Seikhlas Cinta Afifa

Seikhlas Cinta Afifa
Pernikahan Sofi...


__ADS_3

Sore haripun tiba, Afifa minta izin kepada Abi dan Uminya untuk menginap semalam dirumah Sofi, tak lupa dia juga meminta izin kepada suaminya lewat sebuah pesan.


Pukul 5 sore Afifa sudah sampai dirumah Sofi, begitupun dengan Sari, keduanya hampir datang bersamaan, mereka menunggu diluar pintu gerbang, karena banyak orang berkerumun baru saja keluar dari halaman luas rumah Sofi, mereka baru saja selesai mengikuti acara pengajian selamatan pernikahan Sofi, setelah suasana agak sepi, merekapun masuk bersamaan.


Seperti biasa saat kita datang ke tempat hajatan yang pertama kali ditawarkan adalah makan, tak dapat mengelak lagi mereka berduapun mencicipi hidangan yang masih berjejer di meja prasmanan.


Sofi menghampiri kedua sahabatnya, lalu ikut mengambil nasi dan bergabung bersama mereka duduk di tempat pavoritnya, sebuah meja bundar dibawah pohon yang rindang.


Suara musik dandutan begitu keras terdengar, membuat jantung pendengarnya berdegup kencang mengikuti iramanya, Afifa yang tidak terlalu suka dengan musik dandut hanya senyum-senyum saja melihat tingkah Sari yang bergoyang-goyang disela makannya.


"Makan itu yang bener lo Sar, nanti kesedak kamu" Tegur Afifa


"Ya enggak lah, aku kan goyangnya pake hati, menikmati merdunya suara Lesti dan alunan musik yang indah ini" Jawab Sari cuek disela makan dan goyangannya.


"Ih kamu tu ya...dibilangin juga, kesedek baru tau rasa lo..." Sofi menimpali


Mereka bertiga tertawa.


Masih dengan penyanyi yang sama, lagu selanjutnya diputar lagi oleh petugas soundsistem, Afifa mendengarkan setiap kata dari lirik lagunya, Entah mengapa, Afifa merasa sakit mendengarnya, setiap kata dari lirik itu seolah menyindir perasaannya saat ini.


🎵🎵🎵


Harusnya tak begini


Diantara Kau dan Aku


Sama-sama bertahan


Hanya karna satu


Ego sendiri...


Sering kita sembunyi


Di balik sikap dan kata


Padahal hati kita


Tak ingin


Saling Menyakiti...


Mengapa tak mencoba


Jujur...


Pada hati kita


Kasih...


Bahwa sesungguhnya


Engkau dan Aku


Takut berpisah


Seandainya saja


Mau...


Sedikit mengalah


Kasih...


Pertengkaran ini


Tak mungkin ada


Selamanya...


🎵🎵🎵


Afifa termenung, tak terasa airmatanya menetes dipipinya, Afifa segera sadar dan bangkit dari duduknya. "Sof...aku mau ke kamar kecil," Ucapnya sambil berlalu tanpa memperdulikan kedua sahabatnya yang bengong melihat tingkahnya.


"Eh...Fa...! kamu...." Sofi berusaha memanggil Afifa, tapi dia sudah berlalu dari hadapannya.

__ADS_1


Sari hanya menatap Sofi dengan tatapan penuh tanya, dan dijawab Sofi dengan mengangkat bahunya.


"Sebentar ya Sar, aku tinggal dulu, kalau mau cemilan ambil aja, semua tersedia di meja itu" Ucap Sari menunjuk pada meja panjang yang berjejer menjajakan berbagai makanan.


"Wokey...tenang aja, aku seneng disini sambil dandutan haha..." Jawab Sari asal.


Sofi bergegas ke kamar kecil, menunggu Afifa keluar dari sana, cukup lama dia berdiri Afifa tidak juga keluar, Sofi khawatir, akhirnya dia mengetuk pintu kamar kecil.


"Fa...!" panggilnya, "Fa...kamu baik-baik saja kan? ini aku Sofi, keluar dulu sebentar!"


