Seikhlas Cinta Afifa

Seikhlas Cinta Afifa
Obat Penenang Hati


__ADS_3

"Apa kau bisa merelakan dirinya untukku jika seandainya aku memintanya?"


"Dueeeer..." Afifa merasa pertanyaan itu memekik telinganya, seperti sambaran petir yang langsung mengarah ke ulu hatinya....


Afifa tertunduk masih menahan tangis yang sudah terasa sesak didadanya.


Wulan kembali duduk dikursinya, "Sudahlah! aku tau kaupun tidak akan bisa merelakannya, jadi lebih baik sekarang pulanglah! anggap saja ini tidak pernah terjadi, dan jangan pernah mengganggu kehidupanku yang sudah tenang ini," Ucapnya pelan, namun sempat tersungging senyuman sinis di bibirnya.


Afifa melangkahkan kakinya keluar dari ruko itu, dia segera mengambil motornya dan melesat menjauhi ruko itu menuju rumahnya.


Hati dan fikirannya sungguh kacau saat ini, tetesan air mata terus mengalir dibalik helmnya.


pukul 16.30 Afifa sampai dirumahnya, dia segera kekamar mandi untuk mengambil air wudhu, lalu melaksanakan kewajibannya sholat ashar. dia mengadukan keluh kesahnya kepada tuhan yang maha pencipta.


dilihatnya jam dinding yang tergantung dikamarnya, pukul 16.45, dia bangkit dan membereskan alat sholatnya, sebentar lagi suaminya pulang, dia harus segera membersihkan dirinya.


pukul 17.05 terdengar ucapan salam dari balik pintu rumahnya, Afifa segera berlari menuju pintu depan, Afifa baru saja selesai mandi, rambutnya masih basah terurai dibalik punggung sepanjang pinggangnya.


"grek" pintu dibukanya, tampak senyuman hangat dibalik pintu itu, ya...senyuman khas suaminya yang selalu ingin dilihatnya, namun entah mengapa senyuman itu saat ini justru terasa menyayat hatinya.


"Assalamualaikum..." Sapa Fauzi tersenyum, sambil melipatkan lengan diatas dadanya memandang lurus pada wajah istrinya.


"waalaikum salam" Jawab Afifa


Fauzi hanya terdiam didepan pintu sambil tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari wajah istrinya. Afifa gugup juga ditatap seperti itu.


"Seger banget Dek..."


Afifa tersenyum, lalu mengulurkan tangannya kearah suaminya, Fauzi meraih tangannya dan Afifa menciumnya.


"Ayo masuk Kak! Kok berdiri aja disitu?"


"Aku sedang menikmati pemandangan dihadapanku"


"Emmm... kenapa gak di dalam aja menikmatinya?"


"Ooo... mulai menggodaku ya?"


"Ih...apaan si, siapa yang godain?"


Fauzi melangkah mendekati tubuh istrinya. lalu melingkarkan lengan dipinggang Afifa.


"Kak Aji mau ngapain?" Tanya Afifa gugup dengan tindakan tiba-tiba suaminya.


"Menghiburmu," Ucapnya datar, sambil memutar pinggang Afifa lalu memeluknya dari belakang "Soalnya dari kemarin kamu murung terus, ada apa si sayang?"


"Ah... aku? gak apa-apa kok" Jawab Afifa agak gugup. sambil menutup pintu rumahnya.


"Benarkah?"


"He'em"


"Oke, kalau belum mau cerita, ayo...! "Fauzi melangkahkan kakinya sambil melingkarkan lengannya ke bahu Afifa.


"Kak Aji mandi dulu ya, Fifa siapkan minum".


"Oke sayang". Fauzi masuk kamar dan membersihkan diri dikamar mandi.


***


Selesai makan malam Afifa mencuci piring, cukup lama dia tertegun berdiri didepan wastafel cuci piring, kejadian tadi siang terus saja terngiang difikirannya. haruskah dia mengatakannya pada suaminya? dan kata-kata terakhir Wulan selalu terdengar berulang ulang ditelinganya.


"Apa kau bisa merelakan dirinya untukku jika seandainya aku memintanya?"


"Prak....!"


"Aaaawwwwww..." teriak Afifa saat sadar piring yang dipegangnya terjatuh menimpa kakinya, piring itu pecah dan menyisakan luka di kaki telanjang Afifa.


Fauzi yang tengah duduk disofa terperanjat, dan berlari menghampiri istrinya. "Sayang..., ada apa?" Fauzi kaget saat melihat istrinya menangis tersedu-sedu dengan tangan masih penuh busa sabun, dilihatnya, kaki Afifa berdarah terkena pecahan beling, "Ah...kamu berdarah, Sini aku bantu," Fauzi mencuci tangan Afifa, lalu memapah istrinya duduk di kursi makan.

