
Pukul 3:30 pagi dihari kedua bulan madunya, Afifa terbangun. Seperti biasa, tangan suaminya selalu melingkar diperutnya.
Afifa menggeliat, dilihatnya wajah suaminya yang berkeringat, mungkin kelelahan karena perbuatannya semalam. Fauzi benar-benar tidak menyianyiakan waktu bulan madunya kali ini.
Afifa berusaha bangkit dan menggeser tangan suaminya perlahan, dia teringat dengan test pack yang dibelinya kemarin, diambilnya handuk kimono disampingnya, yang sengaja sudah dia siapkan semalam, dia mengambil test pack didalam tasnya, lalu perlahan membuka kamar mandi.
dibukanya kemasan test pack itu dan membaca cara penggunaannya, setelah cukup faham, Afifa menampung air seninya diwadah yang tersedia satu paket dengan test pack nya, lalu mencelupkan alat itu pada urinenya.
Afifa memandang dirinya didepan cermin, jarinya mengetuk-ngetuk seakan tak sabar menunggu hasil dari tes urinenya beberapa saat, hatinya terus berdo'a semoga kabar gembira itu akan datang saat ini.
Ragu-ragu dia angkat tangan kanannya yang masih setia memegang alat itu, matanya fokus kesana dan...
"Aaaaa...." Mulut Afifa terbuka saat pandangannya tertuju pada dua garis berwarna merah muda disana, lengkungan manis disertai cairan bening terjatuh dari kelopak matanya, sesaat dirinya terdiam menggenggam alat itu sambil memejamkan kedua matanya yang basah, tak henti-hentinya dia ucapkan hamdalah, bersyukur atas karunia yang telah Alloh limpahkan padanya.
Afifa melangkah keluar dari kamar mandi, dilihatnya suaminya masih tertidur pulas diatas tempat tidur, Afifa tersenyum membayangkan apa yang akan terjadi saat suaminya mengetahui berita bahagia ini.
Dia mengambil 2 lembar tisyu dan membungkus alat itu, lalu menyimpannya dengan rapi diatas kotak makeupnya, diapun kembali masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai dengan rutinitas bersih-bersihnya, dia keluar dan berpakaian, lalu membangunkan suaminya.
"Kak...bangun, sudah pagi", Ucapnya sambil menepuk pelan pipi suaminya. Namun suaminya tidak bergerak sama sekali, Afifa kembali melakukan hal yang sama, diapun tidak bergerak.
"Hmmm..." Afifa menggeleng, "selelah itukah sampai tidurnya sepulas ini?" gumamnya.
Afifa mencoba dengan cara lain, "cup" dikecupnya kening suaminya sekilas.
"Hmmm..., sayang", Ucapnya secepat kilat tangannya memeluk tubuh Afifa tanpa membuka matanya.
"Hei...Ayo bangun, sudah hampir subuh", Afifa berusaha melepaskan pelukan suaminya.
"Iya sayang, sebentar lagi..." Jawabnya dengan suara serak, malah semakin mempererat pelukannya.
"Tapi ini sudah jam 4 pagi Kak..., nanti ketinggalan Tahajudnya".
"Iya...iya, lima menit lagi".
"Hmmm...begitu ya?, ingat lo, syetan selalu menggoda hambanya saat hendak berbuat baik, kalau Kak Aji gak bangun, berarti setan yang menang dong", Ucap Afifa sambil berbisik ditelinga suaminya.
"Iya Bu Guru", Fauzi mulai membuka matanya, pandangannya langsung tertuju pada wajah segar istrinya yang berseri-seri, "Hmmm...sudah mandi ya?"
"Sudah, Ayo bangunlah! kita sholat sama-sama". Afifa melepaskan pelukan suaminya, lalu berjalan ke kamar mandi untuk mengambil air wudlu kembali.
Afifa keluar dan memberikan handuk pada suaminya, lalu mengenakan mukenanya.
Fauzi masuk kamar mandi dan membersihkan diri.
Cukup 5 menit saja Fauzi sudah selesai mandi, Merekapun melakukan tahajud bersama dan berdzikir menunggu subuh tiba.
Adzan subuh berkumandang, Fauzi melakukan sholat dikamarnya berjamaah bersama istrinya, selesai berdzikir dan berdo'a, Fauzi berbalik menghadap istrinya dan mengulurkan tangannya, Afifa meraihnya dan menciumnya.
Afifa sudah tidak sabar ingin memberitahu suaminya tentang berita gembira itu pada suaminya, "Kak...Apa Kak Aji ingin segera punya anak?" tanya Afifa.
"Tentu saja, itu adalah impian dari setiap pria yang sudah menikah", Fauzi terdiam sejenak, alisnya nampak berkerut, "Kenapa?" tanya nya kemudian.
