
Pukul 10.30 Fauzi dan Afifa keluar dari area pesantren, mobil yang dikendarainya melaju membelah jalanan kota yang mulai sepi.
Sesekali Afifa melirik suaminya yang sedang fokus memandang ke arah jalan, warna merah masih tersisa dimatanya. Afifa memulai pembicaraan.
"Kak Aji gak papa?" Tanyanya ragu.
Fauzi menoleh sekilas ke arah istrinya, tampak senyuman tipis dibibirnya, "Nggak...aku baik-baik saja", Jawabnya.
"Benarkah?" Selidik Afifa
"Heem..."
"Fifa nggak mau ya, ada yang disembunyikan lagi diantara kita", Afifa cemberut, Pandangan Afifa menerawang lurus ke jalanan.
Fauzi memperlambat laju mobilnya, lalu memarkirkannya dibahu jalan. "Sayang..., Apa kamu ingin tau yang aku bicarakan dengan Apa Kiyai?" Tanya nya, mengerti dengan maksud istrinya.
"Kok berenti disini?" tanya Afifa saat sadar suaminya menghentikan mobil dipinggir jalan.
Fauzi melirik Afifa dan tersenyum. "Jangan khawatir, tidak akan ada yang aku sembunyikan darimu" Ucapnya tanpa menjawab pertanyaan istrinya. "Tadi Aku bicara banyak dengan Apa Kiyai," Pandangannya kembali lurus kedepan. "Beliau sangat mengenalku, 6 tahun aku bersamanya, Bagiku Apa Kiyai adalah guru sekaligus psikiater pribadiku, yang sangat memahamiku luar dan dalam, tak satupun yang bisa aku sembunyikan darinya, karena itu aku menceritakan semua masalah kita padanya".
"Apa pendapat beliau?" Afifa antusias mendengarkan.
"Beliau memaklumi hal itu, dia memintaku untuk rutin menemuinya seminggu sekali, dan dia juga berpesan..." Fauzi berhenti bicara, membuat Afifa semakin penasaran saja.
"Apa pesannya?"
"Agar aku tetap menemui wanita itu dan meminta maaf padanya". Fauzi terdiam, begitupun Afifa.
"Tapi bagaimana kita menemukannya?" tanya Afifa kemudian.
"Kita akan mencarinya ke Jakarta".
"Jakarta?"
"Iya, kita akan kembali kerumah orang yang membeli rumahnya dulu, kita akan bertanya padanya, semoga saja kita punya keterangan lebih darinya".
Afifa mengangguk-angguk, "Kapan Kak Aji akan ke jakarta?"
"Bukan aku, tapi kita, kita berdua akan mencarinya,"
"Kita?"
"Tentu saja kita berdua, lagi pula mana bisa aku berhari-hari jauh darimu?" Fauzi tersenyum.
"Fifa juga Kak..." Jawab Afifa tersipu.
Fauzi melepaskan sabuk pengamannya, lalu menggeser duduknya ke arah Afifa. Kedua tangannya memegang pipi istrinya. "Tetaplah disampingku dan menjadi kekuatanku". Menatap lekat mata istrinya.
Afifa mengangguk lalu tersenyum.
Fauzi mendekatkan wajahnya ke arah istrinya, hembusan nafas dari keduanya bersatu terasa begitu hangat, Afifa terdiam menerka-nerka apa yang akan dilakukan suaminya.
Eh, apa yang akan kamu lakukan disini? inikan jalan umum. aduh...kalau ada orang lewat gimana?
Fauzi tersenyum, lalu mengusap bibir mungil istrinya dengan jarinya. "Cup" satu kecupan mendarat dipucuk kepala Afifa dibalik hijabnya, lalu memeluknya dengan hangat.
"Ayo kita lanjutkan perjalanan". Fauzi melepaskan pelukannya, Afifa hanya mengangguk.
Selama perjalanan, Afifa tidak banyak bicara, ada satu perasaan aneh yang muncul pada dirinya, perasaan takut akan kehilangan, seandainya suaminya benar-benar bertemu dengan masa lalunya, Afifa mulai gelisah, dan hal itu tergambar diwajahnya, dia meremas-remas jari tangan dipangkuannya.
Fauzi dapat menangkap perubahan sikap istrinya, tangan kirinya menggenggam tangan Afifa, lalu berkata. "Apa kiyai juga bilang, jangan pernah melepaskan istrimu, karena dia adalah kekuatanmu".
Afifa menatap suaminya dan tersenyum. Pandangan Fauzi kembali fokus ke jalan.
"Sayang bagaimana kalau minggu depan kita ke Jakarta?" tanya Fauzi
"Minggu depan?"
"Iya, jadwal ngajar kamu hari sabtu libur kan? kita berangkat hari jum'at sore. jadi kita punya waktu dua hari untuk mencari wulan. Sekalian kita berkunjung ke rumah Kak Dewi (Kakak pertama Fauzi) kalian kan belum pernah bertemu lagi setelah kita nikah. Pasti Kak Dewi seneng."
