
Tiga hari sudah berlalu, rutinitas yang biasanya menjenuhkan selama di rumah sakit, disikapi dengan santai oleh Afifa, dia justru merasa senang karena bisa sepenuhnya melayani suaminya, memang ya...jika bersama orang yang kita cintai dimanapun kita berada, tetap saja suasananya terasa indah.
Teman-teman Afifa sempat datang juga ke Rumah Sakit, tentunya Sofi ditemani Asfir, karena statusnya yang kini sudah berubah.
Sore hari Fauzi sudah diperbolehkan pulang, Mang ujang dan Bi Yati menjemputnya menggunakan mobil Fauzi.
***
Selepas sholat maghrib, Fauzi kembali bersandar diatas tempat tidur, kondisinya sudah membaik, tinggal pemulihan saja.
Afifa membereskan alat sholat dan hendak mengambil makanan yang sempat dibuatkan Bi Yati didapur, namun langkahnya terhenti karena suara ponselnya berdering, Afifa menghentikan langkahnya, dan mengambil ponsel dari dalam tasnya.
Afifa terdiam, ragu-ragu untuk menjawab panggilan, matanya melirik suaminya yang sedang memperhatikannya.
"Siapa Dek?" tanya Fauzi yang melihat istrinya hanya terdiam.
Afifa menyerahkan ponselnya ke arah Fauzi, "Farid Kak," ucapnya.
"Angkatlah! gak apa-apa". Jawab Fauzi santai, masih bersandar.
Afifa menggeser layar dan meloadspeaker ponselnya, lalu duduk disamping suaminya.
"Assalamualaikum"
Waalaikum salam, apa kabar Afifa?
"Alhamdulillah baik"
Ku dengar suamimu masuk Rumah Sakit? maaf aku tidak sempat menjenguknya, sekarang aku sudah di Semarang, bagaimana kondisinya sekarang?
"Alhamdulillah, sudah membaik, sekarang kami sudah dirumah, Apa Kak Farid mau bicara dengannya?"
Afifa menyerahkan ponselnya kepada Fauzi tanpa menunggu persetujuan Farid.
"Assalamualaikum" ucap Fauzi
Tidak ada jawaban disebrang sana
"Assalamualaikum Farid?" Fauzi mengulang salamnya.
Eh...waalaikum salam Pak Fauzi.
"Panggil Fauzi aja?"
Oh iya Fauzi, Emmmm...aku...aku minta maaf soal kejadian itu. suaranya gugup.
"Terkadang, apa yang kita lihat dan kita dengar, belum tentu sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya".
hening....tidak ada jawaban dari Farid. hanya helaan nafas panjang Farid yang terdengar jelas dari sana.
"Sepertinya kau belum mengikhlaskannya?" Ucap Fauzi kemudian
Ya...aku tau seharusnya aku tidak melakukan hal itu. Suara Farid terdengar penuh penyesalan.
"Sudahlah...lupakan saja, kalau aku ada diposisimu, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama sepertimu".
Sekali lagi aku minta maaf, aku hanya ingin melihatnya bahagia. Assalamualaikum.
"Trup" suara telphon ditutup
"Waalaikum salam". Jawab Fauzi,
Afifa dan Fauzi terdiam setelah mengakhiri panggilannya dengan Farid, keduanya tenggelam dalam fikirannya masing-masing.
Fauzi menatap istrinya, hatinya berkata,
Dia pemuda yang baik, dan sangat mencintaimu, Seandainya...sekali saja kau meminta untuk kembali padanya, dan mengatakan bahwa kau tidak sanggup lagi hidup bersamaku yang belum bisa membuatmu bahagia ini, mungkin aku akan mengenyampingkan semua perasaanku demi melihatmu bahagia.
__ADS_1
Ditatapnya mata istrinya barangkali saja dia menemukan suatu perubahan disana setelah mendengar semua percakapan antara dirinya dengan laki-laki yang pernah singgah dihatinya, namun mata Afifa yang bening hanya menatapnya dengan penuh cinta kearahnya.
"Afifa..." Tangan kanan Fauzi memegang pipi Afifa, lalu mengusapnya dengan lembut
Afifa tersenyum, "Iya Kak..."
"Sebenarnya, mudah sekali bagimu untuk kembali padanya, dia sangat mencintaimu, mungkin kau akan lebih bahagia bersamanya".
Afifa memegang tangan Fauzi yang masih menempel dipipinya. "Kak...bagiku pernikahan itu bukan hanya ikatan seseorang dengan sesama manusia, tapi satu ikatan suci yang telah dipersatukan oleh Alloh, Mungkin Kak Aji bukan cinta pertamaku, Tapi sejak kau mengatakan kalimah Aqad didepan Penghulu dan Abiku, juga disaksikan oleh seluruh keluargaku, sejak itulah aku bertekad, bahwa kau adalah Imamku, yang akan menuntunku menuju Syurga Nya, aku akan selalu bersamamu, menjalankan setiap detik kehidupanku, menjalani ibadah yang paling indah dan paling lama waktunya ini hanya bersamamu".
