
Azan subuh sudah terdengar. Aku sudah siap dengan air wudhuku. Setelah sholat, aku bersiap dan pergi menuju rumah Toni yang lumayan jauh. Sengaja aku berangkat subuh, untuk menghindari kemacetan. Dan aku sampai di rumah Toni, pukul 06.30 wib.
"Kamu telat. Kalau begini terus, nanti kita bisa terlambat terus sampai kantor" ucapnya sedikit ketus.
"Hei, aku di sini, bukan sebagai sopir pribadimu." jawabku kesal meletakkan kunci itu di meja, dan aku hendak keluar rumah itu.
Tanganku di tarik, hingga aku berbalik dan hampir memeluknya. Dengan tangan sebelah, dia memegang pinggangku.
"Sarapan dulu, aku sudah membuatkan mu dengan susah payah"
Aku memukul tangannya.
"Tidak, terima kasih. Aku mau pergi ke kantor sendiri. Lepaskan aku"
Tangannya masih melingkar di pinggangku.
"Kamu harus makan dulu, nanti kau sakit, siapa yang mengantar jemput aku"
"Aku bukan sopir pribadimu. Lepaskan aku. Aku memang anak buahmu di kantor, tapi di luar jam kantor, kita tidak ada hubungan apa-apa, paham?" ucapku kesal.
"Lepaskan aku" tubuhku meronta-ronta. Tapi, badannya yang kuat, walau hanya dengan sebelah tangan, bisa mengunciku.
"Aku tidak akan melepaskanmu, sebelum kamu makan"
"Tidak perlu, aku tidak mau merepotkanmu. Aku bisa mengurus diriku sendiri."
"Perempuan sombong. Kita lihat saja nanti." ucap Toni, masih mengunciku, dan mencium bibirku.
__ADS_1
Plak. Sebuah tamparan kuat tidak sengaja aku berikan padanya. Tapi itu wajar, dia tidak sopan kepadaku.
Akhirnya aku keluar dengan kesal. Dan sambil menangis. Ia mengejar ku.
"Maaf, yu. Maaf. Bukan maksudku"
"Sudah, Ton. Cukup. Aku akan pergi ke kantor sendiri" ucapku melepaskan tangannya. Tapi ia tidak memberikan aku kesempatan untuk berjalan.
"Maafkan aku, Yu" Dia memelukku, dan mendekatkan kepalaku di dadanya.
"Aku janji tidak akan seperti ini lagi" ucapnya pelan.
Kulihat tangannya yang masih di gips. Dan itu semua karena kelalaianku, yang membuat dia seperti itu. Ada rasa kesal. Tapi, itu semua sudah terjadi.
"Aku tunggu di dalam mobil. Cepat." ucapku mengambil kunci mobil dan segera masuk ke dalam mobil.
Aku menangis di dalam mobil.
Aku sangat ingat ucapan itu. Dan aku menangis membersihkan lipstick yang aku pakai dengan tisue.
"Bibir ini" ucapku sambil meremas lipstick yang aku pakai.
Toni sudah kembali, dan melihat kondisiku. Pakaiannya tidak rapi, seperti bukan berniat pergi kerja. Hanya kaos oblong, dan jas yang menutupi tangannya. Tapi aku tidak peduli, Ku lajukan kendaraan itu sampai ke kantor. Dan sepanjang jalan itu tidak sepatah katapun keluar dari mulutku. Dan sampai di kantor pun, aku tetap diam.
Ina yang teman seberang mejaku, melihat kondisiku.
"Yu, kamu sakit? Pucet gitu"
__ADS_1
"Gak kok."
"Kamu sakit"
Mendengar Ina berbicara, Toni membalikkan tubuhnya melihat ke arahku, tapi aku tidak peduli.
Aku bekerja seperti biasa, tetapi ada yang datang menghampiriku,
"Mbak, ada titipan, entah tadi aku lupa siapa yang memesan"
"Apa ini?" kubuka bungkusan itu, bubur ayam. Tapi siapa yang memesan.
"Tapi, aku gak pesen loh, pak"
"Tapi atas nam mbak Ayu. Bukankah nama Ayu Amelia, hanya 1, ya mbak."
Aku terdiam. "Ya sudahlah pak, letakkan saja di sana." ucapku kemudian melanjutkan pekerjaanku.
Ponselku berdering, tapi aku abaikan, aku masih asik dengan pekerjaan.
Jam 9, perutku sangat perih. Dan bau aroma bubur ayam itu sangat menggoda.
"Tapi, siapa yang pesan ya?" gumamku.
"Mungkin dari penggemar, Yu" ucap Ina menggodaku.
"Ayolah, kita makan bareng" ajakku
__ADS_1
"Tidak, aku tadi sudah sarapan pagi. Kau yang harus sarapan, mukamu pucat begitu"
Aku memang menghapus bedak dan lipstick yang tadi sudah aku pakai. Sehingga dilihat orang aku sedang tidak sehat.