
Hari selasa, hari ini Afifa masih harus ke sekolah, Afifa bergegas melakukan tugasnya sebagai ibu rumah tangga, seperti biasa dia bangun sebelum subuh, pekerjaannya pun sudah kelar jam 6 pagi.
Afifa sudah mengenakan seragamnya, Fauzi juga sudah selesai mandi, merekapun langsung sarapan.
"Sayang kemarin rapat orang tua disekolah Nisa bahas apa?" tanya Fauzi
"Persispan Ujian Nisa, sekaligus biaya yang harus dibayar".
"Kita bantu Umi untuk bayar ujian Nisa ya."
Ucap Fauzi disela makannya.
"Emmmm..."Afifa tersenyum, "Makasih ya Kak..."
"Cuma itu aja?"
"Apanya?"
"Makasihnya".
Afifa tersenyum lalu berdiri dari kursinya dan berjalan ke belakang kursi suaminya, Dia merangkul bahu suaminya yang masih duduk dari belakang punggungnya, sehingga pipinya menempel ke wajah suaminya, Afifa memejamkan matanya yang terasa hangat, cukup lama ia lakukan hal itu, hingga membuat suaminya bertanya.
"Sayang...Kamu baik-baik saja kan?" Fauzi menyimpan sendoknya diatas piring, tangannya mengelus elus lengan Afifa yang melingkar dilehernya.
"Aku sangat mencintaimu Kak..." Ucap Afifa lirih.
Fauzi terdiam sejenak, lalu bangkit dari duduknya, dipegangnya kedua tangan istrinya, lalu menarik kepala Afifa dengan lembut ke dadanya. "Kau tau sayang?" Fauzi mencium pucuk kepala Afifa dalam pelukannya, "bahkan cintaku padamu lebih besar dari itu, maaf.... sampai saat ini aku belum bisa membahagiakanmu".
Air mata Afifa menetes membasahi kemeja yang dikenakan suaminya, Fauzi merasakan tetesan hangat didadanya.
"Habiskan dulu makannya ya, aku akan mengantarmu ke sekolah". Fauzi melepas pelukannya.
"Gak Usah Kak, Fifa kan bisa berangkat sendiri"
"Kan motornya masih dirumah Umi" Jelas Fauzi,
"Oh iya" Afifa sampai lupa kalau semalam pulang dijemput oleh suaminya.
"Nanti kita sekalian mampir ke sekolah Nisa untuk bayar biaya Ujiannya ya".
Afifa tersenyum dan mengangguk. dia kembali melanjutkan makannya yang tertunda.
Fauzi mengantarkan Afifa ke sekolah, saat melewati sekolah Nisa diapun berbelok masuk ke halaman sekolah. Anak-anak masih berlarian dihalaman, pertanda bel belum berbunyi.
Setelah selesai membayar biaya ujian Nisa dari kantor, mereka kembali ke mobilnya.
"Bu guru...!" Panggil seorang anak.
Afifa menghentikan langkahnya, tiba-tiba saja seluruh tubuhnya kaku saat tau suara anak yang memangilnya, dia terdiam ditempatnya tanpa menoleh kesumber suara, sampai dua tangan kecil menarik-narik tangannya.
"Bu guru..., Bu guru ..., ini aku Talita". Ucapnya.
Afifa terperanjat, dia mulai mengendalikan dirinya, Afifa berjongkok mensejajari tinggi anak itu. "Hai...apakabar Talita?"
"Baik Bu Guru, Ibu dari mana?"
"Dari kantor, ketemu Ibu gurunya Talita".
"Oh... ini siapa Bu guru?" Tanya talita menoleh ke arah Fauzi yang berdiri disamping Afifa sambil tersenyum.
"Deg..." Afifa tersentak mendengar pertanyaannya, dia segera kembali mengontrol dirinya. Senyuman terukir dibibirnya, sekilas menatap suaminya, "Ini suami Bu Guru sayang. Ayo kasih salam!"
