
Sampai dirumah perasaan Afifa sangat kacau. Ia masuk kekamarnya, lalu melempar tasnya sembarangan, menjatuhkan dirinya diatas tempat tidur dengan posisi tengkurap, tangannya meremas badcover, dan melempar beberapa bantal yang terjangkau oleh tangannya, membuat kamarnya begitu berantakan. Dia terus menangis meluapkan kekesalan yang sejak tadi ia tahan. Satu persatu terlintas lagi beberapa kejadian yang bertubi-tubi selama 2 hari ini. Sudah lebih dari satu jam Afifa tidak beranjak dari tempat tidur, menangis sambil menunggu suaminya , namun sampai pukul 11 malam pun suaminya belum juga pulang, Afifa ingin sekali meluapkan kekecewaan dan kemarahannya, terlalu banyak hal yang tidak dimengerti oleh Afifa dan terus saja berkecamuk dikepalanya meminta penjelasan, dan itu hanya bisa dijawab oleh suaminya.
"tak...tak...tak..." Suara jarum jam terdengar begitu jelas karena sunyinya malam, iramanya yang teratur mampu menghipnotis perasaan Afifa yang teramat lelah, sampai akhirnya dia terlelap dengan posisi tidak beraturan, lengkap dengan pakaian dan jilbabnya yang basah dengan airmata dan entah sudah seperti apa posisinya
*****
Afifa menggeliat terbangun saat matahari sudah terpancar dari ufuk timur, dia heran karna posisinya berbeda dengan semalam, tubuhnya sudah terbaring, kepalanya beralas bantal lengkap dengan selimut yang menyelimutinya sampai bahu. Dia terperanjat, langsung duduk, tapi...
"Ah... kenapa kepalaku sakit sekali...?" Ucapnya sambil memegang kepalanya yang terasa berat dengan tangan kanannya. Pandangannya berkunang-kunang seperti berputar, dia merasa kedinginan meskipun suhu tubuhnya sangat panas. "Aku harus bangun, aku harus kuat...aku belum sholat".
Afifa melepaskan jilbabnya, mengibaskan selimut yang menutupi tubuhnya. Lalu berusaha berjalan sambil berpegangan ke sisi tempat tidur menuju kamar mandi.
"Guprak..." Sebuah Vas bunga yang terletak di sisi meja rias Afifa terjatuh karena dijadikan pegangan oleh Afifa, otomatis Afifa yang lepas kendalipun ikut terjatuh dengan posisi duduk tepat di depan pintu kamar mandi.
"Aaaaa...sakit..." Afifa memegang kakinya.
"Dek...Ada apa?" Tiba-tiba Fauzi datang menghampiri Afifa. tangannya sigap memegang tubuh Afifa yang terduduk menahan sakit sambil terus mengurut- ngurut kakinya. "Ada yang sakit? Kakimu...Oh sepertinya terkilir. Ayo aku bantu." Fauzi mengangkat tubuh kecil Afifa dan membaringkannya ke tempat tidur. Afifa tidak berkata apapun, hanya air matanya yang kembali mengalir, entah karna rasa sakit dikakinya atau karena rasa sakit dihatinya saat melihat suaminya.
"Apa sakit sekali?" Tanya Fauzi saat melihat istrinya terus menangis. "Sebentar aku ambilkan obat gosok... A...atau kita pergi ke dokter saja ya, aku keluarkan mobil dulu." Fauzi melangkah hendak mengambil kunci mobil yang tergantung didinding kamarnya.
"Gak usah..!" Jawab Afifa tegas
Fauzi menghentikan langkahnya dan berbalik. "Tapi Dek...badan kamu juga panas, biar sekalian diperiksa".
"Aku bilang gak usah...!, aku tidak akan pergi kemanapun..." Suaranya meninggi.
"Baiklah, kalau kamu gak mau aku panggilkan dokter kesini. jangan menolak lagi". Fauzi mengambil ponselnya, lalu menelpon dokter langganannya. Afifa sudah tidak bisa menolaknya.
Afifa berusaha bangkit kembali dari tempat tidur dan menurunkan kedua kakinya.
"Kamu mau kemana Dek?"
"Aku belum sholat..."
"Tapi kamu kan sakit".
"Orang sakit tetap wajib sholatkan, meski dengan rukhsoh..." masih dengan suara ketusnya.
"Baiklah aku bantu kamu ke kamar mandi... Ayo...!" Fauzi membentangkan tangannya.
