
Afifa terdiam sesaat mengingat-ingat wajah yang barusaja dilihatnya, wajah itu seperti tidak asing baginya.
Keningnya berkerut, Afifa berlari ke tempat duduknya semula, dengan tergesa dia membuka notebooknya, diambilnya selembar foto lusuh seorang perempuan berseragam SMU yang masih setia disana. Afifa terus memandangi foto itu dan mengingat kembali wajah perempuan yang barusaja berbicara dengannya.
Ya Tuhan apakah pencarianku akan segera berakhir kali ini? wajah itu adalah wajah yang sama seperti yang ada di foto ini, ya benar aku mengenalinya, aku mengenali wajah itu. aku harus segera menyusulnya.
Fikiran Afifa terus berkecamuk, meyakinkan suatu kebenaran yang barusaja dilihatnya. Meski sekarang wanita itu tampak berbeda dan anggun dengan balutan hijab ditubuhnya, tapi wajah itu adalah wajah yang sama juga nama yang didengarnya, semakin meyakinkan hatinya.
Afifa segera membereskan tas nya, setengah berlari menuju motornya, tapi dia menghentikan kembali langkahnya, saat teringat tujuan awal dia datang ke tempat ini.
"Ah...Nisa. aku hampir lupa harus mengikuti rapat orang tua hari ini, kasian Nisa kalau tidak ada yang mewakilinya"
Afifa melihat pergelangan tangannya, jam tangannya menunjukan pukul 10 lewat, Dia memutar kembali tubuhnya, setengah berlari menuju ruang rapat orang tua.
"Teteh...!" Panggil seorang anak yang berlari menghampirinya.
"Nisa...? Kok diluar?" tanya Afifa
"Lagi istirahat teh, Nisa mau ke kantin, Teteh gantiin Umi ya?"
"Iya, kasian Umi tidak enak badan. Nisa pulangnya bareng teteh ya, Teteh mau kerumah Umi, keluarnya jam berapa kelas kamu Dek?"
"Adzan dzuhur biasanya udah keluar, sholat jamaah dulu baru pulang".
"O iya, Nanti kita saling tunggu di parkiran motor ya, Nisa tau kan motor teteh?"
"tau dong, Oke Nisa ke kantin dulu ya teh"
"Iya, hati-hati!" Afifa melambaikan tangannya, lalu kembali melangkahkan kakinya menuju ruangan yang sudah dipenuhi orang tua siswa.
Pukul 12.30 rapat persiapan ujian kelas 6 selesai, Semua orang tua keluar satu persatu dari ruangan itu, sebelum menemui Nisa, Afifa menyempatkan diri terlebih dahulu untuk sholat dzuhur di mesjid sekolah Nisa. Setelah selesai dia segera menuju parkiran motor.
"Teteh...!Nisa disini" panggil Nisa
Afifa tersenyum sambil melangkah menghampiri adiknya. "Ayo pulang!" Nisa mengangguk dan segera naik ke atas motor yang sudah dinaiki Afifa.
"Nisa tau gak rumah Talita?" Tanya Afifa saat akan mekajukan motornya.
"Tau teh, di komplek perumahan X, Kenapa teteh tanya rumah Talita?"
"Teteh pengen ketemu Talita aja".
"Ya udah Nisa anter, tapi rumahnya gak searah sama rumah Umi, Kita ke rumah Talita aja dulu, nanti abis dari sana baru ke rumah Umi".
"Oke" Jawab Afifa singkat, lalu melajukan motornya pelan sesuai dengan arahan Nisa. Sekitar 20 menit perjalana, Nisa menjentikan jarinya ke sebuah ruko 2 lantai, lantai bawah diisi dengan beberapa pakaian mewah yang sudah ditata rapi pada beberapa mannequin yang berjejer dibalik ruang kaca, dilihatnya sebuah plang besar persis didepan ruko itu, bertuliskan "W. Mulyani Collection"
"Itu rumahnya teh, yang ada toko pakaiannya." Kata Nisa
Afifa menghentikan motornya agak jauh dari butik itu. matanya terus memandang papan nama besar yang tergantung tepat di depan butik, ia mengheja nama itu "W. Mulyani Collection, Wulan Mulyani collection" Afifa terdiam, matanya mulai berkaca-kaca dibalik helmnya. hampir saja menetes namun segera ditepisnya, dia tidak mau adiknya melihat itu.
Ya Alloh, benarkah dia yang aku cari selama ini, mungkin ini adalah jalanmu, aku harus segera menemuinya.
Afifa menurunkan standar samping motornya, tak sabar dia ingin segera bertemu dengan orang yang selama ini dicarinya.
__ADS_1
"Teteh mau kesana?" tanya Nisa yang masih berada diatas motor.
"Deg..." Afifa menghentikan niatnya, dia sampai lupa kalau saat ini sedang bersama adiknya, dia juga tidak mau adiknya sampai tau masalahnya, apalagi jika sampai ke telinga Umi.
"Emmm...lain kali aja deh temuin Talitanya, yang penting Teteh sudah tau rumahnya. Ayo kita pulang".
"Ya....Teteh, udah jauh-jauh kesini kok gak jadi?" Nisa kecewa.
"Lain kali aja, kasian Umi dirumah lagi sakit, Yuk!" Ajak Afifa
Nisa hanya mengangguk. Afifa kembali melajukan motornya menuju rumah Umi.
"Darimana kamu tau rumah Talita Dek?" tanya Afifa diperjalanan.
"Waktu itu Talita pernah sakit disekolah saat upacara, Nisa sebagai anggota PMR sekolah ikut nganterin Talita kerumahnya pake mobil sekolah". Jelas Nisa
"Oh..." jawab Afifa hanya ber oh ria.
