
Aaaaaaa....Ingin sekali Afifa menjerit, meluapkan semua yang ada dihatinya, rasa kecewa yang teramat dalam, karena merasa telah dihianati. Perasaannya cinta yang sudah terukir untuknya, pengorbanan yang selama ini dia lakukan, seolah tak ada artinya sama sekali.
Afifa menghela nafas panjang, dia tata kembali hati dan fikirannya. "Lalu?" hanya itu yang bisa dia ucapkan.
"Tiba-tiba seorang pemuda menghampiri kami dan menarik paksa tangan Fauzi keluar dari restoran, aku melihat pemuda itu sempat memukul wajahnya, lalu pergi dengan motornya, Fauzi mengejarnya sampai ke jalan raya, dan setelah itu aku mendengar suara teriakan orang-orang, semua orang berlarian menuju jalan termasuk aku", Wulan menghela nafas panjang, "Saat aku tiba disana, kulihat kerumunan orang2 mengelilingi tubuh seseorang yang terlentang bersimbah darah ditepi jalan dekat trotoar, nampak sebuah angkot dengan lampu masih menyala berhenti tepat didepan kerumunan itu. seseorang terdengar meneriakinya untuk segera turun. Aku mendekati kerumunan itu dan betapa terkejutnya aku saat melihat yang terbaring disana adalah Fauzi, aku berteriak meminta pertolongan agar mereka mengangkatnya kedalam mobilku, aku segera membawanya kemari". Wulan menceritakan semuanya dengan mata yang berkaca-kaca.
Afifa menatap mata wulan, ekspresinya membuat Afifa bertanya-tanya, apakah kesedihannya menandakan kalau dia begitu takut kehilangan dia? itu semakin membuat Afifa sakit.
"Siapa pemuda itu?" tanya Afifa penasaran.
"Entahlah, aku belum pernah melihatnya, tapi sepertinya Fauzi mengenalnya, mereka sempat berdebat".
Afifa berfikir sejenak, menerka-nerka pemuda yang Wulan maksud.
Seorang polisi datang menghampiri mereka sambil memegang kerah baju seorang pria paruh baya yang terlihat lusuh dengan handuk kecil melingkar dipundaknya, nampak bekas pukulan diwajahnya, polisi itu setengah menyeretnya, pria itu ambruk berlutut dihadapan Wulan dan Afifa. Afifa hanya bengong melihatnya.
"Maaf bu, ini adalah pelaku penabrakan terhadap korban, dia bersikeras ingin menemui keluarga korban".
"Oh...terimakasih Pak", Ucap Wulan, Afifa menatap penuh tanya ke arah wulan.
Pria itu mulai bicara, dia bersimpuh dihadapan Wulan, "Maafkan Mamang Neng, mamang tidak sengaja menabrak suami eneng, sungguh...kasihanilah mamang, bagaimana nasib istri dan anak mamang jika mamang ditahan?" Pria itu menangis.
Afifa semakin tidak mengerti, tapi saat itu dia belum ingin bicara.
"Maaf mang, saya bukan istrinya, beliau adalah istrinya", Tangan Wulan menunjuk ke arah Afifa.
Pria itu mengangkat kepalanya, menoleh kepada Afifa, lalu beringsut dan berkata, "Neng...kasihanilah Mamang, jangan masukan Mamang kedalam penjara, Mamang hanya orang miskin, Mamang adalah satu-satunya tulang punggung keluarga, Anak dan istri bisa kelaparan kalau Mamang tidak bekerja," Ucapnya sambil terus terisak.
Afifa menatap Wulan, "Apa Mbak Wulan melaporkannya?" Wulan memgangguk, Afifa kembali mengalihkan pandangannya kepada pria itu. "Mamang bangunlah! jangan seperti ini, saya tidak nyaman dilihat orang-orang".
Pak Polosi mengambil kursi kecil dan diletakannya didekat Afifa supaya pria itu bisa duduk.
"Coba sekarang ceritakan apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Afifa tenang.
"Mamang hanya supir angkot yang sedang jalan Neng, saat Mamang melintasi jalan tepat di depan restoran X, dari kejauhan mamang sempat melihat seorang pria berlari mengejar motor yang baru saja keluar dari restoran itu, tapi motor itu tidak berhenti dan semakin jauh, tiba-tiba pria itu berbalik arah dan tepat angkot mamang ada didepannya, dan terjadilah insiden itu, mamang menabraknya dan tubuhnya terpental ketepi jalan membentur trotoar. Mamang benar-benar kaget, mamang tidak sengaja melakukannya," Pria itu menangis, "Mamang mohon cabut tuntutannya Neng..." Katanya sambil terus terisak.
