Seikhlas Cinta Afifa

Seikhlas Cinta Afifa
Semoga...semuanya baik-baik saja...


__ADS_3

Afifa membuka pintu, senyum manisnya terpancar saat melihat sosok suaminya yang tersenyum pula menantikan kedatangannya. Afifa tiba-tiba menghentikan langkahnya saat pandangannya tertuju pada tamu suaminya yang ternyata sangat dikenalnya. Senyumannya langsung memudar, jantungnya berdebar kencang. dia tidak menyangka akan dipertemukan kembali pada situasi seperti ini.


Kenapa Kak Farid ada disini? kufikir dia akan pergi menjauh dari kehidupanku, setelah tahu kebenarannya. dan ini... kenapa malah menemui Kak Aji? ....Oh tidak... Jangan sampai dia berfikir untuk menceritakan semua yang terjadi diantara kami...dan Kak Aji... fikir Afifa.


"Dek...kok bengong?" tanya Fauzi membuyarkan fikiran Afifa.


"Eh... iya." Afifa gelagapan segera meletakan dua rantang yang masih setia dalam genggaman tangan kanan dan kirinya ke atas meja, lalu meraih tangan Fauzi dan mencium punggung tangannya, berusaha tersenyum.


"Dek...lihat siapa yang datang?" Fauzi mengalungkan lengannya ke pundak Farid.


"Assalamualaikum..." Afifa mengatupkan kedua telapak tangannya didepan dadanya sambil mengangguk. sekilas matanya mengarah ke wajah Farid yang tersenyum ke arahnya. lalu kembali menundukan pandangannya.


"Waalaikum salam..." Jawab Farid tersenyum.


"Dek...ini temen kamu lho...kok kayak baru kenal gitu haha..." Fauzi menggoda istrinya.


"Ah... aku hanya..." ucapannya terhenti


"Mungkin Afifa canggung Pak Fauzi. Sejak dulu Afifa selalu menjaga jarak dengan laki-laki yang bukan muhrimnya." Jawaban Farid, cukup membuat Afifa merasa terwakili.


"O ya...?" Fauzi tersenyum ke arah Afifa dan Fauzi bergantian.


"Pak Fauzi beuntung lho punya istri solehah seperti Afifa." Farid mengacungkan jempolnya ke arah Fauzi sambil tersenyum. Disambut dengan senyum lebar dari Fauzi.

__ADS_1


Afifa semakin tak karuan dengan situasi seperti ini. Jangan sampai Farid kebablasan memujinya.


"Kak Farid ada apa kemari?" tanya Afifa berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Kenapa...? Gak boleh ya aku main kemari?" tanya Farid sedikit menggoda Afifa.


"Glek..." Afifa menelan salivanya. Pertanyaan yang terdengar konyol ditelinga Afifa, justru membuat Afifa semakin tidak nyaman.


" Sebenarnya Farid datang kemari untuk membicarakan tentang pasokan barang pada proyek pamannya. karena pamannya sedang melanjutkan proyek yang lain di semarang, jadi Farid dipercaya untuk melanjutkan proyek disini." Fauzi menjelaskan panjang lebar.


"Oh..." Jawab Afifa singkat. Penjelasan suaminya cukup membuat jantung Afifa kembali berdetak dengan teratur.


"O ya... kamu bawa apa dek?" tanya fauzi


" Eh... ini Fifa bawa makan siang buat Kak Aji." Afifa menunjuk dengan jempolnya ke arah rantang yang dibawanya.


"E... iya boleh... silahkan." Afifa terpaksa mengiyakan. Tidak enak juga kalau dia harus mengatakan kalau makanan itu sebenarnya untuk Bi Yati.


"Aku ambil piring dulu ke atas Kak..."


Fauzi mengangguk. Afifa segera mengambil piring ke ruang atas. Tak lama ia segera turun diikuti bi Yati yang membawa minum dan buah yang sudah dipotong-potong di atas nampan.


Afifa menyajikan dua piring untuk Fauzi dan Farid.

__ADS_1


" Kok cuma dua piring nya Dek..? untuk mu mana?"


"Aku diatas aja sama Bi Yati Kak..."


"Lho... kok gitu. Ayo makan sama-sama aja disini. kamu juga pasti belum makan kan?"


"Tapi kak..." Afifa berusaha menolak.


"Bi... ambilkan piring satu lagi ya. bawa kemari. dan jangan lupa semua pekerja suruh istirahat dulu bergantian untuk sholat dan makan siang." Perintah Fauzi kepada Bi Yati. Tanpa menunggu penolakan dari Afifa.


Afifa menghela nafas panjang dan hanya pasrah mengikuti alur selanjutnya.


"Baik Nak Aji..." Bi Yati segera pergi ke ruang atas. Tak lama dia kembali dengan membawa satu piring untuk Afifa. Lalu pamit pada tuannya untuk menyiapkan makan siang para pekerja.


Afifa mengambil piring dan menyajikan makanan untuk tiga orang diruangan itu.


Di sela makan Afifa tak banyak bicara, dia hanya memperhatikan tingkah dua orang dihadapannya yang asyik ngobrol tentang bisnisnya, dan sesekali tertawa.


Entah mengapa ada perasaan senang dalam diri Afifa saat melihat orang yang pernah dicintainya kini dalam keadaan baik-baik saja setelah tau keadaan yang sebenarnya.


Syukurlah... sepertinya tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Semoga.... batinnya.


*****

__ADS_1


Bersambung...😊❤


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2