Afifa terperanjat mendengar ketukan dari luar pintu. "Ya...! Sebentar...!" dia segera mencuci mukanya, lalu kembali memakai hijabnya, perlahan membuka pintu kamar kecil, tampak sahabatnya disana sedang menatapnya selidik, Afifa tertunduk.


"Ayo ikut aku!" Sofi memegang tangan Afifa dengan cepat menariknya menuju kamar yang sudah dihias dengan berbagai ornamen pernikahan juga bunga-bunga yang menambah khas bau kamar pengantin. Afifa yang tidak siap, mengikuti langkah sahabatnya. Sofi menyuruh Afifa duduk di atas tempat tidur, lalu menutup rapat pintu kamar dan menguncinya.


"Sekarang katakan! Apa yang terjadi padamu?" Tanya Sofi melipat tangannya dan berdiri dihadapan Afifa seperti orang yang akan menghakimi saja.


"Aku...aku baik-baik saja Sof, Kamu ini kenapa si?" Afifa mencoba tersenyum dihadapan sahabatnya.


"Hah... baik? dengan wajahmu dan keadaanmu yang seperti ini? apa kamu fikir aku akan percaya?"


"Beneran Sof, aku tidak apa-apa".


Sofi menghela nafas panjang, lalu mendudukan dirinya disamping Afifa, "Aku kecewa padamu Fa...setelah 7 tahun kita bersama, kufikir kau menganggapku sahabat sejatimu yang akan selalu berbagi suka dan duka, ternyata aku salah".


Mendengar ucapan sahabatnya Afifa merasa begitu sakit, kelopak matanya mulai terasa panas, pandangannya mulai berkabut terhalang cairan bening yang terbendung disana. "Maafkan aku Sof...aku...aku...tidak bisa mengatakan semuanya padamu..." Tangis Afifa pecah sambil tertunduk.


Sofi segera merangkul sahabatnya, "Menangislah...keluarkan semuanya disini, aku tau ini masalah rumah tanggamu, makanya kau tidak mau menceritakannya pada orang lain, aku tidak akan memaksamu, tapi kamu harus tau, kamu tidak sendiri Fa, aku akan selalu ada bersamamu".


Tangis Afifapun pecah disana, dia seperti menemukan sandaran untuk menumpahkan semua masalah yang selama ini ditanggungnya sendiri.


Sofi terus saja mengelus-elus kepala Afifa, dibiarkannya sahabatnya menangis cukup lama dipangkuannya, sampai Afifa berangsur tenang, Sofi mulai angkat bicara.


"Apa karna itu suamimu tidak datang pada acara wisuda tadi siang?" Afifa terdiam, "Mungkin dia juga tidak akan datang pada acara pernikahanku besok, tapi tak apa, kita semua disini akan menghiburmu, dan mendukungmu. Jika suatu saat kamu butuh seseorang untuk bercerita, aku akan selalu ada untukmu".


Afifa mengangkat kepalanya dari pangkuan Sofi, dipandangnya wajah lembut dihadapannya, dia tersenyum, lalu memeluk sahabatnya dengan erat, "Terimakasih Sof..."


Keduanya berpelukan sampai terdengar suara ketukan pintu diluar kamar. Sofi bangkit dan membuka pintu kamar. "Sari? ayo masuk!"


"Kalian kemana aja si...tega banget ninggalin aku sendirian, ini juga nih, yang kekamar kecil lama bang...." Ucapan Sari terputus saat melihat wajah Afifa yang memerah dengan mata sembabnya.


"Eh...kamu kenapa Fa? Kamu abis nangis ya? Fa..." Sari duduk dihadapan Afifa sambil memegang wajah sahabatnya. Lalu menoleh ke arah Sofi, "Apa yang terjadi Sof?" tanyanya penasaran.


"Tenang dulu Sar...Afifa cuma kangen aja sama suaminya, dia kan sudah 2 minggu ditinggal pergi hehe..." jelas Sofi.


