Seikhlas Cinta Afifa

Seikhlas Cinta Afifa
Permintaan Maaf


__ADS_3

Motor Afifa melaju membelah jalanan kota Bandung, Hari jum'at yang cerah, secerah suasana hatinya. Ditengah perjalanan, ia teringat kembali dengan selembar foto itu, "bagaimanapun aku harus menemukannya, mungkin dia juga menggunakan sosial media, aku bisa mencarinya disana, tapi...siapa nama lengkapnya ya? waduh...aku lupa belum sempat bertanya pada Kak Aji. Oke nanti saja pulang dari sekolah aku tanya". Fikiran Afifa melayang, tanpa sadar motornya sudah hampir melewati sekolah Nisa adik bungsunya.


"Bruk!" Tiba-tiba motor Afifa menabrak sesuatu didepannya, secepat kilat dia menekan rem tangan dengan kuat, membuat motornya oleng ke sebelah kiri bahu jalan. "Aaawww....!" Afifa menjerit, saat sadar ada seorang anak perempuan yang tiba-tiba lari menyebrang jalan, dan terjatuh tepat dihadapan motornya.


Afifa segera menurunkan standar samping motornya, lalu berlari ke arah anak yang sedang duduk kesakitan di atas aspal. "Kamu tidak apa-apa Dek? Coba kakak lihat mana yang sakit?" Afifa menggendong anak yang mengenakan seragam SD itu ke warung disebrang jalan depan sekolah Nisa, mungkin baru kelas satu SD.


Anak itu menatap Afifa, kepalanya menggeleng menandakan dia tidak apa-apa, hanya kaget saja sepertinya.


"Yakin tidak ada yang sakit?" tanyanya lagi, Anak itu mengangguk, "Minum aja dulu ya, sebentar!" Afifa meminta segelas air putih ke pemilik warung lalu memberikannya kepada anak itu, dia meminumnya sedikit.


"Adek mau kemana, Kok lari-lari ke jalan?" Tanya Afifa setelah anak itu dirasa tenang.


"Aku cuma mau beli kembang gula itu" Jawab nya sambil menunjuk ke arah penjual kembang gula.


"O itu, ya Udah Kakak belikan ya, kamu tunggu disini sebentar!"


"Bu guru, aku mau yang warna merah jambu ya" pinta anak itu.


Afifa mengangguk, lalu berjalan menghampiri pedagang kembang gula dan membelinya, kemudian menyerahkannya kepada anak itu. "Ini sayang," Sambil mengulas senyum. "Lain kali kalau mau nyebrang, lihat kiri dan kanan dulu ya, kalau tidak ada kendaraan baru jalan deh,"


"Oke bu guru," jawab anak itu sambil asyik memakan kembang gulanya.


"Ih lucu banget si kamu, Namanya siapa?"


"Talita," Jawabnya pendek.


"Kelas berapa?"


"Satu,"


"Oh,"


"Teteh...!" Panggil seorang anak yang baru saja turun dari motor.


"Eh...Nisa, Rizki sini!" Afifa berdiri dan menghampiri motor yang dikendarai adiknya Rizqi supaya dia tidak perlu turun.


"Aku langsung berangkat ya Teh, takut telat," Pamitnya sambil menyalami kakaknya.


"Iya, hati-hati ya! Gak usah ngebut!" Ucap Afifa sambil tersenyum. Adiknya mengangguk lalu melajukan motornya.


"Sini Nis...," Ajak Afifa menarik tangan adiknya menuju warung, dan duduk disamping anak kecil itu.


"Hai Talita..." Sapa Nisa yang memang sudah mengenal anak itu.


"Iya Kak Nisa" jawabnya masih asyik dengan kembang gulanya.


"Nisa mau?" tanya Afifa


"Enggak ah...Nisa kan udah gede, masa jajan kembang gula," Ucap Nisa manyun.