Afifa merasa iba melihatnya, dia juga tau, pria ini tidak sepenuhnya bersalah, Afifa mulai bicara, "Baiklah, mamang tenang dulu ya" Afifa mengangkat kepalanya, matanya menatap Wulan dan polisi dihadapannya bergantian, "Bukankah Bapak sudah mendengar penjelasannya?" ucapnya kepada Pak Polisi.
"Tapi laporannya sudah masuk bu" jawab polisi itu.
"Kami akan mencabut tuntutannya, benarkan Mbak?" tanya Afifa melirik sekilas pada Wulan.
"Tapi Afifa..." bantah Wulan, tapi ucapannya terhenti saat Afifa kembali menatapnya tajam. Wulanpun mengangguk pasrah.
"Baiklah, tapi semuanya harus sesuai prosedur, silahkan pelapor datang ke kantor untuk mengurusnya". Ucap Pak Polisi
"Baik Pak" jawab Wulan.
"Terimakasih Neng..." Pria itu kembali bersimpuh dihadapan Afifa, "Eneng orang baik, Mamang yakin berkat kebaikan dan Do'a Eneng, Suaminya akan cepat pulih kembali, Mamang do'akan semoga Eneng dan Suami Eneng selalu bahagia".
__ADS_1
"Sama-sama Mang, Terimakasih aras Do'anya".
Pria itu berdiri tangannya kembali dipegang polisi.
Wulan memberikan tas dan ponsel Fauzi kepada Afifa, "Ini tas dan ponsel Suamimu, semuanya masih seperti semula, Mobilnua masih didepan restoran, kuncinya ada didalam tas, Aku akan mengurus semuanya ke kantor polisi", Ucap Wulan, dia berjalan mengikuti polisi dan pria itu.
Sepeninggal mereka Afifa masih termenung, dia kembali duduk di kursi, perlahan dia membuka tas kecil milik suaminya, memeriksa semua barang-barangnya, benar kata wulan, semuanya masih utuh, Aifa memasukan posel suaminya.
Afifa teringat dengan Mertuanya, mereka belum diberi kabar, diapun segera mengambil ponsel yanh sejak tadi tidak disentuhnya, terdapat 5 panggilan tak terjawab dari nomor yang sama, si pengirim pesan panjang, Afifa tidak menghiraukannya, dia langsung menghubungi mertuanya, mereka sangat khawatir dan akan segera datang ke RS. Afifa juga menghubungi Mang Ujang agar mengambil mobil suaminya yang masih terparkir di halama restoran X, sekaligus membawa pakaian ganti untuk Fauzi.
Afifa memeriksa beberapa Chat yang masuk, dibacanya satu persatu dan terdapat pesan lagi dari Farid
"Afifa, kini aku tau penyebab kabut hitam itu, aku melihat sendiri suamimu makan malam bersama wanita lain, sesuai janjiku, aku adalah orang pertama yang akan memukulnya jika membuatmu menangis, sampai kapan kau akan terus bertahan Fa?"
"Deg..." Afifa kaget saat membaca pesan itu, benarkah pemuda yang dimaksud Wulan adalah Farid?
"Keluarga pasien atas nama Bapak Fauzi?" Suara panggilan suster membuyarkan lamunannya.
"Iya Sus.." Afifa seketika berdiri, setengah berlari menghampiri suster.
"Apa ada yang bernama Afifa? pasien selalu memanggil namanya". Ucap suster itu kemudian.
Afifa tertegun, benarkah namaku yang selalu disebutnya? gumamnya, "Saya sendiri Afifa sus..."
"Baiklah, beliau baru saja terbangun silahkan menemuinya," Jawab suster ramah.
"Kemarilah..." Ucap Fauzi dengan suara serak. Afifa menghampirinya dan memegang tangan suaminya yang masih terangkat. Afifa menitikan air mata memandang iba pada sosok dihadapannya.
"Kenapa diam saja? apa kau tidak merindukanku?" Ucap Fauzi kemudian, Afifa mulai tersenyum disela airmatanya yang mulai keluar, "Jangan menangis, aku baik-baik saja".
Afifa tak tahan lagi mendengar ucapan suaminya yang masih berat, namun masih saja berusaha menenangkannya.
"Bruk..." tubuh Afifa jatuh diatas dada suaminya, dia luapkan tangisannya disana, Fauzi hanya mengelus kepala Afifa dibalik hijabnya. "Maafkan Fifa Kak...Fifa tidak sanggup lagi jauh darimu, Fifa tidak akan pernah melepaskanmu untuk siapapun".
