
Kampus #
Afifa tiba di parkiran kampus pukul sembilan pagi, tentu saja setelah janjian dengan kedua sahabatnya Sofi dan Sari. dan benar saja keduanya sudah nongkrong di teras Aula menantikan kedatangannya.
Afifa memarkirkan motornya dan menyimpan helm, lalu melangkahkan kaki menuju dua sahabatnya. "Assalamualaikum..." sapanya, sambil tersenyum.
"Waalaikum salam..." jawab kedua sahabatnya barengan.
"Apa kabar Fa...? Gimana hari ini udah vit lagi?" tanya Sari memegang bahu Afifa, matanya berkeliling nakal menyusuri wajah dan badan Afifa dan hampir saja memutar bahu Afifa.
"Eeiiit...Apaan si Sar...? Emang aku kenapa?" Afifa menahan tangan Sari.
"Tuh... Sofi bilang...kemarin..." ucapan Sari terpotong
"Eh...kalian gosipin aku ya...?" Afifa mengacungkan jari telunjuknya ke arah dua sahabatnya. "Gosipin apa hayooo...?"
"Ih...bukan apa-apa kok...kamu perasaan banget si..." Sofi tertawa kecil
"Terus...kenapa kamu bilang-bilang masalah aku sama Kak Farid?" Afifa memandang selidik sahabatnya.
"Kok kamu tau?" tanya Sofi heran. "Dia nelphon kamu ya?"
"Hah...yang bener Fa? Kak Farid nelphon kamu?... Duh...gimana ya rasanya dapat telphon dari mantan terindah haha...." Sari meledek Afifa.
"Apaan si kamu Sar...gak lucu tau." Afifa cemberut.
"Tau nich Sari... Afifa kan udah nikah... Sari Sari..." Sofi mendaratkan telunjuknya di kening Sari.
"Abis nya... gimana ya... secara...cinta pertama itu kan sulit terlupakan... katanya... hihi..." Sari menutup mulut dengan tangannya.
"Ah...makin ngaco ni anak. udah yu ah kita ke perpus." ajak Afifa sambil berlalu.
Ketiganya berjalan menuju perpustakaan, sesekali mereka terdengar tertawa bersama. Ya...ketika bersama kedua sahabatnya itu Afifa selalu merasa sedikit melupakan masalah rumahtangganya.
Sampai di perpus ketiganya fokus dengan tujuan masing-masing. Mereka mengambil beberapa buku dan mengutip pernyataan para ahli untuk dituangkan pada tugas akhirnya dan dicatat pada leptop masing-masing.
Saat sedang asyik menulis tiba-tiba ada sesuatu terlintas difikirannya.
Cinta Pertama itu sulit terlupakan... ucapan Sari kembali terngiang ditelinganya.
Apa itu benar? entahlah, mungkin tidak untuk setiap orang, atau semoga tidak terjadi padaku. Tapi...kenapa selalu ada sesuatu dalam hati kecilku saat bertemu dengannya? mendengar suaranya atau hanya mendengar seseorang menyebut namanya. Ah... tidak...! itu tidak boleh terjadi padaku, Aku sudah menikah dan aku sangat mencintai suamiku.... Mungkin itu hanya perasaan sesaat saja.
Afifa berusaha menepis fikirannya. Kisah yang tidak mungkin terulang itu harus ia kubur jauh-jauh. meski sebenarnya kisah itu kembali datang dengan sendirinya, tanpa diinginkannya dan mulai mengusik kehidupannya. Terkadang saat kita terpuruk dalam satu hubungan harapan akan hadirnya seseorang yang pernah memiliki tempat khusus dihati ini untuk hadir kembali, tak dapat dipungkiri. Hanya sekedar bersandar dipunnggungnya, mengadukan keluh kesah pahitnya kehidupan sudah cukup membuat hati ini nyaman. meski tahu hal itu bukan lah sesuatu yang dibenarkan.
