Seikhlas Cinta Afifa

Seikhlas Cinta Afifa
Berangkat KKN


__ADS_3

Sekitar jam 7 malam Fauzi datang menjemput Afifa. Setelah makan malam, Fauzi berpamitan pada Umi dan Abi untuk mengajak Afifa pulang.


Diperjalanan...*


"Kak...hari senin Fifa berangkat KKN." Afifa melirik suaminya yang sedang berkonsentrasi mengemudi.


"O ya?"


"Heem..." Afifa mengangguk. "Waktu kak Aji ke semarang kemarin Fifa dan teman-teman sudah mendapatkan lokasi penginapan."


"Berapa lama?"


"Sekitar 40 hari kak."


Fauzi mengangguk angguk.


"Apa kak Aji akan mengantar Fifa?" berhenti bicara sambil memperhatikan reaksi suaminya yang sama sekali tidak menolehnya. "Kalau Kak Aji sibuk nggak apa-apa kok. Fifa bisa pergi bareng teman-teman." katanya berusaha tersenyum.


"Aku antar." jawab Fauzi singkat.


Afifa tersenyum dalam hatinya. "Terimakasih Kak."


Hei... kok formal banget si... kita kan suami istri. Ah... entahlah. aku juga tidak berani berharap lebih darinya. Batin Afifa.


"Kak...Apa boleh Fifa pakai motor kak Aji yang di garasi?"


Fauzi menatap istrinya penuh tanya.


"Ya... maksud Fifa agar kak Aji gak perlu antar jemput Afifa ke sekolah atau ke kampus kan? lagian kalau pakai motor lebih cepat sampai." Papar Afifa yang sadar dengan tatapan penuh tanya suaminya.


"Kamu yakin?" Tanya Aji


"I... iya... Fifa pasti bisa mandiri kok kak." meyakinkan


"Pakai saja."


" Makasih Kak..." Afifa tersenyum lagi.


Setelah satu jam perjalanan mereka sampai di rumahnya.


*****


Keesokan harinya Afifa masih jadwal ke sekolah, dia membawa motor sendiri. Afifa tidak mau terus merepotkan suaminya.


Hari minggu saat aktifitas kesehariannya libur, Afifa gunakan untuk membereskan barang-barang yang akan dibawanya ke tempat KKN.


Seperti biasa malam hari fauzi selalu nonton acara televisi, Afifa duduk di samping suaminya.


"Kak... besok Fifa akan pergi lama lho. Apa kak Aji ingin mengatakan sesuatu?" tanya Afifa.


"Katakan apa?" tanya Fauzi

__ADS_1


"Ya... mungkin pesan atau apa aja gitu kak." Afifa tertunduk menunggu jawaban suaminya.


Fauzi membalikan badannya agak miring menghadap ke arah Afifa."Memangnya kamu ingin mendengar apa?"


Afifa mendongakan wajahnya, terlihat kekesalan dimatanya. "Gak apa-apa. Aku mau tidur, ngantuk." Afifa bangkit dari sofa lalu pergi ke kamarnya.


Fauzi hanya bengong melihat sikap istrinya,


tanpa berusaha menghentikan nya.


Afifa menutup pintu kamar agak kencang lalu berjalan menuju meja riasnya. Lama sekali ia memandang wajahnya dibalik cermin.


Kenapa kamu lakukan ini padaku Kak... Apa aku sama sekali tidak berarti untukmu. bagaimanapun aku ini istrimu, kau telah menikahiku. berbagai cara sudah aku lakukan, tapi sikapmu sama sekali tidak berubah. Tak teras airmata menetes dipipinya. Segera ia mengusapnya. Dia berjalan menuju lemari pakaiannya, dilihatnya pakaian tidur yang sempat ia beli bersama teman-temannya tergantung dilemarinya.


Aku tidak mau memakai baju itu lagi. aku takut kak Aji menolakku lagi. aku merasa seperti wanita penggoda yang sama sekali tidak diinginkan suaminya. Air mata Afifa malah keluar semakin deras. segera ia seka air mata itu, ia naik ke tempat tidur dan berusaha memejamkan matanya.


Pagi hari Afifa berangkat diantar suaminya, mereka menuju kampus terlebih dahulu karena ada pembekalan dari dekan dan ketua jurusan.


Tiba di kampus Fauzi memarkirkan mobilnya. Baru saja mereka turun tiba-tiba ada seseorang yang menyapa mereka.


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam." Fauzi dan Afifa serentak menjawab salam. Keduanya menoleh ke sumber suara.


Afifa kaget, jantungnya berdegup kencang saat tau ternyata orang yang datang adalah Farid. Afifa menurunkan pandangannya setelah sempat matanya bertemu dengan mata Farid yang sedang tersenyum.