"Eummm baiklah. Aku ikut". ucap Afifa.
"Makasih ya sayang". Fauzi menoleh ke arah istrinya dan tersenyum.
***
Hampir tengah malam mereka tiba dirumah, Afifa sudah tertidur bersandar dikursi depan, Fauzi tidak membangunkannya, dia segera menutup pintu gerbang rumahnya, saat dia kembali rupanya Afifa sudah terbangun.
"Kok bangun?" tanya Fauzi
"kenapa? mau gendong lagi?" tanya Afifa dengan nada menantang
__ADS_1
"Ah...maunya kamu itumah" ledek Fauzi
"Emang mau, ayo sini gendong aku!" Afifa merentangkan tangannya yang masih duduk dikursi mobil menghadap keluar.
"Ih kamu itu ya, manja banget si..."
"Biarin aja, manja juga sama suaminya ini".
"Tapi kan berat sayang..."
"Aaaa... ayo gendong," rengeknya, kakinya yang masih tergantung bergerak-gerak, seperti anak kecil yang minta digendong ibunya, "emang mau, aku digendong orang lain?"
Fauzi hanya tersenyum, sambil berbalik memasrahkan punggungnya menggendong istrinya.
"Hap" tubuh mungil Afifa sudah nemplok di punggung Fauzi, Afifa tersenyum penuh kemenangan.
"Mau turunin dimana nih istri manjaku ini?" tanya Fauzi.
"Dikamar dong" Jawab Afifa sambil terus menikmati gendongan suaminya.
"Wokeeey..." Fauzi masuk ke kamar dan menurunkan tubuh istrinya di atas tempat tidur, Afifa tidur terlentang. Fauzi menjatuhkan dirinya sendiri disamping istrinya. "Aaaah...lelah sekali hari ini". Ucapnya.
Afifa berbalik miring menghadap suaminya. "Cape ya?" tanyanya.
"Emmm...kayaknya enak ya dipijit istri, apalagi abis digendong". Ucap Fauzi masih terlentang, kepalanya bertumpu pada kedua tangannya.
"Ah...bilang aja kalo mau dipijit mah".
"Ha ha... tapi aku gak maksa lho".
"Emang siapa yang merasa terpaksa, ayo sini aku pijit". Afifa bangun dan duduk disamping suaminya.
"Beneran nih? emang kamu bisa mijit?"
"Yeee... ngeremehin, ayo coba dulu, nanti juga ketagihan".
"O ya? Okey deh kalo gitu". Fauzi membuka bajunya dan mengubah posisi tidurnya menjadi tengkurap.
Afifa mulai memijit punggung suaminya lalu beralih ke tangan dan kakinya, awalnya mereka berbincang, sesekali mereka tertawa ringan, sampai suara Fauzi berangsur pelan, dan akhirnya hening....Afifa mendongak melihat wajah suaminya, dan wiiih...hanya sebentar saja, rupanya Fauzi sudah tertidur, entah karena capek atau karena menikmati pijatan istrinya. 😀
***
Hari minggu Fauzi mengajak Afifa menemui pembeli rumah Wulan, ahkirnya dia mendapat informasi tentang daerah yang ditempati wulan, meskipun alamatnya tidak sedetil yang diharapkan.
Perjalanan dari kota Bandung ke Kota Jakarta dapat ditempuh hanya dalam waktu 3 jam, lewat jalan tol cipularang, Mereka tiba dirumah Kak Dewi pukul tujuh malam. Kak Dewi kaget saat adik kesayangannya beserta istrinya tiba-tiba saja muncul didepan rumahnya tanpa ada kabar berita sebelumnya.
Kak Dewi hanya punya satu orang putri bernama Nadia, dia kuliah semester dua. Dia juga punya toko mebel pemberian ayahnya yang ada di Jakarta dan kini dikelola oleh suaminya.
Fauzi dan Afifa disambut dengan baik disana, apalagi Nadia, tak henti-hentinya dia menggoda pamannya dan terus saja memuji Afifa.
Malam itu mereka menginap disana, namun pagi-pagi sekali mereka pamit untuk bertemu dengan relasi bisnisnya, tentu saja itu hanya alasan Fauzi, dia tidak mau Kakak perempuannya berfikir yang tidak-tidak tentang tujuannya datang ke Jakarta.
Mereka berdua berangkat ke tempat tujuannya, mencari seseorang yang belum jelas alamatnya. Hanya berbekal nama orang tua Wulan, nama kecamatan dan kelurahannya saja. Fauzi langsung datang ke kantor kelurahan, dia bertanya kepada petugas urusan pendataan warganya. Satu persatu petugas itu mencari nama yang dimaksud, namun nihil, nama itu tidak tertera disana.
Mereka kembali dengan tangan kosong, dihari kedua mereka melakukan hal yang sama, mengecek kembali data warga dikelurahan lain yang bertetangga, namun hasilnya tetap sama. Merekapun menyerah dan memutuskan untuk pulang.