"Assalamualaikum paman" Ucapan salam terucap dari bibir mungilnya.
__ADS_1
Fauzi berjongkok, "Waalaikum salam, siapa namanya cantik?" tanyanya ramah.
"Talita"
"Emmm...manis banget si kamu". Jawab Fauzi mencubit pipi gembil Talita.
Talita hanya tersenyum. "Buguru aku masuk dulu ya". pamitnya
"Iya sayang, hati-hati ya!" Afifa melambaikan tangannya.
Talita berlari meninggalkan mereka. Afifa terus memandangnya berlalu dari hadapannya, langkah-langkah kecil itu serasa menghentak kedadanya, seakan satu persatu mendobrak hatinya untuk menyadari kesalahan karena ketidak jujurannya.
Apa yang harus aku lakukan Ya Alloh...
"Ayo sayang...!" Fauzi membukakan pintu untuk istrinya, membuat Afifa tersadar dari lamunannya.
Afifa segera masuk, Fauzi melajukan mobilnya dan mengantar Afifa ke tempat mengajarnya.
"Kak...pulang sekolah aku ke rumah Umi dulu ya, Fifa mau lihat kondisi Umi sekalian ambil motor. gak apa-apa kan kalau aku pulangnya sorean?" tanya Afifa setelah turun dari mobil suaminya.
"Iya, asal jangan sampai lewat maghrib aja"
"Iya Kak," Afifa tersenyum lalu meraih tangan suaminya dan menciumnya. "Assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
Fauzi memutar mobilnya dan kembali menuju tokonya.
***
Sepulang ngajar Afifa bergegas ke rumah Umi mengendarai angkot, Afifa bersyukur karena hari ini Umi sudah terlihat segar kembali, Afifa menjelaskan hasil rapat orang tua kemarin, dan mengatakan kalau biaya sekolah Nisa sudah dibayarkan. Umi sangat bersyukur, airmatapun menetes dipipinya. Setelah dirasa cukup istirahat sebentar dirumah Umi, Afifa berpamitan.
Hari ini Afifa ingin melanjutkan niatnya menemui perempuan itu, masih lengkap dengan seragam mengajarnya, dia mengarahkan motornya menuju butik yang sempat dia datangi kemarin. Afifa menghentikan motornya didepan butik yang memiliki halaman parkir cukup luas itu.
Haruskah aku menemuinya saat ini? apa hatiku sudah siap??? ....harus! aku harus siap, aku tidak mau menyimpan ketidakjujuranku lebih lama lagi.
"Selamat siang Buguru?" Sapa seseorang yang keluar dari dalam butik, Afifa tersentak saat menatap seorang wanita cantik, berhijab pasmina berwarna abu tua, nampak begitu kontras diwajahnya yang putih, tengah menyapanya dengan ramah.
"Ah...selamat siang kembali mbak Wulan".
Wulan mengerutkan keningnya, mendengar Afifa memanggil namanya, setau dia para pelanggannya selalu mengenalnya dengan sebutan "Teh Mul"... Hanya disekolah Talita saja dia dipanggil Bunda Wulan.
Dia mulai berfikir, seolah sedang mengingat sesuatu "Emmm, bukan kah buguru ini, ibugurunya Talita? O ya...kita pernah bertemu di sekolah Talita. Maaf buguru, saya hampir melupakan anda, Mari masuk Bu..."
"panggil Afifa saja Mbak".
"Baiklah Bu Afifa, ada yang bisa saya bantu?" tanyanya lagi masih dengan senyuman manis tersungging dibibirnya. "Semua yang ada ditoko ini adalah rancangan saya sendiri, Ibu bisa lihat-lihat dulu".
Afifa memutar pandangannya, mengagumi setiap pakaian yang terpajang disana, matanya tertuju pada gamis-gamis cantik berwarna shoff yang terpasang pada mannequen dipinggir kaca toko (Naluri emak-emaknya keluar).
