Seikhlas Cinta Afifa

Seikhlas Cinta Afifa
Hadapi Kenyataan...


__ADS_3

Pagi hari, Afifa sudah bersiap berangkat menuju kampusnya, dia sudah meminta izin hari ini gak bisa masuk sekolah karena pengambilan ijazahnya, tentu saja pihak sekolah mengizinkannya karena kebutuhan data dapodik untuk upload scan ijazah dirinya.


Afifa berangkat diantar Fauzi, setelah pulang dari kampus mereka berencana menuju kediaman wulan.


Tiba dikampusnya Afifa disambut oleh kedua sahabatnya, sedangkan Fauzi menunggunya di cafe sebrang kampus.


Selesai pembagian ijazah Afifa begitu senang, karena dia termasuk mahasiswa terbaik dan 3 besar IP tertinggi yang akan diberikan penghargaan saat acara wisuda 2 minggu lagi. Ya acara wisudanya mungkin agak tertunda karena ada beberapa kendala, juga menunggu semua mahasiswa dari berbagai jurusan selesai sidang.


Selesai pembagian ijazah seperti biasa, anak-anak muda selalu mengabadikan moment berharga. Ucapan selamat pun terus mengalir dari teman-temannya.


Afifa dan kedua sahabatnya duduk dipojok aula, terjadi perbincangan diantara mereka.


"Alhamdulillah akhirnya hasil kerja keras kita selama 4 tahun ini sudah di tangan...." Sari memulai pembicaraan.


"Iya... Alhamdulillah," Jawab Afifa dan Sofi.


"Terutama kamu Fa, selamat ya kamu termasuk mahasiswa terbaik, meski sebelumnya kamu mengalami kesulitan menyelesaikan tugas akhir, tapi aku salut lho dalam waktu 2 minggu kamu menyelesaikan 2 bab terakhir, udah gitu dapat nilai terbaik lagi" Sofi tersenyum ke arah Afifa, dia memang selalu mengagumi temannya yang satu ini sejak SMU.


Afifa tersenyum, "Alhamdulillah..., kalian juga ikut bantu dukung aku kok," Entah mengapa Fikiran Afifa teringat pada seseorang yang telah membantu menyelesaikan tugas akhirnya selama fikirannya kacau 3 bulan yang lalu, "Apa kabar dia sekarang?" Gumam Afifa.


"Oya Fa, Sar..., aku mau kasih ini sama kalian" Ucap Sofi sambil memberikan 2 buah kartu undangan.


Keduanya mengambil kartu itu lalu membacanya. mata keduanya terbelalak melihat nama yang tertera di kartu itu.


"Hah....! Sofi kamu mau nikah 2 minggu lagi ?" tanya Sari kaget dengan ekspresi tidak percaya.


"Wah...tepat setelah selesai wisuda dong...Sof? kata Afifa.


Sofi mengangguk sambil tersenyum meyakinkan kedua temannya.


"Hadeuuuuh Sofi kamu itu diam-diam menghanyutkan ya, gak pernah kasih kabar sebelumnya, eh tiba-tiba aja kasih undangan". Sari memukul Bahu Sofi.


"Ya... ngapain juga taaruf lama-lama Sar..., bukankah lebih baik secepatnya dihalalkan, biar gak terlalu banyak dosa kayak kamu tuh... pacaran mulu...!" Sofi menjentikan jarinya ke kening Sari.


"Emang betul si Sar... sebaiknya kamu cepet minta dilamar deh sama yayang bebep kamu tuh... lama-lama tambah dosa lho..."


Sari terdiam, seperti memikirkan sesuatu. "Entah lah, aku gak yakin sama dia?" Ucapnya ppelan seperti orang prustasi.


"Kok gitu si Sar?" tanya Afifa. "Kamu coba aja dulu ngomong sama dia, kalau memang dia serius, pasti akan menyambut baik niatmu kok?"


"Oke deh, nanti aku cari moment yang tepat untuk bicara," Jawab Sari.


"O ya Sof... selamat..." Afifa mengulurkan tangan ke arah Sofi, begitupun dengan Sari dan dibalas dengan pelukan dari Sofi untuk kedua sahabatnya.


"Makasih ya, Pokonya sehari sebelumnya kalian berdua harus temenin aku dirumah!"


"Ih... ngapain? aku kan udah punya suami kali Sof, aku dateng pas hari H aja deh.." Jawab Afifa.


"Aaaah... please..."Sofi mengatupkan kedua telapak tangannya didepan dadanya, "minta izin dech sehari aja sama suamimu ya, nanti aku dech yang minta izin padanya".


"Tapi aku gak janji lho Sof".


"Iya deh, tapi kamu Sar... kamu kan gak ada alasan ya. pokonya harus kerumahku sehari sebelumnya, atau habis wisuda kamu langsung kerumahku oke?"


"Asyiaaaap..." Jawab Sari cepat.


Sofi dan Afifa tersenyum.


"O ya...aku duluan ya, Kak Aji nunggu di depan, Assalamualaikum". Afifa pamit sambil memasukan kartu undangan kedalam tas nya.


