
Malam semakin larut...mata Afifa masih saja sulit terpejam, mungkin karena seharian tiduran terus atau mungkin juga karena rasa sesak yang masih belum hilang dari hatinya.
Pukul 2 pagi Afifa teringat bahwa malam ini belum minum obat yang tadi pagi diberikan dokter padanya, dia bangun dan mencari-cari obat itu, akhirnya ia temukan dilaci meja yang terletak di pinggir tempat tidurnya, Namun air minum dikamarnya sudah habis, terpaksa Afifa bangkit, lalu pergi kedapur untuk mengambil air minum meski masih sempoyongan.
Afifa terkejut saat mendengar suara seseorang dari belakang. Dia melangkahkan kakinya perlahan menuju sumber suara. lalu berhenti sejenak sambil berfikir, ada rasa takut juga sebenarnya.
Seperti suara seseorang sedang terisak, tapi siapa? fikirnya. Afifa kembali melangkahkan kakinya. Seperti dari ruang mushola. Gumamnya.
Afifa mendongakan kepalanya mengintip dibalik pintu yang sedikit terbuka. Terlihat seseorang sedang bersimpuh diatas sajadah disana, lengkap dengan sarung dan peci yang dikenakannya, membelakangi pintu karena menghadap kiblat, kepalanya tertunduk, pundaknya berguncang seperti sedang menahan tangis karena rasa sakit yang begitu dalam.
Afifa merasa penasaran, diapun membuka perlahan pintu itu tanpa suara.
"Jleb...." Betapa kagetnya dia saat melihat suaminya disana, menangis terisak seperti sedang menahan beban yang begitu berat, sampai tak sadar kalau istrinya sudah duduk disampingnya.
Cukup lama Afifa duduk disana, terus memperhatikan suaminya dengan rasa iba, dia tidak tau apa penyebab suaminya sampai menangis tersedu-sedu seperti itu. akhirnya Afifa tidak tahan lagi berdiam diri. Ragu-ragu ia angkat tangannya untuk menyentuh pundak suaminya.
"Kak Aji..." Ucap Afifa pelan sambil menyentuh pundak Fauzi.
"Deg..." Jantung Fauzi berhenti sejenak. dia nampak begitu kaget karena ternyata istrinya sudah berada disampingnya. Dia segera menghapus airmata yang sempat jatuh. "Eh...Dek...kenapa tidak tidur?" Tanyanya gelagapan sambil mengusap usap wajahnya.
Afifa tidak menjawab, dia hanya fokus menatap wajah suaminya yang sembab dan pucat, matanya sayu memerah dan basah dahinya berkerut memancarkan begitu besar beban yang ada difikirannya. Tiba-tiba raut wajah suaminya berubah saat tatapannya bertemu dengan mata istrinya, seperti sedang menahan tangis yang teramat dalam dan begitu menyakitkan.
Afifa membetulkan posisi duduknya, lalu menepuk pangkuannya dengan tangan kanannya. "Kemarilah..." Ucapnya pelan sambil membentangkan tangan kirinya untuk meraih pundak suaminya.
"Bruk...!" Fauzi menjatuhkan kepalanya ke pangkuan istrinya, sambil menangis tersedu-sedu, tangisannya yang tertahan ia luapkan disana. Cukup lama Afifa membiarkan suaminya meluapkan tangisan dipangkuannya. perlahan tangan kanan Afifa mengusap kepala Fauzi yang sudah tidak berpeci lagi karena jatuh, tangan kirinya mulai menepuk-nepuk lengan suaminya yang masih terguncang.
Belaian tangan Afifa ternyata mampu menenangkan hati Fauzi, tangisnya mulai mereda, guncangan ditubuhnya pun tidak terlihat lagi.
Afifa terus saja membelai rambut suaminya, dia merasa sangat iba melihatnya, seumur hidupnya baru kali ini dia melihat seorang laki-laki menangis hebat selama itu, bahkan seperti pesakitan saja, sampai akhirnya Fauzi meraih tangan kiri Afifa dan menggenggamnya begitu erat dengan kedua tangan didepan dadanya.
Afifa mulai bicara. "Terkadang saat kita mempunyai masalah yang begitu menyesakan dada, kita akan butuh seseorang, mungkin untuk sekedar bercerita ataupun hanya sekedar bersandar. percayalah itu akan mengurangi sedikit beban dihatimu". Afifa menghela nafas panjang. Fauzi terdiam dan mulai mengangkat kepalanya, lalu duduk bersila tepat dihadapan Afifa. "Apa boleh aku menjadi seseorang itu? aku akan setia mendengarkan semua keluh kesah yang Kak Aji rasakan". Afifa tersenyum meyakinkan.