Pandangannya kembali kepada wanita yang masih setia tersenyum dihadapannya, Afifa semakin mengaguminya karena berbagai karyanya yang sungguh menawan.
"Apa ada yang Ibu suka?" Katanya
"Saya sangat mengagumi karya Mbak Wulan semuanya bagus-bagus". Jawab Afifa sambil tersenyum.
"Terimakasih". Katanya sambil mengangguk ramah.
Afifa kembali teringat dengan tujuannya datang ketempat ini. Entah mengapa mulutnya terasa berat untuk memulai perkataannya, dia meremas-remas jemarinya berusaha mengusir kegugupannya. "Emmm... Mbak, apa boleh saya berbicara secara pribadi dengan Mbak Wulan?"
Wulan mengerutkan keningnya, berfikir sejenak lalu kembali tersenyum. "O...tentu saja boleh, Mari ikut saya!" Wulan berjalan menaiki tangga menuju lantai 2, Afifa mengikutinya.
Langkah demi langkah terasa begitu berat bagi Afifa, fikiran dan hatinya terus berkecamuk, kadang meronta, kadang mendukung tindakannya, tapi kini sudah tidak ada lagi alasan untuk mundur, dia kembali langkahkan kakinya menapaki satu persatu anak tangga yang dilaluinya.
__ADS_1
"Mari silahkan duduk Bu..." Wulan mempersilahkan Afifa duduk di sofa dekat jendela rumahnya, dari sini dia bisa melihat jalanan didepan rumah ini, Wulan mengambil beberapa botol minuman dingin dari dalam kulkasnya, lalu menghidangkannya didepan Afifa lengkap dengan gelas dan beberapa camilan. "Disambi ya bu" ucapnya masih dengan senyuman khasnya.
"terimakasih, gak usah repot-repot Mbak, O..ya, Talita kemana?" tanya Afifa untuk menghilangkan sedikit kecanggungan.
"Dia sedang les, diantar Rina pegawai saya. O ya, apa ibu ingin membicarakan masalah sekolah Talita?" tanya nya lagi.
"Oh...tidak, saya hanya ingin bicara dengan Mbak,"
"Oh, ada apa ya?"
Afifa menghela nafas panjang, berusaha mengatur kata-kata yang akan dia keluarkan dari mulutnya.
"Perkenalkan, Nama saya Afifa Fathima Mumtaza" Afifa melihat raut wajah Wulan yang masih antusias mendengarkannya. "Saya istri dari Fauzi Rahman Ramadhan"
Afifa kembali menatap Wulan, ada sesuatu diwajah itu saat mendengar nama suaminya disebut, tapi dia berusaha menyembunyikannya, dia tetap mendengarkan, hanya helaan nafas yang terdengar darinya.
"Apa Mbak wulan mengingatnya?" tanya Afifa kemudian
Wulan mengangkat kepalanya, menatap tajam pada Afifa membuat Afifa ragu untuk melanjutkan niatnya. "Apa maksud anda bertanya hal itu kepada saya?"
Afifa tersentak, sungguh itu adalah pertanyaan yang sulit untuk Afifa. Dia gugup dan kembali meremas tangannya, Afifa menundukan kepalanya, menghela nafas panjang berusaha mengontrol dirinya. dia kembali bicara setelah mengatur beberapa kata yang ingin dikeluarkannya.
"Sebelumnya saya minta maaf Mbak, mungkin kedatangan saya membuat Mbak Wulan tidak nyaman, tapi saya sengaja datang kemari untuk membicarakan hal ini." Afifa memberanikan diri untuk menatap Wulan, tapi tidak ada ekspresi dari wajah itu, dia masih tetap diam dengan pandangannya yang kosong. "Saya datang kemari untuk meminta maaf kepada Mbak Wulan atas nama suami saya, saya mohon maafkan kesalahan suami saya dimasa lalu, dulu dia masih sangat muda, hingga tidak menyadari kesalahan yang dilakukannya, tapi kini dia sungguh menyesalinya".
