Seikhlas Cinta Afifa

Seikhlas Cinta Afifa
Masa Lalu Fauzi ... Part 2 #


__ADS_3

"Maaf...kalau dulu aku punya maksud lain dengan berbagai hadiah yang kuberikan padamu."


Afifa tersenyum dan menggeleng. "Aku juga minta maaf karena tidak menyadarinya". Afifa tertunduk. wajahnya memerah tersipu.


Cukup lama keduanya terdiam, tenggelam dalam fikirannya masing-masing, mengingat kembali masa-masa indah yang pernah mereka lalui bersama, meski perasaan itu belum tumbuh dihati Afifa. Tapi keduanya pernah merasa terwarnai dengan kehadiran masing-masing.


"Kau tau dek..." Fauzi memulai kembali pembicaraannya.


"Hemmmm?" Afifa mengangkat kepalanya, menatap suaminya.


"Sejak kau memutuskan pindah sekolah dan harus mondok di pesantren lain, rasa kehilangan itu begitu besar. tak ada lagi orang yang membuatku semangat belajar, Sehingga aku memutuskan untuk pulang."


"Bukannya Kak Aji baru keluar dua tahun yang lalu dari pondok? dan lanjut kuliah juga kan disana?" Afifa teringat dengan cerita Bi Yati tentang Fauzi.


"Iya...Waktu itu aku nekad untuk pulang dari pesantren, aku sudah membawa semua barang-barangku tanpa diketahui pengurus pesantren ataupun orang tuaku. Aku keluar malam hari sekitar pukul 11 malam, berjalan menyusuri jalanan sepi untuk sampai ke terminal angkot. aku melewati sebuah jembatan, remang-remang aku melihat seseorang disana, mondar-mandir mencurigakan, tubuhnya sudah berdiri di bibir jembatan. Aku menghampirinya, ternyata seorang gadis disana, terlihat jelas kalau dia baru saja menangis, wajah dan pakaiannya terlihat kacau. terdapat beberapa luka memar di pipi dan tangannya.


Aku coba bertanya kenapa dia sendirian disana. Dia tidak menjawab, hanya menatapku dengan tatapan penuh kebencian. Aku kembali bertanya dengan tatapannya, barangkali aku punya salah padanya. Aku melihat tangannya gemetar dan mulai melangkahkan kaki ke tepi jembatan, Aku memegang tangannya. Dia malah berteriak "Lepaskan...! aku tidak mau hidup lagi" katanya. Aku kaget mendengarnya. Aku tak kalah berteriak dan berusaha menyadarkannya, bahwa mengakhiri hidup tidak akan menyelesaikan masalahnya. Aku semakin mempererat cengkraman tanganku, berusaha mencegah nya berbuat nekad.


teriakannya semakin histeris "Aku tidak peduli...mungkin mereka akan senang melihatku mati. Orang tuaku telah mengusirku, aku sudah menjadi sampah, dan orang yang paling bertanggung jawab atas penderitaanku malah kabur meninggalkanku. Lepaskan...!!! aku tidak mau hidup lagi"


Duerrrr...Kata-kata itu menusuk telingaku, seolah ucapannya ditujukan pada diriku sendiri. Dia berhasil melepaskan diri dari cengkraman tanganku dan berlari. Aku segera menyadarinya, secepat kilat mengejarnya dan kembali memegang tangannya. Aku berteriak minta tolong dan syukurlah beberapa orang berdatangan ke arah kami, dan berhasil mencegah gadis itu melangsungkan niatnya. dia dibawa oleh warga sekitar ke tempat yang lebih aman.


Aku terduduk disana sendirian, kurenungkan semua kejadian yang barusaja terjadi, bayangan kelam masa laluku kembali datang. Aku merasa begitu jahat, mungkin Wulan juga bernasib sama dengan gadis itu. hari ini aku bisa menyelamatkan gadis itu, lalu bagaimana dengan Wulan??? Begitu besar dosa yang sudah kutorehkan padanya, sehingga aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Semakin hari bayangan kelam akan dosa itu terus saja menghantuiku bahkan sampai saat ini, sehingga aku tidak mampu menyentuhmu meski aku sangat menginginkannya". Fauzi mulai menitikan airmatanya.


Afifa tertegun mendengar semua penjelasan Fauzi, kini dia tau penyebab dari kemelut rumah tangganya.


"Dek..." Panggilnya lagi


"Ya...?"


"Setelah tau masalaluku yang kelam, apa kamu akan berubah atau mungkin merasa jijik padaku?"


