Seikhlas Cinta Afifa

Seikhlas Cinta Afifa
Untuk Memulihkan Trauma...


__ADS_3

Afifa menggeser perlahan tangan yang memeluknya lalu duduk, ada sesuatu yang tidak nyaman baginya, matanya berkeliling mencari sesuatu yang dapat menutupi tubuhnya, kain sarung suaminya nampak tergeletak disamping tempat tidur, setelah berusaha meraihnya dan memakainya dia menurunkan kakinya dari tempat tidur.


"Mau kemana Dek?" tanya Fauzi.


"Ke kamar mandi dulu Kak, sebentar", diapun berjalan perlahan menahan rasa sakit, wajahnya tampak berkerut sambil menggemeretakan giginya.


Fauzi mengangguk, memperhatikan istrinya berjalan. "Apa begitu sakit?" tanyanya.


Afifa menoleh kearah suaminya, tersenyum lalu menggeleng, dia masuk ke kamar mandi dan membasuh separuh badan bagian bawahnya, dilihatnya pantulan dirinya didepan cermin, Afifa hanya tersenyum melihat beberapa tanda ditubuhnya. Penantian yang begitu panjang fikirnya.


Dia kembali kekamarnya, dia tertegun saat melihat suaminya sedang membereskan tempat tidur dan berpakaian kembali, spreinya sudah diganti dengan yang baru. Fauzi tersenyum kearah istrinya, "Sekarang sudah nyaman kan?" tanya Fauzi.


Afifa tersenyum dan mengangguk, lalu Fauzi masuk ke kamar mandi, sedangkan Afifa memakai kembali pakaiannya, setelah selesai keduanya kembali ke tempat tidur, untaian do'a masih tetap mengalir dari bibir mereka sampai mereka benar-benar terlelap.


*****


Alarm alami dalam jiwa Afifa membangunkannya sebelum subuh, Afifa terbangun, tangan suaminya masih melingkar diperutnya, dia membalikan badannya sehingga berhadapan dengan suaminya.


Rupanya mata Fauzipun terbuka karena gerakan tubuh istrinya, "Sudah bangun Dek? sudah subuh?" tanya Fauzi.


"Sebentar lagi, Fifa mandi dulu ya", jawab Afifa.


"Iya"


Afifa segera bangkit dan berjalan kekamar mandi, membersihkan dirinya dan mengambil air wudlu. setelah selesai dia keluar dengan handuk kimononya dan handuk panjang yang melilit dirambutnya. "Ayo mandi dulu Kak, Aku sudah selesai" Afifa mengambil handuk didalam lemari dan memberikannya pada suaminya.


"Iya" Jawab Fauzi tersenyum, matanya tidak beralih sedikitpun dari tubuh istrinya, "Sepertinya kita harus lebih sering melakukannya, agar traumaku benar-benar hilang", Ucapnya sambil tersenyum nakal lalu berdiri hendak memeluk istrinya.


Afifa segera mundur beberapa langkah, "Eh...stop...aku udah wudlu Kak, sebentar lagi adzan subuh".


"Oh iya, maaf...haduuuh...kenapa jadi lupa ingatan ya", Ucapnya sambil berlalu mengambil handuk dan masuk kamar mandi, tawa ringan terdengar dari mulutnya.


Afifa hanya tersenyum dan menggeleng, dia segera berpakaian, menyisir rambutnya dan memakai mukenanya, Tak lama Fauzi keluar dari kamar mandi, mereka bertahajud dan berdzikir sebentar sampai waktu subuh tiba, Fauzipun pergi ke mesjid.


*****


Pagi hari seperti biasa Afifa melakukan aktivitasnya, namun entah mengapa pinggangnya begitu sakit, sehingga beberapa kali menghentikan perkerjaannya dan memegang pinggangnya, Fauzi yang melihat hal itu segera menghampirinya, "Kamu sakit dek?" tanya nya, "Ayo duduk sini, biar aku panggil Bi Yati saja untuk mengerjakan semuanya", Fauzi menuntun Afifa duduk disofa.


"Nggak usah Kak, gak enak ngerepotin Bi Yati terus" Jawab Afifa.


"Ya Udah kalau gak mau dibantu Bi Yati, aku saja yang kerjakan, kamu duduk aja ya!"


"Tapi Kak..."


"Hmmmm...biarkan kali ini aku yang melayanimu, oke?" Jawab Fauzi sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Tapi itukan kewajiban Afifa Kak"


"Siapa bilang? semua pekerjaan rumah itu sebenarnya kewajiban suami, istri hanya patuh saja pada suami, sekarang aku minta kamu duduk manis disini".


