Seikhlas Cinta Afifa

Seikhlas Cinta Afifa
Mencoba hidup terpisah...


__ADS_3

Afifa terpaku, jantungnya seolah berhenti berdetak, tubuhnya tidak bergerak, tatapannya kosong penuh dengan cairan bening yang terbendung oleh kelopak matanya, tangannya bergetar setelah pesan itu terkirim, tangisnya pun pecah seiring jatuhnya ponsel dari genggamannya.


Tubuhnya lemas, jatuh kelantai, lalu duduk bersandar ke tepi tempat tidur sambil memeluk kedua lututnya. airmatanya terus keluar, fikirannya kacau memikirkan apa yang baru saja dilakukannya, dan apa yang akan terjadi kedepannya.


Pukul 09 malam...


"Tidid...tidid..." Suara klakson mobil terdengar dari luar pintu gerbang rumahnya, Afifa tau itu adalah suara mobil suaminya. Dia segera lari ke kamar mandi lalu membasuh wajahnya, dilihatnya pantulan wajahnya dicermin. Afifa keluar dari kamarnya, mengambil kerudung instan yang tergantung dikamarnya, lalu memakainya sambil berjalan menuju pintu gerbang.


Afifa berusaha berekspresi sebiasa mungkin didepan suaminya, seulas senyum masih mampu ia sunggingkan untuk menyambut suaminya pulang.


Fauzi memasukan mobilnya ke garasi, setelah menutup dan mengunci pintu gerbang juga garasi, Afifa menyalami dan mencium tangan suaminya. Fauzi menggandeng bahu istrinya masuk kedalam rumah.


"Fifa buatkan minuman hangat ya Kak"


"Iya, makasih sayang" Jawab Fauzi sambil melangkah menuju sofa.


Tak lama Afifa sudah membawa dua cangkir teh hangat, diletakannya dimeja dihadapan suaminya. diapun duduk disamping suaminya.


"Apa kabar Apa kiyai Kak?"


"Alhamdulillah, beliau baik, titip salam juga untuk santri kesayangannya". Fauzi tersenyum ke arah istrinya.


Afifa tersenyum namun senyum itu dirasakan berbeda oleh Fauzi, seperti ada kepedihan yang berusaha ditutupi. dipandangnya wajah istrinya, matanya yang sembab menunjukan situsi hati Afifa yang sedang kacau saat ini.


"Dek...apa yang terjadi?" tanya Fauzi setelah minum teh hangat buatan istrinya. dipandangnya mata istrinya yang sembab.


Afifa tertunduk sambil menghela nafas panjang. "Aku...aku sudah menghubungi Mbak Wulan, dan..." Afifa menatap suaminya yang masih terus menatapnya, Afifa kembali tunduk, "Maafkan aku Kak...aku tidak tau lagi apa yang harus aku lakukan agar dia mau menemuimu, aku tiba-tiba saja mengirim pesan padanya bahwa..." Afifa terdiam lagi, air matanya sudah memenuhi kelopak matanya.


"Apa?" Tanya Fauzi penasaran, dipegangnya tangan istrinya.


"Bahwa aku akan melakukan apapun agar dia mau bertemu denganmu dan memaafkanmu, meskipun...." Air mata Afifa mulai terjatuh "Aku harus melepaskanmu".


Seketika Fauzi melepaskan genggaman tangannya dan berdiri. "Apa yang kau katakan? kenapa kau tidak berfikir panjang? apa kau tau itu artinya apa?"


Afifa menangis "Aku tau Kak...aku...aku terpaksa melakukan itu".


Fauzi berjalan mondar-mandir dihadapan Afifa, lalu berdiri tegak dan melipatkan kedua tangannya, menatap tajam kepada istrinya yang masih saja tertunduk menahan tangis. "Kenapa kau melakukan hal yang hanya akan menyakiti kita berdua? Kalau memang itu permintaan wanita itu, lebik baik kita tidak usah menemuinya, kita akan terus seperti ini, hidup berdua dan bahagia dengan cara kita sendiri".


Afifa mulai mengangkat kepalanya, "Lalu bagaimana dengan Talita?"


Fauzi mengerutkan keningnya. "Talita? Maksudnya?"


"Apa Kak Aji ingat dengan anak perempuan yang lucu dan cantik yang pernah menghampiri kita saat kita datang ke sekolah Nisa?" Fauzi duduk disamping Afifa, "Anak itu adalah anaknya Wulan, dan mereka hanya tinggal berdua dirumahnya. Apa Kak Aji mengerti maksudnya apa?"


"Deg....!" Wajah Fauzi langsung pucat seketika, darahnya seolah berhenti mengalir. fikirannya berputar kembali pada kejadian 8 tahun yang lalu, dimana kesalahan itu terjadi, suatu kesalahan yang telah mengubah hidupnya, kesalahan yang tak pernah berhenti menghantuinya dari perasaan bersalah sehingga berdampak pada hubungan rumah tangganya hingga saat ini.


"Apa itu artinya Anak itu adalah anakku?"


