
Waktu Isya sudah berlalu, Afifa masih setia di mushola rumahnya, bersimpuh diatas sajadah lengkap dengan balutan mukena putihnya. Dengan tangan terangkat, pandangan kosong penuh harap, dia adukan semua keluh kesahnya pada sang kholiq pemilik seluruh alam memohon petunjuk dan pencerahan tentang hidupnya, tentang skripsinya, masa depannya, keluarganya, suaminya dan tentusaja ketentraman rumahtangganya.
"Tidid...tidid..."Suara klakson mobil terdengar dari luar gerbang rumahnya.
"Kak Aji...?" Gumamnya, airmuka yang seharian murung langsung berubah, tampak senyuman bahagia tersungging dari bibirnya. Afifa segera bangkit, masih dengan balutan mukenanya setengah berlari menuju pintu depan, membuka kunci lalu menuju gerbang depan rumahnya. Matanya berbinar saat melihat mobil hitam milik suaminya yang datang. Gerbang segera dibukanya, mobil itupun masuk dan berhenti tepat digarasi.
Afifa menutup gerbang, senyumnya semakin merekah saat melihat punggung suaminya yang keluar dari pintu depan mobil, ingin sekali ia luapkan rasa rindu yang tertahan selama tiga hari ini, Afifa mempercepat langkahnya menuju suaminya.
Fauzi menutup pintu mobil dan membalikan badannya.
"Bruk..." Tubuh Afifa berhambur memeluk Fauzi, tangannya melingkar erat dipinggang Fauzi. "Kak Aji baik-baik saja kan? Kemana aja selama tiga hari ini? Kenapa tidak pernah menghubungiku? Apa Kak Aji terlalu sibuk?" Masih memeluk Fauzi.
"Lepas dulu dek... Aku gerah." Tangan Fauzi memegang pundak Afifa, dan sedikit mendorongnya.
Afifa terdiam mendengar ucapan suaminya, entah mengapa terdengar begitu sakit, seperti ada sesuatu yang mengiris hatinya. Perlahan dia lepaskan pelukannya lalu berdiri mematung dan tertunduk dihadapan suaminya, ada cairan bening yang mulai tergenang dikelopak matanya.
"Aku mau mandi dulu." Tanpa menolehnya Fauzi berlalu membawa tasnya meninggalkan Afifa yang masih setia bertumpu dikakinya.
Afifa tersadar setelah cairan itu tanpa sengaja jatuh dipipinya. Segera ia mengusapnya dengan mukena yang masih terjuntai menyelimuti tubuhnya. Afifa mengikuti langkah suaminya masuk kedalam rumah.
Fauzi merebahkan dirinya di sofa, matanya terpejam seolah ingin melepaskan semua kelelahan yang sudah dia lalui seharian ini. tasnya tergeletak disampingnya.
Afifa masuk kekamarnya, membuka mukenanya, lalu menyambar handuk untuk diberikan pada suaminya. "Ini handuknya Kak..." Memberikan handuk ke hadapan Fauzi.
Fauzi membuka matanya, tampak kemerahan, garis kelelahan terlihat jelas diujung matanya. "Ya..." Bangkit, mengambil handuk hendak pergi menuju kamar mandi.
"Sudah makan?" Tanya Afifa.
Fauzi menghentikan langkahnya."Belum" jawabnya singkat
__ADS_1
"Fifa buatkan nasi goreng ya."
Fauzi mengangguk dan melanjutkan langkahnya.
Afifa bergegas menuju dapur, dengan cekatan ia racik berbagai bahan dan bumbu masakan, tak lama Nasi goreng plus telur ceplok untuk mereka berdua sudah siap, tak lupa ia membuat 2 gelas teh manis hangat dan menyajikannya dimeja makan. Afifa memanggil suaminya kedalam kamar, Fauzi baru selesai sholat isya mengenakan kaos lengan pendek dan kain sarung, rambutnya tampak sedikit basah membuat wajahnya terlihat segar kembali.
"Makan dulu Kak..." Ajak Afifa.
"Iya." masih dengan nada dingin.
Keduanya duduk berhadapan dimeja makan. Fauzi fokus dengan makanannya, sedang Afifa lebih sering mengaduk-aduk makanannya dengan sendok dan garfu ditangannya, sesekali ia melirik ke arah fauzi, berharap suaminya memulai pembicaraan dan menjawab berbagai pertanyaan yang masih memenuhi fikirannya.
Makanan dipiring Fauzi sudah habis, dia mengambil teh manis hangat dihadapannya lalu meminumnya. Diapun bangkit dari tempat duduknya.
"Tunggu kak! Kak Aji belum menjawab pertanyaan Afifa." Afifa masih duduk terdiam, matanya lurus memandang piring dihadapannya, dia tidak berani memandang suaminya yang kini sudah berdiri.
Afifa tidak menjawab dia hanya mencengkram erat sendok dan garfu ditangannya, ia merasa kesal dengan pertanyaan konyol yang dilontarkan suaminya.
