
Sampai kapan kita seperti ini kak? kamu sama sekali tidak terpengaruh dengan ucapan mama. kenapa wajahmu begitu santai. Apa aku sungguh tidak menarik bagimu... Ah...fikiran itu datang lagi...
Afifa berusaha menyingkirkan fikiran itu, sampai akhirnya dia terlelap.
Sebelum subuh Afifa sudah terbangun, sebenarnya masih pukul 2 pagi. masih terlalu malam memang, tapi sekuat apapun dia memejamkan matanya kembali, tapi ingatannya terus terjaga. Afifa memutuskan untuk bangun dan mengambil air wudlu, lalu Sholat tahajud, di sela do'anya dia melirik ke arah suaminya yang masih tertidur pulas diatas ranjang.
Dipandangnya wajah itu dari tempat sholatnya, dia masih bersimpuh diatas sajadah lengkap dengan balutan mukena putihnya. dia tidak habis fikir dengan apa yang terjadi dengan suaminya. seorang pria normal tidak mungkin membiarkan begitu saja wanita yang selama ini selalu tidur disampingnya, yang jelas-jelas sudah menjadi istri syahnya. Mungkin bagi seorang wanita, bukan hal yang sulit menahan keinginan untuk berhubungan badan dengan suaminya yang syah, tapi ini lebih kepada kepercayaan dirinya.
Semua wanita pasti merasakan betapa sakitnya saat seorang lali-laki yang sangat dicintai terlebih sudah menjadi suami yang syah sama sekali tidak tertarik padanya, tanpa mengetahui kesalahan apa yang telah diperbuatnya atau mungkin alasan dari semuanya, itu sungguh membuat seorang istri kehilangan kepercayaan diri.
Ini bukan karena Afifa seorang pemalu atau rendah diri. sejak dulu Afifa selalu percaya diri apalagi jika berkutat dengan berbagai matakuliah dikampusnya atau mata pelajaran di pesantren dan di sekolahnya dulu. Tentu saja Afifa adalah gadis cerdas yang selalu unggul dibanding teman-temannya. ditambah dengan perangainya yang selalu ceria, wajahnya yang manis dan selalu ramah pada setiap orang membuatnya memiliki banyak teman dan disukai orang-orang disekitarnya.
Afifa juga seperti gadis lain yang menikmati masa remajanya, meski selalu tinggal di pesantren dimasa sekolahnya, Afifa tetap mempunyai pujaan hati yang sangat mencintainya, meski sebenarnya hanya pacaran lewat beberapa surat, itu sudah cukup membuatnya menikmati masa remajanya.
Afifa kembali mengenang masa indah itu. ingatannya menari-nari ketika dengan susah payah dia menyembunyikan beberapa surat dari Kak parid karna akan ada pemeriksaan kamar santri.
Tiba-tiba saja wajah itu terlintas kembali. wajah yang membuatnya sulit berpaling dan memberikan kesempatan pada yang lainnya untuk sekedar mengisi ruang kosong dihatinya. Seandainya saat ini dia yang terbaring dihadapannya...
"Ah..." Afifa menepis ingatannya, diusapnya wajahnya dengan kasar. "Astaghfirullohal Adziiiim... apa yang kamu fikirkan afifa." gumamnya pelan namun tegas, seolah mengutuk apa yang baru saja terlintas difikirannya. Afifa tidak mau menyesali apa yang terjadi dan sudah menjadi jodohnya. Afifa meyakinkan dirinya bahwa jodoh yang dipilih Tuhan untuknya, pasti itulah yang terbaik.
__ADS_1
Afifa bangkit lalu memutuslan untuk pergi ke mushola belakang untuk membaca Al'qur'an. dikamarnya terlalu gelap, afifa tidak bisa membaca hanya dengan cahaya lampu malam, dia juga tidak berani menyalakan lampu kamar karna suaminya masih tertidur.
