Seikhlas Cinta Afifa

Seikhlas Cinta Afifa
Saat Pengorbanan kita terasa sia-sia...


__ADS_3

Pukul 4 sore Acara selesai, Afifa dan Sari berpamitan untuk pulang, Orang tua Sofi sangat berterimakasih karena mereka telah menemani putrinya di saat istimewanya, tak lupa masing2 dibekali satu dus besar makanan oleh ibunya Sofi untuk sekedar oleh-oleh hajatan katanya 😊.


Afifa pulang dengan motor yang biasa digunakan Rizqi adiknya, karena motor Fauzi tidak dibawa serta ke rumah Umi.


Pukul 5 sore Afifa sudah berada dirumah Umi, begitu datang dia segera membersihkan dirinya dikamar mandi, sisa make up tadi siang masih terasa nempel di wajahnya.


"Ah...Segarnya" Gumam Afifa, Setelah memakai pakaiannya, Afifa meluruskan kakinya dengan selonjoran diatas kasur, diambilnya ponsel dari dalam tasnya, ia ingin melihat hasil jepretannya di pernikahan sofi tadi siang. Dia terus menggeser2 layar sambil senyum-senyum melihat keanggunan Sofi berbalut baju pengantin, dia bersyukur, sahabat sejatinya kini sudah bahagia dan bersatu dengan pria yang diinginkannya.


Afifa mengalihkan layarnya mengetuk tanda Whatsaap yang terdapat beberapa pesan disana. Satu persatu Afifa membacanya, dan tangannya terhenti saat membaca pesan dari seseorang yang tidak terdaftar dalam kontaknya.


"Assalamualaikum temanku..., Saat aku mendapat undangan pernikahan dari sahabatku Asfir, aku begitu senang, karena aku akan kembali ke kota kembang, dimana dikota itu, aku akan bertemu kembali dengan temanku, aku berharap aku dapat melihat wajah cerahnya disana, Namun saat aku melihatnya, ternyata kabut hitam itu belum hilang, bahkan lebih tebal dari sebelumnya.


Afifa...temanku...


Aku minta maaf, aku tau aku tidak berhak ikut campur dalam masalah rumah tanggamu, namun disaat kau sudah lelah dengan kehidupanmu, datanglah padaku, aku akan selalu ada untuk menjadi sandaranmu".


Afifa menutup mulutnya saat membaca pesan panjang yang dikirim seseorang itu, dia tidak menyangka kalau Farid masih saja mengharapkannya.


Sejak dulu Farid memang pandai merangkai kata, begitupun dalam setiap surat yang pernah dikirimkannya untuk Afifa, Jika dulu untaian kata itu selalu membuatnya tersenyum dan berbunga-bunga, kini kata-kata itu justru terdengar seperti ratusan silet yang mengiris hatinya, rasanya begitu sakit.


Dia termenung, mengapa orang yang sangat ia harapkan kehadirannya kini justru menjauh darinya. dan orang yang dengan susah payah berusaha dilupakannya malah datang kembali dan sangat peduli padanya.


Tak terasa air mata Afifa terjatuh seiring berkumandangnya adzan Magrib, Afifa segera bangkit dan tidak berniat membalas pesan itu. Diambilnya air wudhu dikamar mandi lalu segera menunaikan kewajibannya.


Cukup lama Afifa bersimpuh di atas sajadahnya, berdzikir dan berdo'a, serta membaca beberapa lembar kitab Al-qur'an sampai waktu isya tiba. Selesai sholat Afifa dipanggil Umi untuk makan malam, saat berkumpul di meja makan Nisa berlari membawa ponsel Afifa menuju meja makan.


"Teteh...dari tadi ponsel teteh bunyi terus, coba liat deh" Nisa mengulurkan tangan yang memegang ponsel kakaknya.


Afifa segera mengeceknya, 6 panggilan tak terjawab, dari..."Wulan???" Mata Afifa terbelalak. Sebanyak itu Wulan memanggilnya? pasti sangat penting fikirnya.


Afifa bangkit dari duduknya, "Sebentar Umi" ucapnya, lalu masuk kedalam kamarnya, Dia memanggil balik telpon dari Wulan,


"Tiiiit...tiiiit...tiiiit..." Afifa mendengar dia mengangkatnya.


Halo...Afifa? Suara wulan tergesa-gesa

__ADS_1


"Iya, saya Afifa, Ada apa Mbak?"


Afifa, sekarang kamu datanglah ke Rumah sakit, aku bersama Fauzi, dia mengalami kecelakaan.


"Apa? Kak Aji kecelakaan?" bibir Afifa gemetar, "Ba...bagaimana kondisinya Mbak...apa dia...hik...hik..."


Kamu tenang dulu Afifa, dia sedang di tangani, kami masih di UGD, kamu datanglah sekarang, jangan panik.


"Baik Mbak...aku segera datang". Afifa segera menutup telphonnya, dan bergegas membereskan tasnya, lalu menyambar kunci motor yang tergantung didinding kamarnya.


Umi yang melihat putrinya panik dan terburu-buru bertanya padanya.


"Mau kemana malam-malam begini Teh? kenapa tergesa-gesa?" tanya Umi heran, "Ada apa?"


"Umi...Kak Aji kecelakaan, sekarang ada dirumah sakit, Fifa mau kesana," Jawab Afifa sambil menyalami Umi dan Abinya.