"O iya, teteh lupa, kalau adik teteh yang cantik ini udah mau SMP ya..." Jawab Afifa meledek adiknya, "Ini aja deh buat pengganti kembang gulanya," Afifa mengeluarkan 2 lembar uang sepuluh ribuan. "Ini untuk Nisa dan ini untuk Talita,"


"Asyik...dapet tambahan uang jajan nih," Nisa kegirangan


"Aku dapet juga Bu Guru?" Ucap Talita polos.


"Iya, anggap saja itu permintaan maaf Bu Guru karena tadi gak sengaja hampir nabrak Talita,"


Anak itu tersenyum, "Makasih Bu Guru, Aku akan masukin ke celengan ayamku".


"Ih...pinter banget kamu" Kata Afifa sambil mencubit pelan pipi Talita. "Nisa juga di tabung ya!"


"Oke Teh" Jawab Nisa sambil mengedipkan sebelah mata dan mengangkat tangannya membentuk huruf O dengan jarinya.


"Ya sudah, ayo sana ajak Talita masuk! sebentar lagi bel, Teteh juga harus berangkat".


"Baik Teh, Assalamualaikum". Nisa dan Talita pamit setelah menyalami Afifa.


"Waalaikum Salam, Hati-hati ya, sampai jumpa Talita". Afifa melambaikan tangan sambil memperhatikan keduanya masuk ke gerbang sekolah, dia kembali melanjutkan perjalanan menuju sekolah tempat dia mengajar.


***


Pukul 13.00 Afifa selesai dengan jam pelajarannya, waktu istirahat tadi dia dipanggil oleh pamannya, pamannya membicarakan tentang jam mengajarnya yang ditambah, karena Pamannya akan segera pensiun dan Afifa juga sudah selesai kuliah, meski ijazahnya belum keluar hehe...


Setelah Sholat dzuhur di mesjid sekolah, dia langsung pulang.


Saat motornya sampai didepan rumah, Afifa berniat untuk menemui suaminya terlebih dahulu, diapun menghentikan motornya tepat didepan toko. Dia langsung masuk saja kedalam ruangan suaminya, dilihatnya Fauzi sedang sibuk dimeja kerja dengan leptop didepannya.


"Assalamualaikum," Sapa Afifa sambil membuka pintu kaca ruangan itu.


"Waalaikum salam," Fauzi mendongak, "Eh... sudah pulang Dek? Langsung kesini ya?" Tanyanya saat melihat istrinya masih mengenakan seragam lengkap dengan sepatu pentopelnya.


"Iya, Kangen sama pacar baruku," Ucap Afifa sambil tersenyum. Lalu menghampiri suaminya dan mencium punggung tangannya.


"Haha...bisa aja kamu Dek," Fauzi kembali mengalihkan pandangannya ke layar leptopnya.


"Lagi kerjain apa si Kak? serius banget," Tanya Afifa sambil memutari kursi yang diduduki suaminya, lalu merangkul bahu Fauzi dari belakang, memandang kelayar leptop.


"Ini...Melihat hasil gambar Farid untuk designe toko baru kita, sekalian menghitung jumlah bahan bangunan yang diperlukan".


"Ooo...Bagus," Ucap Afifa datar.

__ADS_1


"Apalagi setelah tau siapa yang gambar kan? haha..." Fauzi menggoda istrinya.


"Ih...apaan si, gak lucu!" Afifa cemberut, melepaskan rangkulannya, lalu berdiri disamping suaminya.


Fauzi hanya terkekeh. Lalu pandangannya kembali ke layar.


"Kak, mulai minggu depan aku jadwal ngajarnya nambah lho".


"O ya?"


"Iya, paman mau pensiun, jadi jamnya dikasih ke aku, aku cuma dikasih libur 2 hari, Sabtu minggu aja".


"Bagus lah, biar kamu gak bosen juga kan dirumah," jawab Fauzi tanpa mengalihkan pandangannya dari layar leptop.