Afifa kembali dari lamunannya, dilihatnya Sofi dan Sari masih fokus dengan leptopnya. Afifa mengalihkan pandangannya ke arah leptop dihadapannya yang masih menyala. Fikirannya kembali ia fokuskan pada tugas akhirnya.
"Hhhhhh...Aku harus selesaikan BAB ini." gumamnya.
Tiga sekawan itu masih setia diperpustakaan saat terdengar adzan dhuhur berkumandang. Afifa Segera menutup leptopnya dan memasukannya kedalam tas ranselnya.
"Sof...Sar...udah selesai belum?" tanya Afifa agak berbisik.
"Kenapa?" Tanya Sofi mengangkat kepalanya. begitupun dengan Sari
__ADS_1
"Aku pulang duluan ya...ada urusan hehe..." Pamit Afifa.
"Urusan apa Fa?" tanya Sari
" Kepo ah..." Jawab Afifa tertawa kecil sambil memencet hidung kecil Sari.
"Iiih... sakit Fa..." rengek Sari...
Sofi hanya menggeleng tersenyum melihat tingkah kedua sahabatnya.
"Aku mau makan siang diluar bareng Kak Aji..." Jawab Afifa tersenyum bahagia.
"Ih...so sweat banget si Fa..." Sari menggenggam kedua tangan didepan dadanya, pandangannya menatap ke atas, dibibirnya tersungging senyuman kekaguman, entah apa yang dibayangkannya.
"Uuuh...dasar Sari. Makanya cepet minta dilamar tuh sama Kakak Ragil kesayanganmu itu...biar gak ngehayal terus ..." Ledek Sofi sambil memukul lengan sahabatnya.
"Pengen nya si gitu hehe..." Jawab Sari dengan senyum penuh harap. "Lha...kamu sendiri Sof...apa kabar sama penggemar setiamu itu haha...?"
"Apaan si..." tanya Sofi ketus
"Wah...ada yang aku lewatin nich...Siapa sih Sar penggemar setianya Sofi?" Tanya Afifa penasaran.
"Katanya sih teman mondok nya waktu SMU Fa...kamu pasti kenal deh..." jelas Sari.
"Yang bener Sof...Kok aku gak tau ya...? Siapa si Sof?"
"Ah udah dech...gak usah bahas itu..." Jawab Sofi cemberut, namun wajahnya terlihat memerah karna malu.
"Eh iya...aku harus segera pergi." Afifa melirik jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya. "Aku duluan ya...mau ke mushola dulu. "Afifa menggendong ranselnya. "Eh Sof...kamu masih hutang penjelasan ya... daaaah..." Afifa ngacir dari hadapan kedua sahabatnya.
*****
"Assalamualaikum..." Afifa membuka pintu
"Waalaikum Salam. Eh udah siap Dek...?" Fauzi bangkit dari duduknya.
"Iya... Ayo Kak..." Afifa menghampiri suamunya dan mencium punggung tangannya.
"Ya udah...Yuk sudah siang..." Fauzi melirik jam tangannya. "Sudah Sholat Dek?" tanya Fauzi sambil berjalan.
"Sudah.. tadi di Kampus. Aku titip tas ku disini ya Kak..." Jawab Afifa meletakan tas ranselnya di atas meja kerja Fauzi lalu mengikuti langkah suaminya keluar toko.
Fauzi mengangguk. "Kita naik motor kamu aja ya...biar cepet. Mobil juga masih di Rumah."
"Oke..." Afifa tersenyum. " Ini kuncinya." Mengulurkan tangan dan memberikan kunci yang masih dipegangnya.
Fauzi mengambilnya dan menghidupkan starter motor Afifa, lalu perlahan melajukan motornya berboncengan dengan istrinya. Ragu-ragu Afifa memegang pinggang suaminya.