"Aku tau, tapi aku hanya ingin melayanimu".


"Sayang..." Fauzi membungkuk dihadapan Afifa yang sudah duduk disofa. "Aku tau, istriku adalah istri solehah, kau sudah melakukan semua kewajibanmu, selalu taat padaku, selalu berdo'a untukku, melayaniku bahkan selalu menjaga rahasia burukku, dan sekarang aku ingin membahagiakanmu", Fauzi tersenyum lalu mencium kening istrinya.


Afifa terharu dengan ucapan suaminya, tangannya melingkar dibahu suaminya yang masih membungkuk dihadapannya, matanya berkaca-kaca, "Sungguh aku beruntung Alloh telah memberiku suami terbaik untukku" Afifa menempelkan keningnya dengan kening suaminya, Fauzi segera mengecup bibir merah istrinya. Keduanya tersenyum.


"Kita lakukan sama-sama ya" Kata Afifa sambil mengulurkan tangannya ke arah suaminya, Fauzi meraih tangan istrinya dan membantunya berdiri, keduanya berjalan kedapur, Fauzi mengambil pakaian dan sprei kotor dari kamarnya lalu memasukannya ke mesin cuci, dia mengambil sapu dan lap pel mulai membersihkan rumahnya. Afifa menghangatkan makanan yang masih banyak sisa semalam.


Fauzi melihat tropi yang terpajang dilemari kaca diruang tamunya, dia memperhatikannya lalu mengambilnya, "Ini tropi apa sayang?" tanya Fauzi.


Afifa menghampirinya, "Itu tropi yang kuterima saat wisuda, aku meraih penghargaan mahasiswa terbaik di kampus".


Fauzi merangkul bahu istrinya, "Hmmm...istriku memang luar biasa, Cup..." Fauzi mencium pipi istrinya.


"Tapi aku kesal...!" Ucap Afifa cemberut.


"Lho...kenapa?"


"Kak Aji gak dateng saat Fifa meraih penghargaan itu",Masih dengan muka cemberutnya.


"Siapa bilang aku gak datang? aku datang kok", jawab Fauzi dengan nada santai.


"Datang apaan...? aku tidak pernah sedikitpun melihat batang hidungmu, bahkan aku sampai menangis melihat oranglain tertawa bahagia saat sesi pemotretan dengan keuarga masing-masing, dengan suaminya bahkan dengan kekasihnya".


"Hmmmm...jadi judulnya ngambek ya..." Fauzi menyimpan tropi ditempat semula, lalu memeluk istrinya dari belakang. "Jadi waktu kamu menelpon pagi-pagi itu, aku sedang di Cianjur bersama Apa Kiyai, setelah mendengar hari itu kamu Wisuda aku bergegas pulang kesini dan langsung datang ke gedung tempat acara wisudamu, waktu itu aku melihatmu sedang diatas podium, aku bermaksud menemuimu, tapi tiba-tiba saja aku mendapat telphon dari Wulan, dia bersedia untuk menemuiku, terpaksa aku hanya melihatmu dari ujung gedung, lalu pergi untuk menemui Wulan".


"Tuh kan...Wulan lebih penting daripada aku" Afifa masih cemberut.


"Hei sayang...masih cemburu aja ya sama Wulan", Fauzi memeluk Afifa semakin erat dan menciumi leher Afifa bertubi-tubi.


"Ahhhh...Kak Aji mau ngapain, geli..." Afifa berusaha melepaskan pelukan suaminya.


"Mau menghilangkan traumaku lagi..." Ucapnya, bibirnya tidak berhenti menciumi tubuh istrinya.

__ADS_1


"Apa??? tapi inikan sudah pagi".


"Memangnya kenapa kalau sudah pagi?"


"Fifa harus ke sekolah Kak..."


"Libur saja untuk hari ini ya" tanpa mendengar jawaban istrinya, secepat kilat Fauzi menggendong tubuh istrinya masuk kedalam kamarnya, mengulang kembali peristiwa tadi malam, kini traumanya sudah benar-benar hilang.


Afifa tak bisa menolak lagi, dia membiarkan suaminya melakukan apapun yang diinginkannya, untung saja Afifa sudah mengantisipasi kejadian ini dari kemarin, dia sudah memberikan kisi-kisi ujian kepada murid-muridnya karena materinya memang sudah selesai tersampaikan.