Afifa mengangguk lemah, Fauzi menutup wajah dengan kedua telapak tangannya yang bergetar.


"Kak... kita harus menghadapi kenyataan ini," Afifa memegang bahu suaminya yang bergetar.


"Tapi Dek..."


"Aku tau Kak...tapi bagaimanapun, Talita berhak mendapat kasih sayangmu".


"Oke...aku akan menerima Anak itu, tapi kenapa kau ingin melepaskanku? bukankah kita tetap bisa merawatnya dan memberikan kasih sayang kita padanya?"


"Tapi...Mbak wulan yang memintaku untuk melepaskanmu," Afifa kembali tertunduk.

__ADS_1


"Lalu kau menerimanya begitu saja?" Fauzi kembali berdiri, dan menarik nafas panjang dan berat, dia kembali bicara dengan suara pelan, "Inilah yang selama ini aku takutkan, Kau tau? rasa kehilangan seseorang yang pernah kita miliki jauh lebih sakit dari pada kehilangan seseorang yang belum pernah kita miliki sama sekali,"


Fauzi melangkahkan kakinya menuju kamar, langkahnya terhenti sebentar, "Atur saja pertemuanku dengannya". Ucapnya tanpa menoleh lagi kebelakang.


Afifa hanya menangis memandang suaminya yang berlalu dari hadapannya.


Cukup lama Afifa termenung di sofa, dia bangkit mengikuti suaminya masuk kekamarnya, dia mendapati suaminya sudah tertidur membelakangi dirinya. Afifa hanya menghela nafas, lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya sisa menangis.


***


Pagi hari Afifa terbangun, rutinitas paginya dia kerjakan dengan cepat. saat semuanya sudah siap Afifa memanggil suaminya untuk sarapan, tak ada satu patah katapun keluar dari mulut mereka, keduanya terdiam, suasana diawal pernikahannya kini terulang.


Fauzi sudah siap betangkat kerja, Seperti biasa Afifa menyalaminya, keduanya saling pandang, ada kebiasaan yang kini hilang, mereka begitu canggung, sampai akhirnya Fauzi berbicara.


"Dek...apa kamu yakin akan mempertemukanku dengan wanita itu?"


"Iya" Jawab Afifa tertunduk


"Apa kamu yakin kita bisa hidup tanpa kehadiran masing-masing?"


Afifa hanya menggeleng.


"Oke...kita akan mencoba hidup berpisah untuk sementara, aku akan fokus dengan pembangunan tokoku yang baru, dan kamu Dek...kamu boleh tinggal sementara di rumah Umi, katakan pada beliau, kalau aku harus keluar kota untuk mengurus bisnisku. nanti sore aku akan mengantarmu ke rumah Umi, kita juga akan mencoba untuk tidak saling berhubungan lewat telpon."


Afifa hanya tertunduk dan meneteskan air mata, tak ada lagi kata yang sanggup ia ucapkan.


Setelah suaminya pergi Afifa mengecek ponselnya, ada pesan dari Wulan, perlahan ia membukanya, lalu membacanya dengan jantung yang berdebar.


"Baiklah, saya akan menemui kalian nanti, saat ini saya sedang diluar kota, jika saatnya tiba saya akan memberi kabar kepada anda".


Afifa memeluk ponselnya, tarikan nafas panjang terdengar dari mulutnya. Afifa terus berfikir bagaimana akan menghadapi kehidupan yang akan ia jalani dihadapannya.


"Hati-hati".Ucap Fauzi diakhiri dengan kecupan di pucuk kepala Afifa.


Afifa menatap mobil suaminya yang melaju meninggalkan dirinya.


***


Hari-hari berlalu, Afifa menjalani hidupnya dengan begitu berat, setiap hari dia hanya termenung dikamar Nisa yang kini ditempatinya sementara. Kerinduan akan suaminya semakin hari semakin bertambah, namun suaminya tidak pula menghubunginya, pernah sesekali Afifa memberanikan diri untuk menghubungi suaminya, namun dia urungkan kembali, Fikirnya jika dia menghubungi siaminya lebih dulu tentulah akan melemahkan niatnya.


Afifa juga selalu menantikan kabar dari Wulan, baik telphon ataupun hanya sekedar pesan. berkali-kali Afifa mencoba menghubunginya tapi tidak pernah sekalipun Wulan mengangkatnya, begitupun beberapa pesan yang ia kirim, tidak pernah dibalasnya.


Dua minggu sudah berlalu, saat Wisudapun tiba, Afifa tak tahan lagi menahan kerinduannya, apalagi hari ini adalah hari bersejarah bagi dirinya. Jika dia tidak datang tentulah akan jadi pertanyaan besar bagi keluarganya, Afifa coba menghubungi suaminya. Tak lama Suaminya mengangkat panggilannya.


Assalamualaikum... Terdengar suara seseorang yang sangat dirindukannya.


Afifa tersenyum, "Waalaikum salam, Kak Aji apa kabar?"


Baik, kamu sendiri apa kabar?