__ADS_1
"Tapi kamu pasti akan membenciku".
"Hmmm... mungkin aku akan lebih membencimu seandainya Kak Aji tidak mau menceritatakan semuanya. Begini saja...anggap saja kali ini aku bukan istrimu tapi temanmu. Kak Aji bebas menceritakan apapun, dan aku akan setia mendengarkan. Gimana...?"
Fauzi terdiam dan menunduk.
"Ya sudah kita bicara disofa aja..." Afifa bangkit dan menarik tangan suaminya agar berdiri dan mengikuti langkahnya. Entah mengapa tubuh Afifa yang tadinya begitu lemas tiba-tiba saja terasa ringan.
Fauzi duduk disofa, wajahnya terlihat gusar, dia bingung harus bercerita mulai dari mana.
Afifa menyadari hal itu, dia bangkit dan mengambil dua gelas air putih dari dapur. "Kak Aji minum dulu ya" mengulurkan tangan yang memegang segelas air ke hadapan Fauzi. lalu duduk disamping Fauzi dan ikut minum dari gelas yang lain.
Jam berdetak menunjukan pukul 2.30 malam
"Dek..."Fauzi memulai pembicaraan
"Hemmmm" jawab Afifa yang baru saja selesai minum.
"Dosaku begitu besar dimasa lalu..." Fauzi melirik istrinya yang sedang fokus mendengarkan. Afifa mengulas senyum. "Dosa ku begitu besar sehingga aku merasa Allohpun tidak akan mengampuniku". Kembali melirik istrinya, lalu menyandarkan tubuhnya disandaran sofa. "Waktu SMU aku anak yang nakal, aku sekolah di sekolah swasta ternama diBandung, cukup jauh dari rumah Mama. Karna harus bolak balik pulang pergi sekolah, aku minta izin untuk tinggal di kostan yang dekat dengan sekolah.
"Hari itu pengumuman kelulusan, kita yang sudah mendapat julukan anak geng paling nakal disekolah merasa tidak yakin kalau pihak sekolah akan meluluskan kami. Namun saat tiba kita diberi amplop pemberitahuan kelulusan dan dibuka secara bersamaan, betapa bahagianya aku saat membaca Nama siswa : FAUZI RAHMAN RAMADHAN dinyatakan -LULUS- Begitupun dengan teman-teman, kami bersorak, meloncat kegirangan. Pulang sekolah kami merencanakan pesta kelulusan disebuah kafe, tentunya bersama pasangan masing-masing masih mengenakan seragam SMU. Tanpa diketahui oleh orang tua kita, kita berpesta sampai larut malam, ada minuman juga disana, suasana pesta kelulusan anak muda, baju seragam kami sudah penuh dengan pilok berwarna warni. Pukul 1 dini hari kita pulang dan mengantar pasangan masing-masing kerumahnya dan ke kostannya. begitupun aku mengantar Wulan sampai ke kostannya dengan motor. Tiba di kostan wulan suasana begitu sepi, kepalaku juga mulai pusing. wulan mempersilahkan ku masuk kamarnya, dan disanalah terjadi bencana itu. Kami tidak sadar dengan apa yang kami lakukan..." Fauzi mulai meneteskan air mata. Afifa meraih tangan Fauzi dan menggenggamnya, berharap Fauzi punya kekuatan untuk melanjutkan ceritanya.
"Pagi hari aku terbangun, Aku terperanjat saat menyadari ada seorang wanita tidur disampingku dengan tidak ada satu helaipun pakaian melekat ditubuh kami. Aku bangkit mencari pakaianku dan memakainya, sedang wanita itu masih tidur dengan pulasnya. Diam-diam aku mengambil tas yang tergeletak dan keluar dari kamarnya, suasana diluar masih sepi, sekitar pukul 5 pagi. Aku menuntun keluar motorku agar suaranya tidak terdengar oleh siapapun termasuk ibu kost nya Wulan.
"Aku melesat melajukan motorku ke rumah kost ku, saat tiba disana aku merasa kacau, tidak percaya dengan yang baru saja aku lakukan. Ada perasaan takut dalam diriku, takut seandainya dia hamil dan meminta pertanggung jawaban dariku. di usia ku yang masih muda, fikiranku masih labil, aku tidak tau apa yang harus aku lakukan. Akhirnya aku memutuskan untuk lari darinya. Aku segera membereskan semua barang-barangku dan pulang kerumah, kufikir dia juga tidak tau alamat rumahku".