Fauzi tak dapat bicara lagi mendengar ucapan istrinya, dia hanya merangkul tubuh mungil yang ada dihadapannya, meski hatinya mengucapkan ribuan syukur kepadaNya, dia merasa betapa beruntungnya dirinya mendapatkan istri solehah nan cantik yang ada dalam dekapannya saat ini.
Fauzi melepas pelukannya, dikecupnya kening Afifa cukup lama, sampai tetesan airmatapun jatuh dipipinya.
Afifa tersenyum dengan mata berkaca-kaca, diusapnya air mata suaminya dengan kedua jarinya. "Fifa siapkan makan dulu ya Kak...tunggu disini sebentar".
Afifa bangkit dari duduknya, lalu berjalan menuju dapur, dia kembali dengan membawa nampan berisi sepiring nasi lengkap dengan lauknya, juga satu gelas air putih, mereka berdua makan dalam satu piring dan satu gelas yang sama.
***
Setelah 2 hari Fauzi dirumah, keadaannya semakin membaik, dia mulai pergi ke tokonya, untuk mengecek keluar masuk barang, juga pembangunan tokonya yang sempat tertunda.
Afifa juga mulai mengajar lagi, karena minggu ini anak-anak sudah ujian semesteran. Seperti biasa Afifa selalu berhenti didepan sekolah Nisa, hanya untuk menyapa Nisa, atau lebih tepatnya melihat Talita, dan hari itu, Afifa melihatnya sedang bermain dihalaman sekolah bersama teman-temannya, Afifa tidak berani menghampirinya, cukup melihatnya dari jauh, melihatnya tertawa, entah mengapa ada dua rasa yang bertolak belakang dihatinya, rasa ingin memeluknya, dan rasa ingin menjauhinya karena teringat dengan ibunya. Diapun kembali melajukan motornya menuju tempat mengajarnya.
***
Pulang sekolah Afifa mampir ke toko Suaminya, dilihatnya semua pekerja sedang sibuk melayani setiap pembeli, Namun Fauzi tidak ada di ruangannya. Afifa bertanya kepada Mang Ujang, beliau bilang suaminya sedang memeriksa pembangunan toko barunya, Afifa pun pulang ke rumah, dia segera membersihkan dirinya.
Selesai mandi Afifa mendapat pesan dari Fauzi,
"Sayang, malam ini tidak usah masak ya, kita akan makan malam bersama Wulan".
"Baik Kak..." pesan terkirim.
Afifa terdiam membaca pesan itu,
tapi bukankah dia punya alasan untuk itu, Talita...ya talita adalah kekuatannya. mungkin dia sudah sangat menderita selama ini karena membesarkan Talita sendirian. Ah...Ya Alloh...apa yang harus aku lakukan? hamba mohon berikan petunjukmu.
Hati Afifa berkecamuk, memikirkan kembali sesuatu yang sempat dilupakannya beberapa hari ini. Airmatanya kembali menetes, tapi dia bertekad untuk tidak lari dari kenyataan ini. dia harus menerima apapun keputusan dari pertemuan malam ini.
***
Malam haripun tiba, selepas maghrib keduanya berangkat dengan mobil menemui Wulan di restoran sebuah Mall sesuai dengan permintaannya.
Sesampainya di depan Mall Fauzi menghentikan mobilnya diparkiran, Afifa masih terdiam didalam mobil, ada keraguan yang menggoda fikirannya.
Fauzi menatap istrinya, "Dek..." tangannya menggenggam tangan Afifa yang dingin dan sejak tadi terus saja diremas-remas diatas dipangkuannya, "Ayo turun!"
"Ah...iya Kak..." Jawab Afifa gugup.
"Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja, yuk!"
Afifa mengangguk, lalu membuka pintu mobil dan turun menghampiri suaminya, lalu meraih tangan Fauzi yang sedang terulur menyambut tangannya, keduanya berjalan menuju mall besar itu, naik lift menuju lantai 5, tepat di area resto.
Mata Fauzi dan Afifa berkeliling mencari sosok wanita yang dicarinya, setiap meja mereka perhatikan, namun tak pula menemukannya, sampai sebuah suara anak perempuan memanggil Afifa.
"Bu Guru...!"
Afifa memperjelas pendengarannya, dibalik suara nyanyian klasik yang terus mengalun di seluruh resto itu.
"Bu Guru Afifa...!" Suara itu semakin terdengar jelas.
