
Fauzi dan Afifa pulang ke rumahnya, mereka berjalan beriringan, sampai dirumah Afifa meletakan rantang makanan di meja makan lalu mengambil handuk untuk mandi suaminya.
"Sayang mandi dulu.." Kata Afifa.
Fauzi dikagetkan lagi dengan panggilan yang baru kali ini dia dengar dari mulut istrinya. "Apa?" tanya nya heran.
Afifa tersenyum. "Boleh kan Afifa panggil sayang?"
"O...iya haha...tentu saja." Fauzi menggaruk kepala yang tidak gatal.
Afifa tetap tersenyum. "Ayo...mandi dulu, biar seger." Afifa menarik lengan suaminya menuju kamar mandi yang ada didalam kamarnya. Lalu menyiapkan pakaian rumah untuk suaminya dan di letakan di atas tempat tidur.
*****
Setelah makan malam seperti biasa Fauzi duduk di sofa ruang keluarga sambil nonton acara televisi, tapi kali ini tidak sendiri. Afifa duduk disamping suaminya.
"Sayang..." Panggil Afifa sambil memberanikan diri menyenderkan tubuhnya kepada suaminya.
"Hmmm..." jawab Fauzi tanpa menolehnya.
"Afifa boleh tanya gak?"
"Apa?"
"Menurut Kak Aji Afifa itu seperti apa sih?" dengan hati-hati Afifa mengatur pertanyaannya.
__ADS_1
"Emmm... maksudnya?" Fauzi balik tanya.
"Ya...Maksudnya...posisi Afifa dihati Kak Aji."
"Kok kamu gitu nanya nya? kenapa?" Fauzi membenahi posisi duduknya. Matanya tertuju pada wajah istrinya yang kini tertunduk disampingnya.
"Afifa nggak mau kalau Afifa hanya jadi beban buat Kak Aji."
"Beban apa maksud kamu dek...?"
"Kita Sudah hampir 2 bulan menikah Kak, tapi tak pernah sekalipun aku melaksanakan kewajiban sebagai seorang istri." Afifa tak berani mengangkat kepalanya.
"Itu akan jadi kewajiban jika suamimu meminta haknya." Jawab Fauzi
"Lalu kenapa Kak Aji tidak pernah meminta hak itu pada Afifa? Apa Afifa sama sekali tidak menarik untuk Kak Aji, Apa Afifa tidak layak dicintai?" Tanya Afifa mulai terisak.
Afifa mengangkat kepalanya, pandangannya yang basah lurus menusuk pada mata suaminya, dia kaget dengan panggilan sayang dari suaminya.
"Aku tahu, kewajiban seorang suami bukan hanya memberi nafkah lahir tapi juga nafkah batin." Pandangan Fauzi menerawang ke langit-langit rumahnya. "Tapi untuk saat ini aku minta maaf, aku belum bisa memberikan nafkah batin padamu. bukan karena aku tidak mencintaimu, setidaknya sampai kamu lulus kuliah nanti."
"Tapi kenapa kak?" Tanya Afifa yang masih penasaran
"Hahhhhhh..." Fauzi menghembuskan nafas dengan sangat panjang. "Saat waktunya tepat aku pasti akan mengatakan semuanya padamu."
Afifa berfikir sejenak, menerka-nerka sesuatu yang mungkin terjadi pada suaminya. tapi Afifa sama sekali tidak menemukan jawabannya.
__ADS_1
"Apa benar Kak Aji mencintai Afifa?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.
Fauzi menatap tajam istrinya, pandangan mereka bertemu. "Sangat..." Jawabnya singkat.
Seketika raut wajah Afifa langsung berubah, matanya yang masih basah dengan sisa airmata langsung berbinar, senyuman menghiasi wajahnya.
"Sungguh Kak...?" kembali bertanya seakan tak percaya.
Fauzi mengangguk sambil tersenyum meyakinkan istrinya. Satu kecupan mendarat di kening Afifa.
Afifa memeluk suaminya. Fauzi menyambutnya.
"Apa kamu tau Kak betapa aku mencintaimu. Aku tidak akan menuntut nafkah batinku sampai Kak Aji benar-benar menginginkannya, tapi aku mohon tunjukanlah kasih sayangmu padaku dalam keseharian kita, agar aku yakin bahwa aku tidak sendiri, bahwa ada orang yang mencintaiku, itu saja, itu sudah membuat aku sangat bahagia", Panjang lebar Afifa bicara dalam pelukan suaminya.
"Baiklah sayang..., aku akan berusaha." Jawab Fauzi melepaskan pelukannya. "Sudah larut sebaiknya kita tidur."
Afifa mengangguk. Fauzi mematikan televisi. lalu melingkarkan tangannya di pundak istrinya, masuk ke kamar mereka.
Mereka berdua naik ke tempat tidur, Fauzi membentangkan tangannya agar istrinya tidur diatas lengannya yang kokoh, lalu memeluknya.
Afifa merasa sangat nyaman berada dalam dekapan suaminya. diapun terlelap menyambut indahnya mimpi yang selama ini ia dambakan.
*****
Bersambung...😊❤
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=