
Mobil hitam Fauzi melaju meninggalkan area parkir mall besar itu, setelah mereka sholat isya di mushola Mall tentunya. Selama diperjalanan keduanya terdiam tenggelam dalam fikirannya masing-masing, wajah mereka nampak berseri-seri, sesekali saling pandang lalu tersenyum, ketakutan yang selama ini terus mengganjal dihati dan fikirannya kini telah hilang seiring berakhirnya pertemuan mereka dengan Wulan.
"Kak...kok lewat sini?" Tanya Afifa saat menyadari jalan yang dilalui bukanlah jalan menuju rumahnya.
"Kita mau ke pesantren dulu, menemui Apa Kiyai," Jawab Fauzi.
"Tapi ini kan sudah malam, apa tidak sebaiknya besok saja menemuinya?, nanti malah mengganggu beliau".
"Tidak, beliau sudah menunggu, tadi aku sudah menghubunginya".
"Tapi Kak..."
"Kenapa? Istriku sudah tidak sabar ingin pulang ya?" Senyuman menggoda tersungging dari bibir Fauzi.
"Ah...enggak, aku... aku hanya tidak enak saja dengan beliau".
Fauzi hanya tersenyum, lalu menggenggam tangan Afifa dengan tangan kirinya.
pukul 10.30 mereka sampai dipesantren, suasana dipesantren sudah sepi, aktivitas sehari-hari biasa di tutup pukul 10 malam. setelah memarkirkan mobilnya dihalaman pesantren, keduanya segera menuju rumah Apa kiyai dan mengetuk pintu rumahnya, ternyata Apa Kiyai sendiri yang membuka pintunya, beliau memang sedang menunggu kedatangan mereka.
Mereka dipersilahkan masuk, makanan dan minuman sudah tersedia, sepertinya Ceuceu sudah menyiapkan semuanya sebelum beliau pergi tidur.
"Masuklah!" Ucap Apa Kiyai.
Keduanya mengangguk lalu melangkah menuju ruang tamu.
"Apakah kami mengganggu Apa?" Tanya Fauzi.
"Tentu saja tidak, Apa sengaja menunggu kalian, Ceuceu juga sudah tidur, jadi kalian tidak perlu sungkan mengungkapkan semuanya", Apa kiyai menjelaskan.
"Sebelumnya saya mohon maaf Apa, selalu saja merepotkan Apa dengan berbagai masalah yang saya hadapi", Ucap Fauzi kemudian
"Nak...kalian berdua sudah Apa anggap seperti anak Apa sendiri, kalian tumbuh disini, belajar menyiapkan masa depan disini, jika terjadi sesuatu dimasa depan kalian, tentunya Apa sangat senang jika ikut dilibatkan, apa lagi bisa membantu kalian".
Afifa hanya mendengarkan perbincangan antara guru dan murid dihadapannya.
"Bagaimana perkembangannya sekarang?" Tanya Apa Kiyai kemudian.
"Alhamdulillah Apa, semuanya dapat diselesaikan, tentunya dengan bantuan Apa juga, kami sudah bertemu dan saling bicara", Fauzi menjelaskan semua yang sudah dikatakan Wulan, termasuk status Talita, dan Fauzi sudah mendapatkan maaf dari Wulan.
"Syukurlah, Apa ikut berbahagia untuk kalian. Nah Fauzi...sekarang kamu sudah lega dan tidak ada lagi yang perlu ditakutkan dalam hubungan rumah tangga kalian bukan?"
Fauzi terdiam sejenak seperti memikirkan sesuatu, "Entahlah Apa, saya belum tau, apakah perasaan trauma itu akan hilang begitu saja saat saya berhubungan dengan istri saya, meskipun sudah jelas-jelas kata maaf itu sudah saya dapatkan". Fauzi menoleh ke arah istrinya, Afifa menatap balik suaminya, nampak satu kekhawatiran dari tatapan keduanya.
"Kalau begitu, ini adalah masalah mentalmu yang tidak bisa membedakan satu kejadian yang sama antara yang halal dan yang haram", Apa kiyai berbicara dengan nada serius. "Ini bisa dikatakan, kamu mengalami trauma Fsikologis," Apa Kiyai menghela nafas panjang.
"Banyak orang yang menganggap kata trauma dengan begitu enteng, seolah bisa jadi kata ganti dari rasa takut. Padahal, trauma psikologis lebih dalam dari sekedar rasa takut. Perasaan ini bisa muncul saat sense of security atau perasaan aman dalam melakukan sesuatu, hilang.