"Deg..." jantung Afifa semakin berdetak kencang saat mengenali suara anak yang memanggilnya, diapun menoleh ke sumber suara, begitupun dengan Fauzi.
"Talita?" tanya Afifa dan langsung memeluknya, "kok ada disini?" Mata Afifa berkeliling, nampaklah seorang Wanita cantik sedang duduk dipinggir arena mainan anak, rupanya dia sedang menjaga anaknya yang sedang asyik bermain.
Wanita itu tersenyum kearahnya sambil melambaikan tangannya, Afifa langsung melepaskan pelukannya pada Talita.
__ADS_1
"Bu guru bersama paman juga?" tanya anak itu, berceloteh dengan bibir mungilnya.
"Iya Sayang", Jawab Afifa, "Ayo salam dulu!"
"Assalamualaikum paman" ucapnya menggemaskan sambil mengulurkan tangan, lalu mencium tangan Fauzi.
Fauzi membungkuk mensejajari tinggi Talita, "Waalaikum salam sayang..., boleh paman memelukmu?"
Talita menoleh pada Afifa meminta persetujuannya, Afifa mengangguk, diapun mendekat pada Fauzi dan memeluknya.
Pada waktu yang sama Wulan sudah berdiri disamping mereka, senyuman tersungging di wajah cantiknya, melihat keakraban putrinya dengan Fauzi.
Senyum Afifa seketika hilang saat melihat wanita dihadapannya, dia mundur beberapa langkah dari posisi Talita dan Suaminya, ada rasa sakit didadanya saat melihat situasi itu, mereka sungguh serasi, seperti sebuah keluarga kecil yang sedang berbahagia, dan dia merasa seperti orang yang datang untuk mengusik kebahagiaan keluarga kecil itu.
Fauzi melepas pelukannya, "Talita lagi main ya?" tanya Fauzi
"Iya paman" jawab Talita, lalu pandangannya beralih ke arah ibunya, "Bunda...paman ini suaminya Bu Guru, benarkan Bu?" Talita memandang Afifa. Afifa tersenyum sambil mengangguk.
"Apakabar kalian?" tanya Wulan pada Afifa
"Alhamdulillah, baik Mbak, Kak Aji juga sudah sehat sekarang," jawab Afifa
"Syukurlah, urusan polisi juga sudah selesai".
"Terimakasih Mbak".
"Sama-sama" jawab Wulan singkat, masih dengan senyuman khasnya.
"Bu Guru...Ayo temenin Talita main, Talita bosen main sendiri, Ayo bu..." Ucap Talita sambil menarik tangan Afifa menuju area bermain.
"Eh...tunggu dulu sayang..., minta izin dulu sama Bunda", Kata Afifa sambil terus mengikuti Talita yang terus saja menarik tangannya.
"Bunda boleh kan...?" teriaknya karna kini posisinya sudah agak jauh dari tempat berdiri Fauzi dan Wulan.
"Hati-hati...!" teriak wulan.
Afifa tidak bisa menolak ajakan anak yang tidak berdosa itu, diapun terpaksa mengikutinya menuju area bermain.
Afifa melihat suaminya dari jauh, mereka tampak duduk berhadapan disatu meja, entah apa yang mereka bicarakan, tapi wajah mereka nampak serius dan sesekali memandang kearahnya dan Talita.
Apa yang mereka bicarakan disana? hatiku begitu sakit melihatnya, kenapa aku merasa seperti babysister anak mereka disini...apa yang harus aku lakukan? apa aku harus diam saja melihat semua ini. Ya Alloh...aku juga tidak mungkin meninggalkan anak yang tidak berdosa ini,
mengapa Kak Aji diam saja melihat posisiku yang serba salah ini, apa dia sengaja supaya leluasa bicara dengannya? lalu mengapa dia mengajakku kesini? kalau tau akan seperti ini, lebih baik aku tidak ikut dengannya tadi.
Perasaan Afifa semakin kacau, sesekali Talita memanggilnya, dengan terpaksa dia sunggingkan sedikit senyum padanya, lalu kembali pada lamunannya.
Afifa ingin sekali berteriak ... bak seorang istri yang mendapati suaminya selingkuh dihadapannya, tapi dia tidak serendah itu, dia tahan semua perasaannya, menunggu dan tetap menunggu sampai mereka sendiri yang memanggilnya.
*****
Bersambung...😊❤...
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Readers... kuatkan hati Afifa ya....😢
Afifa harus gimana coba???😢
ikut jawab dong dikolom komentar...🙏
****
Maafkan Author, 2 hari kemarin gak bisa Up...
tetap kasih semangat dengan Vote dan komentarnya ya...😉
Love You All.... ❤❤❤❤❤❤❤❤😙😙
__ADS_1
By : @Rahma Khusnul #