*****


Fauzi masih memeluk istrinya, matanya terpejam meskipun sebenarnya tidak tidur, dia hanya menikmati suasana pagi itu, Afifa menggeliat kembali merasakan sakit, ada rasa kesal juga dihatinya, sisa semalam saja masih terasa sakitnya, ditambah lagi pagi ini, hadeueuh....


Afifa masih berbaring, karena suaminya tidak mau melepaskan pelukannya, dilihatnya jam menunjukan pukul 8.30, Perutnya mulai terasa perih, untungnya dia sudah menyiapkan sarapan pagi tadi, Afifa berbalik kearah suaminya.


"Sayang kamu gak lapar?" tanya Afifa sambil memegang pipi suaminya, matanya masih terpejam, meski senyuman tetap terukir dibibirnya".


"Lapar..." jawabnya masih terpejam.


"Kalau lapar ayo bangun sudah setengah sembilan, memangnya gak ke toko?"


"Enggak, hari ini aku mau dirumah saja seharian".


"Ngapain seharian dirumah?"


"Memelukmu seharian juga aku sanggup", Jawabnya asal.


"Hah?... sudah ayo bangun, aku mau mandi dulu", Afifa berusaha melepaskan pelukan suaminya.


"Oke, kita mandi bareng ya".


"Apa???, Enggak ah..."


Fauzi melepaskan pelukannya, menggeliat lalu tertawa ringan, "Kenapa?"


"Emmm...ya...aneh aja", Afifa menjawab pelan sambil tertunduk, wajahnya memerah.


"Ha ha...gak akan aneh lagi kalau udah biasa," Fauzi menyambar handuk yang tergantung dihanger kecil, dan memakainya menutupi bagian bawah tubuhnya, lalu mengambil selimut dan menggulung tubuh istrinya dengan selimut, dengan sigap dia mengangkat tubuh istrinya.


"Eh...Kak Aji ngapain?" Afifa meronta, tapi Fauzi tak melepaskannya, dia langsung saja membawa istrinya masuk kekamar mandi bersamanya. (Jangan tanya apa yang terjadi didalam sana ya 😉).


*****


"Abis ini siap-siap ya" Ucap Fauzi tersenyum disela suapan pada istrinya.


"Uhuk...uhuk... hmmmm? Siap-siap ngapain lagi?" tanya Afifa kaget.


Fauzi segera memberikan air minum untuk istrinya. "Kamu kenapa sayang...? ekspresinya gitu banget, hmmm... pasti mikir mesum ya ha ha..." Fauzi tersenyum nakal.


"Apaan si...? lagi makan juga".


"Lha...emangnya kenapa kalau lagi makan? aku bilang setelah ini kamu siap-siap, kita akan pergi ke Studio Photo, buat bikin Photo Wisuda kamu, baju couple yang kita beli waktu itu kan belum pernah aku pake, sekalian baju toganya dibawa".


"Kirain mau ngapain" Afifa tersipu.


"Nah...benerkan mikirnya mesum terus, ha ha ha..." Fauzi terkekeh melihat ekspresi istrinya dengan wajah memerah karena malu.


Afifa tak menjawab, percuma saja fikirnya, toh dia tidak akan menang berdebat dengan suaminya yang pandai bicara itu.


Ya itulah aslinya Fauzi, pandai mengatur kata-kata didepan lawan bicaranya, makanya banyak yang suka padanya, termasuk relasi bisnisnya.


Selesai dengan sarapannya, Afifa segera bersiap, dia poleskan beberapa makeup pribadinya, semenjak menikah, Afifa banyak belajar tentang bermakeup, baik dari temannya ataupun lewat tutorial makeup yang ada di medsosnya, jadi tak perlu lagi pergi ke salon.


Sambil menunggu istrinya bersiap, Fauzi mengantar cake dan makanan ketokonya agar bisa segera dimakan oleh para pekerja.


Afifa nampak cantik dan anggun, mengenakan stelan kebaya berwarna kuning emas dipadukan dengan rok batik bermotif minimalis, dengan warna dasar hitam, coraknya berwarna merah dan kuning emas senada dengan warna kebayanya, motif roknya sama dengan kemeja yang dipakai Fauzi.


Afifa keluar dari kamarnya, suaminya sudah menunggu dikursi depan sambil memainkan ponselnya.


"Fifa sudah siap Kak" ucap Afifa


Fauzi mengangkat kepalanya, pandangannya tak berkedip menatap wajah Afifa, Fauzi berdiri menghampiri istrinya.


