
Mentari pagi sudah terpancar diupuk timur, disambut dengan hiruk pikuk manusia dengan kesibukannya masing-masing, begitupun Afifah, pukul 6.30 pagi dia sudah selesai dengan tugas ibu rumah tangganya.
Hari ini hari jum'at jadwal Afifa mengajar. dia sudah memakai baju seragam kebesarannya, sedang asyik merias diri didepan cermin riasnya, rambutnya yang panjang ia sisir kebelakang, menampakan anak rambutnya yang berjejer rapi menghiasi bagian atas keningnya, bulatan-bulatan kecil nampak indah diujung rambutnya yang bergelombang.
"Krek", Suara pintu kamar mandi terbuka, Fauzi keluar, baru saja selesai mandi. "Seger nya...Bajuku mana Dek?" Tanya Fauzi.
"Itu, sudah Fifa siapin di atas kasur," melirik suaminya dibalik pantulan cermin.
"Oke" Fauzi segera memakai pakaian yang disiapkan istrinya. potongan kaos putih dan celana kanvas berwarna biru tua dipadukan dengan blazer santai berwarna biru juga (persis seperti visualnya Fauzi di eps sebelumnya).
Fauzi sudah selesai dengan bajunya, rambutnya masih basah berantakan karena belum disisir, dia menghampiri Afifa yang belum juga beranjak dari kursi riasnya.
"Emmm wangi banget pacarku ini," Goda Fauzi sambil membungkuk dibelakang tubuh istrinya, kedua tangannya yang panjang bertumpu pada meja rias dihadapan Afifa, membuat posisi Afifa terhimpit diantara kedua lengan suaminya. Mata Fauzi memandang lurus kedepan memperhatikan wajah istrinya dibalik cermin.
"Hah...pacar?" tanya Afifa menarik wajahnya yang menempel ke pipi Fauzi agak kesamping.
"Iya, hari ini kita resmi pacaran kan?" Afifa mengerutkan keningnya. "Kamu sendiri yang bilang semalam kan?"
Waduh...! iya juga ya, kok aku lupa hihi... gumam Afifa.
Tiba-tiba saja ide cemerlang muncul di benak Afifa. "Eiiit! tunggu dulu! siapa bilang kita sudah pacaran?"
"Lah, maksudnya?"
"Dimana-mana kalo orang mau pacaran itu harus ngungkapin perasaannya dulu sama gebetannya," Afifa menunjukan ekspresi serius meskipun sebenarnya hati kecilnya ingin tertawa.
"Hahaha... ngungkapin gimana?"
"Ya ngungkapin rasa cintanya gitu,"
"Waduh...! memangnya kurang ya aku ngungkapin perasaan aku dari dulu Dek?"
"E...itu mah beda lagi dong, kita kan baru mau mulai pacarannya,"
"Ah...ribet banget si Dek,"
"O...tentu tidak," Ucap Afifa sambil berdiri. "kalau cinta sama seseorang itu harus ada perjuangannya, minimal ungkapan cinta yang romantis gitu, seperti...Will you love me? Will you married me? dan seterusnya gitu,"
"A ha ha ha...emang harus gitu ya?"
"Heem". Afifa mengangguk, sebenarnya sambil menahan tawa. 😀
"Oke, sebentar!" Fauzi mengangkat kedua tangannya, lalu mengambil ponsel, membuka google mencari kata-kata romantis untuk mengungkapkan rasa cinta pada seseorang.
"Eh, mau ngapain? gak boleh searching ya!" Afifa berusaha mengambil ponsel dari tangan Fauzi, namun dengan sigap Fauzi menghindar dan mengangkat ponselnya ke atas kepalanya, Afifa berjinjit berusaha mengambilnya, Fauzi terus menghindar, Afifa juga tidak mau kalah, "Kak Aji curang, gak boleh searching harus bikin sendiri".
"Biarin aja, ngapain ribet...ha ha ha.."
"Kak Aji gak..."
"Bruk!" Keduanya jatuh di atas kasur, kaki Fauzi sudah mentok ke kaki tempat tidur, Tubuh Afifa jatuh tepat di atas tubuh Fauzi.
__ADS_1
"Aaaa...Kak Aji gak seru," Afifa cemberut. Tapi Fauzi justru tidak peduli, dia malah membaca satu persatu kata-kata yang tertulis diponselnya.
"Ba wa kan bu nga a tau bo ne ka un tuk me ngung kap kan ra sa cin ta mu" Ucap Fauzi seperti mengeja kata kata itu. "A ha ha... norak banget si, Ungkapan cinta zaman apa ini?"
"Emang Kak Aji gak pernah ngungkapin cinta gitu sama seseorang?" tanya Afifa kembali duduk diatas kasur.
"Gak pernah".
"Kok dulu punya pacar?"
"Itumah dia yang ngungkapin perasaannya sama aku ha ha ha..."
"Ih, sok kegantengan banget".
"Emang iya, lagian Kak Aji kan gak pernah punya pacar lagi setelah itu sayang..."