Perasaan ini akan membuatmu berkutat dengan rasa sedih, ingatan buruk dan kecemasan yang berlarut-larut. bahkan kehilangan percaya diri dihadapan istrimu, kau akan selalu menganggap dirimu yang selalu bersalah
Setelah kau mendapatkan kata maaf dari sumber masalahmu, itu baru tahap pertama, sekarang kamu harus fokus pada pemulihan mentalmu, dalam hal ini hanya istrimu saja yang bisa membantu". Apa kiyai memandang Afifa.
Afifa cukup kaget mendengar semua yang dikatakan Apa Kiyai.
"Apa yang harus saya lakukan Apa?" tanya Afifa.
"Tentunya, kalian harus terus mencobanya, agar suatu hubungan suami istri itu tidak dirasa tabu bagi Suamimu, yakinkan Suamimu, bahwa hubungan intim yang sudah terikat dalam suatu pernikahan itu bukanlah sesuatu yang haram, tapi suatu ibadah dalam islam".
Afifa dan Fauzi termenung mendengarkan penjelasan dari Apa Kiyai.
"Apa kalian pernah belajar kitab Uqudulujaen?"
Fauzi dan Afifa mengangguk.
"Tentunya kalian sudah tau dengan hak dan kewajiban dari suami dan istri. Hanya saja Apa akan mengingatkan bahwa Pernikahan itu adalah salah satu ibadah yang perasaan nikmatnya lebih besar dibandingkan perasaan terbebaninya, sehingga rasa berbahagia saat setelah melangsungkan acara pernikahan jauh lebih dominan dibandingkan pemahaman untuk menghargai kekurangan masing-masing.
Salah satu kenikmatan yang paling terlihat lewat syariat pernikahan adalah dapat melakukan hubungan intim dengan lawan jenis secara halal (dibenarkan dalam syariat).
Namun, sebelum asyik masuk ke dalam ibadah tersebut, seyogyanya seorang suami memperhatikan adab-adab yang perlu dilakukan sebelum berhubungan intim dengan istri.
__ADS_1
Ada beberapa adab yang dikutip dari kitab Qurratu al-‘Uyun bi Syarh Nazhm Ibn al-Yaamuun karya Muhammad al-Tuhami al-Madani al-Fasi, diantaranya membersihkan hati Sebelum menemui pasangan untuk melakukan hubungan intim juga melakukan beberapa amalan Sunnah nya berupa masuk dengan kaki kanan, membaca basmalah, serta mengucapkan shalawat kepada Rasulullah Saw., lalu mengucapkan salam.
Kemudian, melakukan shalat sunnah dua rakaat atau lebih, membaca al-Fatihah tiga kali dan al-Ikhlash tiga kali. Dilanjutkan dengan bershalawat sebanyak tiga kali lalu berdoa kepada Allah Swt. agar orang-orang dapat bergaul dengan baik kepadanya dan terus mencintainya.
Meski sesungguhnya sholat sunnah sebelum melakukan hubungan intim itu tidak ada sanad yang jelas runtutannya dari Nabi, namun sudah sepantasnya seseorang bersyukur dengan melakukan sholat atas karunia yang telah diberikan Alloh, sehingga kenikmatan dunia yang tadinya haram menjadi halal"
Afifa dan Fauzi masih terdiam, sampai akhirnya Afifa mulai buka suara, "Baik Apa, saya akan berusaha"
"Apa kalian memajang foto pernikahan kalian dikamar?" Tanya Apa Kiyai
Afifa tersentak, dia baru sadar kalau dikamarnya tidak ada satupun foto pernikahan mereka, mengapa dia bisa lupa dengan moment terpentingnya itu? Afifa dan Fauzi menggeleng.
"Cobalah pasang foto pernikahan kalian dikamar kalian, supaya kamu selalu ingat Zi..., bahwa kalian sudah menikah dan hubungan yang kalian lakukan bukanlah sesuatu yang haram". Apa kiyai terdiam sejenak, "Kalau perlu simpanlah surat nikah kalian dibawah bantal saat akan berhubungan intim". Apa Kiyai tertawa ringan.
Fauzi tersenyum mendengar ucapan orang hebat didepannya ini, terdengar seperti candaan tetapi memang benar adanya. Afifa hanya tertunduk, dan tersipu.