Afifa kembali memandang wanita dihadapannya, tapi dia tetap diam, terpaku ditempatnya. "Mbak..." Afifa meraih tangan Wulan, tapi wulan menarik tangannya, itu sungguh membuat Afifa semakin salah tingkah. "Mbak Wulan...saya mohon ma....."
"Apa terjadi sesuatu dalam rumah tangga kalian? sehingga dia mengirim istrinya kemari? kenapa tidak dia sendiri yang datang kepadaku?" tanya nya tegas memotong ucapan Afifa.
"Deg...." Afifa merasa ucapan wanita itu begitu menusuk dihatinya, Afifa tak mampu melanjutkan ucapannya.
"Apa kau tau? bertahun-tahun aku mengubur kisah kelam itu dalam fikiranku, sampai aku dapat tersenyum kembali saat ini, dan sekarang kenapa kau tiba-tiba saja datang kepadaku, kembali mengingatkanku pada masa-masa pahit yang pernah aku lalui dulu?" Wulan membuang pandangannya keluar jendela, matanya mulai memerah seakan menahan semua amarah.
"Aku minta Maaf Mbak, aku tidak bermaksud menyakiti hati Mbak Wulan, aku hanya ingin meminta maaf atas nama suamiku".
"Oh... mudah sekali ya meminta Maaf, apa dia sama sekali tidak punya nyali untuk datang sendiri kehadapanku? Sejak dulu aku selalu menunggunya, tapi dia sama sekali tidak pernah datang menemuiku..." Wulan kembali menatap Afifa yang sedang tertunduk, dilihatnya ada cairan bening yang tertahan dikelopak mata Afifa. "Sudahlah, ini sama sekali tidak ada hubungannya denganmu" Ucapnya pelan, "pulanglah..., aku tidak ingin mengingatnya dan aku juga tidak akan mengusik rumah tangga kalian".
Afifa mengangkat kepalanya, berusaha menatap wanita dihadapannya dengan matanya yang mulai basah, "Mbak...terimakasih atas kebaikanmu, sungguh Mbak memiliki hati yang sangat mulia, Tapi aku ingin Mbak Wulan benar-benar memaafkannya dan bicara dengannya".
Seketika Wulan berdiri dari tempat duduknya, "Sebenarnya apa yang kau inginkan? kau ingin aku bertemu dengannya dan membuka kembali luka lama yang pernah ditorehkannya? tidak...! aku tidak akan melakukannya".
"Aku mohon Mbak, bertemulah dengannya sekali saja, meyakinkannya bahwa Mbak benar-benar sudah memaafkan kesalahannya. Aku mohon, aku akan lakukan apapun untuk itu Mbak" Afifa mulai menangis.
"Apa kau begitu mencintainya?" Tanya Wulan. Afifa tidak menjawab. dia hanya tertunduk menahan tangisannya. "Apa kau sungguh akan melakukan apapun agar aku memaafkannya?"
Afifa mengangkat kepalanya, dan memandang wajah cantiq dihadapannya yang sudah memerah karena marah, Namun tetap menyunggingkan senyum dibibirnya, entah mengapa, Afifa merasa senyum itu kini berbeda dari sebelumnya, "Benar Mbak, saya akan melakukan apapun jika Mbak wulan bersedia bertemu dengannya dan mengatakan langsung dihadapannya kalau Mbak Wulan sudah memaafkannya".
"Apa kau bisa merelakan dirinya untukku jika seandainya aku memintanya?"
"Dueeeer..." Afifa merasa pertanyaan itu memekik telinganya, seperti sambaran petir yang langsung mengarah ke ulu hatinya....😢
*****
Bersambung...😊❤...
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Readers .... Author pengen nangis...😭😭😭😭😭😭😭
Jangan lupa like, "vote" dan komentarnya ya... kalo sepi, nanti aku tambah nangis...😭😭😭😭
Love you All....❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
By : Rahma khusnul #
__ADS_1