__ADS_1


Afifa hanya menangis, tangisnya yang sudah terpancing tak dapat dibendung lagi.


Fauzi semakin panik, ditiupnya luka itu.


"Apa itu sangat sakit?" tanyanya heran dengan tangisan istrinya, "Sebentar!" Fauzi membuka kotak obat lalu mengambil plester dan betadine, dengan segera ia membersihkan darah yang mengalir dikaki Afifa menggunakan tisyu, lalu mengoleskan betadine dan menempelkan plester.


Afifa tetap saja menangis, Fauzi berusaha menenangkan istriya dengan memeluk kepalanya, "sudah...nanti juga sembuh,


Ayo duduk di sofa".


Afifa tidak menjawab, dia hanya memeluk pinggang suaminya masih dalam posisi duduknya. Sebenarnya luka luar nya hanya menjadi alasan dia ingin mengeluarkan tangisannya saja, luka dihatinya jauh lebih perih.


Fauzi makin bingung, diapun membungkuk dan mengangkat tubuh Afifa ke sofa, dibiarkannya kepala istrinya tidur diatas pangkuannya, dengan sabar dia mengelus-elus pucuk kepala Afifa.


Afifa mulai tenang, dipandanginya wajah suaminya yang masih saja tersenyum.


"Ada apa sebenarnya?" Tanya Fauzi memandang lekat wajah istrinya yang masih dipangkuannya.


Afifa bangun, lalu duduk disamping suaminya. "Kak...kalau seandainya kita bertemu wulan, apa kau akan berpaling dariku?" tanya Afifa pelan, memandang lurus kedepan dengan tatapan kosong.


"Kok ngomongnya gitu sayang?"


"Bagaimana kalau seandainya dia sangat cantik, dan mempunyai sesuatu yang berharga dan aku tidak memilikinya?"


"Sayang..." Fauzi memeluk Afifa dari samping, "Untuk mencintai seseorang itu, tidak perlu alasan, baik itu alasan karena dia cantik ataupun yang lainnya, aku mencintaimu dengan segala kelebihan dan kekuranganmu". Fauzi membetulkan posisi duduknya, melepas pelukannya, lalu memegang kedua bahu istrinya sehingga posisinya berhadapan. "Emmm... kenapa kamu tiba-tiba saja menanyakan hal itu?"


Afifa tertunduk, "Kita sudah menemukannya Kak" ucapnya pelan, dan air mata itu kembali jatuh.


"Maksud kamu?" Fauzi penasaran


"Orang yang kita cari, Wulan".


Fauzi melepaskan tangannya dari bahu istrinya, lalu duduk bersandar pada sandaran sofa. "Benarkah? dimana kamu bertemu dia?"


"Ternyata dia ada disini Kak, di Bandung".


"O ya...? Bukankah seharusnya kita senang, lalu kenapa kamu malah menangis? Apa dia menyakitimu?" Fauzi menoleh pada istrinya.


"Apa yang dia katakan?"


"Dia tidak mau bertemu denganmu Kak...". Afifa kembali menangis sambil tertunduk.


Fauzi menghela nafas panjang. "Mungkin dosa ku terlalu besar, sehingga tak pantas untuk dimaafkan".


Hening..., keduanya terdiam tenggelam pada fikirannya masing-masing.


"Tapi kau tetap harus menemuinya Kak...aku akan mengatur pertemuan kalian".


Fauzi tak menjawab, dia kembali melingkarkan tangannya ketubuh istrinya dan memeluknya.


***


Keesokan harinya, pulang dari sekolah Afifa kembali datang ke butik Wulan, tapi pegawainya bilang dia sedang keluar. Afifa pun kembali pulang, masih ada hari esok fikirnya.


Begitupun dengan hari-hari berikutnya, Afifa juga tidak bisa bertemu dengannya, Afifa sempat menunggunya di sekolah Talita, tapi beberapa hari ini Afifa juga tidak melihat Talita disekolahnya.


Ya Alloh kemana sebenarnya mereka? Oh tuhan aku tidak mau lagi kehilangan mereka, aku tidak mau suamiku terus tersiksa. apa dia sengaja menghindar dariku? atau jangan-jangan terjadi sesuatu pada mereka...Ya Alloh mudah-mudahan mereka baik-baik saja.


Afifa kembali ke butik wulan, tapi kini butiknya tutup, dia berdiri lemas didepan butik itu, matanya tertuju pada plang besar yang terpampang didepannya, ada no telphon disana. "Ah...kenapa tidak terfikir olehku sebelumnya?" gumamnya. Dia segera menuliskan nomor telphon yang terpampang disana ke ponselnya.


