Sebatas Angan

Sebatas Angan
Motor


__ADS_3

"Ayu..." Toni mendekatiku yang duduk dan menutup mata


"Kenapa?" tanyanya.


"Itu, tadi.. apa itu.. "


"Apa? Dimana?" tanyanya lagi.


"Itu, di sana," tunjukku lagi dengan masih menutup mataku.


Toni menghidupkan lampu kamar.


Aku hanya melihat sajadah di sana.


Aku melihatnya yang sedang memakai sarungnya.


"Kamu.." aku menunjuknya dan menunjuk arah sajadah itu.


"Iya, itu aku.."


"Kenapa gelap?"


"Biar aku bisa khusuk"


Aah.. aku lega.


"Ya sudah, tidur lagi"


Toni mengantarkan aku ke tempat tidur itu, dan menyelimutiku.


"Tidur yang nyenyak ya." Dia mencium keningku, dan untuk yang pertama kali dia melakukan itu, membuatku deg-degan.


Aku menutup mataku, dan dia kembali keluar sambil mematikan lampu kamar. Tinggallah aku sendiri. Kenapa mataku tidak bisa dipejamkan. Huh.. Bolak balik dan aku gelisah. Aah.. apa itu.. Bayangan apa ituu.. Aku berlari keluar kamar, dan menabrak Toni.


"Kenapa?" tanyanya. Dan aku hanya memeluknya.


"Itu.. di kamar.. ada bayangan" ucapku ketakutan.


"Gak ada, Ayu.."


"Gak.. aku gak mau tidur di kamar. Aku takut"


Aku menutup mataku, dan memegang baju Toni.


"Terus gimana? ini masih malem, Yu."

__ADS_1


"Kami dimana?"


"Ya aku di kamar sebelah. Tapi kasurnya kecil kalau berdua"


"Aku takut, Ton"


"Ya sudah, kita kembali ke kamar."


Aku berhenti.


"Aku gak bakal ngapa-ngapain. Janji"


Aku mengikuti langkah Toni.


Aku jalan menunduk.


"Tidurlah" Toni menepuk kasur yang sudah ada pemisah. Ada guling di tengah-tengah kasur itu.


Aku segera naik ke atas kasur itu, dan membelakangi Toni. Tapi..


Aku takut, dan membalikkan badan lagi,


Toni sekarang berada di hadapanku.


**


"Ayu.. bangun.. Udah hampir jam 6." suara Toni membangunkanku.


Aku kaget dan langsung bangun. Astaga, karena kejadian semalam, aku harus kesiangan. Buru-buru aku mengambil air wudhu dan sholat subuh.


"Kita sarapan di kantor aja ya" ajaknya ketika aku keluar kamar sambil merapikan rambutku dengan bando.


"Jangan gila deh. Udah, mau sarapan apa, nanti aku yang siapin"


"Kan persiapan kulkas juga sudah habis. Besok libur kita belanja ya" ajaknya.


Aku mengangguk.


"Udah, mandi sana. Terus siap-siap. Hari ini berangkat sama aku. Oke" pintanya.


**


Pagi itu, Arya mendatangiku.


Aku serba salah. Nanti Toni salah sangka lagi.

__ADS_1


Tapi kenapa aku harus menjaga perasaan itu. Tapi bagaimanapun, dia adalah suamiku, walau kami belum resmi secara negara.


Secara negara. Kenapa aku tidak terpikir.


"Yu," sapa Arya lagi.


"Oh.. eh iya, gimana?"


"Motornya udah di bawah. Yok kita ketemu bentar di bawah"


Aku mengintip ke arah ruangan Toni


"Udah gapapa, bentaran doang"


Kami kemudian menemui bapak yang punya motor. Dan dia menyerahkan surat-surat lengkap motor itu.


Tak lama, ponselku bergetar.


Sebuah pesan masuk, bahwa berita uang masuk sebesar 9 juta masuk ke nomor rekeningku.


"Udah masuk rekening lagi, kan istriku."


sebuah pesan WA dari Toni.


"Ayo kita kembali kerja" ajak Arya.


Dan aku kaget, ketika pintu lift tertutup, tertahan oleh tangan, dan Toni masuk ke dalam lift yang sama denganku dan Arya.


"Pak" ucapku dan Arya.


Toni hanya tersenyum.


"Untuk apa?" aku menjawab chatting itu.


"Untuk pembayaran motor"


"Kan aku gak minta"


"Tapi kewajibanku"


Pintu lift terbuka, Arya keluar dari pintu lift itu.


"Yu.." sapanya mengagetkan aku yang masih sibuk dengan WA, padahal orangnya ada di depanku.


"Oh, iya.. Permisi, pak" ucapku menunduk sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2