
Selepas Maghrib Afifa masih duduk diatas sajadah dikamar Nisa, Suaminya belum juga menjemputnya.
Dia merenungi kembali semua yang telah terjadi siang tadi, wajah polos anak itu selalu menari-nari di fikirannya, senyuman manisnya, gaya bicaranya yang menggemaskan dan canda tawanya yang ringan tanpa beban. Terbayang lagi seorang ibu yang menuntunnya, memeluknya dan sangat menyayanginya, parasnya cantik, berpenampilan menarik, ramah dan tentunya memiliki kasih sayang yang berlimpah untuk anaknya, dia benar-benar seorang ibu yang sempurna.
Entah mengapa rasa percaya diri Afifa tiba-tiba hilang seketika, haruskah dia mempertemukan mereka??... seandainya dugaannya benar, dia hanyalah butiran debu yang berada diantara hubungan mereka dan suaminya, atau mungkin hanya benalu yang hanya akan menghancurkan kebahagiaan keduanya.
Rasa egopun timbul dalam jiwanya, tidak satu orangpun mengetahui masalahnya, Seandainya dia tidak mengatakannya kepada suaminya, tentulah rahasia itu akan tetap tersimpan, dan Suaminya akan tetap menjadi miliknya seorang.
Namun Afifa tidak memiliki hati sejahat itu, dia tidak punya hak memisahkan mereka, anak itu sama sekali tidak berdosa, dia berhak mendapatkan kasih sayang dan pelukan hangat dari seorang ayah. Tapi apakah dia rela???
Afifa bersimpuh diatas sajadahnya, memohon petunjuk pada yang maha kuasa, memohon yang terbaik untuk dirinya dan keluarganya, banyak sekali yang harus dia fikirkan, Uminya sedang sakit, seandainya dia tau kalau menantunya memiliki seorang putri dari wanita lain yang bahkan diluar ikatan pernikahan, apa yang akan terjadi pada keluarganya? Mungkin Umi dan Abinya akan sangat kecewa dan tidak punya muka lagi dihadapan tetangga dan sodara-sodaranya, itu akan sangat membebani fikirannya. tidak! Afifa tidak mau itu terjadi.
Afifa segera mengusap airmatanya saat terdengar suara ketukan pintu dari luar rumah Uminya.
"Assalamualaikum" Suara seseorang
Afifa segera bangkit saat tau suara suaminya yang mengucap salam, dia segera membuka mukena dan berlari ke kamar mandi untuk mencuci mukanya.
"Waalaikum salam" Jawabnya tergesa-gesa, dirumah hanya ada Afifa dan Umi yang sedang berdzikir di kamar belakang. Abi dan adik-adiknya berada di mesjid.
Afifa membuka pintu dengan memasang wajah tersenyum ke arah suaminya. "Masuk Kak!" Dia meraih tangan suaminya dan menciumnya.
"Apa terjadi sesuatu dengan Umi sayang?" tanya Fauzi saat melihat mata istrinya yang sembab. "Dimana Umi?"
"Ada dikamarnya, beliau sudah baikan"
"Terus kenapa istriku yang cantik ini seperti habis menangis?"
"Enggak aku gak nangis kok," kilah Afifa sambil mengusap sisa air mata di ujung matanya.
"Jangan -jangan kamu nangis karena menahan rindu sama suamimu yang ganteng ini ya?" goda Fauzi
"Ih apaan si..." Afifa menyikut lengan suaminya.
"Sekarang kan aku sudah disini, ayo senyum dong!" Fauzi memegang bahu Afifa. "Maaf ya aku terlambat menjemputmu. tadi aku selesaikan dulu pekerjaanku, tanggung"
__ADS_1
Afifa hanya mengangguk dan tersenyum. "Sudah sholat Kak?"
"Sudah tadi di mesjid". Jawab Fauzi.
Mereka berdua langsung menuju kamar Umi, Umi sedang bersandar di atas tempat tidur, tubuhnya masih berbalut mukena putih, tangannya memegang tasbih dan tak henti-hentinya melafalkan asma Alloh.
"Assalamualaikum Umi" Sapa Fauzi saat masuk ke kamar Umi.
"Waalaikum salam warohmatulloh, Nak Fauzi sudah datang rupanya". jawab Umi sambil menggeser duduknya ke tepi tempat tidur.
"Iya Umi, bagaimana keadaan Umi sekarang?" Fauzi mencium tangan Umi.
"Umi sudah baikan Nak, jangan hawatir. Kalian boleh pulang sekarang, nanti terlalu malam".
"Kita tunggu Abi pulang dari mesjid ya Mi," Ucap Afifa. "Baru setelah itu kita pulang".
"Ya sudah, kalau gitu ajak suamimu makan dulu sayang".
