Sebatas Angan

Sebatas Angan
Sah


__ADS_3

Infus masih menempel di tanganku.


Aku tidak tau apa yang akan terjadi.


"Bolehkan aku ke kamar mandi?" ucapku.


Perias, mengantarkan aku ke kamar mandi.


Aku hanya duduk di atas kloset. Diam. Tak tau harus bagaimana. Kenapa dengan nasibku? Kenapa air mata ini sering sekali keluar. Kemana bang Romi? Sampai pintu kamar mandi itu diketuk.


"Yu.. Ayu.." ibu memanggil namaku.


Dan akhirnya aku keluar dari kamar mandi itu.


Mataku bengkak karena menangis, make up yang sudah aku pakai pun luntur akibat air mata yang deras membasahi pipiku.


"Mbak Ayu" perias itu pun tidak bisa berkata lagi, ia melihat hasil tangannya rusak dengan air mataku. Tapi, perias pengantin itu, sangat sabar, dan memulai mengoles wajahku lagi.


Ruangan itu sudah dihadiri keluarga Toni, dan penghulu. Suasana hening, aku hanya tertunduk duduk di atas kasur, ditemani ibu.


"Saksi semua sudah siap?" tanya penghulu itu.


Yang menjadi saksi, yaitu dokter dan perawat yang akan memeriksaku saat itu.


Tak lama, penghulu membacakan susunan acara dan mulailah acara yg sakral dan sangat membuat aku tidak bisa berbuat apa-apa.


Sampai akhirnya semua saksi mengucapkan "sah"

__ADS_1


Aku kaget dan terdiam. Air mata ini adalah air mata kekecewaan. Penantian ku untuk bang Romi berakhir hari ini. Tapi aku harus apa? Di hatiku sampai saat ini hanya mencintainya.


"Akhirnya Nadia punya kakak. Selamat datang di keluarga kami, kak" Nadia memelukku.


"Cepet sembuh sayang, kami akan menunggumu di rumah" ucap mamanya Toni


"Ini papa, nak."


Aku mencium punggung orang tua yang duduk di kursi roda. Papa Toni hanya tersenyum, dan aku melihat bulir air mata di pelupuk matanya.


Keluarga ini masih menyimpan rahasia yang aku belum tau apa jawabannya.


Setelah acara itu selesai, ruangan itu ditata ulang seperti sedia kala. Hanya statusku tidak bisa kembali seperti beberapa menit yang lalu.


Ayah dan ibu duduk di sisi tempat tidur.


Aku memeluk keduanya. Menarik nafas panjang.


"Toni, titip Ayu sebentar ya yah, bu. Toni mau ke kantor sebentar."


"Sini" panggilku


"Aku tidak mau ada tau tentang pernikahan ini." ucapku mencubit lengannya.


"Hm" kemudian ia mengelus kepalaku.


"Tapi, kami tidak bisa lama-lama, kami harus kembali ke kampung." Ayah membuatku kaget.

__ADS_1


"Tapi, yah"


"Ayu sudah ada yang jaga. Ton, ayah dan ibu meminta kamu menjaga Ayu. Ayu anak yang mandiri namun sangat mudah meneteskan air mata. Perasaannya sangat halus." pesan ibu.


"Itu pasti, Bu. Toni sudah mengenal Ayu cukup lama. Toni berangkat kerja dulu ya Bu, yah"


Si Toni ini, pake jurus apa sih, dengan secepat kilat menaklukan hati ayah, sedangkan aku mau mengenalkan mas Romi kepada mereka saja, aku tidak berani. Hatiku makin kesal.


"Istriku, aku pergi dulu ya" ucapnya menatapku.


"Sana pergi" Ku ambil botol mineral yang ada disampingku, dan hendak melemparnya.


"Ayu," ibu menangkap tanganku.


Toni tertawa dan pergi dari hadapan kami.


"Ibu dan ayah, hanya berpesan, baik-baik kamu jadi istri. Layani suamimu. Cintai dia, karena dengannya kamu akan menghabiskan hari-harimu" pesan ibu.


"Apakah ibu dan ayah akan pulang secepat ini?" tanyaku.


"Ya nak. Nanti kami akan kesini lagi, kalau kamu sudah melahirkan" ucap ibu memegang tanganku


Aku tersenyum.


Aneh saja, apakah aku bisa?


Sedangkan dipikiranku hanya ada 1 nama.

__ADS_1


Huft. Aku menarik nafas panjang lagi.


__ADS_2