Fauzi tertunduk lalu diam-diam melirik ke arah Afifa, ternyata Afifa masih setia mendengarkannya.
"Apa dia wanita berseragam SMU yang ada di foto itu?" tanya Afifa.
Fauzi mengangguk lemah.
__ADS_1
"Apa Kak Aji pernah bertemu lagi dengannya?"
"Tidak. bahkan saat pengambilan ijazahpun dia tidak datang. aku sempat datang lagi ke tempat kostnya, tapi ibu kost nya bilang dia dijemput oleh orang tua nya dihari yang sama setelah kejadian itu. Itu membuatku semakin merasa bersalah".
"Apa Kak Aji sudah pernah bertanya alamat lengkapnya pada pihak sekolah?"
"Sudah..., mungkin agak terlambat, aku baru bertanya alamatnya setelah 2 tahun aku masuk pesantren. aku sempat mencarinya ke alamat itu, namun rumahnya sudah berpindah tangan. penghuni rumahnya yang baru mengatakan mereka sekeluarga sudah pindah ke jakarta. Dan dua setengah tahun yang lalu aku juga pergi ke jakarta, berdasarkan petunjuk dari penghuni rumahnya yang baru itu, namun sayang dia hanya mengetahui kalau mereka pindah ke daerah cengkareng, dia tidak tau alamat lengkapnya. berhari-hari aku mencarinya, namun tidak juga aku temukan".
"Kenapa Kak Aji baru mencarinya setelah selama itu?"
"hhhhhh...aku tau aku salah, waktu baru keluar SMU, fikiranku belum dewasa, meski ada rasa bersalah yang nenghantui fikiranku, aku justru melampiaskannya kepada hal-hal yang negatif, aku kembali terjerumus dengan obat haram itu, sampai akhirnya orang tuaku memasukanku ke pesantren. Bersikeras aku menolaknya, tapi demi Mama yang waktu itu sakit karna shok melihat ku sakau, terpaksa mengikuti keinginan orang tuaku.
Hari-hariku di pesantren sungguh tersiksa, setiap hari aku dirukiyah dan diterapi pengobatan oleh pa kiyai, sampai akhirnya setelah 2 bulan aku sembuh dari ketergantungan obat. Aku mulai mengikuti kegiatan-kegiatan pesantren meski ada rasa jenuh dalam fikiranku, pernah beberapa kali aku melarikan diri, tapi selalu kembali diantar oleh orang tuaku. sampai akhirnya aku bertemu dengan seseorang yang menarik perhatianku, sering sekali aku dengar prestasinya disekolah maupun pesantren, wajahnya begitu lugu dan manis saat pertama kali aku melihatnya di depan kantor pesantren, sejak itu aku terus memperhatikannya, bahkan untuk sekedar melihatnya sering sekali dengan sengaja aku datang ke tempat para santriwati berkumpul dengan alasan menggoda mereka. Aku tidak peduli meski keamanan pesantren sering memperingatiku bahkan sampai menghukumku, label anak nakal memang sudah tertanam pada diriku. Selama 2 tahun aku bertahan di pesantren tidak lain karna kehadirannya yang selalu memberiku semangat, aku selalu memberi perhatian lebih padanya, dengan cara memberinya berbagai hadiah dengan harapan dapat melihatnya tersenyum. Namun usianya yang masih kls 2 SMP dan sikapnya yang begitu lugu justru hanya menganggapku tak lebih dari seorang kakak, tapi aku tetap senang, saat melihat ia tertawa kegirangan saat mendapat hadiah dariku." Fauzi menatap Afifa. ternyata Afifa sedang ternganga menutup mulutnya dengan kedua tangan, setelah menyadari kalau orang yang suaminya ceritakan adalah dirinya sendiri.
"Dek..." panggil Fauzi
"Eh...iya..."
"Maaf...kalau dulu aku punya maksud lain dengan berbagai hadiah yang kuberikan padamu."
Afifa tersenyum dan menggeleng. "Aku juga minta maaf karena tidak menyadarinya". Afifa tertunduk. wajahnya memerah tersipu.
*****
Bersambung...😊❤...
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hai readers.... Untuk part ini cukup dulu ya... pegal tanganku terus bergerak...😊
masa lalu Fauzi masih berlanjut... tunggu di part selanjutnya...😉
__ADS_1
Love you Alll... ❤❤❤❤❤❤❤❤❤
jangan lupa komentarnya...😉