Tak lama mereka sampai dirumah Umi. Nampak umi sedang duduk bersandar disofa ruang keluarga, Afifa menghampirinya.
"Assalamualaikum Umi!" sapanya
"Waalaikum salam, kalian sudah sampai?"
"Iya Umi. Umi sakit apa? kita ke dokter ya?"
"Gak usah, Umi hanya demam biasa, tadi pagi Abi sudah beli obat di apotek, tuh Obatnya masih banyak, umi baru saja minum obat, dan sekarang sudah agak baikan".
"Ya udah kalo gitu Umi istiraha aja ya, nanti saja Fifa cerita hasil rapatnya".
"Baik Umi. Nanti sore Kak Aji kemari, mau jenguk Umi sekalian jemput Fifa".
Umi mengangguk, tampak senyuman bahagia dibalik wajahnya yang lemah dan mulai menua.
"Dek...! Ayo makan dulu!" ajak Afifa sambil menyembulkan kepalanya ke kamar Nisa.
"Iya teh," Nisa segera membereskan seragam sekolahnya yang baru dilepasnya ke gantungan baju yang menempel didinding kamarnya, dia sudah memakai pakaian rumahan.
"Umi sudah makan?" tanya Afifa saat mengambil nasi untuk Nisa.
"Sudah, tadi sebelum minum obat, kalian makan saja ya". kata Umi
"Baik Umi" Jawab Afifa dan adiknya bersamaan.
Selesai makan Afifa mengantar Umi masuk kamar untuk istirahat, beliaupun tertidur disana.
"Nisa juga mau tidur ya teh, ngantuk" pamit Nisa.
"iya, tidurlah!" Jawab Afifa, "Eh iya Dek... Titip Umi dulu ya, Teteh mau keluar sebentar".
"Oke Teh". Jawab Nisa sambil mengacungkan tangannya membentuk huruf O dengan jarinya.
Afifa bergegas menghidupkan motornya, dan melaju kencang menuju rumah wanita itu.
__ADS_1
Setelah sekitar 30 menit, Afifa menghentikan motornya dipinggir jalan, agak jauh dari ruko itu. setelah turun dari motor, dia berdiri mematung disana memandang lurus pada plang besar bertuliskan nama wanita itu. ragu-ragu kakinya melangkah, hentakan kakinya terasa begitu berat, namun Afifa memaksa menyeret kakinya untuk melangkah, sampai akhirnya dia sampai tepat didepan pintu kaca butik. Kepalanya melihat kesana kemari, mencari seseorang yang mungkin muncul disana, butik ini cukup ramai, ada tiga orang pelanggan yang sedang bertransaksi.
"Permisi Bu, ada yang bisa saya bantu?" Seorang wanita keluar dari dalam butik berpakaian rapi seperti seorang pegawai menyapa pada Afifa.
"O iya, maaf apa betul ini rumah ibu Wulan bundanya Talita?" tanya Afifa
"Oh iya betul bu, ini pasti ibu gurunya Talita Ya? mari silahkan masuk! mau menemui ibu?" tanya pegawai itu.
"iya betul teh".
"Ibu guru langsung naik ke atas saja, sebentar lagi ibu pulang".
"Saya tunggu dibawah saja, terimakasih teh".
"Sebaiknya tunggu diruang tamu Bu, disini banyak pelanggan lalu lalang, nanti ibu kurang nyaman. Ayo saya antar!" ucapnya ramah.
Afifa tidak ada alasan untuk menolak, dia berjalan mengikuti pegawai butik itu masuk ke ruang tamu dilantai 2. Afifa dipersilahkan duduk, langkahnya terhenti saat melihat sebuah pas foto terpampang disudut ruangan. Foto Talita bersama Bundanya, terpancar kebahagiaan di garis wajah keduanya.
"Teh..." panggil Afifa pada pegawai saat menyajikan minuman didepannya. "Talitanya kemana ya?"
"Ibu sedang mengajaknya bermain".
"Apa Talita tinggal berdua disini?"
"Betul bu guru, mereka hanya tinggal berdua".
"Emmm lalu ayahnya Talita?"
"Saya kurang tau juga bu, semenjak saya kerja disini satu tahun yang lalu, saya tidak pernah melihat ayahnya Talita, mungkin sudah meninggal. Tapi Talita tidak pernah kekurangan kasih sayang, meskipun sibuk, ibu selalu memperhatikannya setiap waktu. Kalau ibu ada acara perkumpulan designerpun beliau selalu membawanya".
Afifa terdiam, fikirannya mulai berputar, menduga-duga apa yang sudah diceritakan pegawai itu, Afifa semakin penasaran, dia ingin segera bertemu dengan Wulan.
"kring...kring..." Suara ponsel Afifa brrdering.
"Assalamualaikum Dek"
Teteh dimana? Umi tanyain Teteh.
"O iya, sebentar teteh pulang ya." Afifa menutup telponnya.
Afifa berdiri, "Maaf...sepertinya mereka belum pulang juga ya, saya tidak bisa berlama-lama, saya permisi dulu, ibu saya sedang sakit, insyaAlloh besok saya kesini lagi". Ucap Afifa sambil berdiri dan berpamitan.
"Apa gak nunggu aja sebentar lagi bu?"
"Besok saja saya kembali ya, Assalamualaikum"
"Waalaikum salam " jawabnya.
Afifa bergegas menuruni tangga lalu keluar dari butik itu dan melesat dengan motor menuju rumah Umi.
*****
Bersambung...😊❤...
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
jsngan lupa "VOTE" 😊