
pukul 3 pagi Afifa terbangun karena mendengar suara dentingan logam disampingnya, matanya terbuka dan langsung terbelalak saat melihat suster sedang tersenyum kearahnya.
"Lanjutkan saja tidurnya Bu, saya hanya mengganti infusnya" ucap suster.
Afifa langsung bangkit dan turun dari tempat tidur, wajahnya memerah karena malu, "Terimakasih sus..." Ucapnya sambil terseyum malu
Suster itu mengangguk sambil menyerahkan bungkusan plastik ke hadapan Afifa, "Ini pakaian pasien saat kejadian Bu, pakaiannya kotor dan terkena percikan darah".
Afifa mengambilnya, "Iya Sus" jawabnya.
"Mari bu," Ucap suster lalu pergi keluar kamar.
Afifa mengangguk lalu memandang suaminya yang masih tertidur pulas, dia bersyukur, suaminya tidur nyenyak malam ini, dia juga baru sadar kalau suaminya sudah memakai piyama Rumah Sakit, dia tertegun,
Siapa yang telah mengganti pakaian Kak Aji? apa mungkin suster tadi? atau jangan-jangan Wulan??? ah...gak mungkin...tapi bagai mana kalau benar wulan yang menggantinya, mungkin mereka berfikir, wulan adalah istrinya, haaahhhh... ya Ampun Afifa...kenapa jadi berfikiran negatif gini si...disini kan banyak perawat laki-laki... Hadeeeeuuuh... bisa-bisanya aku mikir kesana.
Afifa tersenyum sendiri menertawakan apa yang ada dalam fikirannya.
Diapun melangkah masuk ke kamar kecil untuk bersih-bersih dan mengambil air wudhu. setelah selesai dengan urusannya, dia kembali kesamping tempat tidur suaminya, matanya berkeliling berharap bisa menemukan sesuatu untuk dijadikan alas tempat sholatnya, ada satu selimut diatas sofa, dia mengambilnya lalu menggelarnya diatas lantai. Afifa mengambil kaos kaki yang biasa ia simpan didalam tasnya, lalu memakainya, dia membuka hijabnya dan membuatnya lebih lebar sampai menutupi bagian bokong dan perutnya, setelah merasa auratnya tertutup dia memulai ritualnya, membenamkan diri, hati dan fikirannya dalam indahnya tahajud dan bermunajat kepada sang maha pencipta.
Selesai sholat Afifa mengambil ponsel didalam tasnya, diapun menenggelamkan dirinya dalam lantunan Al-qur'an. 30 menit berlalu Afifa bangkit, dia terkejut saat melihat suaminya sudah bangun dan melemparkan senyum kearahnya.
"Kak Aji sudah bangun?" Afifa menghampiri suaminya.
"Sudah dari tadi" Jawabnya masih dengan senyum memandang istrinya.
"Kok gak panggil Fifa?"
"Aku senang mendengar suaramu yang dengan fasih melantunkan ayat demi ayat kalam ilahi, rasanya begitu nyaman ditelinga dan hatiku".
Afifa tersenyum, "Alqur'an itu kan disebut juga Asy-syifa, penyembuh untuk berbagai penyakit, didalamnya terdapat beberapa ayat yang sering dibacakan Rosul saat menyembuhkan para sohabat yang sedang sakit, diantaranya suroh Al-Isra' ayat 82, aku juga membaca ayat itu, semoga dengan berkahnya Kak Aji cepet sembuh ya"
"Aamiin...terimakasih sayang"
"Kak Aji mau ke kamar kecil?" tanya Afifa
"Iya".
"Ayo, Fifa bantu", dengan cekatan tangan kanan Afifa mengambil tiang infus dan tangan kirinya memapah Fauzi menuju kamar kecil, kaki Fauzi masih sakit karena terbentur trotoar.
Afifa menunggu suaminya diluar pintu, cukup lama dia menunggu tapi suaminya belum keluar juga, diapun mengetuk pintu, "Kak...sudah selesai?" Afifa berteriak depan pintu kamar kecil.
"Sudah, masuklah!" mendengar jawaban suaminya Afifa membuka pintu dan masuk, terlihat suaminya kesulitan mengambil air wudlu karna tangan kirinya masih terpasang selang infus.
"Apa kak Aji mau berwudlu?" tanya Afifa.
"Iya, tapi sepertinya sulit karena ini, takut terkena air juga", Fauzi menunjukan tangan kirinya, "aku mau membasuh muka ku saja, biar nanti aku tayamum saat mau sholat".
