
Afifa bangun dari tempat tidur, dia berfikir akan membuat kejutan untuk suaminya, dia segera pergi ke toko bunga, banyak bunga yang ia beli untuk mempercantik rumahnya, hiasan bunga tiruan yang terpasang diruang tamu dia ganti dengan bunga sungguhan, membuat harum seisi ruangan, begitupun dengan bunga yang ada diruangan lainnya, terutama didalam kamarnya.
Afifa asyik menghias rumahnya sampai tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 5 sore, Afifa segera membersihkan dirinya, memakai pakaian rumahan terbaik dan berhias menunggu suaminya pulang? Sudah hampir maghrib suaminya belum pulang juga, dia mencoba menelponnya, tapi tidak juga diangkatnya, Afifa semakin gelisah, diapun bermaksud untuk menyusul suaminya ke toko.
Afifa mengambil kerudung instannya, lalu berjalan menuju pintu keluar, saat dia membuka pintu, betapa kagetnya dia, ternyata suaminya sudah berdiri didepan pintu rumahnya.
"Kak Aji???" tanya Afifa kaget.
"Iya, Assalamualaikum istriku"
"Waalaikum salam, Kak Aji kemana aja si? kok baru pulang sudah hampir magrib?" Afifa cemberut.
"Lho...suami baru pulang kok malah cemberut?"
"Abisnya bikin khawatir aja, mana telponku gak diangkat lagi" masih dengan nada marahnya. Afifa meraih tangan suaminya dan menciumnya.
"Hmmmm...udah dulu dong marahnya," Cup... Fauzi mencium pipi Afifa.
Afifa terhentak, "Ih...cari kesempatan aja ya..."Afifa mrncubit pinggang suaminya.
"Awww...sakit, ha ha ha..., Maaf...aku tadi dari toko baruku, lagi diperjalanan, tanggung, sudah hampir sampai juga".
Fauzi terdiam, hidungnya mencium aroma yang berbeda dari rumahnya
"Emmmhhh...wangi sekali". Ucap Fauzi.
"Apa Kak Aji suka?"
"Emmm...tapi aku lebih suka wangi tubuhmu", Ucap Fauzi sambil membenamkan kepalanya kepundak Afifa.
"Ih...kak Aji ngapain? sudah mau maghrib ayo bersiap," Afifa tersenyum sambil mengangkat kepala suaminya.
Fauzi tersenyum lalu berjalan mengikuti langkah istrinya, dia masuk kekamar mandi untuk membersihkan dirinya dan bersiap berangkat ke mesjid.
Afifa masih duduk dimushola diatas sajadahnya, lengkap dengan mukena yang masih menutupi seluruh badannya, dia sengaja tidak beranjak dari sana untuk menunggu waktu isya melanjutkan bacaan Al-qur'annya.
Beberapa ketukan dari pintu rumahnya diikuti ucapan salam seseorang terdengar olehnya, dia menatap jam dinding menunjukan pukul 7 kurang 15 menit, dia merasa heran karena biasanya suaminya pulang selepas sholat isya, diapun bergegas membuka pintu rumahnya.
"Waalaikum salam" Ucap Afifa
Tampak 1 orang pria dan 2 orang wanita didepan pintu rumahnya terlihat sangat hati-hati membawa beberapa bingkisan tersenyum ramah kepadanya. Afifa melihat pintu gerbang rumahnya terbuka dan ada sebuah mobil didepannya.
"Apa betul ini rumah Pak Fauzi?" tanya seorang wanita.
"Betul, Ada apa ya?"
"Kami petugas pengantar pesanan Pak Fauzi".
"Oh...iya silahkan" Afifa masih bingung, dengan apa yang mereka bawa, tapi dia segera melihat tanda terima yang diserahkan kepadanya dan menandatanganinya.
__ADS_1
"Mau disimpan dimana bu barangnya?" tanya seorang pria yang sudah tampak pegal membawa barang bawaannya.
"Oh...Silahkan masuk, letakan dimeja depan sofa saja" Ucap Afifa kemudian, dia melangkah menuju sofa diruang tengah diikuti ketiga petugas tadi.
Ketiganya menyimpan benda yang dibawanya diatas meja berukuran besar diruang keluarga, dua buah dus besar bertuliskan selamat menikmati dan satu buah buket bunga asli yang sangat cantik dan wangi.
Setelah selesai dengan tugasnya, petugas itu pamit, Afifa mengantarkan mereka sampai pintu depan. Terdengar adzan isya berkumandang, Afifa yang masih mengenakan mukenanya langsung saja masuk ke mushola untuk menunaikan kewajibannya sebelum sempat membuka semuanya.
Selesai sholat dan membereskan alat sholatnya Afifa berjalan menuju ruang keluarga, dia yang penasaran dengan isi dari kardus itu segera membukanya, dan waaaah... Afifa tersentak kaget, didalamnya terdapat cake berbentuk hati berhiaskan gula creemy dan coklat bertaburan bertuliskan "selamat ulang tahun" terdapat angka 22 diatasnya, Afifa berfikir, bagaimana bisa dia lupa kalau hari ini tanggal 13 April, tanggal kelahirannya.