"Alhamdulillah, baik juga... Kak, hari ini aku wisuda, Kak Aji datang ya".


Hari ini?


"Iya"


Jam berapa?


"Jam 9"

__ADS_1


Tapi aku sedang tidak dirumah, maaf...aku sampai melupakannya.


Afifa menarik nafas, hatinya begitu kecewa, secepat itukah suaminya melupakannya, melupakan saat terpenting dalam hidupnya, membuat Afifa berfikir, Apa sebenarnya yang dilakukan suaminya selama 2 minggu ini? tidak kah dia merasakan seperti yang Afifa rasakan?


"Oh...Jadi Kak Aji tidak bisa datang? tapi Umi pasti akan bertanya Kak".


Katakan saja aku belum selesai dengan urusanku


Afifa mulai menitikan air mata, namun dengan segera ia menepisnya.


"Baiklah, kalau Kak Aji tidak bisa, Fifa akan pergi bersama Abi dan Umi".


Iya, sampaikan permintaan maafku pada mereka


"Iya, Assalamualaikum"


Waalaikum Salam


"Trup" telphon ditutup,


Afifa memeluk ponsel didepan dadanya, tetesan air mata terus keluar dari kelopak matanya. Dilihatnya jam menunjukan pukul 7 pagi, dia bangkit dan segera membersihkan dirinya.


Afifa sudah bersiap berangkat dari rumah Umi beserta keluarganya menggunakan mobil pamannya, dia terlihat anggun dengan setelan kebaya yang dipadukan dengan rok batik yang pernah dibeli bersama suaminya, pukul 09:00 mereka sudah tiba digedung tempat wisuda, Afifa segera memakai pakaian kebesaran wisuda (Toga), Afifa berjalan menuju kerumunan mahasiswa yang sudah mengenakan pakaian yang sama, lalu bergabung dengan teman-temannya dan duduk sesuai dengan nomor urut kursi yang tertera pada undangan acara. Umi dan Abi duduk diruang khusus untuk keluarga.


Acara berlangsung meriah, tiba saatnya pemberian penghargaan untuk mahasiswa berprestasi, Nama Afifa dipanggil disambut dengan tepukan riuh dari seluruh peserta wisuda dan para tamu undangan yang hadir.


Afifa sangat bersyukur, airmata tak terasa menetes dipipinya, selain karena ketidak hadiran suaminya saat itu, dia juga tidak menyangka, dibalik kemelut rumah tangganya dia mampu melewati semuanya, Afifa diberi kesempatan untuk berbicara dipodium, Afifa mengucapkan rasa syukur kepada Alloh, berterimakasih kepada seluruh dosen dan dekan juga ucapan terimakasih yang teramat besar kepada Umi dan Abinya, juga suaminya, dan ada seorang teman yang turut berjasa dalam menyelesaikan tugas akhirnya, Farid... dia yang selalu memberikan motivasi untuknya, tentu saja itu hanya ia simpan didalam hatinya.


Saat diatas podium, Afifa menghentikan pidatonya sejenak, matanya tertuju pada bayangan seseorang yang berdiri jauh diujung gedung, dia menyipitkan matanya untuk memperjelas pandangannya, namun bayangan itu seketika hilang seiring tepukan hadirin yang berada digedung besar itu. Afifa kembali berbicara, dan menutup pidatonya dengan ucapan salam.


Suara tepukan semakin riuh terdengar, saat Dekan dan para dosen menyalaminya dan mengucapkan selamat untuknya.


Afifa turun dari podium dan kembali bergabung dengan teman-temannya.


Acarapun selesai, diakhiri dengan sesi photo2 seluruh mahasiswa dan keluarga, kedua temannya terus saja bertanya kenapa suaminya tidak datang untuknya, dengan susah payah juga Afifa menjelaskan kepada mereka alasannya, tentu saja agar mereka tidak curiga. lain halnya dengan Sofi, dia selalu tau jika sahabatnya sedang ada masalah, tapi dia tidak punya kesempatan untuk bertanya saat ini.


Sofi mengingatkan kembali kepada kedua sahabatnya tentang pernikahannya, dia kekeh meminta keduanya untuk datang sore nanti.


"Fa, jadi suami kamu gak datang ya? padahal aku mau minta izin langsung padanya," ucap Sofi.


"Iya Sof...pekerjaannya belum selesai, tapi kamu tenang aja, nanti sore aku pasti datang kok, biar nanti aku minta izin padanya lewat telphon". Jawab Afifa menenangkan sahabatnya.


"Aku juga pasti dateng..."Kata Sari.


"Wokey... aku tunggu ya!" Sofi tersenyum, ketiganya berpelukan sebelum mereka berpisah untuk kembali pulang bersama keluarga masing-masing.


*****


Bersambung...😊❤...


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Maaf readers... hatiku nyesek nulis part ini...😭😭😭


Bisakah Afifa kuat menjalaninya?


Jawab di kolom komentar ya...


jangan lupa Like dan Vote...😊

__ADS_1


__ADS_2