Seikhlas Cinta Afifa

Seikhlas Cinta Afifa
Aku lah dampak masalahmu...


__ADS_3

Farid berdiri hendak menyusul Afifa, tapi dia merasa percuma, tidak enak juga mulai diperhatikan pengunjung kafe yang lain. diapun hanya memperhatikan penggung Afifa yang berlari menjauhinya sampai tak terlihat lagi.


Afifa masuk ke toilet, airmatanya yang sudah tak terbendung lagi ia keluarkan disana, meski sebenarnya dia tidak mengerti apakah kondisi pernikahannya ataukah ucapan Farid tadi yang membuatnya menangis. Afifa menatap dirinya dicermin cukup lama, dia membuka jilbabnya lalu mencuci muka, setelah dirasa wajahnya segar kembali dia keluar, berjalan melewati ruang sidang, masih banyak mahasiswa berkerumun menunggu giliran dipanggil, tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya.


"Afifa...". Panggil Sari dan Sofi.


"Astaghgfirulloh...ngagetin aja kalian nih.." Afifa mengelus dadanya.


"Lagian kamu dipanggil nyelonong aja.... ngelamun ya...?" Ucap sari mengarahkan telunjuk ke arah Afifa dengan mata selidik.


"Apaan si... Enggak ngelamun juga." Jawab Afifa ngeles.


"Kirain udah pulang Fa?" tanya Sofi.


"Tadi ke toilet dulu."


"Kok wajah kamu merah gitu Fa? kayak abis nangis? harusnya kan seneng sidangnya udah kelar." Sari kepo.


"Tentu saja aku juga seneng. ini cuma ada yang masuk aja kemataku tadi."


"Eh...Fa...ada yang lagi dobble tuh senengnya". Ucap sari melirik ke arah Sofi sambil menaik-naikan alisnya menggoda.


"O ya...? ada apa niiiih...?" Tanya Afifa menatap sahabatnya, Sofi.


Yang dituju malah senyum-senyum dengan wajah memerah.


"Sofi mau dilamar..." Bisik sari ke telinga Afifa.


"What???..." Afifa kaget. "Jangan-jangan bener kata Kak Farid. Kamu mau dilamar kak Asfir ya?" Afifa tersenyum menebak-nebak.


"Kok kamu tau? Malah tau dari Farid lagi. aku kan belum cerita sama siapapun..." Sofi menyipitkan matanya. "Eh...emang kamu sering ketemu Farid?"


"Enggak...cuma beberapa kali aja. itu juga gak sengaja. dia cerita tentang Kak Asfir gitu, dia kan teman satu kelasnya."


"Oya...?" jawab Sofi tak percaya.


"Eh...kapan lamarannya Sof?" Tanya Afifa mengalihkan pembicaraan.


"O iya kalian berdua wajib dateng ya. besok malam abis Maghrib. pokoknya WAJIB...!" Sofi menekankan.


"Hahhh...besok? kamu tu yah...pinter banget nyimpen rahasia..." Afifa tersenyum.


"Iya nich...harusnya kalau lagi seneng tuh cepet-cepet berbagi sama kita...ya kan Fa..." Ucap Sari kesal. "Tapi aku ikut seneng dech...Akhirnya temen kita yang kalem ini gak jomblo lagi. selamat ya..."Sari memeluk Sofi.


"Iya Sof...Selamat ya, akhirnya kamu akan bersama orang yang kamu inginkan. semoga kalian bisa sampai kepelaminan". Mereka bertiga berpelukan. Afifa tau kalau sebenarnya sejak dulu Afifa mulai suka pada Asfir, sering sekali dia mendapat titipan salam dari Asfir, hanya saja Asfir tidak berani mengungkapkan cintanya, mungkin karena dia anggota keamanan di pesantren, juga takut dengan kang khoer ketua keamanan waktu itu. Masa anggota keamanan harus diamanin haha...😀.


"Kalian sudah dipanggil?" tanya Sofi setelah melepaskan pelukannya.


"Sudah". Jawab kedua sahabatnya barengan.


"Alhamdulillah, lancar semuanya sudah beres. Mau langsung pulang?" tanya Afifa


"Iya Fa...aku langsung pulang..."Jawab Sofi.