"O...kirain kamu kena KDRT..." Sari mengelus dadanya.


"KDRT dari mana? orang suaminya lagi pergi juga" Sofi menjentikan jarinya ke kening Sari.


"Ya kali aja hehe..."


"Sok tau kamu, Suaminya Afifa kan sayang banget sama dia, gak mungkin ada KDRT dalam rumah tangga mereka"


"Syukurlah," Ucap Sari, "kalau ada KDRT aku jadi takut nikah deh..."


"Eh...emang kamu mau jadi perawan selamanya hah...?"


"Ih...amit-amit dach..." bibir Sofi manyun satu centi.


"Ha ha ha..." Sofi dan Afifa tertawa melihat tingkah sahabatnya itu.


Tak terasa hari semakin sore, perbincangan ketiga sahabat itu terhenti saat adzan maghrib berkumandang, mereka bergegas mengambil air wudhu dan sholat maghrib secara bergantian dikamar Sofi.


Selesai sholat Ibunya Sofi meminta putrinya untuk bersiap mengikuti acara tradisi selanjutnya, Khotaman Qur'an, Sofi mengganti pakaiannya, Afifa dan Sari membantu merias wajah dan kerudungnya.


Tradisi khotaman Qur'an berlangsung khidmat, dihadiri oleh teman-teman pengajian Sofi, ibu-ibu tetangganya juga kerabat dekatnya. Masing-masing membacakan satu suroh pendek yang dilantunkan dengan indah, dilanjutkan dengan bacaan-bacaan Sholawat dan nyanyian wejangan juga godaan untuk calon pengantin, membuat wajah Sofi yang cantik semakin bersemu merah.


Acara khotaman Qur'an selesai, masih ada acara selanjutnya yaitu luluran khusus pengantin yang langsung dilakukan oleh petugas rias pengantin, disela lulurannya Sofi mendapat telpon, wajahnya terlihat berseri-seri saat berbicara dengan orang yang menelponnya, ya siapa lagi kalau bukan calon suaminya, Afifa dan Saripun terus menggodanya. Sampai akhirnya Sofi bangkit dari duduknya dan menjauhi kedua temannya.


Afifa melihat sahabatnya masih asyik menerima telphon, tapi ada sesuatu yang berubah dari ekspresi wajahnya, dia tampak serius seakan menjelaskan sesuatu kepada orang disebrang sana.


Selesai dengan telpon nya, Sofi kembali bergabung dengan kedua sahabatnya,


"Sudah selesai Teh..." Kata petugas rias pengantin.


"O iya, terimakasih" ucap Sofi

__ADS_1


"Sama-sama" jawabnya, dia segera membereskan peralatannya.


"Sudah malam, sebaiknya kita istirahat" Ajak Sofi.


Kedua sahabatnya mengangguk, malam ini mereka bertiga tidur dikamar Sofi, tempat tidurnya cukup besar untuk mereka bertiga berbaring.


***


Pukul 4 pagi Sofi sudah dibangunkan untuk bersiap-siap, dia mandi dengan air hangat sambil menunggu adzan subuh, begitupun dengan kedua sahabatnya, Afifa selalu menyempatkan diri untuk sholat tahajud. Selesai sholat Subuh, Sofi langsung dikerumuni petugas rias pengantin, mereka mulai berkutat dengan berbagai peralatannya.


Afifa dan Sari ikut dipoles juga dengan berbagai riasan membuat keduanya nampak cantik dan anggun.


Matahari sudah naik, waktu menunjukan pukul 8.30, iring-iringan pengantin pria sudah berada di depan gerbang. Kami diminta untuk bersiap menyambut kedatangan calon mempelai pria, Afifa dan Sari bertugas untuk mendampingi pengantin wanita. Sofi terlihat semakin gugup, tangannya begitu dingin, Afifa segera menggenggam erat tangan sahabatnya.


