Seikhlas Cinta Afifa

Seikhlas Cinta Afifa
Hatiku Begitu Hancur...


__ADS_3

Mobil Asfir keluar dari halaman rumah Sofi lalu melesat ke arah jalan menuju rumah Afifa.


Selama perjalanan Farid mengarahkan jalan kepada Asfir yang memang belum tau arah menuju rumah Afifa, sambil menajamkan pandangannya pada setiap pengendara motor, juga setiap orang yang terlihat berlalu lalang dijalanan.


"Rid...Afifa kenapa si?" tanya Asfir disela kesibukannya mengendalikan kemudi, pandangannya terus konsentrasi ke jalanan dihadapannya.


"Nanti saja aku ceritakan. kamu fokus aja nyetir".


Asfir tidak bertanya lagi. hanya sesekali bertanya, "depan kiri atau kanan". beberapa kali dia bertanya dan terus dijawab oleh farid sesuai arah menuju rumah Afifa.


***


Afifa terus memacu sepeda motornya, melesat membelah jalanan yang cukup lenggang. Semilir angin malam yang dingin tak mampu membuat hatinya yang terus memanas menjadi dingin, bahkan dia tidak sadar kalau hanya mengenakan pakaian gamis syar'i berbahan tipis saja dengan jilbab berkibar-kibar dibalik helmnya karena jaketnya tertinggal di rumah Sofi.


Kini hatinya sungguh hancur, begitu banyak kejadian bertubi-tubi yang menyakiti hatinya pada dua hari ini, mulai dari ucapan Farid di kampus, tragedi tentang foto seorang wanita semalam, dan sekarang perkataan Farid yang membuat dirinya serasa disambar petir besar, membuat hatinya hancur berkeping-keping. Seandainya bisa sedikit saja mengurangi beban fikirannya, ingin rasanya dia menjerit membelah keheningan malam.


Afifa tak habis fikir, Sekelumit kerumitan yang terjadi pada rumah tangganya yang menjadi masalah dan sumber ketidak bahagiaannya yang selama ini ia simpan rapat-rapat sebagai rahasia pribadinya, kini terungkap pada orang lain. Afifa tidak pernah mengatakan masalahnya pada siapapun, bahkan kepada orangtuanya sekslipun, biarlah itu menjadi rahasia Tuhan, dia dan suaminya dan sekarang mengapa rahasia itu justru diketahui oleh orang yang benar-benar ingin dia hindari.


Berbagai pertanyaan terus saja berkecamuk di fikirannya. Selintas dia berfikir, apa mungkin suaminya sendiri yang mengatakan itu kepada Farid. Tapi kenapa? dan untuk apa?


Afifa menyeka air mata yang terus mengalir deras dipipinya dengan tangan kirinya menggunakan kerudung yang terjuntai dihadapannya, seandainya malam itu tidak gelap mungkin orang-orang akan heran melihat seorang wanita melajukan sepeda motor dengan kencang sambil terus terisak dan tertahan sampai terdengar bunyi sesegukan.


Afifa merasa bingung, kemana dia harus pergi, ingin sekali dia datang ke rumah orangtuanya, mengadukan semua masalahnya, atau mungkin hanya sekedar memeluknya dan tidur dipangkuan ibunya untuk melepaskan semua kepenatan yang ada difikirannya.


Afifa membelokan motornya menuju arah rumah orang tuanya, Setelah hampir lima menit, tiba-tiba dia menghentikan motornya, berfikir kembali, apa yang akan mereka fikirkan jika tiba-tiba saja aku datang malam-malam sendirian, Ah...itu hanya akan mengganggu fikiran mereka saja atau juga membuat hati mereka sakit. Aku tidak ingin hal itu terjadi. Afifa segera memutar arah kembali ke jalan menuju rumahnya.


Lebih baik aku selesaikan masalah ini sendiri.


*****

__ADS_1


Farid POV #


Kemana kamu pergi Fa...? tidak mungkin mobil dengan kecepatan kencang seperti ini tidak bisa menyusul motor metik yang dikendarai seorang wanita.