"Ih...fokus banget si kerjanya, aku kan lagi bicara serius Kak..." Afifa mulai kesal dengan sikap suaminya.


"Iya, aku dengar," Masih tidak mengalihkan pandangan.


Afifa tiba-tiba duduk dipangkuan Fauzi, sontak membuat Fauzi kaget. "Eh...kamu ngapain Dek? Ini ruangan kaca lho, malu dilihat karyawanku nanti".


"Biarin aja, abisnya aku dicuekin terus" Jawab Afifa manja.


"Ya udah, yuk kita duduk di sofa!"Ajak Fauzi mengisyaratkan istrinya untuk berdiri.


Afifa berdiri lalu mengikuti suaminya duduk.


"Jadi gimana tadi disekolah?" tanya Fauzi setelah mereka duduk.


"Tuh...benerkan tadi gak merhatiin aku". Afifa mendelik kesal.


"Iya Maaf..., tadi aku dengar kok, kamu liburnya cuma hari sabtu dan minggu, iya kan?"


Afifa mengangguk, "Terus diizinin gak?"


"Ya pasti dong sayang..., itu kan cita-cita kamu sejak dulu, lagian kalau jadi guru itu harus 24 jam ya ngajarnya? Nah mungkin ini salah satu jalan buat kamu, orang lain malah susah lho pengen dapet jadwal 24 jam mengajar".


"Makasih ya Kak..." Afifa tersenyum sambil memeluk lengan kiri Fauzi.


"Iya, pacar baruku..."


"Eh iya Kak, udah bicara belum sama Farid?" Tanya Afifa saat teringat dengan percakapannya dan suaminya kemarin.


"Belum, Besok malam aja, sekalian kita ajak dia makan malam"


"Harus sama aku ya?"


"Iya dong, besok kan malam minggu, katanya orang pacaran kalau malam minggu suka keluar jalan-jalan".


"Kak, boleh nanya ga?" Afifa mulai serius


"Dari tadi juga nanya mulu, ngapain minta izin lagi? haha..." Jawaf Fauzi sekenanya.


"Ih...dasar," Afifa cemberut.


"Mau tanya Apa?" tanya Fauzi serius.


"Nama lengkap Wulan siapa sih?" Tanya Afifa agak ragu.


"Kok tiba-tiba tanya Wulan?" Fauzi malah balik nanya.


"Ya...Fifa mau tau aja, siapa tau suatu saat kita bertemu, dan kak Aji kan bisa minta maaf sama dia".


"Hhhhhh..." Fauzi menarik nafas panjang. "Aku tidak yakin Dek, apa aku siap bertemu lagi dengannya, rasanya sekarang aku tidak mau lagi memikirkannya, cukup hanya ada kita berdua dalam ikatan ini".


"Aku ngerti Kak, Kalau berfikir tentang perasaan, Fifa juga gak mau dia hadir kembali dalam hidup kita, tapi kita kan tidak bisa terus seperti ini, Kak Aji bilang tidak akan bisa memaafkan diri sendiri sebelum mendapatkan maaf darinya kan?"


"Iya kamu benar".


"Jadi kita cari sama-sama ya Kak, kemungkinan apapun yang akan terjadi nanti, kita harus berjanji bahwa cinta kita tidak akan berubah".


Fauzi mengangguk, "Namanya Wulansari Mulyani, usianya seumuran denganku, sekitar 28 tahun". Matanya sudah berkaca-kaca mendengarkan tutur kata istrinya yang begitu dewasa. Fauzi memeluk Afifa dan mencium keningnya. Kini dia tidak peduli lagi dengan para pekerja yang mungkin saja melihat perbuatan mereka dari luar ruangan sana.


***


Malam minggu tiba, Fauzi sudah mengundang Farid untuk makan malam via telpon direstoran tempat biasa.


Selepas maghrib Fauzi berangkat bersama Afifa dengan mobilnya. Saat tiba disana, rupanya Farid sudah menunggu.


"Disini Pak...!" Panggil Farid melambaikan tangannya.