"Aku tau, sudah jangan menangis lagi". Jawab Fauzi. "Aaww..." Tiba-tiba saja Fauzi berteriak sambil memegang kepala dengan tangan kirinya.
Afifa segera mengangkat kepalanya, "Kenapa Kak...? apa kau kesakitan? sebentar aku panggilkan dokter" Afifa panik dan segera berlari ke ruang perawat, tak lama dia kembali bersama seorang dokter.
"Suami saya kesakitan dok, tolong lihat kondisinya"
"Baik bu, ibu tenang saja ya, mungkin pengaruh obat pereda rasa sakitnya sudah hilang, saya cek ya" jawab dokter sambil berkutat dengan peralatannya melakukan berbagai pemeriksaan kepada Fauzi. " Kondisinya sudah stabil, pasien bisa segera dipindahkan ke kamar perawatan".
"Terimakasih dok" Ucap Afifa lega
"Sama-sama" dokter itu berjalan meninggalkan Afifa.
Afifa kembali menghampiri suaminya, lalu menggenggam erat tangannya, "Cepat sembuh ya Kak...kita akan pulang kerumah sama-sama".
Fauzi tersenyum, lalu mengangkat tangam Afifa dan menciumnya.
__ADS_1
Afifa membalas senyuman suaminya, mata sayu dan senyum khasnya sungguh telah melupakan rasa kecewanya, terganti dengan kebahagiaan meski masih menyisakan banyak pertanyaan.
Sepuluh menit kemudian, 2 orang perawat datang membawa kursi roda hendak memindahkan Fauzi ke kamar perawatan. Afifa memesan ruang VIV hanya ada satu tempat tidur dikamar itu, dilengkapi sofa panjang lengkap dengan televisi dan freezer, Afifa merasa lega, malam ini suaminya bisa istirahat tanpa harus terganggu dengan rintihan pasien lain serta bau darah dan obat yang menyengat.
Setelah memasang kembali peralatan medisnya, kedua perawat itu keluar kamar, meninggalkan mereka berdua dikamar itu. Afifa membuka gorden kamar agar udara malam yang segar sedikit masuk dari lubang pentilasi, kerlap-kerlip lampu malam terlihat langsung dari dalam kamar menambah indahnya suasana malam kota Bandung.
Tak lama, Mamah dan Papa Fauzi datang, mereka langsung memeluk putranya, terlebih Mama, dia terus saja menangis melihat kondisi putranya, Fauzi berusaha menenangkan ibunya. dengan susah payah Afifa membujuk mertuanya pulang, kasihan juga mereka kalau harus menginap di RS, dengan berat hati merekapun pulang karena melihat ketegaran dan ketelatenan Afifa merawat suaminya. Mama memeluk Afifa dan tak henti-hentinya menitipkan putranya.
Sepeninggal mertuanya, Afifa menghampiri suaminya, "Sudah malam, Kak Aji istirahat ya," Ucap Afifa.
"Iya" Jawab Fauzi sambil menggeser tubuhnya, menyisakan ruang kosong disampingnya, "Tidurlah disini!" Ucapnya sambil menepuk tempat tidur disampingnya.
Afifa tersenyum, "Nggak usah, aku tidur di sofa aja,"
"Nanti badan kamu sakit sayang".
"Gak apa-apa, yang penting kita bisa istirahat".
"Kalau begitu aku juga mau pindah ke sofa".
"Eh...kok gitu si?"
"Aku ingin tidur disampingmu"
"Tapi sayang...ini kan di rumah sakit, masa iya aku tidur di tempat tidur pasien?"
"Tempat tidur ini cukup kok untuk kita berdua"
"Nanti kalau ada perawat masuk gimana?" tanya Afifa.
"Biarin aja, paling mereka iri melihat kita, ayolah sayang, kalau tidak, aku tidak akan bisa tidur semalaman".
Afifa hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya, diapun naik ketempat tidur disamping suaminya, menopang kepalanya dengan tangan kirinya, tangan kanannya mengusap-usap lembut rambut Fauzi, Fauzi tersenyum menikmati setiap belaian tangan istrinya, sampai akhirnya keduanya tertidur.
****
Bersambung...😊❤....
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Readers...dari kemarin Author didemo terus udah bikin readers nangis-nangis 😀,
di part ini aku kasih bonus sweet nya ya...😉
Tapi tetep Like, Vote, dan komentarnya jangan lupa...😊
Love you All....❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
By : @Rahma Khusnul #
__ADS_1