"Gak usah...aku bisa sendiri" Ucapnya sambil berusaha menopang tubuhnya dengan kedua kakinya.
"Hap..." Fauzi menangkap tubuh Afifa yang hampir saja terjatuh. "Sudahlah...ayo jangan ngeyel, aku bantu. mungkin kalau sudah berwudhu tubuhmu akan lebih segar".
Afifa terpaksa membiarkan Fauzi memapahnya ke kamar mandi. Ternyata benar, kepenatan dikepalanya sedikit berkurang saat wajahnya terkena air wudhu, sehingga dia bisa keluar dari kamar mandi tanpa bantuan Fauzi. Afifa melaksanakan sholat sambil duduk, selesai sholat dokterpun datang. Afifa diperiksa dengan seksama. Fauzi tetap mendampinginya, duduk disebelah kaki Afifa yang terbaring ditempat tidur.
"Bagaimana dok?" tanya Fauzi
"Sepertinya istrimu masuk angin dan kurang istirahat pak Fauzi... Aku siapkan obatnya ya" Fauzi mengangguk, dokter itu duduk di Sofa dan mengeluarkan beberapa lembar obat dari dalam tas dan menuliskan sesuatu diatasnya.
"Neng Afifa istirahat yang cukup...jangan terlalu banyak fikiran dan jangan lupa obatnya diminum 3 kali sehari setelah makan. dan ini ada salep untuk mengobati luka memar dikakinya" Dokter itu menyerahkan bungkusan obat ke tangan Fauzi.
"Terimakasih dok..."Ucap Fauzi sambil memberikan beberapa lembar uang kepada dokter.
"Sama-sama. Ingat pesan saya ya Neng..." tersenyum ke arah Afifa
Afifa mengangguk dan membalas senyuman dokter. Dokter itu melangkah pergi meninggalkan kamar diantar oleh Fauzi.
__ADS_1
Afifa kembali memejamkan matanya karena terasa perih dan panas dikelopak matanya.
"Dek makan dulu ya..." Tiba-tiba Fauzi datang membawa nampan berisi semangkuk sup dan nasi lengkap dengan teh manis hangat.
Eh...kenapa dia sok perhatian gini?
Afifa hanya melihatnya. "Simpan saja di meja, nanti aku makan".
"Kamu kan harus minum obat, ingat kata dokter tadi. Ayolah...aku sengaja buatkan sup ini untuk mu".
Apa...? Dia masak untukku? gak salah? heh... Afifa menyunggingkan senyum sinisnya
"Aku tidak lapar".
"Ayolah sayang...aku suapin ya... Nih...ini enak lho. dijamin kamu pasti suka masakanku".
Ih...sok manis lagi...
"A...buka mulutnya...a..." Fauzi mengangkat sendok ke hadapan Afifa, sambil menganga seperti emak-emak yang membujuk anaknya makan.
Afifa merasa lucu dengan tingkah suaminya, diapun menyerah dan mau membuka mulut menerima suapan dari suaminya. Tapi seenak apapun makanan tetap saja terasa pahit bagi orang yang sakit, sulit sekali Afifa menelan makanannya, hanya 3 suap saja nasi yang masuk ke mulutnya, itupun karena bujukan habis-habisan dari suaminya.
"Sudah kak" Afifa menahan sendok suapan yang ke 4 dengan tangannya.
"Ini baru sedikit sekali lho. makan lagi ya..." bujuknya.
Afifa hanya menggeleng..
"Ya sudah, tapi nanti makan lagi. Ini diminum obatnya. Fauzi memberikan beberapa obat yang sudah disiapkannya dan segelas air minum.
"Sebentar lagi. Aku telpon Bi Yati dulu untuk menemanimu di rumah ya."
"Gak usah kak...aku mau tidur saja."
"Ya udah kalau ada apa-apa langsung telpon aku. hari ini aku hanya di toko, tidak akan mengantar barang".
Afifa mengangguk. dia kembali memejamkan matanya. kepalanya masih terasa berat. Entah mengapa tubuhnya begitu lemas, sehingga dia tidak mampu mengungkapkan berbagai pertanyaan yang sudah berkecamuk difikirannya semalam.
Hari ini aku istirahat saja dulu, tubuh dan fikiranku terlalu lemah untuk berdebat pagi ini.