"Iya Kak, sini Fifa bantu". Afifa mengambil washlap yang sudah tersedia disana, lalu membasuhnya dengan air hangat dan mengusapkannya perlahan pada wajah suaminya. "Selesai, bagaimana segar kan?"
"Iya, terimakasih istriku" Fauzi tersenyum.
Keduanya keluar dari kamar kecil, "Apa sudah subuh?" tanya Fauzi sambil berjalan menuju tempat tidur.
"Sebentar lagi, Kak Aji bisa tayamum sekarang sambil berdzikir menunggu adzan".
Fauzi mengangguk, lalu berdiri didepan tembok rumah sakit, berniat tayamum dan menempelkan kedua telapak tangannya disana, lalu mengusapkannya ke seluruh bagian wajahnya, menempelkan kembali tangannya ke bagian tembok lain dan mengusapkannya pada kedua tangannya, lalu mengangkat kedua tangannya dan berdo'a, terakhir mengecup kedua tangannya, Fauzi berbalik ke arah Afifa, dan naik kembali ke tempat tidur, duduk bersila dan bibirnya mulai mengucapkan beberapa kalimat dzikir.
__ADS_1
Afifa kembali ke kamar kecil untuk mengambil air wudlu. sampai adzan subuh berkumandang, merekapun menunaikan sholat subuh.
Selesai sholat subuh dan berdo'a, Afifa berdiri menghampiri suaminya, "Sudah enakan sekarang?".
"Tentu saja, apalagi perawatanannya dibumbui cinta dan kerinduan yang mendalam dari kekasih halalku," Fauzi memandang istrinya yang tersipu, "Kemarilah!" Fauzi duduk ditepi tempat tidur, kedua kakinya terjuntai kebawah, Afifa mendekat tepat didepannya membuatnya berada diantara kedua lutut Fauzi yang panjang, Fauzi menarik tangan Afifa dan melingkarkannya dipinggangnya sendiri, tangan kekarnya merangkul bahu Afifa, mendekapnya dengan erat seolah tak ingin lagi kehilangan dirinya, mulutnya berbisik ditelinga Afifa "Terimakasih untuk semua pengorbananmu, terimakasih karena telah menerimaku, dan terimakasih karena tidak ingin melepaskanku, aku sangat mencintaimu, tetaplah bersamaku sampai akhir hayatku".
Afifa merinding merasakan hembusan nafas suaminya yang hangat disela kata-kata yang diucapkannya. Dia mempererat pelukannya, tetesan air mata bahagia mulai jatuh dipipinya, Afifa terdiam dalam posisi nyamannya, kini dia kembali menikmati pelukan suaminya yang selama dua minggu ini sempat hilang karena perpisahan sementaranya.
Perlahan Fauzi melepaskan pelukannya, memandang lembut wajah mungil istrinya yang bersemu merah dan sedikit basah, "Kok menangis?" tanyanya sambil mengusap pipi Afifa dengan kedua tangannya.
Afifa tersenyum, "Enggak...aku hanya..."
"Aku tau" potong Fauzi, "Bukankah kita sudah lama tidak melakukan peraturan kedua?" ucap Fauzi, tentu saja membuat wajah Afifa semakin merah.
"Tapi ini di rumah sakit Kak...nanti saja kalau sudah dirumah".
"Aaaaaa, jadi pengen cepet pulang kerumah", ucap Fauzi dengan tatapan genitnya.
"Ih...apaan si" Afifa mencubit pinggang suaminya.
"Awww... sakit" Ucap Fauzi sambil memegang kepalanya.
"Yang dicubit pinggang, kok yang sakit kepala?"
"Ini beneran sakit sayang" rengek Fauzi
"Benarkah? coba aku lihat" Afifa mendekatkan kepalanya, dia terlihat panik lalu meniup-niup kepala Fauzi. "Aku panggilkan suster aja ya, Sebentar!"
"Cup" Fauzi mencium pipi Afifa yang lewat didepan wajahnya.
Mengapa rasanya berbeda kali ini, debaran ini, perasaan ini seperti pertama kali aku dekat dengannya, apa mungkin ini karena sudah lama kami berpisah?
Fauzi hanya tertawa melihat ekspresi istrinya.
"Kriiing...kriiing..." Suara panggilan diponsel Fauzi membuyarkan perasaan Afifa yang berbunga-bunga.
Afifa segera mengambil ponsel didalam tas kecil suaminya. "Apa Kiyai Kak," Ucap Afifa setelah melihat nama orang yang memanggil di ponsel suaminya, Fauzi mengangguk, Afifa segera menyerahkan ponsel itu kepada suaminya.
"Assalamualaikum Apa Kiyai"
"....."