"Ah...batalin aja deh pemotretannya" ucap Fauzi, kedua tangannya memegang pundak Afifa.


"Eh...kok dibatalin?" tanya Afifa heran.


"Abisnya... istriku cantik banget, aku gk rela kecantikan istriku diihat orang"


"Hmmm... ya sudah, aku hapus lagi aja deh" Afifa membalikan badannya hendak kembali kekamarnya.


"Eit... " Fauzi menahan bahu Afifa, "Aku hanya bercanda, aku seneng kok, melihatmu secantik ini" Fauzi memegang dagu istrinya, hendak menciumnya, namun bibirnya berhenti saat hampir menyentuh bibir Afifa, "Emmm...nanti aja deh", Ucapnya kemudian.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Afifa


"Nanti lipstiknya luntur he he..."


Afifa tersenyum, "Ya udah yuk berangkat!"


Fauzi mengangguk, keduanya berangkat dengan mobil menuju studio photo. Beberapa pose mereka cetak dengan ukuran besar, lengkap dengan toga dan tropi ditangan Afifa.


Ya meski terlambat, setidaknya ada jejak bahwa moment yang paling berharga untuk Afifa pernah terjadi dan diabadikan.


*****


Pukul 1 siang mereka selesai pemotretan, Afifa dan Fauzi mengganti pakaiannya sekalian sholat dzuhur dimesjid terdekat, lalu mereka makan siang disebuah restoran.


"Abis makan kita kemana lagi?" tanya Fauzi disela makannya.


Afifa nampak berfikir, "pulang aja deh, Fifa capek, pinggangnya masih sakit".


"Sejak kapan kamu sakit pinggang?" Tanya Fauzi.


"Sejak...tadi pagi".


"Apa pernah terjadi sebelumnya?"


"Tidak pernah".


"O...kenapa ya?"


Afifa hanya mengangkat bahu.


"Nanti tanya Bi Yati aja". Ucap Fauzi, Afifa mengangguk.


Pukul 2.30 mereka pulang kerumah, merebahkan diri sebentar diatas tempat tidur.


"Sayang, kalau nanti kita punya anak maunya laki-laki atau perempuan?" tanya Fauzi.


"Sama aja Kak, mau laki-laki atau perempuan yang penting sholeh dan solehah". Jawab Afifa.


"Kalau aku pengennya anak perempuan", ucap Fauzi kemudian.


"Kenapa?"


"Agar hanya aku satu-satunya laki-laki dirumah ini yang kamu cintai", Fauzi tersenyum melirik Afifa yang berbaring disampingnya.


"Ih...norak banget rayuannya" Ucap Afifa.


"Hei...ini bukan rayuan, ini serius"


"Lagian, masa cemburu sama anak sendiri, mana belum ada lagi anaknya", Afifa tertawa ringan.


"Makanya, biar cepat ada anaknya, kita harus sering-sering bikinnya, sekalian mempercepat pemulihanku dari trauma juga ha ha ha..."


"Ha...trauma apaan, yang ada malah ketagihan".


"Hemmmm... memangnya kamu gak suka ya? ha ha..." Ucap Fauzi sambil berbalik hendak mendekap tubuh Afifa disampingnya.


Afifa cepat menghindar, "Eit...mau ngapain?"


"Hayolah sayang...aku benar-benar butuh pemulihan", Rengek Fauzi.


"Ya Ampun...ini kan siang bolong, mana kita belum mandi, gerah banget lagi". Afifa menatap suaminya yang hanya tertawa kearahnya. "Ini kan sudah sore, sebentar lagi juga malam, nanti malam saja deh".


"Tapi double ya" Fauzi mengerlingkan matanya, Afifa hanya melongo melihat tingkah konyol suaminya.


Hadeueuh...kok jadi gini ya? gumam Afifa. Tak mau tindakan suaminya berlanjut, Afifa segera mengambil handuk dan masuk kekamar mandi, membersihkan sisa makeup yang tidak hilang dengan air wudlu dzuhur tadi.


***********


Bersambung...❤😊...


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


hai...hai...readers...maaf ya 3 hari gak bisa Up...🙇


Aku kasih yang sweet deh di part ini...


Jangan lupa komentarnya... biar Author tambah semangaaaaaat...semangat tingkat negara 😀😀😀


Aku masih nunggu like dan vote nya....😉😉


Love...Love...Love... You All...❤❤❤❤😙😙


By : @Rahma Khusnul #

__ADS_1


__ADS_2