Sebatas Angan

Sebatas Angan
Baby


__ADS_3

Untuk sesaat kami hanya merasakan perasaan yang sama dalam pelukan itu.


"Jangan pergi." bisik Toni.


Aku mengangguk pelan.


Toni menggenggam tanganku dan kami kembali masuk ke dalam mobil.


Sesekali, Toni melirik ke arahku.


"Yu, aku tidak sama dengan bang Romi. Dan aku tidak akan bisa menjadi bang Romi. Bisakah kamu mencoba melupakannya pelan-pelan?"


Aku hanya diam. Tidak bisa berkata apa-apa.


"oh ya, besok jadi kan kita ke KUA, ngurus surat nikah?" tanyanya.


Aku tersenyum.


"Dan setelah urusan selesai, kita mengadakan pesta kecil di rumah kita ya" sambil tersenyum kepadaku.


"Jadi besok kita ke kantor dulu, kan?" tanyaku.


"Tidak usah. Aku yang akan bilang ke papa, kalau besok aku gak masuk kerja. Dan kamu kan izinnya ke aku" ucapnya sambil tertawa.


"Tapi... izinnya harus resmi."lanjutnya


"Maksudnya?" tanyaku


Toni hanya tertawa.


Perjalanan itu terasa singkat dengan canda yang dibuat Toni.


Toni memang sangat berbeda. Di kantor, dia terkenal dengan sebutan bos jutek, tapi, di rumah, dia suami yang baik dan penyayang.


**

__ADS_1


"Pa.. aku mau minta izin, besok aku tidak bisa ikut rapat pagi. Aku harus mengurus surat nikah. Ya, aku usahakan selesai langsung ke kantor. Tapi kalau sampai siang, aku izin ya. Ya pa, baiklah"


Aku hanya mendengar suaranya dari ruang keluarga, dan aku menyibukkan diri dengan menyiapkan makan malam kami yang sempat dibeli tadi.


"Sudah selesai?" Toni mengejutkan aku dengan memelukku dari belakang.


"Mau makan sekarang?"


"Ya"


"Lepaskan kalau mau makan" ucapku yang tidak bisa bergerak karena terkunci oleh pelukannya.


"Hm" ucapnya mencium kepalaku.


"Udah cuci rambut belum?" tanyanya..


"Kenapa? Bau ya?" aku kan memang belum mandi, karena langsung menyiapkan makan malam. Lagian aku pikir, akan mandi sebelum tidur, sekalian ganti pembalut.


Toni tertawa melihat tingkahku karena aku mungkin terlihat bingung.


"Udah tau jelek, kenapa mau hidup sama aku" kesal mendengar ucapan itu.


"Aku bercanda. Udah ah.. aku lapar. Makan yok"


Aku menyiapkan nasi dan air minum untuknya,


"Aku tinggal ya"


Toni melirikku,


"Aku mau mandi. Katanya rambutnya bau"


Toni menarik tanganku.


"Aku tidak mau makan sendirian. Nanti saja setelah makan ya. Kenapa kamu tidak makan?"

__ADS_1


Aku menggelengkan kepalaku.


"Aku tidak mau makan, nanti aku gendut."


"Memangnya apa salahnya kalau gendut?"


"Ya jelek lah. Perempuan harus menjaga badannya. Agar tetap jadi cantik" ucapku asal bicara.


"Kalau kamu cantik, nanti banyak yang naksir dong"


Aku tersenyum saja mendengar ucapannya.


"Tidak... kamu tidak boleh cantik dimata lelaki lain. Kamu boleh cantik di depan mataku saja" ucapnya sambil menaikkan alisnya.


"Buka mulutmu" ucapnya sedikit memaksa


Aku menutup mulutku.


"Mau aku suap pakai sendok, atau aku ***** makanannya, dan baru kuberikan langsung ke mulutmu?"


Ku pukul lengannya.


"Ayo, buka mulutmu"


Sejak kami menikah, dia sering sekali menyuapi aku dengan makanan yang dia makan.


"Just like a baby" ucapnya sambil tersenyum menatapku.


"Udah ah.. aku kenyang" ucapku menutup mulutku.


"Sekali lagi" paksanya menarik tanganku dan sekarang aku sudah berada di pangkuannya.


"Kenapa gak dari tadi, baby. Kan gak perlu pemaksaan" dan akhirnya aku pun berlalu dari sana.


"Letakkan saja di wastafel, nanti biar aku yang cuci piringnya. Aku mau mandi dulu" aku berlari menuju kamar, karena jantung ini berdegup kencang.

__ADS_1


__ADS_2