
"Ton, tolong selimutku" badanku sudah mulai membeku.
"Badanmu, badanmu, panas sekali" Toni membuka pintu, dan memanggil perawat jaga.
"39°c. Sebentar ya pak. Kami akan mengambil obat" Mereka keluar dari ruangan itu.
Toni menggenggam tanganku.
"minum obat ini, Bu" perawat itu memberikan tablet ke tanganku, dan aku segera meminumnya.
"Terima kasih, sus" kalimat itu yang aku dengar sedang mataku tertutup. Aku sadar menarik tangan Toni, tapi aku tidak tau ap yang terjadi.
Obat itu cukup membantu menurunkan demamku. Saat aku terbangun, aku hanya melihat tangan Toni memelukku dari belakang, dan kami dalam selimut yang sama.
Aku melepas pelukan itu, tapi Toni merekatkan tubuhnya.
Aku harus bagaimana?
"Ton, lepaskan. Bangun" ucapku.
Pintu kamar terbuka, dan aku terkejut, kedua orang tuaku sepagi itu sudah sampai di kamarku.
Ayah memukul tubuh Toni.
"Hei.. lepaskan anakku. Astaghfirullah. Apa-apaan ini" Ayah sangat shock melihat kami.
Toni langsung bangun.
Ayah terus memukuli Toni dan mengejarnya dalam ruangan itu.
"Ayah, yah.. Jangan dipukul. Bukan salahnya" ucapku yang ingin melerai mereka. Tiang infus hampir saja menimpaku, karena aku yang berusaha lari melerai mereka.
"Ayu.". teriak Toni, langsung menangkap tiang infus.
Aku menghalangi ayah yang hendak memukul Toni lagi
"Yah, jangan yah."
Ibu menenangkan ayah.
__ADS_1
"Sudah yah, duduk dulu."
"Kita cepat kemari, malah melihat kejadian ini? Ayu, kamu... Apa begini kelakuan kamu dibelakang ayah dan ibu" Ayah menahan dadanya.
"Tidak ayah.. Maafkan Ayu"
"Apa dia pacarmu?"
Aku langsung spontan kaget.
"Ayah, perkenalkan, saya Toni. Saya akan bertanggung jawab atas hidup Ayu"
Mataku kembali membelalak dan melotot ke arah Toni
"Sejak kapan kalian berhubungan?"
"Kami 1 kantor ayah. Maafkan kami belum sempat memberi kabar keluarga di sana. Saya akan melamar Ayu"
"Apa ini?" teriakku.
"Kamu serius? Bawa kemari orang tuamu!" ucap ayah yang masih emosi.
"Kamu diam, Ayu. Tidak usah banyak bicara. Apa kamu akan menjerumuskan ayah da ibu ke dalam api neraka?'
"Tapi, yah"
"Apa kamu punya pacar selain dia? Ada berapa laki-laki dihidupmu"
Aku tertunduk "Hanya satu ayah" ucapku. cuma bang Romi dan hanya bang Romi. Bagaimana aku berteriak mengucapkan nama itu.
"Kamu.. Cepat bawa orang tuamu kesini. Aku tidak mau membuat neraka dihidupku" Ayah menyenderkan kepalanya di sofa,
"Minum dulu yah" ucap ibu.
"Pergilah, nak Toni. Kami akan menunggu di sini" ibu mendekati aku dan Toni.
"Tapi, Ton. Kamu tidak bersungguh-sungguh, kan? Jangan bercanda" ucapku.
"Ya, Bu. Toni akan menghubungi orang tua Toni"
__ADS_1
Aku masih tidak percaya ucapan itu.
"Sudah sana pulang, kan harus ke kantor" ucapku mengusirnya pulang
"Apakah aku boleh memanggil penghulu sekalian nanti, yah?"
"Ya, semakin cepat semakin baik"
"Ayah. Toni. Ibu, apa ini?"
"Kau tenang, semua ini salahmu" ucap ibu yang menyalahkan aku.
Oh tuhan, apa ini.
Kepalaku makin pusing dan aku harus apa?
Aku tau, aku membuat kecewa ayah dan ibu. Mereka hanya diam, tidak memberikan kesempatan kepadaku untuk berbicara.
Siang itu, kamar itu dihias.
Beberapa orang datang merapikan tempat itu.
"Apa ini?" Aku makin bingung
"Maaf, pak. Ini baju yang dikirim pak Toni. Sebentar lagi, pak Toni dan rombongan akan hadir"
"Ayah, Ibu" panggilku
"Ayu tidak mencintai Toni" lanjutku.
"Apa? Tapi apa yang Ayu lakukan, ayah dan ibu melihat dengan mata kami sendiri. Ayu jangan membohongi kami. Persiapkan diri Ayu." ucap Ayah yang masih emosi melihatku.
Aku ingin lari dari tempat itu.
Aku harus lari.
**Ayu bingung dengan keadaannya.
Ayu yang malang.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar yang membangun ya guys, supaya cerita ini makin menarik. Semoga kita semua sehat ya, jadi bisa baca sampai akhir ceritanya😍😍