"Baik Umi". Afifa mengajak suaminya ke meja makan, "Ayo makan dulu Kak! ini Fifa yang masak kok"
Fauzi mengangguk dan tersenyum. merekapun makan malam.
Ditengah perjalanan Afifa tidak banyak bicara, sesekali dia menoleh ke arah suaminya yang sedang fokus dibelakang kemudi. Saat ini hatinya dipenuhi kebimbangan, antara diam dengan resiko rumah tangganya akan terus jalan ditempat tanpa perkembangan, atau mengatajan suatu kejujuran dengan resiko dia harus rela berbagi, dan orangtuanya menanggung beban fikiran yang teramat dalam.
"Sayang...Kok diem aja dari tadi?" Tanya Fauzi yang sadar dengan perubahan sikap istrinya.
"Ngak papa Kak...aku ngantuk aja," Seulas senyum dia sunggingkan, meskipun senyum ketir yang ia rasakan.
"Ya udah tidur aja, kalau ketiduran nanti aku gendong lagi hehe..." Fauzi mencoba menghibur istrinya.
Afifa hanya tersenyum, semakin mendengar kata-kata rayuan indah suaminya, semakin pula ia merasakan takut yang teramat dalam, takut kata-kata itu akan hilang untuknya.
Mobil Fauzi sudah terparkir dirumahnya, Afifa tidak memejamkan matanya sama sekali. fikirannya hanya menerawang, sampai tidak sadar kalau mobil itu sudah berhenti tepat didepan rumahnya.
"Sayang..., sudah sampai, kok diem aja?" Kata Fauzi sambil mengelus lengan Afifa.
__ADS_1
"E...iya, aku turun" jawabnya gelagapan. lalu membuka pintu mobil hendak turun.
"Tunggu!" kata Fauzi, Afifa menghentikan tangannya yang sudah membuka pintu, lalu menoleh ke arah suaminya. "Tumben gak minta digendong?"
"A ha ha...gak usah pasti Kak Aji capek kan?" Jawabnya.
"O...ya udah, ayo masuk, aku mau masukin mobil ke garasi dulu."
Afifa mengangguk dan memasukan anak kunci ke pintu depan rumahnya. diapun masuk dan segera membersihkan dirinya, mengganti pakaiannya yang masih mengenakan seragam mengajar.
Fauzi masuk kedalam kamar, dia menemukan istrinya sedang mandi, diapun merebahkan diri diatas tempat tidur. Tak lama Afifa keluar dan kini gantian Fauzi yang mandi. Saat Fauzi keluar dari kamar mandi rupanya Afifa sudah tidur dengan posisi miring membelakanginya. Fauzi menyimpan handuk, lalu naik ke tempat tudur mendekati tubuh istrinya.
"Sepertinya sekarang istriku yang lupa dengan peraturan kedua, kenapa ya?" ucap Fauzi dengan sindiran. Afifa tentu saja mendengarnya, tapi dia pura-pura tidur.
"Sayang..."panggil Fauzi lagi. "Apa aku punya salah, sehingga sikapmu berubah seperti ini? sepertinya ini bukan hanya karena keterlambatanku menjemputmu deh?" Fauzi meletakan dagunya di bahu Afifa, "Ayolah sayang, jangan diam saja, aku sama sekali tidak nyaman dengan situasi ini."
Afifa membalikan tubuhnya, tidak tega juga melihat suaminya terus merengek, hal itu membuat bibirnya bertemu dengan bibir suaminya, Fauzi pun tidak menyianyiakan kesempatan itu, Night kiss pun terjadi disana.
Fauzi tersenyum, tapi Afifa justru merasa hal itu sangat menyakitkan baginya, sosok anak dan bundanya kembali melintas difikirannya.
Apa aku harus mengatakannya malam ini? apa aku sudah siap dengan kenyataan yang akan terjadi nanti, aku hanya wanita biasa yang tidak akan sanggup menempuh jalan syurgamu dengan cara ini ya Alloh...aku mohon, bukakan pintu syurgamu dengan cara lain untukku. karena aku tidak akan mampu melihatnya bersama orang lain. aku takut suatu saat penyakit hati itu datang merayuku, rasa iri dan ketidak relaan yang ada dihatiku justru akan menjerumuskanku pada murkamu.
Tangan Fauzi sudah memeluk tubuh mungil Afifa, ciuman hangat juga sudah mendarat dipucuk kepala Afifa. merekapun tertidur dalam pelukan diselimuti dinginnya malam.
*****
Bersambung...😊❤...
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Readers.... 😣😣😣
Adakah seorang wanita yang tulus ikhlas sepenuh hati dan rela berbagi suami untuk meraih syurganya Alloh???
😢😢😢😢😢
__ADS_1
kasih komentar di kolom komantar ya...😊
# By : Rahma Khusnul 😊