Iring-iringanpun masuk ke halaman rumah Sofi dan dipersilahkan duduk diatas panggung yang sudah dipersiapkan sebagai tempat akad. Semua orang sudah siap disana termasuk Ayah Sofi sebagai Wali dan juga petugas KUA yang akan menikahkannya.


Akad tikah pun berlangsung, Asfir mengucapkan ijab qobul dengan sangat lantang, membuat Sofi menitikan air mata lega dan bahagia. Kini saatnya Sofi keluar, dengan hati-hati Sari dan Afifa menuntunnya menuju pelaminan.


Asfir sudah duduk disana dengan senyum merekahnya, terlihat ada seseorang pula yang berdiri disampingnya.


Sampai dipelaminan Afifa melepaskan tangan Sofi dan disambut dengan uluran tangan seorang pria yang kini sudah syah menjadi suaminya. Tiba-tiba saja entah mengapa Afifa ingin menoleh pada sosok pria yang berdiri disamping Asfir, dan sepersekian detik mereka saling memandang, Pria itu masih terus menatapnya dengan senyuman khasnya, Afifa segera menundukan pandangannya, lalu turun dari panggung pelaminan.


Acara dilanjutkan dengan serah terima dari keluarga kedua mempelai, setelah semuanya selesai, acarapun langsung dilanjutkan dengan resepsi. Para tamu berbondong-bondong berdatangan mengucapkan selamat dan menikmati sajian prasmanan, Afifa dan Sari turut membantu petugas cathering menyajikan makanan, sampai akhirnya para tamu sedikit berkurang, Afifa dan Sari mulai bisa duduk bersantai dikursi pavoritnya dengan berbagai makanan didepannya.


"Assalamualaikum" Sapa seseorang,


Afifa dan sari menolehnya, "Waalaikum salam".


"Hai...apa kabar kalian? kok hanya duduk disini?" tanya Farid


"Capek Kak...istirahat dulu, tamunya banyak banget," Jawab Sari, Afifa hanya mengangguk.


"O ya, kalian baru selesai wisuda ya?"


"Iya" jawab keduanya.


"Selamat ya, kalian sekarang sudah jadi sarjana, dan selamat juga buat kamu Fa...kamu berhasil jadi mahasiswa terbaik".


"Terima kasih," Afifa mengangguk dan tersenyum. "Aku juga mau berterimakasih karena Kak Farid sudah banyak membantuku menyelesaikan tugas Akhir, Aku tidak akan memperoleh gelar mahasiswa terbaik jika tidak menyelesaikan tugas akhir tepat waktu".


"Ha ha...aku tidak membantu apapun Fifa...itu memang karena kecerdasan kamu saja", Farid menepiskan tangannya.


Sari yang merasa jadi obat nyamukpun pamit meninggalkan mereka, "Aku masuk dulu ya Fa"


"Eh...mau kemana?" tanya Afifa berusaha mencegah Sari meninggalkan mereka berdua, perasaannya sudah tidak nyaman.


"Toilet" Jawab Sari asal sambil ngacir kebelakang.


Afifa hanya menarik nafas panjang, tidak enak juga kalau dia harus tiba-tiba pergi dari tempat itu.


"Pak Fauzi apa kabar?" tanya Farid kembali memulai pembicaraan.


"Alhamdulillah baik".


"Apa dia datang kesini?"


"Tidak, dia sedang berada diluar kota".


"Oh...begitu ya, berarti waktu wisuda kemarin dia juga tidak datang?"


Afifa sudah mulai tidak nyaman dengan arah pembicaraan Farid, akhirnya dia bangkit dari duduknya. "Maaf Kak...aku permisi ke belakang," Afifa pergi tanpa menoleh lagi meninggalkan Farid yang masih terus memperhatikannya.


*****


Bersambung...😊❤...


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Alhamdulillah hari ini bisa Up lagi... semoga readers semua suka ya...😉


Like,Vote, dan komentarnya masih ditunggu lho...


Ayo kasih komentar biar Author tambah cemunguuuuut...😄


Love You All....❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤

__ADS_1


By : Rahma Khusnul...😊 #


__ADS_2