Sebatas Angan

Sebatas Angan
Malam pertama


__ADS_3

Ambil istrimu, mengganggu istirahatku" ucap Aca sambil tertawa puas.


"Baiklah, terima kasih sudah menjaga istriku. Aku akan membawanya ke kamar kami" kemudian Toni menggendongku, masuk ke kamar.


Semua keluar dari kamar mereka karena aku berteriak. Ayah, ibu, mama, Nadia, dan Aca tertawa melihat kelakuan kami.


Aku memukul dada Toni tapi dia seperti tidak menghiraukan aku.


"Diamlah, lihat, semua keluar karena teriakanmu"


Aku mengintip dari sela ketiaknya,


"Aaahh.. aku malu, kenapa juga diangkat begini" aku menutup mulutku.


Toni tersenyum nakal.


Akhirnya sampai di depan pintu kamar kami.


"Selamat datang pengantinku"


Aku takjub dengan dekorasi kamar yang begitu indah. Banyak bunga dan hadiah yang sudah tersusun rapi di sana.


"Kamu mau buka hadiahnya atau mengganti pakaianmu dulu?" tanya Toni yang sudah membuka jasnya, tinggal kemeja putih dan celana panjangnya saja yang masih dipakainya.


"Hehe" ucapku tersenyum lebar.


Aku duduk di depan kaca besar, ku lepas aksesoris yang masih menempel di tubuhku.


Toni mendekatiku dan memelukku dari belakang.


"Kamu wanitaku yang tercantik" kemudian dia mencium tekuk leherku, aku merasa bulu kudukku berdiri.


"Aku mau ganti baju dulu, tutup matamu." pintaku.

__ADS_1


"Hah.. aku kan suamimu. Aku kan muhrimmu" kemudian dia duduk di atas kasur empuk itu.


Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi.


Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke kamar mandi, dan mengganti pakaian di sana.


"Ayu... kenapa tidak ganti di sini saja. Biar aku bantu" teriaknya.


Aku tersenyum dari balik kamar mandi itu.


"Kok pakai piyama?" tanyanya


"Memangnya kenapa?" aku balik bertanya.


"Bukannya sudah disiapkan, apa yang harus kamu pakai malam ini?"


"Ini?" aku menunjukkan sebuah lingerie yang aku pakai tapi aku memakai piyama kembali, karena aku malu dengan hanya memakai itu." jelasku sambil membersihkan sisa make up yang aku pakai.


"Kamu dari mana sih tadi, berapa kali aku kehilangan kamu"


"Aku sholat,"


Deg.. dia..


Aku tersenyum.


Aku hanya bersyukur, Allah menggantikan bang Romi dengan Toni yang tidak pernah meninggalkan kewajibannya.


"Kami sudah bersih?" tanyanya.


"Ya, mungkin nanti aku baru mandi bersih."


"Jadi setiap bulan, kamu harus dapat tamu bulanan?" tanyanya.

__ADS_1


"Ya, harus. Kalau aku tidak dapat tamu itu, berarti aku hamil dong" ucapku asal. Dan saat aku sadar, aku menutup mulutku.


"Kalau begitu aku akan mengusir tamu itu setiap bulan" ucapnya menggendongku ke atas kasur dengan tidak sabar.


"Toni, uummmphh" belum sempat aku berbicara, dia sudah menutup mulutku dan mencium bibirku dan permainan lidah yang membuat aku tidak bisa berkutik. Aku menikmatinya, dan meluapkan rasa cintaku. Yang aku rasa terlambat untuk mencintai lelaki yang aku kenal lama dan begitu baik.


Pintu kamar diketuk.


Dan kami mengehentikan aksi itu.


"Aaahhh.. siapa sih yang mengganggu" ucap Toni kesal sambil mengacak-acak rambutnya.


Aku merapikan rambutku yang tergerai dengan tanganku, dan aku bangun dari kasur itu.


"Kaaakkk" Nadia masuk tanpa permisi lagi.


"Bang.. besok kita berangkat ke Bali kan?" tanyanya sambil bergelendot di lengan Toni.


"Hiss.. mengganggu saja. Iya jadi. Kan tiket juga sudah dipesan. Lagian ngapain sih, nanya lagi" ucap Toni kesal.


Aku hanya tersenyum lebar melihat muka Toni yang tampak kesal.


"Aku mau siap-siap dulu ya, dah Abang, dah kakak.. Jangan tidur malam-malam, besok kan pesawat pertama, benar kan bang?" tanyanya dengan manja.


"Kalau kamu masih di sini, kamu akan membuat Abang kesiangan. Sana pergi" usirnya.


Nadia berlalu tanpa dosa.


Toni menutup pintu itu lagi.


"Aaahhh"


**Nadia gak tau apa, abangnya lagi gimana gitu.πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, dan vote nya ya readersku tersayang😍😍


__ADS_2