Sedangkan sari hanya senyum-senyum." Aku mau jalan dulu...sama...hehe..." Sari cengengesan.


"Ya udah pergi sono sama yayang bebeb mu...sekalian minta dilamar juga...jangan lama-lama. Ntar kesambet syetan lho..." Ucap Afifa...


"Haha... doain aja ya..." Sari mengedipkan sebelah matanya.


Mereka berpisah setelah tiba diparkiran menuju tujuan masing-masing.

__ADS_1


*****


Afifa sampai dirumah pukul 5.30 sore. Setelah menyimpan motornya dia masuk rumah, ternyata suaminya sudah pulang, sedang duduk di sofa, sepertinya baru saja selesai mandi, rambutnya masih basah membuatnya terlihat segar dan semakin tampan.


Afifa menghampiri suaminya dan tersenyum, lalu mencium tangan suaminya.


"Kak Aji sudah pulang? maaf ya Afifa terlambat."


Fauzi menyambut salaman Afifa. "Gimana sidangnya lancar?"


"Alhamdulillah..." Afifa tersenyum. "Fifa mandi dulu ya Kak."


Fauzi mengangguk. Afifa segera membersihkan dirinya di kamar mandi yang terletak dikamarnya, sampai terdengar adzan magrib, Fauzi pamit pergi ke mesjid.


Selesai dengan kewajibannya Afifa mulai memasak untuk mereka makan malam.


Seperti biasa selesai sholat isya dan makan malam, Fauzi duduk disofa ruang keluarga sambil menonton televisi. Afifa masuk kekamarnya, dicarinya selembar Foto seorang perempuan berseragam SMU yang pernah dia ambil dari meja kerja suaminya.


"Semoga aja ini waktu yang tepat, aku akan coba bicara malam ini." Gumam Afifa.


Afifa membuka sedikit pintu kamarnya. dilihatnya suaminya masih duduk disofa memainkan ponselnya. dia berjalan menghampiri suaminya menggunakan pakaian rumahan panjang-panjang, rambutnya yang panjang dan bergelombang dijepitnya kebelakang dengan jepitan kecil.


"Kak..."Panggilnya setelah mendudukan dirinya tepat dipinggir suaminya.


"Hmm..." Pandangannya tidak beralih dari ponselnya.


"Temen Fifa, Sofi besok mau lamaran."


"Oya...? Kapan?"


"Besok malam...Boleh gak Fifa datang kerumahnya?" Kepalanya mulai bersender manja ke bahu Fauzi.


"Pergilah..." Ucapnya datar.


"Emmmm...besok ya?"


"Iya".


"Kayaknya habis magrib besok aku belum pulang."


"O...gitu ya" ucap Afifa dengan wajah kecewa.


"Aku mau mengantar barang untuk proyek di Bandung barat. Paling pulangnya sekitar pukul 10 atau 11 malam. Kamu nginep aja semalam di rumah temenmu. Kalau takut, berangkatnya sebelum magrib aja pake motor, biar pulangnya pagi-pagi. Kasian juga temen kamu kalau gak dateng.


"Jadi Fifa boleh nginep Kak?"tanya Afifa dengan mata berbinar, tersenyum bahagia ke arah suaminya.


"Iya..." Jawab Fauzi meyakinkan.


"Makasih ya Kak..." Afifa memeluk tangan Fauzi sambil bergelayut manja.


Fauzi mengangguk dan membiarkan Afifa tetap dalam posisinya.


"Kak...Pernah datang ke reuni tahunan pesantren gak?" Afifa memulai lagi pembicaraannya, setelah cukup lama dalam posisi nyaman nya.


"Sudah, setiap tahun juga datang. Aku kan baru dua tahun keluar dari pesantren. Malah Aku sering berkumpul membuat satu himpunan Alumni, didalamnya menghimpun beberapa Alumni juga donatur tetap pesantren, bahkan setiap Iedul Adha kami selalu memberikan qurban untuk anak-anak santri disana."


"Wah...keren banget Kak."


"Kamu sendiri pernah ikut reuni?"


"Hehe...pernah satu kali, tapi kok kita gak ketemu ya?"