Fauzi menghampiri meja Farid diikuti Afifa. "Sudah lama?"


"Barusaja," Jawab Farid merasa agak heran juga, tidak biasanya Fauzi mengajak Afifa.


Fauzi duduk dan mempersilahkan Afifa duduk disampingnya, Afifa tidak banyak bicara hanya mengikuti arahan suaminya.


Tak lama pelayan datang, mereka memesan pesanan masing-masing. Seperti biasa Fauzi mengawali pembicaraan dengan basa-basi, dia memang paling lihai dalam urusan ini, itulah sebabnya, usahanya cepat berkembang melewati usaha kakak-kakaknya.


Tak lama pesanan datang, merekapun menyantap pesanannya masing-masing.


Setelah makanannya habis, barulah Fauzi membicarakan tujuan utamanya.

__ADS_1


"Rid...Aku sangat berterimakasih atas semua yang kamu lakukan untukku, perusahaanku dan juga Afifa".


Farid menoleh ke arah Fauzi sambil mengerutkan keningnya tanda tidak mengerti.


"Sebelumnya aku minta maaf karena sudah melibatkanmu dalam masalah pribadi rumahtanggaku. Aku sudah membicarakan semuanya dengan Afifa, kami sepakat untuk memperbaikinya".


"Uhuk...uhuk..." Farid batuk-batuk karena hampir tersedak minuman yang sedang diminumnya. Afifa reflek memberikan tisu dihadapannya, Farid mengambilnya, sekilas Fauzi melirik Afifa, Afifa langsung terdiam.


Kini hati Afifa yang berkecamuk tak karuan, harap-harap cemas menunggu alur selanjutnya.


"Maksudnya?" tanya Farid kemudian setelah merasa tenggorokannya normal kembali.


"Ku fikir Afifa akan bahagia jika aku membiarkannya kembali padamu, ternyata aku salah, Afifa adalah istri solehah yang tidak akan membiarkan hatinya berpaling dari suaminya, menurutnya pernikahan itu adalah satu ikatan suci yang dipersatukan oleh Alloh, dimana ikatannya bukanlah hal yang patut untuk dipermainkan. Begitupun jika terjadi suatu masalah dalam rumahtangga, maka kita berdualah yang harus menyelesaikannya tanpa harus melibatkan orang lain didalamnya. dan aku baru menyadari hal itu".


"Apa Pak Fauzi benar-benar mencintai Afifa?" tanya Farid seakan ingin meyakinkan hatinya.


"Lebih dari sekedar kata cinta, bagiku Afifa adalah hidupku, aku sudah mencintainya sejak 7 tahun yang lalu".


Farid nampak berfikir. sesekali matanya menatap Afifa yang sedang tertunduk dihadapannya, juga menatap Fauzi yang sedang setia menunggu reaksinya.


Tiba-tiba Fauzi bangkit dari duduknya, "Aku kebelakang dulu," ucapnya sambil berjalan meninggalkan Afifa dan Farid disana. Fauzi seolah mengerti dengan apa yang difikirkan Farid, dia sengaja meninggalkan mereka berdua agar mereka dapat bicara.


Afifa semakin bingung dengan apa yang dilakukan suaminya, ingin sekali dia pergi mengikuti suaminya, namun itu sama sekali tidak masuk akal, apa yang akan difikirkan Farid nanti.


"Fa..." Panggil Farid memulai pembicaraan.


"Ya?" ucapnya pendek.


"Apa kamu sungguh bahagia dengan pernikahanmu?"


"Sepertinya semua yang ingin kamu ketahui sudah dikatakan Kak Aji barusan".


"Tapi aku ingin medengarnya langsung darimu Fa".


"Baiklah...Aku akan menjelaskannya," Afifa menghela nafas, "seperti yang Kak Aji katakan, aku dan Kak Aji akan memperbaiki masalah rumahtangga kami, Jika dulu aku sering menangis, itu karena Aku tidak tau masalahnya, tapi kini kami berdua sudah saling terbuka, aku sudah tau latar belakang Kak Aji yang kini menjadi masalah dalam rumah tangga kami, Aku yakin semuanya akan segera teratasi".