Afifa mengambil air minum dihadapannya, lalu meminumnya sampai hampir habis dan menegakan posisi duduknya. Berfikir sejenak, mengatur kata-kata yang akan diucapkannya. "Aku ini hanya seorang gadis biasa, tak punya kelapangan hati seperti yang dimiliki para istri rosul, tetap saja hatiku sakit saat tau ada nama wanita lain di hati dan fikiran suamiku." Seulas senyum tersungging dibibir Afifa, matanya melirik ke arah suaminya.


"Tapi setiap orang memiliki masa lalu, baik itu pahit ataupun manis. Masa lalu Kak Aji yang begitu kelam, akan berusaha ku terima dengan lapang dada. Mungkin ini adalah taqdirku, Aku yakin Alloh memiliki rencana lain yang begitu manis dengan cara mempertemukan kita dalam satu ikatan suci pernikahan.


Tapi Kak Aji juga harus ingat bahwa hidup itu terus berjalan. Jangan biarkan diri kita hidup dalam bayang-bayang masa lalu sehingga membuat kita sulit melangkah.


Hal yang harus kita lakukan ialah fokus pada apa yang terjadi di masa sekarang.

__ADS_1


Tak perlu lagi menoleh ke belakang karena apa yang harus kita kejar ada di depan mata.


Boleh saja menengok ke belakang, namun hal ini hanyalah sebagai pacuan untuk lebih bersemangat lagi mencapai kehidupan masa depan yang lebih baik.


Orang dikatakan berhasil dalam menjalani kehidupan apabila dia mampu menunjukan adanya perkembangan yang lebih baik dari sebelumnya". Afifa tersenyum kearah suaminya, menatapnya tajam mengartikan sebuah dukungan yang begitu besar padanya, dukungan untuk siap berjalan berdampingan menyongsong masa depan cerah dunia dan akhirat.


Fauzi merentangkan tangan kirinya merangkul bahu Afifa. lalu memeluknya dengan lembut. Afifa membalas pelukan suaminya, tanpa disadari tetesan bening menetes dipipinya. tetesan air mata bahagia, karna pelukan hangat dan tulus saat dia tau betapa dirinya begitu dicintai dan diinginkan suaminya.


"Terimakasih karena sudah hadir dan mewarnai hari-hariku, Juga telah dengan ikhlas menerimaku yang jauh dari sempurna ini apa adanya". ucap Fauzi kemudian.


Afifa tersenyum dan kembali bertanya. "Apa setelah itu Kak Aji kembali ke pesantren?"


"Ya...Setelah kejadian itu aku kembali ke pesantren, dan besoknya aku pamit untuk pergi ke sekolah SMU ku dulu, disana aku bertanya alamat lengkap Wulan. Aku berusaha mencarinya namun jejaknya tidak ku temukan. Akhirnya aku bertekad untuk konsentrasi belajar agama dan melanjutkan kuliahku sampai dua tahun yang lalu."


"Lalu bagaimana Kak Aji bisa datang ke rumahku? Apa sebenarnya Kak Aji sudah tau akan dijodohkan denganku?"


Fauzi tersenyum. "Eeeemmmm sebenarnya... awalnya aku tidak tau. Mamaku sudah tua dan sering sakit-sakitan, ia sangat ingin melihatku menikah, bahkan punya cucu dariku, mungkin karena aku satu2nya anak laki2 dikeluarga kami, makanya dia terus mendesakku untuk menikah. Mama selalu bertanya pada setiap keluarga dan kenalannya, ada beberapa wanita pilihan Mama, tapi aku sama sekali tidak memperdulikannya karna yang ada difikiranku, aku harus mencari keberadaan Wulan bagaimanapun caranya.


Sampai Akhirnya Paman Sanusi berkunjung ke rumah bersama Tanteu Rani istrinya. Mama juga mengatakan hal yang sama padanya, awalnya aku juga tidak menghiraukannya, tapi saat tanteu Rani memperlihatkan Foto keluarga yang ia simpan di ponselnya, mataku langsung tertuju pada sosok gadis manis yang sedang tersenyum difoto itu, saat itu aku langsung mengenalimu.


Aku senyum-senyum sendiri, gak nyangka gadis kecilku yang sangat aku rindukan kini sudah dewasa dan nampak anggun, rasanya sudah cukup usia untuk menghalalkannya". Fauzi menatap Afifa yang kini berada dipelukannya. senyuman tersungging dibibirnya melihat wajah Afifa yang merona. "kupikir mungkin kehadirannya akan membuatku melupakan catatan hitam yang terus saja menghantuiku, sama seperti kehadirannya 7 tahun yang lalu yang selalu mengisi hari-hariku dengan penuh warna.


"Tapi Kak...ada yang masih mengganjal difikiranku". Ucap Afifa kemudian


"Apa?"