Afifa segera mengetuk tanda panggil, namun tidak ada jawaban, dia mencobanya lagi dan bekali-kali ia coba namun tetap sama, dia kembali melihat no telphon itu.


"Ah pantas saja kode 022... (kode tlp rumah wilayah bandung) ini no tlp toko, tokonya tutup, pasti tidak ada siapapundidalam, aku akan coba lagi nanti, mungkin besok tokonya buka".


Afifa bergegas pulang, hatinya sedikit lega, mulai ada pencerahan fikirnya.


***


Sampai didepan rumah, Afifa langsung menemui suaminya di toko.

__ADS_1


"Assalamualaikum" sapa Afifa setelah masuk ke ruangan suaminya.


"Waalaikum salam, Eh...udah pulang sayang?"


"Iya" Afifa mencium tangan suaminya.


"Gimana? udah ada perkembangan?"


"Tokonya tutup, tapi aku sudah menyimpan no telpon tokonya, sudah aku coba hubungi, tapi tdk juga ada jawaban, mungkin karena tidak ada siapapun ditoko".


Fauzi menarik tubuh istrinya, lalu memeluknya. "Makasih ya sayang, sudah berjuang untukku" Ucapnya diiringi kecupan lembut di pucuk kepala Afifa. "Besok kita kesana sama-sama ya."


Afifa mengangguk, sejujurnya ketakutan akan kehilangan itu semakin hari semakin bertambah, terlebih dengan sikap suaminya yang semakin memanjakan dirinya. Namun Afifa tidak mau egois, Talita membutuhkan figur seorang ayah, tak sulit bagi dirinya menerima keberadaan anak itu, dia sangat manis dan menggemaskan, terlebih sudah cukup dekat dengan dirinya, tapi bagaimana dengan permintaan wulan? Afifa menitikan airmatanya dibalik pelukan suaminya. rasa takut itu tidak mampu membuat bibirnya mengatakan kepada suaminya, kalau Wulan memiliki anak darinya.


Fauzi melepaskan pelukannya. Afifa berusaha terlihat normal didepan suaminya.


"Kak Aji sudah makan?" tanya Afifa


"Sudah..., kamu sendiri? pasti belum makan ya?"


Afifa tersenyum dan menggeleng.


"Tu kan kebiasaan kamu lupa makan, badan kamu udah mungil gini, kapan gemuknua? Nanti Umi dan Abi mengira, aku gak pernah ngasih kamu makan lagi". Fauzi berusaha menggoda istrinya.


"He he... lupa Kak" Afifa cengengesan.


"Tunggu disini sebentar ya!" Fauzi keluar dari ruangannya menuju lantai 2.


Afifa duduk disofa menunggunya sambil mengecek ponselnya, dibukanya beberapa chat yang masuk, ternyata ada pesan dari grup WA kampusnya, bahwa besok ijazahnya sudah bisa diambil. Dia tersenyum, bukti fisik hasil belajarnya selama 4 tahun kini sudah keluar.


Afifa segera mengirim pesan kepada kedua sahabatnya, janjian untuk berkumpul seperti biasa.


Tak lama Fauzi datang dengan membawa sepiring nasi dan lauknya lengkap dengan segelas air minum ditangannya. "Makan dulu ya sayang," Ucapnya.


Afifa tersenyum dan mengangguk hendak mengambil piring dari tangan suaminya.


"Eit...udah kamu duduk aja, hari ini aku ingin manjain istri, aku suapin ya," Fauzi mulai mengaduk nasi dan lauk lalu mengambilnya satu sendok dan mengangkatnya ke depan mulut Afifa.


Afifa tersenyum, mengikuti semua kemauan suaminya. Dia membuka mulutnya, satu suapan dari tangan suaminya masuk ke mulutnya.


"Enak?" tanya nya.


"He em..." jawab Afifa yang masih mengunyah pelan makanannya.


"Apalagi disuapin suami, iya kan?" Goda Fauzi.


"iya dong...," Afifa tersenyum,


Orang bilang makan dari suapan tangan orang yang dicintai itu sangat nikmat, mungkin itu yang dirasakan Afifa saat ini.


Meski suasana hatinya sedang sangat tidak menentu, tapi suaminya selalu menjadi obat untuk menenangkannya.


*****


Bersambung ...😊❤...


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


1500 kata cukup dulu ya... 😉


Readers... Apa yang akan kalian lakukan seandainya berada di posisi seperti itu...??? 🤔🤔🤔🤔🤔


Kasih masukan dong buat Author...🤗


tulis di kolom komentar ya...😊


Like, Vote dan komentarnya ditunggu...😊


Love you All... ❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤

__ADS_1


By : @Rahma Khusnul...😊 #


__ADS_2