Afifa terus memandangi cake itu, matanya mulai berkaca-kaca, dia membuka kardus yang kedua, Afifa semakin terharu, Nasi tumpeng yang ditata rapi juga berbentuk hati, lengkap dengan lauk-pauk dan sayuran disekelilingnya.
Dia mengambil sebuah buket yang tersimpan rapi dipinggir meja, lalu membuka plastiknya, aroma bunga menyeruak menyebar keseluruh ruangan, dilihatnya ada sebuah kertas menempel disana, pelan-pelan Afifa membacanya, tulisan tangan suaminya.
"*Hal terindah dalam hidupku adalah ketika aku masih diberi kesempatan untuk hidup bersamamu. Seiring berjalannya waktu, semoga cinta kita selalu diberkahi olehnya. Aku tau mungkin aku terlambat memberimu kebahagiaan seutuhnya, tapi dihari ulang tahunmu ini, kita akan memulai perjalanan hidup kita, membina rumah tangga yang hanya ada kebahagiaan didalamnya, Terima kasih telah hadir dalam hidupku, terima kasih telah menemaniku sampai saat ini, selamat ulang tahun istriku..."
Afifa menitikan air mata membaca kat*a-kata indah yang ditulis oleh tangan suaminya sendiri, dia masih saja berdiri hingga pelukan hangat mendekapnya dari belakang punggungnya, membisikan sebuah kata-kata tepat ditelinganya.
"Selamat Ulang Tahun istriku"
Afifa tersentak, tak menyadari kedatangan suaminya, "Eh...Kak Aji? Maaf...aku tidak menyadari kehadiranmu", Ucapnya sambil mengusap air mata yang terlanjur jatuh dipipinya.
"Tidak apa-apa, aku jadi bisa menyaksikan ekspresimu saat membaca ucapanku"
Afifa membalikan badannya menghadap suaminya, "Bagaimana Kak Aji melakukan semuanya? aku sendiri tidak menyadari kalau hari ini adalah hari ulang tahunku"
Afifa menutup mulutnya, dan merangkul suaminya, diapun menangis didada suaminya.
Fauzi memeluknya, lalu menarik tubuh Afifa dan memakaikan kalung pada leher istrinya. Kalung itu nampak cantik melingkar dileher jenjang Afifa.
"Ayo kita makan kue dan tumpengnya!" Ajak Fauzi, Afifa mengangguk.
Merekapun memotong kue, saling menyuapi, lalu makan malam dengan tumpeng pesanan Fauzi. Setelah cukup kenyang Afifa membereskan kembali makanan yang masih tersisa banyak, dia berniat membaginya kepada para pekerja ditoko suaminya.
Afifa mencuci piring kotor di wastafel dapur, Fauzi menghampirinya.
"Sudah selesai?" tanya Fauzi.
"Iya Kak...sudah, aku cuci tangan dulu" jawab Afifa
"Sekalian berwudlu ya, aku tunggu dikamar" Ucap Fauzi kemudian sambil berjalan menuju kamarnya, melakukan semua adab-adab sesuai dengan yang dikatakan gurunya, Fauzi tau, meski ini bukan malam pengantinnya, kali ini dia ingin melakukannya seperti layaknya malam pertamanya yang telah tertunda.
Afifa berwudlu dikamar mandi belakang, lalu masuk kamar, dilihatnya suaminya sudah rapi dengan sarung dan pecinya menunggu dirinya untuk melakukan sholat. Afifa segera memakai mukenanya, lalu berdiri diatas sajadah dibelakang suaminya, keduanya tenggelam bercengkrama dengan Tuhannya, tak lupa beberapa suroh pendek dan solawat mereka bacakan, dengan khusu bermunajat berdo'a kepada Alloh agar mereka dapat melewati malam ini diatas ridhoNya.
Selesai dengan do'anya Afifa meraih tangan suaminya dan menciumnya, Fauzi mencium kening Afifa cukup lama, keduanya menatap photo pernikahan yang tergantung didinding kamarnya lalu tersenyum.
"Kak...bolehkan Fifa berhias terlebih dahulu?" Ucap Afifa
Fauzi tersenyum dan mengangguk, meski sebenarnya tanpa berhiaspun istrinya sudah terlihat cantik dimatanya, tapi dia ingin menghargai keinginan istrinya untuk menumbuhkan kepercayaan dirinya.
__ADS_1
Afifa duduk didepan meja riasnya, memoles tipis wajah cantiknya, mengoleskan sedikit minyal wangi ketubuhnya.
Fauzi berdiri, mengambil sisir dimeja rias, lalu dengan lembut menyisir rambut istrinya yang tergerai panjang sampai kepinggang, bulatan-bulatan kecil diujung rambutnya menambah manis penampilannya.