*****
Keluarga Fauzi sudah dua hari berlibur di rumah Afifa. hari ini mereka harus kembali, mereka tidak bisa terlalu lama meninggalkan toko dan pekerjaannya. meski sebenarnya Cici merengek masih ingin tinggal bersama tantenya. Setelah lama dibujuk dan Afifa berjanji akan main ke semarang, wajah mungil dan lucu itupun mengiyakan untuk ikut pulang bersama ayah dan bundanya. Entahlah saat melihat Afifa Cici langsung saja akrab dan menempel pada tanteu barunya itu, padahal mereka baru bertemu satu kali pas resepsi pernikahan. mungkin karena sikap Afifa yang langsung ramah padanya dan hadiah boneka lucu berbentuk beruang putih kecil yang sempat diberikan Afifa padanya waktu itu, cukup membuat hatinya terpaut pada tante barunya. meski sebenarnya boneka itu adalah hadiah pemberian Farid padanya yang selalu ia rawat selama ini. Kini setelah menikah dia harus membuang jauh kenangan itu.
Sepeninggal keluarga Fauzi Afifa kembali pada aktivitas semula. Hari ini Afifa belum ada jadwal masuk kuliah, dan jam mengajar Afifa pun hari jum'at dan sabtu saja. Alhirnya dia memutuskan untuk membersihkan rumahnya. Pas masuk mengajar nanti baru Afifa mampir ke rumah Abi dan Uminya.
Waktu menunjukan pukul 11 siang ketika Afifa selesai membersihkan rumah dan aktivitas ibu rumah tangga lainnya. Ia memutuskan untuk memasak makan siang, dia berfikir untuk membawa makan siang ke toko suaminya. Afifa bersemangat sekali memasak makanan kesukaan suaminya, oseng-oseng ikan cumi dan tumis kangkung, tak lupa sambel tomatnya. selama satu jam berkutat di dapur, akhirnya selesai juga, Afifa mengemas makanannya pada dua buah rantang kecil milik nya dan milik bi yati yang belum sempat dikembalikan saat membawa makanan sepuluh hari yang lalu. Ya dia tidak lupa membungkus juga makanan untuk bi Yati.
Adzan dzuhur berkumandang. Afifa bergegas menunaikan sholat dzuhur. selesai sholat tak lupa dia memoles wajahnya dengan makeup tipis karena akan bertemu suaminya. setelah merasa yakin, dia bergegas menuju toko suami nya dengan menenteng dua rantang dikedua tangannya.
Afifa menghentikan langkahnya saat melihat suaminya sedang berbicara dengan seorang laki-laki yang hanya terlihat punggungnya, meski dalam ruangan tapi dindingnya terbuat dari kaca tebal transfaran, sehingga Afifa dapat melihat aktivitas didalam ruangan itu.
"Ada tamu ya pak?" tanya Afifa pada pekerja yang mempersilahkannya.
"Iya Non. itu temannya Bapak, sekaligus rekan bisnisnya." jawabnya.
"Oh..." Afifa masih terdiam ditempatnya.
__ADS_1
"Non masuk aja..."
"Nanti mengganggu lagi pak..." jawab afifa
"Sepertinya mereka sudah selesai dari tadi Non....barusaja mereka kembali dari mesjid." jelas pekerja itu.
"Oh begitu ya?" tanya Afifa. yang ditanya mengangguk meyakinkan. "Ya udah aku masuk aja ya pa..." katanya sambil tersenyum.
Afifa mendekati ruangan suaminya dan mengetuk pintu kaca dihadapannya. "Assalamualaikum."
"Waalaikum salam." jawab dua orang didalam ruangan itu.
"Masuk Dek..." Pinta Fauzi yang dapat melihat dengan jelas bahwa istrinya yang datang.
Afifa membuka pintu, senyum manisnya terpancar saat melihat sosok suaminya yang tersenyum pula menantikan kedatangannya. Afifa tiba-tiba menghentikan langkahnya saat pandangannya tertuju pada tamu suaminya yang ternyata sangat dikenalnya. Senyumannya langsung memudar, jantungnya berdebar kencang. dia tidak menyangka akan dipertemukan kembali pada situasi seperti ini.
*****
Bersambung... 😊❤
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=