"Terimakasih atas semua nasihat Apa, saya bersyukur karena telah datang kepada orang yang tepat, semoga setelah ini semua masalah rumah tangga kami terselesaikan". Ucap Fauzi.
"Sama-sama, Baiklah sudah malam, sebaiknya kalian istirahat, kalian menginap disini saja, ada kamar kosong dibelakang". Ucap Pa Kiyai
"Terimakasih Apa, kami akan pulang saja". Jawab Fauzi.
"Hmmm...baiklah, tapi kalian hati-hati, ini sudah lewat tengah malam".
"Baik Apa, kami permisi".
Fauzi dan Afifa berpamitan, mereka melangkah diiringi dengan do'a restu dari gurunya.
***
Adzan subuh berkumandang, Afifa terbangun, dia terdiam mengingat-ingat kejadian semalam. Dia baru sadar kalau diperjalanan pulang dia tertidur dikursi mobil, mungkin suaminya yang memindahkannya ke tempat tidur.
Afifa tersenyum sendiri, mengira-ngira apa yang dilakukan suaminya semalam, begitu pulaskah tidurku? sampai aku tidak terbangun saat Kak Aji menggendongku?, gumamnya, mungkin karena sudah terlalu larut ditambah beban berat di fikirannya yang kini sudah hilang membuat tidurnya begitu nyenyak tanpa beban.
Tangan Fauzi masih melingkar diperutnya, Afifa menggeser tubuhnya perlahan, lalu bangkit dan masuk kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudhu. Setelah selesai dia keluar dan membangunkan suaminya.
"Kak..."Afifa menepuk pelan bahu Suaminya, "Ayo bangun sudah subuh".
"Benar, Ayo Wudlu dulu! aku tunggu, kita jamaah dirumah saja, ke mesjid juga sudah ketinggalan".
"Astaghfirulloh...kenapa tidurku nyenyak sekali?" Ucap Fauzi lalu bangkit dan berjalan ke kamar mandi.
Setelah kedunya sholat dan berdzikir sebentar, Fauzi terus saja menguap.
"Kak Aji tidur lagi aja, nanti Fifa bangunin jam 6"
"Kamu sendiri? mau tidur juga?"
"Tidak, pagi-pagi begini banyak yang harus Fifa kerjakan, apalagi sekarang harus kesekolah, Kak Aji tidurlah!"
Fauzi mengangguk dan kembali membaringkan tubuhnya ditempat tidur.
Afifa membereskan alat sholatnya, lalu bergegas melakukan rutinitas paginya, setelah selesai dilihatnya jam sudah menunjukan pukul 6 pagi, Afifa membangunkan suaminya, Fauzipun terbangun dan pergi mandi.
Afifa sudah bersiap dengan pakaian mengajarnya, selesai memoles wajahnya dan memakai kerudung yang senada dengan seragamnya, Fauzi keluar dari kamar mandi dan memakai pakaian yang sudah disiapkan Afifa diatas tempat tidur.
Setelah rapi Fauzi berjalan menghampiri istrinya yang masih berdiri didepan cermin, Dia memeluk tubuh Afifa dari belakang, menjatuhkan kepalanya dipundak Afifa,
"Apa hari ini harus tetap ke sekolah?"
Afifa terdiam sejenak, lalu menjawab pertanyaan suaminya, "Iya Kak..."
"Tidak bisakah kamu minta izin hari ini pada Pamanmu untuk dirumah saja?"
Afifa tersenyum, lalu membalikan badannya menghadap suaminya, "Tidak Kak...hari ini hari kamis terakhir pertemuanku dengan anak-anak sebelum mereka Ujian Semester hari senin nanti" Sambil melingkarkan tangannya keleher suaminya.
Fauzi memegang pinggang Afifa dan mengangkat tubuh istrinya hingga duduk dimeja rias, bibirnya mendekat dan ******* bibir Afifa cukup lama.
Afifa terhentak kaget, dia berfikir, apa sebaiknya dia dirumah saja hari ini, mungkin suaminya ingin melakukannya saat ini.
__ADS_1
Fauzi melepaskan ciumannya, lalu tersenyum dan berjalan mengambil ponsel yang masih terpasang kabel charger diatas nakas.
"Kak...apa kau tidak ingin aku pergi kesekolah hari ini?" tanya Afifa yang masih duduk diatas meja rias, peralatan makeupnya berserakan disana.