" Waalaikum salam..., hati-hati Fa! jawab Sofi keduanya melambaikan tangan.


Afifa berjalan menuju cafe dimana suaminya menunggu.


"Assalamualaikum Kak..." Sapa afifa. saat melihat suaminya yang masih duduk sambil memainkan ponselnya, secangkir kopi terhidang didepannya.


"Waalaikum salam, Hai sayang...sudah selesai?" Tanya Fauzi, senyumnya langsung mengembang saat melihat wajah istrinya yang berseri-seri. "Eemmm... kayaknya ada yang seneng nih?" goda Fauzi.


Afifa duduk tepat didepan suaminya, "Alhamdulillah Kak...Fifa termasuk tiga mahasiswa terbaik dengan nilai IP tertinggi di kampus," Afifa menyerahkan map berisi ijazahnya ke arah suaminya.


"Waaaaw...benarkah?" Fauzi tersenyum setelah membuka dan melihat-lihat ijazah istrinya, dia menggengam tangan istrinya, "selamat ya sayang, kamu memang tidak berubah, sejak dulu selalu jadi yang terbaik" diciumnya tangan istrinya.

__ADS_1


Afifa hanya tersenyum ke arah suaminya.


"O ya...kamu mau hadiah apa?" tanya Fauzi kemudian.


"Hadiah apa? kayak anak kecil aja" jawab Afifa masih dengan senyumannya.


"Oke, kalau sekarang belum kepikiran, kamu bisa tangguhkan deh permintaan hadiah dariku, suatu saat kamu pasti punya suatu keinginan."


Afifa tersenyum dan mengangguk.


"Jadi... sekarang kita lanjut ke rumah Wulan?" tanya Afifa.


"Oke..."


"Tapi sebentar Kak, mungkin lebih baik aku telphon dulu ke butiknya ya, siapa tau masih tutup kaya kemarin".


"Iya, sebaiknya begitu".


"Ya udah, sebentar!" Afifa mengeluarkan ponselnya, lalu mencari nomor dengan kode 022xxxxxx, Tak lama terdengar suara seseorang disebrang sana. Afifa bersyukur artinya tokonya tidak tutup.


Assalamualaikum...selamat siang...dengan butik W.Mulyani collection disini... ada yang bisa saya bantu?


"Waalaikum salam, mohon maaf, apa Mbak wulannya ada?"


Maaf dengan siapa ini? untuk pemesanan koleksi kami, bisa langsung lewat saya bu.


"Oh...saya...ibu gurunya Talita, ada hal penting yang harus saya bicarakan" Ucap Afifa sedikit berbohong.


Oh...maaf Buguru, kebetulan ini adalan no telpon perusahaan, dan Ibu sedang tidak ada dirumah, beliau sedang menghadiri acara keluarga.


"Oh...begitu ya, apa bisa minta nomor pribadi Ibu Wulan?"


O baiklah, ibu silahkan catat, saya sebutkan ya.


"Baiklah" Afifa segera mengeluarkan bolpoint dari dalam tas nya, dan menuliskan no ponsel Wulan yang disebutkan pegawainya di telapak tangannya.


"Terimakasih Mbak, Assalamualaikum"


Sama-sama Bu, Waalaikum salam.


Afifa segera menyalin nomor tadi ke ponselnya.


"Bagaimana?" tanya Fauzi


"Hhhhh..."Afifa menarik nafas panjang. "Wulan gak ada dirumah Kak, tapi kita sudah punya nomor ponselnya, kita coba menghubunginya ya".


"Kalau kamu lelah, nanti saja, jangan terlalu memaksakan," Fauzi memandang lekat wajah istrinya. "aku gak mau moment bahagiamu kali ini dirusak dengan membahas wulan," Fauzi kembali menggenggam tangan istrinya, "Bagaimana kalau siang ini kita jalan-jalan?"


"Kemana?"


"Ke... Mall, mau?"


Afifa tersenyum, "Boleh...kebetulan ada sesuatu yang ingin aku beli".


"Apa?"


"Seragam coplle untuk kita berdua" Fauzi mengkerutkan alisnya. "Jadi 2 minggu kedepan kita punya 2 acara, yang pertama acara wisuda dan yang kedua acara pernikahan temenku Sofi".


"Wah...seragamnya harus istimewa dong".


Jawab Fauzi.


"ya udah yuk berangkat!" Afifa bangkit dari duduknya, Fauzi memanggil pelayan dan membayar tagihannya.


Mobil Fauzi melaju meninggalkan kampus menuju Ciwalk (Cihampelas Walk) yang menjadi mall favorit masyarakat Bandung, mempunyai konsep mall terbuka yang hijau dan ramah akan pejalan kaki. Dikelilingi oleh outlet ternama baik itu fashion maupun food-beverage dan area pedestrian yang luas membuat kita nggak akan ngerasa capek untuk keliling dan menghabiskan waktu di sini.