Afifa melepaskan pelukan suaminya "Kalau Kak Aji benar-benar mencintai Fifa dan menginginkan pernikahan ini...lalu kenapa Kak Aji menceritakan masalah rumah tangga kita kepada Farid? bukankah itu sama saja dengan memberi celah kepada orang lain untuk masuk ke dalam kehidupan rumah tangga kita?".


Fauji kembali membetulkan posisi duduknya, kali ini dia duduk tegak tidak bersandar.


"Hhhhhhh...." Dia menarik nafas panjang. "Berawal pada saat aku mengantarmu berangkat KKN, Farid datang ke kampusmu, dan kami sempat ngobrol panjang lebar di warung sebrang kampus sambil menunggumu mendapatkan arahan dari Dekan. waktu itu aku melihat tatapannya yang berbeda padamu. hal itu sungguh membuatku tidak nyaman.


Cukup lama kami ngobrol disana, awalnya hanya membicarakan bisnis, tapi akhirnya dia mulai bertanya tentangmu, Dia mulai menceritakan masa lalu kalian berdua, anehnya aku begitu penasaran dan setia mendengarkan ceritanya yang begitu bersemangat. Karena rasa penasaran itu aku memutuskan untuk tidak menceritakan status kita terlebih dahulu" Fauzi mengambil nafas dalam.


"Tapi pada pertemuan kami selanjutnya rupanya dia sudah tau, dia bilang kamu sendiri yang mengatakannya waktu dia datang ke tempat KKN, Apa dia pernah datang kesana?"


"Ya... apa Kak Aji yang memberi tahu alamatnya?"


"Tidak..."

__ADS_1


"Lalu darimana dia tau?"


Fauzi hanya mengangkat bahu.


"Kamu ingat Dek...Waktu kita makan di Astro Resto?" Afifa mengangguk. "Pagi itu aku mendapat pesan dari Farid, dia meminta izin untuk berteman denganmu? dan aku mengizinkannya. Ku fikir dia pemuda yang baik, kalau dia punya niat jahat tidak mungkin seberani itu meminta izin kepada suami dari wanita yang dicintainya.


Aku memintanya datang ke restorant namun sayang aku harus pergi menemui klienku, aku percaya padanya makanya aku meminta dia mengantarmu pulang. Sebenarnya setelah aku keluar dari resto kok samsir mengundur pertemuannya. Akupun kembali ke restoran, aku melihatmu sedang berbicara dengannya, tidak canggung sedikitpun, kalian tertawa bersama.


Saat itu aku melihat kebahagiaan terpancar dari wajahmu, tertawa lepas tanpa beban yang selama ini tidak pernah aku lihat sejak pernikahan kita. seolah kutemukan kembali wajah polos dan ceriamu sama seperti 7 tahun yang lalu.


Sejak saat itu aku berfikir, mungkin dialah orang yang akan membuat mu bahagia".


Afifa terdiam mencerna kata-kata yang diucapkan suaminya. "Apa kak Aji benar-benar mengatakan, kalau aku belum pernah disentuh sedikitpun padanya?"


"Maaf...aku terpaksa mengatakannya, Karena Farid bersikeras tidak mau mendekatimu dengan alasan menghormatiku. Sulit sekali aku menjelaskan dan meyakinkannya sampai akhirnya aku katakan alasan yang sebenarnya".


Afifa masih terdiam. ada rasa kecewa yang cukup dalam dihatinya.


"Tapi aku benar-benar menyesali hal itu, aku memang suami yang paling bodoh. Aku lupa kalau Afifaku adalah seorang istri sholehah yang tidak mungkin tergoda dengan pria lain meski dia pernah singgah dihatinya". Fauzi memutar tubuh Afifa menghadap ke arahnya. "Dek...maukah kamu memaafkan kebodohanku, aku tidak yakin kalau aku akan hidup tanpamu disampingku, aku tidak akan rela melihatmu menjadi milik orang lain" Tatapan mereka bertemu, terdapat cairan bening dimata keduanya, yang kini mulai jatuh dipipi Afifa. Fauzi mengusapnya dengan kedua jari jempolnya, memegang kedua pipi Afifa lalu menarik Afifa jatuh ke dadanya. Mereka berdua menangis saling meluapkan rasa rindu yang tertahan selama ini.


*****


Bersambung...😊❤...


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Aaaaaaaaaaa... lega sekali rasanya selesai menulis part ini...😥


Sangat menguras Fikiran dan otakku... aku sampai pratinjau beberapa kali, ku edit lagi, hapus lagi, ketik lagi... haha...


Agar feelnya dapet banget di hati readers semua tentunya...😉


Ayo kasih semangat buat Authornya ya...😉😉😉


tetap kasih komentar, like dan jangan lupa "Vote"...


✌✌✌


Love you readers.....❤❤❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2