"Bukankah kamu sudah melihat aku baik-baik saja? dan kamu juga sudah tahu jawabannya kenapa aku tidak menghubungimu." Fauzi hendak melangkah, namun tertahan dengan ucapan Afifa.
Afifa berdiri dari tempat duduknya, dengan kasar ia mendorong kursi yang didudukinya ke belakang. "Sesibuk itukah seorang suami mencari nafkah? sampai tidak ada waktu sedikitpun untuk hanya sekedar mengangkat telphon dari istrinya?" Afifa memandang suaminya dengan sorot mata tajam, cairan bening mulai menggenang. "Apa kau tau setiap malam datang aku selalu menghawatirkanmu, menunggu kabar darimu, merindukanmu?" Airmatanya mulai jatuh. "Aku tau Kak...Kau bukan orang bodoh yang tidak tahu kewajiban seorang suami terhadap istri. Aku bukan hanya butuh nafkah lahir darimu, tapi juga nafkah batin." Tangisnya pecah, kedua tangannya menggenggam erat ujung meja dihadapannya, Afifa tertunduk menahan tangis yang tak mampu ia bendung lagi.
"Ya...aku yang salah...Aku memang salah." Fauzi tertunduk, matanya terpejam. "Seharusnya aku tidak mengikatmu, Aku sudah membuatmu terbelenggu dalam ikatan pernikahan".
Fauzi menarik nafas dalam. " Jika kau mau aku akan segera melepaskanmu. Maaf...Aku tidak bisa membuatmu bahagia." Suaranya pelan terdengar lirih penuh penyesalan. Ia langkahkan kaki meninggalkan Afifa yang masih terpaku disana, mencerna setiap kata yang barusaja keluar dari mulut suaminya.
Afifa merasa ada dentuman besar memekik telinganya, tangannya bergetar, lututnya begitu lemas tak mampu lagi menopang berat tubuhnya, badannya ambruk bersimpuh diatas lantai. Ingin sekali ia menjerit, namun tak sepatah katapun keluar dari mulutnya.
Apa salahku Kak...? sampai kau berfikir untuk melepaskanku. Tak pernah sedikitpun terlintas difikiranku untuk pergi darimu. jika hari ini aku mengeluh padamu, itu hanya karna aku ingin memperbaiki rumah tangga yang selama ini kita jalani yang memang jauh dari kehangatan.
__ADS_1
seandainya saja kau tak pernah mengatakan bahwa kau begitu mencintaiku, mungkin dengan ikhlas aku akan pergi darimu. Tapi sekarang...kau ingin melepaskanku tanpa ku tahu alasan dari semua ini.
Ya Alloh... kumohon beri aku petunjuk untuk keluar dari semua masalah ini. aku ingin terus menjalani hidup ini dengan bahagia bersama suamiku, jangan pernah kau tuliskan takdir perceraian dalam hidupku, karna ku tahu meski perceraian itu halal, tapi Engkau sangat membencinya.
Tiba-tiba ada sesuatu terlintas difikirannya.
"Apa mungkin Kak Aji menyembunyikan sesuatu dariku? Apa mungkin dia punya masalah? Ya... aku harus cari tau masalahnya..."
Afifa mencoba bangkit, matanya berkeliling mencari sosok suaminya. Kakinya melangkah menuju kamar, tapi suaminya tidak ada disana, dia kembali keluar disusurinya setiap ruangan yang ada dirumahnya, namun hasilnya sama dia tidak menemukannya. Afifa berlari menuju pintu depan, tampak pintunya sedikit terbuka. Afifa tertegun disana.
Apa Kak Aji keluar rumah? tapi kemana? ini sudah malam.
Afifa melirik jam dinding yang tergantung diruang tamu menunjukan pukul sebelas malam.
Ragu-ragu Afifa membuka pintu rumahnya, diluar begitu sunyi, hujan gerimis semakin membuat suasana malam itu begitu sepi, tak seorangpun terlihat atau hanya sekedar lewat disana. Afifa kembali menutup pintu rumahnya, sengaja tidak menguncinya. ia duduk dikursi tamu barangkali saja suaminya kembali kerumah.
*****
Bersambung...😊❤...
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hai... readers.....❤❤❤❤❤❤❤
Maaf ...lama gak Up...kemarin aplikasinya sempat terhenti...jadi instal ulang dech...episode ini sudah masuk draf sampai 750 kata... eh hilang lagi...😭😭 nyesek banget kan... padahal rasa nya udah dapet banget tuh...
jangan lupa klik tanda 👍 dan klik " Vote" ya...
Tambah komentarnya juga. komentar dan koreksi readers semua akan membuat kualitas novel ini lebih baik lagi lho...dan tentunya menjadi penyemangat Author melanjutkan alur ceritanya... love you Allll.... ❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤😙😙😙😙😙
__ADS_1