Selama perjalanan Afifa hanya senyum-senyum sendiri menikmati moment langka ini, betapa tidak setelah 4 bulan lamanya menikah baru pertama kali ini Suaminya memboncengnya pakai motor. Afifa senang sekali duduk begitu dekat dengan suaminya, dia ingin sekali memeluknya dari belakang, tapi apa kata orang nanti, disiang bolong peluk-pelukan di atas motor...Ih...malu banget...fikirnya. Mungkin dia tidak sadar kali ya...kalau orang yang dihadapannya adalah suaminya sendiri, bebas mau berbuat apapun selama tidak merugikan orang lain. (itumah maunya Author aja readers...😀).
Sepuluh menit diperjalanan, Fauzi memarkirkan motornya tepat didepan sebuah restaurant yang terdapat plang beras didepannya bertuliskan "Astro Resto." Mereka turun dan berjalan menuju pintu utama resto. Seorang pelayan mempersilahkannya masuk menuntunnya menempati tempat duduk di sebelah kanan, terdapat meja berbentuk persegi dan 4 kursi disana. Mereka mengikuti petunjuk pelayan, dan duduk berhadapan.
"Mau makan apa Dek?" Tanya Fauzi
__ADS_1
Afifa mengambil daftar menu yang sudah tersedia dimeja. matanya beralih dari gambar satu menu ke menu lainnya. "Bakso aja dech...Sama es teh manis." Jawab Afifa menunjuk salah satu gambar pada daftar menu. Ya apa boleh buat dari berbagai makanan enak yang tersedia di restourant manapun, kalau lihat menu bakso, kayaknya Afifa gak bisa pindah kelain hati. ke lain makanan maksudnya 😀.
Fauzi memanggil pelayan dengan isyarat tangannya. lalu menunjukan pesanan mereka.
Pelayan itu mengangguk. dan berlalu dari hadapan mereka.
Afifa mengetuk-ngetukan jarinya ke meja, sesekali menarik nafas panjang, Dia agak bingung harus memulai pembicaraan dari mana, padahal berbagai pertanyaan yang sudah ia rangkai sudah berjubel dikepalanya.
"Kenapa Dek?" tanya Fauzi yang menyadari tingkah laku istrinya.
Afifa kembali menarik nafas panjang dan mengalihkan pandangannya menatap suami dihadapannya. "Apa boleh Fifa bertanya sesuatu Kak?" tanya Afifa ragu.
"Tanya apa?" Jawab Fauzi.
"Emmmmm...Apa Kak Aji punya masalah?" dengan hati-hati Afifa mengeluarkan kata-katanya.
"Masalah? Aku...."
"Dreeet...dreeet..." Suara ponsel Fauzi menghentikan ucapannya.
"Sebentar..." Fauzi mengangkat telapak tangan kanannya ke arah Afifa. lalu menerima panggilan di layar ponselnya.
Afifa terlihat tidak senang dengan panggilan masuk itu.
"Waalaikum salam..." Ucap fauzi menjawab salam seseorang disebrang sana.
....................................
"Ya...bawa kemari aja berkasnya".
.....................................
"Aku di Astro, depan proyekmu, kesini aja, sekalian makan siang."
......................................
"Ya... ada Afifa juga"
......................................
"Aku tunggu...Waalaikum Salam."
"Glek...." Afifa menelan salivanya saat mendengar namanya disebut suaminya. membuatnya berfikir Siapa yang baru saja menghubungi suaminya? Selama ini Afifa tidak pernah mengenal klien suaminya...Dia terus berfikir, dan entah kenapa jantungnya mulai berdebar.
*****
Bersambung...😊❤...
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
**Yang Udah komen... makasih ya... karena udah membangkitkan semangat Author nich untuk melanjutkan ceritanya...
Ayo...readers...kasih komentarnya dong...biar tambah semangat...
__ADS_1
Jangan lupa "Vote", ketuk tanda ❤ diberanda depan dan selalu kasih 🖒di setiap episode nya...😉
LOVE YOU ALL....❤❤❤**