Sebatas Angan

Sebatas Angan
Pengadilan Agama


__ADS_3

"Sudah siap?" tanya Toni, yang sudah siap dan menurutku dia tidak kalah tampan dengan aktor Drakor.


Heh.. pujian apa itu.


Aku menggelengkan kepalaku.


"Aku tunggu di luar ya" ucapnya menepuk pundakku dan mencium kepalaku.


Huft. Jantungku.


Jangan tanya bagaimana perang di dalam ini.


"Ayo.." ajakku.


"Mau ngantor, Bu?" ledeknya.


"Kenapa?" tanyaku


"Oh ya, aku kan punya baju yang waktu itu kita beli. Aku lupa mengeluarkannya ya." Kemudian dia menarikku dan melihat isi lemarinya yang masih belum aku sentuh.


"Toon.. " ucapku kesal melihat dia mengobarak abrik isi lemari itu.


"Nah, ini dia" ucapnya puas atas pencariannya.


"Kamu coba ini semua, mana yang kira-kira baik di pakai hari ini" sambil menyerahkan papper bag ke tanganku.


Aku hanya menatapnya.

__ADS_1


"Aku tunggu di luar, panggil aku kalau kau sudah mencobanya. Aku sih suka kamu pakai yang ini"


Dress pendek berwarna peach muda polos disisihkan dari tumpukan baju itu, kemudian dia keluar.


Aku mencobanya, dan melihat ke arah kaca meja rias kamar.


Not bad.


Cuma, kenapa susah kali menarik resleting baju ini.


"Ton.." panggilku.


Dia menoleh ke arah pintu kamar, dan menaikkan alisnya.


"Kenapa?"


Toni dengan sigap mendekatiku, dan ia membantuku, dan terakhir, dia mencium tekuk leherku.


"Ayo.. " ajaknya sambil menggandeng tanganku.


Di depan rumah, Nadia mendekati kami.


"Mau kemana nih. Pada gak kerja nih" sapanya.


"Mau urus surat nikah. Kenapa? Mau ikut? Sorry ya, urusan orang dewasa." Toni terkekeh.


"Apalah Abang ini.. Aku cuma mampir aja. Ya sudah sana, pergi, hati-hati di jalan" ucapnya kemudian memutar balik sepedanya.

__ADS_1


Sepanjang jalan, Toni mendiskusikan pekerjaannya yang akan datang. Proyek perumahan kemarin hampir saja selesai, dan Toni harus segera mengurus proyek lainnya.


"Bagaimana kalau nanti kita sudah mengumumkan secara resmi di kantor? Apa aku masih boleh bekerja?" tanyaku


"Aku sebenarnya kurang setuju kalau kamu di rumah, nanti kamu bosan. Tapi aku juga bingung nantinya, kalau kamu harus mengurus di lapangan. Aku takut terjadi sesuatu padamu" jelasnya.


"Tapi, seandainya dalam waktu dekat, kamu mengandung anak kita, bagimana?" tanyanya penuh harapan.


Tapi pertanyaan itu membuat jantungku berdegup kencang.


"Aku akan istirahat dan mengurus keluarga kecil kita" entah keberanian dari mana, kalimat itu aku ucapkan.


Toni memegang tanganku.


"Terima kasih, baby" ucapnya sambil mengambil tanganku dan mencium tanganku. Toni terlalu romantis, sehingga aku salah tingkah dibuatnya.


Kami sampai di pengadilan Agama.


"Kok bukan ke kantor KUA?" tanyaku.


"Di sini kita akan mengurus surat nikah kita. Walaupun kita harus sidang isbat. Kita jalani saja ya." jelas Toni.


Aku masih bingung. Kebodohanku yang hanya berpikir kalau mau urus surat nikah itu di Kantor Urusan Agama. Ternyata mengurus semua itu di Pengadilan Agama.


Di sana, pengacara kantor juga sudah datang membantu. Kami hanya menyerahkan berkas dan menunggu. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya kami masuk ke dalam ruangan, dan di sana ada pak hakim yang bertanya pada kami. Dan akhirnya, pernikahan kami di legalkan secara negara. Sehari ini cukup sangat melelahkan dan menegangkan bagiku. Pengadilan Agama, aku tidak mau lagi ke kantor ini. Aku banyak melihat perceraian di sana. Aku memegang tangan Toni.


"Jangan kesini lagi ya.." ucapku pelan.

__ADS_1


__ADS_2