"Tidak apa-apa pergilah, aku hanya ingin mengucapkan selamat pagi lewat bibirmu," Ucap Fauzi santai.
"Tapi mungkin kau ingin..."
Fauzi tertawa ringan, "Tidak untuk pagi ini, tapi aku tidak tau kalau nanti malam" Fauzi mengedipkan matanya dan berlalu meninggalkan Afifa yang tersentak kaget dengan sikap suaminya, dia hampir loncat turun dari meja rias, lalu membereskan peralatan makeupnya yang berantakan karena ulah suaminya.
Setelah sarapan Afifa berangkat menuju sekolah, begitupun Fauzi seperti biasa pergi ke tokonya.
***
Pukul dua siang Afifa pulang kerumahnya, setelah memarkirkan motornya dia segera membuka pintu dan masuk kedalam rumahnya, saat pintunya terbuka mata Afifa tertuju pada beberapa photo pernikahan dirinya yang terpajang disetiap sudut ruangan, Emmm...manis sekali... fikirnya.
Diapun masuk kedalam kamarnya, saat membuka pintu kamar, matanya terbelalak saat melihat dua buah photo besar didinding kamarnya dilengkapi dengan bingkai besar yang indah berwarna emas.
Satu photo dirinya dengan Fauzi saat resepsi, tergantung didinding tepat diatas tempat tidur, Afifa menggunakan gaun berwarna peach dengan designe sederhana namun elegant dengan posisi bersandar ke dada Fauzi sambil memegang bunga ditangannya, Fauzi dengan setelan jas berwarna abu tua, berdiri melingkarkan lengan kirinya kebahu Afifa, tangan kanannya memegang pinggang Afifa, keduanya tersenyum dengan mata tertuju pada bunga yang dipegang Afifa.
Satu lagi photo dirinya dengan Fauzi mengenakan gaun putih dan jasko putih saat baru saja selesai akad tikah, sedang berdiri memegang buku nikah yang terbuka, keduanya tersenyum menunjukan statusnya yang baru, terpasang didinding tepat dihadapan tempat tidurnya.
Afifa tersenyum, dia membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur sambil terus menatap photo dihadapannya, Kapan Kak Aji melakukan semua ini? secepat itukah photo besar ini selesai? hmmmm... Kak Aji so sweet banget si...
Afifa terus tersenyum membayangkan wajah manis suaminya, tak terasa tubuhnya berguling-guling sendiri diatas tempat tidur sampai seragam sekolah dan jilbab yang masih dipakainya kusut tak karuan.
Afifa tersadar saat notif ponselnya berbunyi, dia segera mengambilnya dari dalam tas, pesan dari suaminya, dengan wajah berseri-seri dia segera membukanya,
Assalamualaikum, sudah pulang sayang?
"Waalaikum salam, Sudah 😊"
Apa kau suka dengan photonya?
"Suka, sangngngat suka 😙"
Jangan menggodaku sesiang ini, aku masih kerja.
"😰 Siapa yang menggoda?"
Itu emot kamu
"Oh...maaf...sudah terlanjur 😄"
huuuh...😥
"Enggak...aku bercanda, o ya mau makan apa malam ini?"
Gak usah masak kita delivery aja, aku sudah siapkan semuanya, kamu istirahat saja dirumah, siapa tau kita akan bergadang semalaman 😉😉😉
"😰😰😰😰😰"
Assalamualaikum, 😙😙😙
"Waalaikum salam"
Afifa masih menggenggam ponsel didadanya, sambil berbaring ditempat tidur, wajahnya berseri-seri dan bersemu merah.
Afifa begitu senang mendapatkan pesan dari suaminya hari ini? jantungnya terus berdebar, hatinya berbunga-bunga, rasanya sudah tidak sabar menunggu malam datang, seolah akan menghadapi malam pertama saja, meskipun sebenarnya memang malam pertama yang tertunda lebih dari 7 bulan lamanya...😀
***********
Bersambung...😊❤...
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Emmmmh...yang masih nunggu, sabar dulu ya...😊
Jangan lupa "Vote" dan selalu menuliskan sesuatu di kolom komentar, karena itulah yang membuat Author semakin semangat 😉
__ADS_1
Love You All...❤❤❤❤❤❤❤😙😙😙
By : Rahma Khusnul #