"Masa sih? Waktu di pesantren dulu, kak Aji suka godain para santriwati gitu,"
"Ya... godain kan bukan berarti suka atau punya perasaan Dek, kalau pun ada yang aku suka sejak dulu itu ya hanya sama satu orang aja".
"Siapa?"
"Mau tau namanya?"
"Hmmm... boleh".
"Namanya.... A fi fa Fha ti ma Mum ta za, gimana? Kenal gak?" Ucap Fauzi tersenyum ke arah istrinya. Afifa membalas senyumannya, "I love you, you are my only reason to stay alive" Ucap Fauzi berbisik ditelinga Afifa.
"Jadi sekarang kita resmi pacaran ni ya?" Ucapan Fauzi membuyarkan suasana hati Afifa yang sedang terbang melayang.
"Hmmmm... Boleh"
"Kok cuman boleh?" Fauzi menarik tangan Afifa
"Ha ha ha... iya...iya...Sekarang kita resmi pacaran, oke?" Afifa menyatukan jempol dan telunjuknya sehingga berbentuk bulat kehadapan Fauzi.
"Oke"
"Tapi ada syaratnya"
"Apa?"
"Kita harus layaknya seperti orang pacaran, kayak anak-anak zaman sekarang tuh".
"Emang mereka ngapain aja kalau pacaran?"
"Ya seperti malam mingguan, nonton, jalan-jalan dan gitu dech. Nanti Kak Aji searching aja lagi tuh, bagaimana cara anak muda sekarang pacaran ha ha..."
"Oke siapa takut,"
Afifa hanya tergelak, rasanya puas sekali sudah menjahili suaminya hari ini.
__ADS_1
"Sudah siang Dek, ayo bersiap!" Fauzi melihat pergelangan tangannya, keduanya turun dari tempat tidur, lalu merapikan pakaiannya masing-masing yang kusut lagi karena ulahnya sendiri. Afifa meraih jilbabnya yang tergantung di hanger, dengan cekatan dia memakai hijabnya.
Keduanya lalu sarapan dengan makanan yang sudah disiapkan Afifa dimeja makan.
Selesai sarapan Fauzi pamit lebih dulu untuk membuka toko.
Setelah sampai didepan pintu Fauzi mengulurkan tangannya kepada Afifa "Aku pergi dulu ya dek,"
"Iya," Afifa meraih tangan suaminya dan menciumnya, satu kecupan mendarat dikening Afifa.
"Hati-hati bawa motornya," Afifa mengangguk.
"Kak!" panggil Afifa, membuat Fauzi memutar kembali badannya. "Cup" Afifa berjinjit mencium bibir Fauzi sekilas, menyisakan noda lipstik dibibirnya.
Fauzi terbelalak, berdiri mematung.
"Kak!" Panggil Afifa lagi yang merasa lucu melihat ekspresi suaminya. "Kenapa?" Afifa tersenyum
"Ehem" Fauzi gelagapan salah tingkah, beberapa kali dia mengusap tengkuknya sambil berdehem mengendalikan diri dari rasa geroginya.
"A ha ha... lucu banget si kamu Kak..."
"A...aku pergi dulu," pamit Fauzi masih gerogi.
"Eh tunggu!" Panggil Afifa kembali sambil mengeluarkan tisyu basah yang selalu dibawa didalam tasnya. Afifa membersihkan bekas lipstik di bibir Fauzi karena ulahnya. "Apa barusan bayangan itu datang Kak?" tanya Afifa pelan disela mengusap-usap bibir suaminya.
Fauzi menggeleng.
Afifa tersenyum bahagia, itu artinya, sedikit demi sedikit trauma itu akan hilang.
Fauzi kembali berpamitan lalu kakinya melangkah keluar meninggalkan Afifa yang masih berdiri di depan pintu memperhatikan punggung suaminya sampai tak terlihat lagi.
Afifa kembali kedalam kamarnya, dia perhatikan kembali wajahnya dibalik cermin, "Aku yakin Kak, suatu saat kamu akan sembuh dan mampu melepaskan diri dari kenangan kelam masa lalumu itu.
Afifa mengambil selembar foto gadis berseragam SMU yang ia simpan rapi didalam sampul notebooknya, dipandangnya dengan lekat foto itu, "Wulan..., Cantik..., kamu cantik sekali, aku harus mencari keberadaanmu, meski aku tidak tau apa yang akan terjadi nanti, demi suamiku, aku harus menemukanmu". Ucapnya dengan penuh keyakinan.
Afifa mengambil tas dan kunci motor yang tergantung dikamarnya, lalu bergegas pergi menuju tempat dia mengajar.
*****
Bersambung...😊❤...
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hai... readers setiaku yang baik hati...😉
mohon maaf hari ini baru bisa Up jam segini, abis tadi siang adaaa aja gangguannya...😀
Masih dipacaran halalnya Afifa-Fauzi ya... moga kalian suka...
Ayo dong...Yang cuma like aja kasih komentarnya juga ya, biar authornya tambah semangaaaat...😉😉😉😉😉
__ADS_1