"Maaf Apa, karena sudah membuat Apa khawatir, tadi malam saya tidak datang seperti biasanya karena ada satu masalah"
"....."
"Sudah Apa, semalam saya bertemu dengannya, tapi belum sempat berbicara ke arah sana, karena tiba-tiba saja ada insiden yang menyebabkan saya masuk rumah sakit".
"....."
"Benar Apa, mohon do'anya saja, terimakasih Apa, Assalamualaikum".
Fauzi menutup telponnya, Afifa masih berdiri, mencoba mencerna apa yang barusaja dibicarakan Fauzi bersama Apa Kiyai.
"Apakah ada sesuatu yang aku tidak tau Kak?" tanya Afifa.
Fauzi menatap istrinya, "Duduklah!" menepuk tempat tidur disampingnya, Afifa menurut, diapun duduk menghadap suaminya, "Jadi begini Dek, Setiap malam aku menginap dipesantren, selain untuk mengalihkan rasa rinduku padamu, aku juga merasa nyaman berada di pesantren, Apa Kiyai selalu memberikan wejangan untuk setiap masalahku".
__ADS_1
"Apa pertemuan Kak Aji dengan Wulan semalam juga atas sarannya?"
"Iya, beliau bilang ini adalah masalahku, aku harus bisa menyelesaikannya sendiri tanpa melibatkanmu, Jika situasinya sudah terkendali, barulah aku menghubungimu, agar kau tidak terlalu tertekan memikirkan semuanya".
"Tapi kenapa begitu lama?"
"karena aku baru bisa menghubunginya, dan dia setuju untuk bertemu tadi malam"
"Dia juga tidak bisa aku hubungi"
"Iya, saat pertama kali aku menghubunginya, aku sempat bicara, tapi setelah tau aku yang menelponnya, dia tidak pernah lagi mengangkat telponnya, selama dua minggu ini aku terus mencarinya, beberapa kali datang ke butiknya, tapi tidak juga bertemu dengannya, sampai akhirnya aku meminta bantuan Apa Kiyai, beliau menghubunginya langsung dari nomornya".
"Apa Kak Aji sudah membicarakan semuanya dengan Mbak Wulan?"
"Belum semua, Farid tiba-tiba datang, jadi pembicaraan kami terhenti".
Afifa menghela nafas panjang, "Apa pukulannya sakit?" tanya Afifa
"Pukulannya tidak berarti apa-apa, dibanding rasa sakitku saat memikirkan kemungkinan dia akan mengambilmu dariku".
Afifa tersipu, Fauzi menggenggam tangan istrinya, dan menatapnya. "Kamu tenang saja, aku akan segera menyelesaikan masalahku dengan Wulan"
Afifa mengangguk.
***
Matahari sudah beranjak naik, Afifa membuka gorden kamar, Udara pagi yang segar menyeruak masuk ke seluruh ruangan.
"Permisi...selamat pagi pa, bu... "Seorang perawat masuk membawa nampan besar berisi makanan, "Ini makanan untuk pasien Bu, dihabiskan ya pa" Ucapnya ramah.
"Terimakasih suster" Ucap Afifa sambil menganggukan kepalanya.
"Sama-sama Bu, permisi".
Sepeninggal suster Afifa menyuapi Fauzi, tentu saja disambut dengan senang hati oleh Fauzi asalkan Afifa juga ikut makan bersamanya, tak henti-hentinya dia menggoda istrinya. saling suappun terjadi, dihiasi candaan dan tawa kecil menambah hangatnya suasana didalam kamar.
Tak lama Umi dan Abi datang membawa makanan dan pakaian ganti untuk Afifa, begitupun dengan Mang ujang yang datang hampir bersamaan. Barang-barang Afifa langsung dibawa oleh mang ujang kerumah Fauzi, dia sudah membawa mobil Fauzi dengan kunci cadangan yang tersimpan di tokonya.
***
Tiga hari sudah berlalu, rutinitas yang biasanya menjenuhkan selama di rumah sakit, disikapi dengan santai oleh Afifa, dia justru merasa senang karena bisa sepenuhnya melayani suaminya, memang ya...jika bersama orang yang kita cintai dimanapun kita berada, tetap saja suasananya terasa indah...
*****
Bersambung...😊❤...
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hai reader... karena Author udah pada didemo pada minta Up di grup WA sama di grup NT, jadi nulisnya dikit, maaf ya...
Makasih masih setia dengan Afifa...😉
Love you All ❤❤❤❤❤❤❤❤
jangan lupa "**Vote" Like dan komentarnya...😉
By : @Rahma Khusnul** #
__ADS_1