
Afifa Merasa lega ternyata suaminya tidak menceritakan kejadian yang sesungguhnya semalam, dia tidak mau kehidupan rumahtangganya yang pahit di ketahui siapapun, bahkan orangtuanya sendiri.
biarlah oranglain hanya mengetahui kebahagiaan dalam rumah tangganya. lagi pula kehidupan rumah tangga yang harmonis bukanlah yang tidak memiliki masalah sama sekali, melainkan sejauh mana dia bisa mengatasi masalah tersebut tanpa orang lain tau.
Hari ini bi Yati memaksa memasak sarapan untuknya. meski sudah dilarangnya, namun bi Yati bersikeras dengan alasan untuk menghiburnya karna di tinggal suaminya ke semarang. Afifa mengiyakan, dia memilih mengerjakan pekerjaan rumah yang lainnya.
Afifa memeriksa ponsel di kamarnya, dia berharap kalau suaminya mengirimkan pesan padanya. Tapi harapannya sirna tak ada satu pesanpun datang dari suaminya, hanya deretan pesan dari beberapa grup di Ponselnya termasuk kedua sahabatnya, mereka membahas kalau hari ini ada tugas mencari penginapan di lokasi KKN yang sudah ditentukan dari kampusnya.
"hhhhh..." Afifa menghela nafas panjang. "bagaimana ini, mataku..." Afifa kembali menatap cermin. Kalau tidak ikut juga tidak enak dengan teman-temannya. diakan baru satu hari masuk kuliah setelah satu minggu mengambil cuti.
Afifa membalas beberapa pesan dengan tidak semangat. dia setuju ikut ke lokasi, dan berkumpul di depan kampusnya jam 9.00.
Afifa menghampiri bi Yati yang sedang memasak, dia mengambil satu buah tomat matang di kulkas, lalu memotongnya dan menempelkannya di matanya.
"Kenapa Non?" tanya bi Yati
"Afifa harus ke kampus bi. tapi Afifa nggak mau mata Afifa terlihat bengkak seperti ini." Rengeknya.
__ADS_1
"O... ya udah Non berbaring saja di sofa, biarkan air tomatnya meresap. satu jam juga hilang bengkaknya."
"Iya bi." Afifa menurut, dia menuju ruang keluarga dan membaringkan dirinya dengan dua potong tomat berbentuk bulat menutupi matanya.
Bi Yati melanjutkan masakannya, setelah selesai ia menatanya di meja makan, lalu menghampiri Afifa. "Non...sarapannya sudah bibi simpan di meja makan, kalau sudah selesai dimakan ya..." Ucap bi yati ramah. "Nggak usah bangun, lanjutin aja" lanjutnya ketika melihat Afifa mau bangkit dari sofa.
"A... iya bi. terimakasih." jawabnya masih dalam posisi semula.
"Bibi ke toko dulu ya. kalau Non Afifa mau kuliah jangan lupa kunci pintunya."
"Iya bi."
*****
Satu jam berlalu, Afifa bangkit dari sofa. dia segera ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya. bengkak dimatanya sudah berkurang. Syukurlah fikirnya.
Setelah menghabiskan sarapannya Afifa berangkat ke kampusnya. dia harus naik kendaraan umum. saat pulang kemarin Afifa cukup mengingat jalan menuju kampusnya. Sepeda motor miliknya juga belum sempat dia bawa. Fauzi sengaja menyuruhnya untuk tidak membawanya, biar dipakai adiknya Rizki dan Nisa sekolah katanya.
__ADS_1
*****
Hari yang melelahkan dilaluinya dengan tidak semangat, setelah dia mendapatkan penginapan yang akan di tempatinya untuk KKN minggu depan dia langsung kembali pulang. Berkali-kali dia memeriksa ponselnya, berharap ada panggilan dari suaminya, ataupun hanya sebuah pesan bertanya kabar dirinya. Tapi tak ada satupun pesan. Afifa hanya menghela nafas, ingin sekali dia menangis, bertanya kenapa suaminya begitu tega meninggalkannya tanpa pamit sepatah katapun setelah kejadian semalam. Afifa juga tidak mau memulai menghubunginya, egonya muncul.
Tiga hari sudah berlalu, Sore hari Afifa Termenung sendirian di kursi halaman belakang. Afifa terperanjat saat melihat pesan masuk dari suaminya.
Dek... maafin kak Aji ya. Hari ini kak Aji pulang, nggak usah masak. Adek siap-siap aja, malam ini kita akan makan di luar.
Afifa termenung... Apa ini? setelah tiga hari tidak memberi atau bertanya kabar, sekarang ngajak makan di luar. apa ini cara permintaan maafnya?
Ragu-ragu Afifa membalas pesan suaminya. "Ya." jawabnya singkat. Mungkin masih ada kekesalan dihatinya, meski sebenarnya hati kecilnya merasa senang.
*****
Bersambung...😊❤
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1