Afifa terdiam dan tertunduk, mencoba mengatur kata-kata untuk memberitahukan kabar gembira itu pada suaminya. "Kalau ternyata Fifa belum juga bisa memberimu anak, apa Kak Aji akan tetap mencintai Fifa?"
__ADS_1
"Sayang..., Anak itu adalah rezeki dari Alloh, kita tidak bisa menentukan kapan kita punya anak, kita hanya bisa berusaha dan terus berdo'a, kalaupun Rezeki itu belum Alloh kasih pada kita, bukan berarti Alloh tidak mendengar do'a-do'a kita, tapi Alloh lebih tau apa yang terbaik untuk kita, dan kamu harus tau, apapun yang terjadi, apakah ada anak atau tidak diantara kita, rasa cintaku tidak akan berkurang sedikitpun, dan aku akan terus berdo'a agar cinta yang hadir dalam jiwaku untukmu ini, tidak akan pernah Alloh ambil selamanya, jadi jangan terbebani dengan hal itu".
Senyum Afifa mengembang, lalu ia berdiri mengambil sesuatu terbungkus tisyu dari meja riasnya.
Fauzi masih duduk bersila diatas sajadahnya memperhatikan gerak-gerik istrinya.
Afifa kembali duduk dihadapan suaminya, "Ini Kak", Ucapnya, sambil memberikan sesuatu yang dipegangnya.
"Apa ini?" Tanya Fauzi.
"Bukalah!"
Perlahan Fauzi membuka bungkusan tisyu itu, dia memperhatikan benda yang dipegangnya, alisnya kembali berkerut seolah berfikir dan mengira-ngira fungsi dari benda yang dipegangnya.
Tiba-tiba saja, fikirannya mengingat sesuatu, sebuah alat yang sering digunakan seorang wanita untuk tes kehamilan, seperti yang pernah dia lihat di TV, seketika matanya terbelalak, mulutnya terbuka, seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya, "dua...garis?" Ucapnya, suaranya tertahan dengan luapan kebahagiaan yang ingin segera dia keluarkan, "Artinya?...kita?..." Fauzi memandang istrinya.
Afifa mengangguk, lengkungan manis terukir dibibirnya, cairan bening mulai tergenang dikelopak matanya, "Aku...posotif", Ucapnya, air matapun jatuh dari matanya.
Fauzi menjatuhkan benda yang dipegangnya, dia berdiri, lalu masuk kekamar mandi, mengambil kembali air wudlu, lalu bersujud diatas sajadahnya, bersimpuh dihadapan Tuhannya, bersyukur atas segala karunianya.
Punggungnya nampak bergetar, masih dalam posisi sujudnya, dia menangis tersedu-sedu, seakan tak percaya dengan limpahan kebahagiaan yang Alloh berikan saat ini terhadapnya.
Sesungguhnya Fauzi tidak berharap banyak akan secepat ini mendapat anugrah terindah ini, dia juga sadar dengan kehidupan masa lalunya yang sempat menjadi pecandu narkoba sedikit banyak akan mempengaruhi kesuburannya, tapi kali ini dia benar-benar bersyukur, ternyata Alloh telah memberikan kebahagiaan ini begitu cepat.
Afifa menatap suaminya yang masih setia dengan sujudnya, tak terasa air matanyapun meleleh membasahi wajahnya yang masih berbalut mukena putih.
Perlahan Fauzi mengangkat kepalanya, lalu duduk dan berbalik menghadap istrinya, memandangnya dengan mata sayunya yang masih basah, tak berkata apapun, dia meraih tubuh istrinya dan mendekapnya dengan erat. Keduanya kembali menangis meluapkan rasa bahagia yang mereka rasakan saat ini.
"Kak..." panggil Afifa yang masih berada dalam dekapan suaminya.
"Apa kak Aji bahagia?"
"Sangat" Ucap Fauzi dengan lebih mengeratkan pelukannya, lalu perlahan melepasnya dan mencium kening Afifa. "Terimakasih sayang, karena telah membuatku menjadi seorang pria seutuhnya".
Afifa tersenyum, "Alloh lah yang telah memberi segalanya untuk kita".
"Sayang, kita kasih tau mama, papa juga Umi dan Abi ya" Ucap Fauzi bersemangat, hendak berdiri mengambil ponselnya yang masih terpasang kabel charger.
Tapi Afifa menahan tangannya, "Jangan dulu Kak, kita belum periksa ke dokter, kalau sudah dipastikan kehamilannya oleh dokter, baru kita kasih tau mereka".
"Oh...begitu ya?"
"Iya, jangan terlalu gembira juga, karna ini belum pasti, yang namanya terlalu itu kurang baik lo".
"Jadi ada kemungkinan belum hamil ya?"