Fauzi membungkukan tubuhnya, matanya lurus menatap wajah istrinya yang tersipu terpantul dibalik cermin. "Sudah cantik" Ucapnya sambil mengecup pucuk kepala istrinya.
Tangan Fauzi mulai bergerak menyusuri bahu Afifa perlahan turun kepinggangnya, mengangkat tubuh Afifa, membuat Afifa berdiri, Fauzi mulai menciumi tubuh Afifa.
Afifa terdiam membiarkan suaminya melakukan semua yang diinginkannya, sampai pakaian nya terlepas dari tubuhnya dan tubuh suaminya, dengan sigap Fauzi mengangkat tubuh istrinya dan menidurkannya perlahan ditempat tidur.
Wajah mereka sudah sangat dekat, tiba-tiba Fauzi memejamkan matanya dengan erat lalu tertunduk, kedua tangannya terkepal meremas sprei yang menutupi tempat tidur disamping Afifa.
Afifa yang sudah mengetahui kondisi suaminya segera memegang pipi suaminya dengan kedua telapak tangannya sambil berusaha mengangkat wajah suaminya, "Kak...ingatlah aku istrimu Afifa, kita sudah menikah, kita tidak sedang melakukan dosa, lihat aku Kak! buka matamu!".
Fauzi membuka matanya perlahan, Afifa tersenyum, "Aku istrimu, lihat cincin ini!" Afifa memperlihatkan jarinya, "dan itu photo pernikahan kita, lihatlah!"
Fauzi menatap photo besar didepannya, lalu menoleh ke photo dibelakang punggungnya, dia mulai tersenyum, lalu mengangguk perlahan, Afifa membalas senyumannya, lalu merangkul suaminya.
Fauzi kembali menciumi wajah istrinya, ******* bibirnya dan menyentuh setiap bagian dari tubuh istrinya dengan tangan dan bibirnya.
Afifa membiarkan suaminya melakukan semua haknya, diapun menjerit saat merasakan sesuatu yang sakit dibagian intimnya, jeritannya tertahan saat menyadari semua kebahagiaan yang ia rasakan saat ini, airmatanya meleleh, tapi bukan air mata karena rasa sakitnya, melainkan rasa bahagianya karena kini suaminya sudah sembuh seutuhnya, tak henti-hentinya Afifa mengucapkan hamdalah, bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Tuhan kepadanya malam ini.
30 menit berlalu, sampai Fauzi terkulai lemas diatas tubuh Afifa, kepalanya menyusup keleher Afifa, tak lama Afifa melihat guncangan dipunggung polos suaminya, lalu terdengar suara isakan kecil dari mulut suaminya. Afifa kaget, dia menggoyangkan bahu suaminya, "Kak Aji...!" panggil Afifa, Fauzi tidak menjawab hanya tetus terisak, "Sayang...ada apa?" tanya Afifa kemudian.
Afifa merasa heran dengan tingkah suaminya, bukankah biasanya seorang istri yang menangis dimalam pertamanya karena merasa sakit, mengapa malah suaminya yang menangis terisak disini?
"Aku berhasil Dek...aku sembuh..." Ucap Fauzi pelan disela isakannya.
Afifa mengelus punggung suaminya, "Iya Sayang"
Fauzi mengangkat tubuhnya, matanya berbinar sedikit basah, lalu menciumi wajah Afifa dan memeluknya dengan erat, cukup lama kedua insan itu berpandangan, akhirnya Fauzi menjatuhkan tubuhnya disamping istrinya, menarik selimut yang sudah berserakan dibawah kakinya, menitupi tubuhnya dan tubuh istrinya sampai kelehernya, Tangan kirinya merangkul kepala Afifa, membiarkan istrinya tertidur dilengannya, tangan kanannya menggenggam erat tangan Afifa dan menciuminya, Nafasnya masih tersengal tak beraturan diiringi senyuman yang terus terpancar dibibirnya. rasa syukur terus mereka panjatkan, mereka begitu bahagia seolah barusaja meraih kemenangan setelah berjuang melawan musuh di medan perang.
*********
Bersambung...😊❤...
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hai Readers...jari-jariku bergetar menulis part ini, mohon maaf jika kurang memuaskan...🙏
mohon jangan didemo ya...😉
Satu lagi... 13 April besok adalah hari ulang tahun Author... harapanku semoga seiring bertambahnya usiaku banyak pula yang mendo'akanku, karna sebenarnya ulang tahun itu hakekatnya bukanlah bertambah usia, tapi berkurang usia, karena usia seseorang sudah digariskan Tuhan jumlahnya...😊
jangan lupa......! like, Vote, dan komentarnya masih tetap ditunggu...😉😉😉😉😉
Love You All....❤❤❤❤❤❤😙😙😙😙😙
By : Rahma Khusnul # 😊
__ADS_1