__ADS_1


"Mungkin gak kebetulan, yang datang kan banyak banget."


"O iya juga ya. Reuni taun ini kita datang ya Kak...pasti temen-temen gak nyangka kalau kita udah jadi suami istri." Ucap Afifa masih dengan posisi yang sama.


Fauzi hanya tersenyum tipis dan mengangguk.


"Kak...waktu pertama Kak aji datang kerumah aku sempat kaget lho. Aku kira bukan kak Aji."


"O ya...? Emangnya kenapa?"


"hehe...abisnya sekarang kalem banget... dulu Kak Aji kan suka slengean gitu, gangguin para santriwati, malah mereka seneng lagi digodain haha..."


"Haha...benarkah?" Fauji tertawa.


"Kak Aji tau gak...hampir tiap hari Fifa denger kakak kelas Fifa ngomongin Kak Aji. bilangnya si digangguin...tapi kok ekspresinya kayak seneng gitu."


"Haha...gangguin apa... yang ada mereka tuh yang gangguin Kak Aji." Mereka berdua tertawa.


Afifa merasa begitu senang, rasanya baru kali ini dia bicara seakrab itu dengan suaminya, padahal pernikahannya sudah lebih dari lima bulan.


"Kak Aji sekarang kok berubah?"


"Berubah gimana?" tanya Fauzi melirik ke arah Afifa.


"Ya jadi pendiam gitu, gak banyak bicara kayak dulu. Apa Kak Aji punya masalah?" Afifa membetulkan posisi duduknya menghadap ke arah suaminya. "Kalau Kak Aji punya masalah, Fifa siap jadi pendengar setia". Tersenyum ke arah suaminya, namun tetap dengan tatapan selidik.


Fauzi langsung merubah posisi duduknya. "Ngak ada masalah apa-apa Kok Dek..."


"Hhhmmm..." Afifa berfikir sejenak. "Afifa kuliahnya kan udah mau slesai Kak. waktu itu Kak Aji bilang, tunggu sampai aku selesai kuliah".


Fauzi tiba-tiba bangkit dari duduknya. " Sudahlah, jangam bahas itu, aku ngantuk".


"Kak..." Afifa mengeluarkan selembar foto yang disimpan di sakunya. "Apa semua ini karna orang yang ada difoto ini?". Afifa menatap tajam suaminya.


Fauzi menghentikan langkahnya lalu berbalik memandang tajam foto di tangan Afifa. "Dari mana kamu dapatkan foto itu?". Sekilas tangannya berayun hendak merebut foto dari tangan Afifa, namun Afifa berhasil menghindarinya.


"Jawab dulu pertanyaanku Kak...!" Suara Afifa meninggi. Cairan bening mulai menggenangi kelopak matanya.


"Berikan foto itu, aku sudah menyuruh Bi Yati untuk membuangnya. Ini sama sekali tidak ada hubungannya denganmu. Ini masalahku". Pinta Fauzi pelan terdengar memohon.


"Tidak ada hubungannya? Aku ini istrimu Kak...justru akulah yang paling merasakan dampak dari masalahmu itu. Kenapa Kak Aji tidak pernah mengerti perasaan Fifa?" Airmatanya mulai jatuh.


"Aku...aku..." Afita tak sanggup lagi melanjutkan ucapannya. Airmatanya terus mengalir, tak dapat ditahan lagi. Diapun menjatuhkan dirinya duduk disofa sambil menutup wajahnya.


Fauzi tidak menjawab. dia hanya berdiri terdiam, menatap istrinya yang terus menangis, dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Setelah cukup lama akhirnya dia mengatakan sesuatu. "Maaf...aku belum siap mengatakannya saat ini". Fauzi melangkahkan kakinya menuju kamar, meninggalkan Afifa sendiri.


*****


Bersambung...😊❤...


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Kira-kira seperti ini visual Afifa...gadis manis kuliah semester akhir, berhijab namun tetap modis...😊



Visual Fauzi



Visual Farid

__ADS_1



Mohon maaf...gambar ini hanya bayangan Author semata yang disesuaikan dengan karakter masing-masing tokoh...🤗🙏😊


__ADS_2