"Sampai kapan?"


"Sampai Alloh tidak mengizinkan kami bersama lagi, aku sangat mencintai suamiku, begitupun sebaliknya. Aku yakin dengan terus berusaha dan berdo'a setiap masalah yang datang akan dapat terselesaikan, Alloh yang memberi masalah, maka Alloh pula yang mengambil kembali masalah itu".


"Baiklah, jika itu yang terbaik menurutmu. tapi kamu harus tau, aku akan terus mencintaimu seumur hidupku".


"Deg...!" Sesaat Jantung Afifa berhenti berdetak mendengar ucapan terakhirnya. mengapa hati ini terasa begitu sakit mendengarnya, apa karena rasa bersalah yang begitu besar karena tidak mampu membalas cintanya yang tulus, tapi bulankah kini cinta itu memang salah? aku harus berusaha menjelaskannya, agar dia berhenti memiliki rasa itu lagi.


Afifa kembali berbicara setelah bisa mengontrol detak jantungnya. "Kak...Terimakasih karena sudah mencintaiku dengan tulus, aku sangat senang mendengarnya, namun kini cinta itu sudah bukan pada tempatnya, aku mohon berhentilah menyimpan perasaan itu lagi, Kak Farid berhak mendapatkan lautan cinta dari seorang gadis yang layak untukmu, Aku yakin diluar sana ada tulang rusukmu yang menunggu pulang keragamu, yang sudah disiapkan Alloh untukmu, bahkan mungkin jauh lebih baik dariku".


Farid termenung memikirkan ucaoan Afifa, Tak lama Fauzi kembali.


"Kok lama Kak?" tanya Afifa pada suaminya.


"Iya, tadi lumayan ngantri" jawabnya asal.


"Oh..."


"Baiklah, aku mengerti sekarang". Ucap Farid tiba-tiba, setelah cukup lama terdiam, membuat Fauzi yang masih berdiri dan Afifa menoleh reflek ke arahnya. "Aku hanya bisa berdo'a semoga kalian terus hidup bahagia".


Farid bangkit dari tempat duduknya, berdiri mendekati Fauzi yang masih berdiri. Kini mereka berdiri begitu dekat saling berhadapan. "Aku adalah orang pertama yang akan memukulmu seandainya aku mendengar dia menangis sedikit saja karnamu". Nada suara Farid seperti ancaman.


Fauzi hanya terdiam mendengar ucapan Farid, tak sepatah katapun keluar dari mulutnya.


"Bagaimana?" tanya Farid lagi.


"Aku janji, aku tidak akan membuatnya meneteskan air mata sedikitpun karena aku". Ucap Fauzi meyakinkan.


"Baiklah...Hari ini aku sekalian pamit, kontrak ku akan berakhir 3 hari lagi".


"O ya? Lalu rancangan toko ku?"


"Lanjutkan saja, aku sudah memberikan gambarnya kan? aku yakin, dengan kecerdasan pak Fauzi, pembangunannya akan berjalan lancar". Ucap Farid tersenyum.


"Sekali lagi terimakasih Rid".


"Sama-sama Pak".


Mereka berdua bersalaman, begitu juga dengam Afifa. Farid pergi meninggalkan Fauzi dan Afifa. Mereka menatap kepergiannya dengam senyuman.


Malam ini Afifa merasa lega, satu masalahnya sudah bisa teratasi dengan baik...😊


*****


Bersambung...😊❤❤❤...


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Maaf ya...Part ini belum afa sweet-sweetnya... 😀 supaya jelas juga alur ceritanya...


Semoga kalian suka...


Selalu kasih "Vote" dan komentarnya...😉😉😉.


LOVE YOU ALL....❤❤❤❤❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2