Maafkan aku karena dengan tidak sengaja mengeluarkan kata-kata yang menyakitimu. Ah...aku memang bodoh, mengapa aku tidak sadar mengatakan itu. Ya mungkin itu adalah salah satu alasanku untuk kembali mendekatimu, tapi tidak seharusnya aku mengatakannya.


Tapi aku sungguh mencintaimu Fa, aku tidak tahan lagi melihatmu terus menangis, aku tidak tahan melihatmu tersiksa dengan pernikahanmu.


Sungguh aku akan sangat bahagia dan ikhlas melepaskan rasa cinta ini yang telah bersemi tertanam begitu lama dihatiku, seandainya aku tau kau hidup dengan bahagia bersama siapapun yang menjadi pasangan hidupmu.


Aku tau suamimu begitu baik, dan memiliki rasa cinta yang tak kalah besar dihatinya untukmu, Seandainya saja bukan suamimu sendiri yang memintaku untuk kembali kepadamu dan membuatmu bahagia mungkin aku tidak akan pernah mau mengusik rumah tanggamu.


Ya Alloh...kumohon lindungilah dia, jangan biarkan sesuatu yang buruk terjadi padanya.


*****


Mobil Asfir sampai didepan rumah Afifa. Farid bergegas membuka pintu mobil dan berjalan menuju pintu gerbang.


"Ah...pintu gerbangnya terkunci dari luar" Ucap Farid saat mengarahkan matanya psda gembok besar yang tergantung didekat hendel gerbang.


Asfir keluar dari mobil saat melihat sahabatnya kebingungan. "Kenapa Rid?"


Farid tidak menjawab hanya menunjuk ke arah gembok, kedua tangannya mengusap kasar kepalanya menariknya kebelakang.


"Kemungkinan Afifa belum sampai rumah".


"Tapi tadi kita tidak melihatnya kan selama perjalanan?" Farid terlihat sangat gusar, dia terus mondar-mandir didepan pintu gerbang dan sesekali memegang gembok itu memastikan kalau gembok itu benar-benar terkunci dari luar.


"Mungkin saja kita melewatkan itu karena gelap. tenang dulu Rid.... kita tunggu disini sebentar, siapa tau Afifa mengambil jalan lain".

__ADS_1


"Ya ampuuun...dimana kamu Fa...?"


"Tenanglah, kita berdo'a saja semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk padanya."


Ucapan Asfir cukup menenangkan Farid, dia setuju menunggunya sebentar, meski kekhawatirannya tidak dapat disembunyikan, sesekali ia jongkok, lalu berjalan lagi mondar mandir sambil memandang ke dalam pagar rumah kadang juga ke jalanan.


Sudah 10 menit mereka menunggu akhirnya sebuah motor berhenti dihadapan mereka.


Farid yang sedang jongkok seketika berdiri dan menghampiri Afifa. "Kamu tidak apa-apa kan Fa?" tanyanya tergesa-gesa sambil memperhatikan seluruh tubuh Afifa dari atas sampai bawah. Afifa hanya menatap tajam ke arah Farid. "Ah...tadi aku hawatir padamu, makanya aku dan Asfir mengikutimu, tapi aku..."


"Sekarang aku sudah sampai rumah. dan tidak terjadi apa-apa padaku. Apa itu cukup???" Ucapan Afifa menghentikan ucapan Farid.


Farid menghela nafas panjang. "Syukurlah..."


"Terimakasih sudah menghawatirkanku, tapi aku tidak membutuhkannya, ini sudah malam. permisi..." Afifa turun dari motornya, lalu mengambil kunci dari dalam tasnya, membuka gembok besar itu. lalu mendorong pintu gerbang dengan kasar.


Farid meloncat ingin membantu Afifa, tapi Afifa mengangkat tangan untuk menghentikannya.


Afifa melajukan motornya masuk kedalam gerbang, lalu menutup kembali pintu gerbang tanpa menoleh sedikitpun pada Farid dan Asfir yang masih berdiri memperhatikannya.


*****


Bersambung...😊❤


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hah...cukup menguras fikiran menulis part ini, agar feel nya terasa dihati pembaca... semoga aja readers suka ya...😊


Terus kasih semangat dengan berbagai komentarnya ya readers...

__ADS_1


love you all...❤❤❤


__ADS_2