Sampai ditempat tujuannya, Fauzi tak pernah melepaskan tangan Istrinya, dia selalu setia mendampingi kemanapun istrinya melangkah, ya...begitulah naluri keperempuanan Afifa naik lebih tinggi jika disuguhkan dengan berbagai fashion ternama seperti itu. Afifa memasuki beberapa stand yang menjajakan berbagai pakaian batik copple, beberapa kali pula dia keluar masuk kamar pas untuk mencobanya, dua setel pasangan coplle sudah dia dapat, tak lupa dia membeli satu barang untuk hadiah pernikahan Sofi.


"Jadi...semuanya sudah dibeli? gak ada yang ketinggalan nih?" Goda Fauzi saat menatap istrinya yang begitu semangat berbelanja, ya...mau gimana lagi memang baru kali ini setelah pernikahannya, Afifa diajak berbelanja oleh suaminya. (haaah???😰 setelah menikah 6 bulan lebih??? ... jangan kaget readers... memang begitu kenyataannya 😀)


Afifa tersenyum "Sudah" jawabnya sedikit malu juga.

__ADS_1


"Ya udah kita ke kasir, lalu makan siang ya".


"Yuk...!" Keduanya berjalan dengan tas belanjaan di tangannya.


Setelah selesai membayar dan makan siang, merekapun pulang ke rumah.


***


Malam ini Afifa sendiri di rumahnya, Fauzi sedang pergi ke pesantren menemui Apa Kiyai seperti biasa seminggu sekali. Afifa mengisi waktunya untuk melakukan tugas sekolah, mengolah nilai harian anak, sebentar lagi ujian semester.


Disela berkutat dengan tugasnya, dia melirik ponsel yang tergeletak disampingnya, entah mengapa saat ini dia ingin menghubungi Wulan.


Diambilnya ponsel itu, lalu mencari nomor yang dimaksud, terdapat profil Wulan bersama Talita disana, keduanya tersenyum manis menampakan rona kebahagiaan dari keduanya.


Afifa mengetuk tanda panggil, tak butuh waktu lama, langsung saja suara seseorang menyapa di sebrang sana.


Halo...Assalamualaikum...


"Waalaikum Salam....warohmatulloh..." Suara Afifa sedikit bergetar.


Maaf, saya bicara dengan siapa ya?


"Selamat Malam Mbak...apa saya mengganggu?" dengan hati-hati Afifa mengatur setiap kata yang ingin diucapkannya.


Oh tidak apa-apa, ada yang bisa saya bantu?


"Maaf sebelumnya Mbak, Saya Afifa".


Oh...Ibu Guru, ada apa ya?


"Mohon maaf jika saya lancang, Saya masih berharap Mbak Wulan mau bertemu dengan suami saya".


Oh...masih masalah itu? jawabnya santai.


"Betul Mbak, saya mohon..."


Bukankah saya sudah bilang, lupakan semuanya, saya tidak akan mengganggu hidup kalian, tapi saya mohon maaf, sampai kapanpun saya tidak bisa menemui suami anda. Assalamualaikum


"Tapi Mbak..."


"Trup", suara telphon di tutup.


"Waalaikum salam" Jawab Afifa lemas...dia tidak habis fikir, mengapa Wulan bisa sesantai itu? lalu bagaimana dengan Talita? Anak itu berhak mendapatkan kasih sayang dari ayahnya, atau mungkin hanya sekedar mengetahuinya.


Afifa kembali mengangkat ponselnya, panggilan ulang ke nomor Wulan, tapi dia tidak mengangkatnya, berkali-kali ia coba, situasinya masih sama.


Apa yang harus aku lakukan sekarang? Mbak Wulan kenapa kamu selalu menghindar? apa kamu tidak yakin dengan niatku mempertemukan kalian? atau jangan-jangan dia serius dengan ucapannya? apa aku harus rela melepaskan suamiku untuknya? Ya Alloh... mengapa ini harus terjadi padaku? aku tidak sanggup untuk itu... Ya Alloh Ya Robb...Aku mohon, tunjukan jalan untukku, apa yang harus aku lakukan saat ini?


Afifa menangis tersedu-sedu sambil memeluk ponsel ditangannya.


Afifa berfikir keras, disela do'anya. dilihatnya kembali ponsel ditangannya.


"Baiklah...aku harus kuat, aku harus berani menghadapi semua kenyataan ini".


Afifa mulai berhenti menangis, lalu dia mengirim sebuah pesan ke nomor Wulan.


"Baiklah Mbak Wulan, jika Mbak bersedia bertemu dengan Suami saya dan memberikan kata maaf dihadapannya, saya rela melakukan apapun, meski harus merelakannya untuk Mbak Wulan"


Pesan terkirim...


Afifa terpaku, jantungnya seolah berhenti berdetak, tubuhnya tidak bergerak, tatapannya kosong penuh dengan cairan bening yang terbendung oleh kelopak matanya, tangannya bergetar setelah pesan itu terkirim, tangisnya pun pecah seiring jatuhnya ponsel dari genggamannya.


*****


Bersambung...#


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Tisyu...mana tisyu...😭😭😭


Readers...Apa tindakan Afifa sudah benar???

__ADS_1


Tetap like, vote dan komentarnya masih ditunggu 😊


By : Rahma Khusnul #


__ADS_2