"Tunggu Teh, jangan pergi sendiri, biar Rizqi mengantarmu, Umi khawatir, kamu kan lagi panik begini, Bagaimana kalau terjadi apa-apa di jalan, ini sudah malam".


Afifa berfikir sebentar, "Baiklah Umi" Jawab Afifa, Umi segera memanggil Rizqi.


Afifa berangkat diantar Rizqi, motornya melesat membelah jalanan malam. Diperjalanan, Afifa mendengar suara panggilan diponselnya, Afifa melihatnya, panggilan dari nomor yang mengirim pesan tadi, Afifa membiarkannya, dan kembali fokus ke jalanan.


Sampai dipintu UGD, langkah Afifa terhenti, Tubuhnya terasa lemas, jantungnya berdegup kencang saat melihat suaminya terkulai lemas diatas tempat tidur pasien, matanya masih tertutup, kepalanya dibalut perban, tampak warna darah segar tembus dibaliknya.


"Teh..." Panggil Rizqi, Afifa terdiam, Rizqi memapahnya menuju suaminya yang masih terbaring, dengan langkah terseok-seok akhirnya tangannya sampai pada ujung besi pembatas tempat tidur pasien.


Mata Afifa kini berkabut, tatapannya buram karena terhalang cairan bening yang tertahan disana, dengan tangan bergetar, diusapnya wajah suaminya, perlahan tangan kanannya meraba perban dikepalanya, dan tangan kirinya menggenggam tangan suaminya, "Apa yang terjadi padamu Kak...? Aku minta maaf...ternyata aku tidak bisa hidup jauh darimu, aku mohon jangan tinggalkan aku, bukalah matamu Kak..." Ucapnya lirih, disela isak tangisnya. Satu kecupan mendarat di kening Fauzi.


"Afifa..." terdengar suara seorang wanita memanggil namanya, Afifa berhenti menangis saat menyadari suara orang yang dikenalnya, dia mengalihkan pandangannya ke sumber suara, wanita itu sedang duduk diatas kursi yang mengarah pada tubuh suaminya.


Afifa memandang tajam padanya, entah mengapa saat ini tiba-tiba timbul rasa egois didalam hatinya, Afifa begitu membenci wanita dihadapannya, bagaimana bisa dia mendapat kabar buruk ini justru dari mulutnya, apa mereka sedang bersama? Apa yang sedang mereka lakukan sebenarnya? Seandainya saja ini bukan dirumah sakit, mungkin dia sudah berteriak bahwa dia tidak akan pernah melepaskan suaminya untuknya.


"Mbak Wulan?" Tanya Afifa, dia segera melepaskan tangannya dan sedikit mundur dari tubuh suaminya. "Kenapa Mbak Wulan ada disini?"


Wanita itu tersenyum, "Ayo kita bicara diluar..." Ajaknya sambil berjalan menuju ruang tunggu pasien. Afifa hanya melihatnya, lalu pandangannya kembali kewajah suaminya, diusapnya air mata yang sudah terlanjur keluar itu. Seorang perawat kebetulan lewat didekatnya, diapun menanyakan kondisi suaminya.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan suami saya sus?"


"Pasien sudah ditangani bu, ibu tenang saja, beliau baru saja diberi obat tidur agar beliau tidak banyak bergerak".


Afifa bisa bernafas lega, dia kembali menghampiri suaminya dan memegang tangannya, dia teringat dengan Wulan yang sedang menunggunya diluar, masih banyak pertanyaan yang ingin dia sampaikan kepada wanita itu, diapun melangkah untuk menemuinya.


Afifa melihat Rizqi yang sedang duduk dipojok ruang tunggu, dia menghampiri adiknya itu. "Dek...kamu pulang dulu ya, Katakan pada Umi, teteh baik-baik saja, Kak Fauzi juga sudah ditangani dokter, Umi dan Abi tidak usah khawatir, kalau mereka mau kesini besok saja sekalian bawakan barang-barang teteh".


"Iya teh, Rizqi pulang dulu ya". Ucap Rizqi sambil menyalami kakaknya. diapun melangkah menuju parkiran, Afifa terus memandang punggung adiknya sampai tak terlihat lagi.


Afifa kemudian mencari keberadaan Wulan, diedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, matanya tertuju pada sosok wanita cantik yang sedang duduk sendiri dikursi panjang terbuat dari kayu, wajahnya tampak gelisah, Afifa menghampirinya dan duduk disebelahnya.


"Apa yang sebenarnya terjadi Mbak?"


"Maafkan saya Ibu Afifa, saat itu kami sedang bertemu untuk makan malam di restoran X"


Afifa memperjelas pendengarannya, dia tidak percaya dengan apa yang didengarnya, sudah sejauh itukah hubungan mereka?


Aaaaaaa....Ingin sekali Afifa menjerit, meluapkan semua yang ada dihatinya, rasa kecewa yang teramat dalam, karena merasa telah dihianati. Perasaannya cinta yang sudah terukir untuknya, pengorbana yang selama ini dia lakukan, seolah tak ada artinya sama sekali.


*****


Bersambung...😭😭😭😭😭


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Tisyu... mana tisyu....????? 😭😭😭😭😭😭


Readers....Author butuh dukungaaaaan...😆😆😆😆


kasih dukungan di komentar ya...!


tetap Vote and like...😉


Love you All....❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤

__ADS_1


*****


By : @Rahma Khusnul #


__ADS_2