aca juga tidak bisa menemaniku.
Langkahnya semakin dekat, Orang itu menyentuh keningku.
"Kenap panas lagi?"
Suara itu membuat mataku membelalak lebar.
Apa ini? Kenapa dia datang malam ini?
Ku balikkan badanku.
"Ton"
"Badanmu panas lagi. Kenapa makanmu berkurang sedikit? Aku suap lagi ya"
"Aku tidak nafsu, Ton"
"Tapi kamu harus makan, biar cepat sembuh. Aku tidak mau kamu sakit seperti ini" Dia menghapus air mata yang masih tersisa di pelupuk mataku.
"Kamu ingin menangis? Dada ini siap untuk menerima pelukan dan tangisanmu" Toni mendekatiku dan merentangkan tangannya.
Aku memeluk dan menangis di pelukannya.
__ADS_1
"Aku sendirian. Aku takut"
Toni hanya memberikan pelukannya, dan sesekali menghapus air mataku.
Dia tidak seperti biasanya dengan emosi yang meluap-luap.
Aku tenggelam dalam pelukan itu.
"Kamu tidak sendiri" kalimat itu terdengar jelas di telingaku, walau suara itu sangat kecil.
Aku melepaskan pelukan itu.
"Sudah, kamu jangan banyak berpikir. Apakah aku harus menelpon orang tuamu, dan meminta mereka untuk segera datang ke sini?"
Aku diam.
"Boleh aku minta nomor ayah atau ibumu"
Aku memberikan ponselku.
Dia keluar dari kamar dan menelpon orang tuaku. Entah apa yang dibicarakan, aku tidak mendengar dengan jelas.
"Aku letakkan di tas lagi ya" ucapnya.
Kemudian ia mengambil biskuit yang dibawanya.
"Mau?" tanyanya
Aku melirik, perutku lapar, tapi, mulutku terasa pahit.
"Cobalah."
Ketika hendak memberikan aku biskuit, perawat jaga datang, mereka memeriksaku, dan mengganti infus yang hampir habis.
"Istirahat ya, Bu.." ucap perawat itu ramah.
"Tapi kenapa dia demam lagi, sus? Padahal tadi siang, dia terlihat sehat" tanya Toni.
__ADS_1
"Ya, pak. Demam ini biasanya datang menjelang sore dan berakhir di subuh. Tapi kita akan terus cek kesehatan, ibunya ya" jelas perawat itu.
"Dikunci saja pak, pintunya." lanjut mereka senyum.
"Makanlah"
Toni bangun dan mengunci pintunya.
"Sudah, Ton. Ini"
Toni menyingkirkan kaleng biskuit itu, dan merapikan tempat tidurku.
"Istirahatlah," ia merapikan rambutku.
Seandainya dia adalah bang Romi.
Aku menarik nafas panjang, dan memejamkan mataku.
Taman kebun yang biasa aku lihat, masih sama seperti sebelumnya. Bunganya juga masih cantik dengan kupu-kupu beterbangan kesana kemari. Aku melihat disampingku bukan bang Romi, tapi Toni. Ia berjalan di sebelahku.
"Ayu.." panggil bang Romi yang menunjukkan 2 jempolnya. Kemudian dia menghilang dari pandanganku. Kemana dia.
"Bang.. Bang.." aku hanya bisa berteriak.
Aku mencarinya, hingga kakiku terselandung, dan aku hampir jatuh di bibir jembatan itu. Aku berteriak. Toni datang menghampiriku dan menarik diriku, Aku melihat bang Romi yang tersenyum melihat aku dibantu Toni.
Toni membangunkanku.
"Ayu.. bangun Yu.." aku terjaga dan Toni menyerahkan gelas minumku.
"Mimpi buruk?" tanyanya.
Aku mengangguk.
"Sampai kapan kamu harus begini, Yu? Mimpi apa?"
Aku menceritakan mimpiku. Toni tersenyum. "Dia merelakanmu untuk bersamaku, dan aku akan menjagamu" ucapnya.
__ADS_1