"Segala kemungkinan itu tetap ada, meski hanya sedikit, jadi kita berdo'a saja dan tetap bersyukur agar hasilnya sesuai dengan yang kita harapkan". Afifa tersenyum meyakinkan suaminya.
Fauzi nampak berfikir, "Bagaimana kalau kita pulang aja hari ini? kita langsung cek ke dokter dan tahu hasilnya".
"Hmmm... ck ck ck...udah gak sabaran ya ternyata suamiku ini", Afifa tersenyum.
"Iya dong, aku kan mau jadi ayah".
Afifa berdiri, membuka mukenanya dan membereskan alat solat dirinya dan suaminya. "Sebentar Kak, aku mau tanya Sofi, sekalian bilang kalau kita pulang hari ini". dia mengambil ponselnya.
__ADS_1
Fauzi mengangguk lalu berdiri dan duduk diatas tempat tidur memperhatikan istrinya.
Afifa membuka ponselnya dan wah...ternyata Sofi sudah lebih dulu memberi tahunya lewat pesan WA kalau hasil tesnya garis dua.
Afifa tersenyum lebar, "Haaa...Sofi juga Kak" Ucapnya sambil duduk dipinggir suaminya, lalu memperlihatkan pesan dari sahabatnya.
"Apa?" Tanya Fauzi tidak mengerti.
"Sofi juga hasil tes nya positif" Afifa nampak kegirangan, "Terimakasih ya Alloh..." Ucapnya sambil mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Hei...kalian itu janjian ya? Kok bisa barengan?"
"Kemarin kita janjian beli test pack di apotek, pas pulang dari pasir putih itu, dan ternyata hasilnya positif juga" Senyuman terus terpancar diwajah Afifa.
"Hmmm...sahabat sejati, punya anak aja janjian, jangan-jangan bikinnya janjian juga ha ha ha...".
"Ih...enak aja, harusnya sejak lama tuh kita bikinnya, yeee...Kak Aji aja yang terlambat malam pertamanya," Afifa menyikut lengan suaminya.
"Ha ha ha...iya juga ya, gara-gara traumaku, jadi barengan kita" Keduanya tertawa.
*****
Siang itu mereka langsung pulang, setelah berpamitan pada Asfir dan Sofi tentunya, Pukul 3 sore mereka tiba dirumahnya, istirahat sebentar dan sholat asyar.
Besoknya, setelah sarapan mereka langsung pergi ke dokter kandungan, dan ternyata hasilnya sesuai dengan apa yang mereka harapkan, ucapan syukurpun tak henti-hentinya mereka ucapkan.
Fauzi langsung menelpon mama dan papanya, serta kedua kakaknya, begitupun Umi dan Abi Afifa. Mereka menyambut berita gembira itu dengan suka cita, apalagi mama Fauzi yang sejak lama menantikan kehadiran cucu dari putra satu-satunya itu.
Mereka langsung datang kerumah Afifa, mengaji bersama sebagai tanda syukur kepada sang maha pencipta.
Afifa tidak pernah lagi diizinkan membawa motor sendiri kesekolah, Fauzi atau mang Ujang selalu mengantar dan menjemputnya setiap hari jika dia sedang benar-benar sibuk.
Satu bulan kemudian Toko kedua Fauzi selesai, usahanya pun semakin berkembang.
Kini kebahagiaan terus menyelimuti kehidupan rumah tangga Fauzi dan Afifa, Meski pertengkaran kecil tak luput hadir dalam kehidupannya, itu justru menjadi bumbu penyedap yang semakin menambah rasa cinta dan kemesraan diantara keduanya. Karena sesungguhnya rumah tangga yang bahagia itu bukanlah rumah tangga yang tidak pernah dirundung masalah, tetapi rumah tangga yang mampu mengatasi berbagai masalah yang hadir dalam kehidupannya.
TAMAT...😊
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Assalamualaikum Reader semua 🙏
Di Bulan Ramadhan ini, aku benar-benar tidak bisa fokus menulis, berhari-hari gak bisa up.
Selain karena kesibukanku, aku juga ingin fokus bersama keluarga, menikmati hari-hari di dunia nyata bersama mereka 🤗.
Sebenarnya alur cerita ini masih panjang, tapi sengaja aku bikin 2 season, agar tidak menjadi beban fikiran untukku juga tidak merasa digantung untuk pembaca 😊
Jadi season satu di End dulu ya...😉
Tapi jangan khawatir pecinta SCA semua masih bisa baca SCA season 2 nanti, mungkin aku akan nulis lagi sesudah lebaran, meski tidak menutup kemungkinan aku akan lanjut lagi masih dibulan ini 😊
I Love You Readers....😙😙😙😙😙😙😙
By : @Rahma Khusnul #
__ADS_1