*****
Seharian Afifa tidak beranjak dari tempat tidur, pukul satu siang Bi Yati datang kerumahnya atas permintaan Fauzi untuk menyiapkan makan Afifa dan memberinya obat. Afifa tidak banyak bicara dengan bi Yati dan mempersilahkan bi Yati kembali ke toko, dengan alasan dia ingin istirahat lagi.
Pukul 5 sore Fauzi sudah pulang, tak lupa membawa makanan hangat untuk istrinya. Dia menyiapkan air hangat untuk istrinya mandi sebelum maghrib. Setelah Sholat isya Fauzi kembali ke kamar Afifa untuk memberinya makan.
Afifa sedang duduk bersandar di atas tempat tidur, tubuhnya sudah agak baikan, karena istirahat seharian.
"Dek...makan dulu ya...Ini Aku bawakan Soto ayam, gimana terasa kan wanginya?"
Afifa menoleh ke arah suaminya sambil tetap bersandar.
Fauzi tidak minta izin lagi dia langsung menyuapi Afifa.
Afifa membuka mulutnya lalu mengunyahnya perlahan. dan berhenti disuapan ke-6.
"hahhh...lumayan lebih banyak dari tadi pagi". Ucap Fauzi tersenyum, lalu menyimpan piring di atas nampan yang terletak di meja. Lalu kembali duduk disamping Afifa. "Kok semalam kamu pulang Dek? Katanya mau nginep dirumah Sofi."
__ADS_1
"Iya".
"Kenapa?"
"Gak nyaman aja...sudah menikah kok nginep di rumah orang".
"Lho... kan kamu sendiri yang minta? Aku izinin. apa aku salah?"
Emosi Afifa mulai terpancing. "Kak...Fifa mau tanya"
"Apa?"
"Apa sih tujuan Kak Aji Nikahin Fifa?"
"Maksud kamu?"
"Ya untuk apa? kalau memang Kak Aji tidak menginginkan Afifa, Untuk apa dulu kak Aji datang kerumah dan melamar Afifa untuk dijadikan istri???"
Fauzi tidak menjawab.
"Kak Aji tau, Sejak Kak Aji mengungkapkan niat baik dihadapan Abi, Afifa sudah berusaha menanam benih cinta dihati ini, yang setiap hari Afifa sirami sehingga rasa itu terus bersemi hingga kini. dan sekarang rasa itu hampir saja berbunga, mengapa Kak Aji malah menyuruh orang lain untuk memetiknya?" Airmatanya mulai mengalir
"Maksud kamu?"
"Apa yang Kak Aji katakan pada Farid?" Afifa menatap tajam pada suaminya dengan mata memerah berkaca-kaca terhalang air mata.
"Aku...aku hanya..."
"Apa...??? Apa maksud mu mengatakan rahasia rumah tangga kita pada orang lain? Dengan sekuat tenaga aku tahan luka ini, tak pernah sedikitpun aku mengeluh pafa orang lain, bahlan sahabat atau orang tuaku sekalipun. Dan Kau....hah...kau malah mengatakannya pada orang lain...yang bahkan tidak ada hubungan apapun dengan rumah tangga kita... Kau tau...betapa merasa terhinanya aku saat orang lain tau bahwa aku hanyalah seorang istri yang tidak diinginkan suaminya" Afifa memeluk kedua kakinya di atas tempat tidur, menahan tangis yang terus tak terbendung.
"Aku tidak bermaksud membuatmu merasa terhina Dek..."
"Lalu apa?"
"Aku hanya ingin kamu bahagia".
"Hah...bahagia...??? Kamu fikir aku akan bahagia berhubungan dengan orang selain suamiku begitu? Apa aku serendah itu? Ah...atau jangan-jangan..... kau benar benar ingin membuangku? sehingga kau bebas kembali pada orang yang pernah singgah dihatimu dulu... Benar kan???"
"Cukup....!" Fauzi melangkah keluar kamar meninggalkan Afifa yang terus saja menangis.
Entah kemana dia pergi, Afifa juga tidak peduli, dia hanya terus memeluk kakinya sambil terus menangis.
*****
Bersambung...😊❤...
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Haaaaah...nyesek aku...mudah2an feelnya dapet ya...
Cukup menguras fikiran Author ni...🤔
tunggu kejutan di part selanjutnya ya...😉
tetap kasih komentar agar Aku lebih semangat lanjutin ceritanya...😊
❤❤❤❤❤❤😊
__ADS_1