Seikhlas Cinta Afifa

Seikhlas Cinta Afifa
Pertemuan dengan masa lalu.


__ADS_3

Waktu menunjukan pukul 7.00 malam, Afifa terperanjat saat mendengar suara mobil berhenti di depan rumahnya, Afifa segera membuka pintu setelah memastikan mobil suaminya yang datang.


"Assalamuaikum"


"Waalaikum Salam." jawab Afifa


"Sudah siap? yuk langsung berangkat."Ajak Fauzi.


"Apa Kak Aji nggak cape?"


Yang di tanya hanya menggeleng sambil tersenyum. Sekilas tangannya meraih tangan Afifa dan menariknya menuju mobil.


Sontak Afifa aget namun tidak menghentikannya.


Fauzi membukakan pintu mobil untuk Afifa, lalu mengitari mobilnya dan duduk dibelakang kemudi.


Sekitar 15 menit mereka tiba di restoran langganan Fauzi. restoran itu cukup ramai pengunjung bahkan seperti sedang kedatangan tamu rombongan, karna ada 3 meja besar yang ditempati oleh orang orang yang berseragam sama.


Afifa melangkah beriringan dengan Fauzi masuk ke restoran besar itu. Fauzi sengaja menempati tempat duduk yang berada di pojok kanan karena agak sepi dan tidak terganggu dengan obrolan rombongan yang ada di bagian kiri restoran, tempat itu tidak jauh ke arah menuju toilet.


"Mau makan apa?" tanya Fauzi


"terserah kak Aji aja."


"Kok terserah, kan kamu yang makan."


Afifa hanya terdiam.


"Masih marah ya?" Tanya Fauzi. Pandangannya lurus pada istrinya yang sedang tertunduk. "Maaf....."


Afifa menaikan pandangannya. kini mata mereka bertemu. Perasaan bersalah terlihat jelas di mata sayu suaminya, membuat Afifa tak tega jika harus terus marah padanya.

__ADS_1


"Fifa udah maafin kak Aji kok. tapi fifa mohon jangan ulangi lagi."


Senyum kelegaan terpancar di wajah Fauzi. "Terimakasih."


Fauzi memanggil pelayan dan menunjukan pesanannya.


"Kak Aji ke toilet dulu ya. belum sempat ke belakamg dari tadi." Sambil berdiri.


Afifa mengangguk. memandangi suaminya yang melaju dari hadapannya. Dia mengeluarkan ponselnya untuk menghilangkan kejenuhan, asyik melihat beberapa chat dari beberapa grup di ponselnya.


"Afifa... Benar Afifa kan...?" Tiba-tiba Afifa di kejutkan dengan suara seseorang yang tidak asing ditelinganya. Ya... suara itu, suara yang pernah dirindukannya karna menghilang selama 4 tahun ini. dimana kenangannya sulit sekali terlupakan, susah payah Afifa menghapusnya, sampai akhirnya kenangan itu berangsur memudar dari benaknya.


deg...


Dengan ragu Afifa mengangkat kepalanya dari ponselnya. Perasaan aneh tiba-tiba muncul, rasa senang, sesal, dan kecewa bercampur di fikirannya.


Rasa senang karena seseorang yang selama ini ditunggunya kini ada dihadapannya, rasa sesal karena situasinya sudah berbeda, dan rasa kecewa karena tidak satupun kabar yang datang darinya.


"kak... kak Farid?" Suara Afifa tersendat sendat. Dia replek berdiri dari tempat duduknya. entah mengapa pandangannya begitu tajam ke arah Farid, seolah ingin mengeluarkan begitu banyak pertanyaan untuknya.


Afifa hanya mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dadanya seraya membungkuk.


"Oh... maaf. aku sampai lupa." Farid menarik kembali tangannya dan tersenyum agak malu. dia tau benar kalau Afifa sejak dulu tidak pernah bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan muhrimnya, meskipun dulu statusnya sebagai kekasihnya.


"Ngomong-ngomong ngapain kamu di sini?"


"A... aku tinggal di dekat sini kak. Kebetulan lagi pengen makan diluar saja."


Jawab Afifa masih dengan kegerogiannya.


"Oh... "kata Farid. "O ya Fa... Aku minta maaf."

__ADS_1


"Untuk apa?" tanya Afifa


"Karna aku tidak pernah menghubungimu."


Afifa hanya terduduk kembali di kursinya, dia hanya tertunduk. terngiang lagi dalam ingatannya. masa penantian yang panjang, menunggu dan menunggu barangkali ada satu keajaiban dimana orang yang duhadapannya menghubunginya.


"Fa..." panggil Farid sambil duduk di kursi tepat di depan Afifa.


Afifa tak bergeming


"Sekali lagi aku minta maaf. Sepulang aku dari pondok nomor telpon yang pernah kamu berikan hilang entah kemana. kamu tau sendiri, di pondok mana boleh kita bawa ponsel."


"Itu artinya, aku sama sekali tidak berarti untukmu kan?"


"Bukan begitu Fa.... Tapi aku pernah mengirim surat ke Alamat pesantren, kenapa kamu tidak pernah membalasnya?" ucapnya membela diri.


"Surat?" Afifa mengangkat kepalanya.


"Iya." Fauzi mengangkat alisnya.


"Aku tidak pernah menerimanya." jawab Afifa heran.


"Hah... sungguh Fa... bahkan 3 kali aku mengirim surat masih ke alamat pesantren." dengan wajah bingung." kamu kan tidak pernah memberi tau alamat rumahmu." lanjutnya pelan.


"hahhh ... ya sudah lah kak... mungkin kita memang tidak berjodoh." Afifa menghela nafas.


"Tapi Fa..."


"Ehemmmm.." tiba-tiba suara Fauzi menghentikan obrolan yang penuh drama itu.


Afifa tersentak mendengar suara suaminya. Karna terbawa emosi, Dia sampai tidak sadar kalau dia datang bersama suaminya. yang bahkan sudah memperhatikan obrolan mereka sejak lama.

__ADS_1


Bersambung...😊❤


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2