Farid terlihat tampan dan rapi dengan setelan kemeja lengan panjang berwarna krem yang digulung setengah lengan dan celana berwarna senada.


"Iya kak... Afifa... Apa kabar?" Farid melirik Afifa, Afifa hanya mengangguk. Dia menjulurkan tangan kanannya ke arah Fauzi. Fauzi menyambutnya dengan senang hati, mereka berdua tersenyum lebar.


"Maaf kak...saya sengaja datang ke kampus Afifa. Saya lupa kemarin tidak menanyakan alamat juga no telpon Kak Aji. Saya hanya teringat Afifa kuliah dikampus ini. Jadi saya datang kesini." Jelas Farid


Jangan ditanya bagaimana reaksi Afifa. Dia sangat gelisah menyimak pembicaraan suaminya dengan Farid. Rasanya dia ingin sekali menarik tangan suaminya dan pergi meninggalkan Farid.


"Apa ada sesuatu yang penting?" tanya Fauzi.


"Iya kak. kemarin saya sudah bicara dengan Paman, beliau setuju dengan tawaran kakak untuk pasokan material pada proyek kami."


"Wah... benarkah?" Fauzi tersenyum, dia terlihat sangat senang.


Farid mengangguk sambil tersenyum.


"Afifa..." panggil seseorang yang datang menghampirinya.


Afifa menoleh ke sumber suara yang dikenalnya. "Sofi." Mereka bersalaman dan cipika cipiki seperti biasanya.


Mendengar seseorang memanggil nama Afifa, Fauzi dan Farid otomatis melihat kearah mereka.


Farid mengingat ingat wajah perempuan dihadapannya. "Ah...Sofi kan?"


Sofi melepaskan tangannya dari Afifa lalu berbalik ke sumber suara. Matanya menatap tajam wajah itu, tak sadar mulutnya terbuka seolah melihat sesuatu yang aneh dihadapannya.

__ADS_1


Afifa menyikut tangan Sofi.


"Ah... iya. saya Sofi." jawabnya gelagapan. "Apa ini Farid?" pertanyaannya menyelidik hanya ingin meyakinkan.


"Iya Sof... masa kamu lupa si."


"Farid. kemana aja kamu, nggak pernah ada kabar. Afifa....." Sofi menutup mulutnya, setelah sadar apa yang dia katakan.


Spontan Afifa menarik lengan Sofi.


"Eh... maksudnya kami nggak pernah mendengar kabarmu sejak keluar dari pondok dulu." Sofi melirik ke arah Afifa, matanya mengisyaratkan penyesalan.


Kepada seluruh mahasiswa semester 7 yang akan berangkat ke lokasi KKN segera berkumpul di Aula untuk pembekalan. Sekali lagi kepada......


Suara pengumuman terdengar dari pengeras suara.


"Kita sudah di panggil tuh Fa."


"Afifa...Sofi..." teriak sesorang memanggil. Rupanya Sari baru datang, dia barusaja turun dari mobil ayahnya. Sari berlari menghampiri mereka, adegan drama cipika cipikipun berlangsung. "Sudah siap berangkat?" tanyanya sambil cengar-cengir.


"Kamu tuh yang harusnya ditanya. kok baru dateng? tumben." Tanya Sofi.


"Duh... biasa deh banyak yang harus disiapin. aku kan harus bawa ini itu, secara mau pindah rumah..." Jawabnya sekenanya.


"Ah... lebay lu, orang mau KKN doang."


Mereka bertiga tertawa.


"Sebentar Aku pamit dulu." ucap Afifa pada kedua sahabatnya.


Sari menoleh ke arah dua orang pria yang di hampiri Afifa. "Siapa dia Sof?" berbisik, matanya tertuju ke arah farid.


"Itu Farid. Mantannya Afifa waktu SMU." Jawab Sofi tak kalah berbisik.


"Wah... pantesan Afifa susah ngelupain dia. Keren banget orangnya." Jawab Sari cengengesan masih berbisik bisik.


"Udah ah... nanti orangnya denger. Afifa juga gak suka kalau kita membicarakan dia."


Sari mengangguk tanda mengerti.


Afifa berpamitan pada Fauzi. "Kak aku ke Aula dulu ya."


"Iya. Aku nunggu diwarung sebrang jalan itu ya. sambil ngobrol-ngobrol sama Farid."


Jawab Fauzi.


Afifa mengangguk, tak sengaja matanya melirik ke arah Farid, Afifa kaget rupanya Farid sejak tadi memperhatikan wajahnya sambil tersenyum. Afifa menundukan pandangannya lalu pergi menghampiri kedua sahabatnya. Ketiganya beriringan menuju Aula.


*****


Bersambung...😊❤

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2