Fauzi berangkat dari rumah Kakaknya selepas maghrib, tentunya harus melewati drama perpisahan terlebih dahulu, Kak Dewi bersikeras membujuk mereka untuk tinggal satu malam lagi, tapi apa boleh buat, Afifa harus mengajar hari senin besok, dengan berat hati diapun merelakan adiknya pulang.
Pukul 10 malam mereka tiba di Bandung, setelah sholat isya dan melakukan peraturan kedua tentunya, merekapun tertidur karena lelah.
***
Pagi-pagi saat mereka sarapan, ponsel Afifa berdering, dia mengambilnya, ternyata Uminya yang menelphon, dia segera menjawab panggilan.
"Assalamualaikum Umi"
Waalaikum salam, apakabar hari ini sayang? (Suara Umi terdengar serak dan lemas)
"Alhamdulillah, Fifa baik Umi, Umi sakit ya? suaranya lemas sekali?"
Umi hanya tidak enak badan, apa Umi mengganggu Nak?
"Tentu saja tidak, ada apa umi?"
Umi mau minta tolong, hari ini gantikan Umi ke sekolah Nisa, jam 10 ada rapat penting orang tua kelas 6 untuk persiapan ujiannya, sepertinya umi tidak kuat kesana. Abi juga ada pekerjaan.
"Baiklah Umi, nanti Fifa minta izin sama paman untuk ke sekolah Nisa, Umi baik-baik dirumah ya, pulang sekolah Fifa mampir kerumah".
Baiklah Nak, Maaf ya Umi merepotkanmu.
"Tidak apa-apa Umi, Fifa siap-siap dulu, Umi istirahat ya, Assalamualaikum"
__ADS_1
Waalaikum salam.
"Trup" suara telpon di tutup.
"Umi kenapa sayang?" Tanya Fauzi.
"Umi kurang sehat Kak, beliau memintaku menggantikannya datang ke sekolah Nisa, rapat orang tua".
"Nanti sore kita kerumah Umi ya".
"Iya".
***
Afifa sedang berada disekolah saat dia lihat pergelangan tangannya menunjukan pukul 10 kurang 15 menit, dia segera ke ruang kantor untuk berpamitan kepada pamannya, setelah itu ia bergegas menuju sekolah Nisa. Tak butuh waktu lama, 3 menit saja menggunakan motor dia sudah sampai disekolah Nisa.
Afifa memarkirkan motornya, lalu berjalan melewati beberapa kelas untuk menuju ruang rapat, dilihatnya kerumunan Anak-anak yang sedang istirahat dan anak-anak kelas bawah sudah keluar dari kelasnya.
"Bu Guru...!" terdengar suara kecil memanggilnya.
Afifa menolehnya, "Hai Talita, salamnya mana?" Afifa berjongkok mensejajari anak didepannya.
"Assalamualaikum Bu Guru" sapa anak itu kemudian.
"Waalaikum salam Talita sayang, sudah mau pulang ya?"
"Iya".
"Pulangnya sama siapa?"
"Sama Bunda, biasanya Bunda jemput aku kalo pulang". Ucapnya polos sambil menggoyang-goyangkan tas berwarna pink dipunggungnya.
"Emmm begitu ya, ayo kita lihat, apa Bundanya sudah datang?" Afifa berdiri lalu menuntun anak itu menuju gerbang. Afifa melihat pergelangan tangannya, madih ada waktu fikirnya. "Sepertinya bunda belum datang, Kita tunggu disana ya". Tangan Afifa menunjuk ke kursi yang bersandar dibawah pohon. Anak itu mengangguk dan mengikuti langkah Afifa.
Sekitar satu menit mereka berbincang, tiba-tiba seorang wanita menyapa mereka.
"Sayang, maaf ya bunda telat, kamu sudah lama nunggu ya?" Ucap wanita dihadapannya.
Afifa menghentikan obrolannya dengan anak itu, lalu mengalihkan pandangannya kepada wanita dihadapannya, tampak seorang wanita cantik bertubuh tinggi mengenakan hijab pasmina dan setelan celana panjang lengkap dengan outernya, nampak sangat elegan.
"Bunda...!" Panggil anak itu, lalu berlari merangkul bundanya. Wanita itu berjongkok dan memeluknya, lalu menciumi wajahnya.
Afifa menyaksikan pemandangan indah antara ibu dan anak ini, terpancar kekaguman dimatanya.
Ah...indahnya, kalau aku punya anak nanti, aku pasti sama senangnya dengan wanita itu saat menjemput anakku di sekolah. Afifa tersenyum.
"Bunda, ayo aku kenalkan pada Buguru cantik," Celoteh bibir mungil talita sambil menarik-narik tangan bundanya mendekat ke arah Afifa. Wanita itu mengikuti ajakan putrinya. "Buguru, ini bunda Talita"
"Assalamualaikum bundanya Talita, Saya Afifa". Sapa Afifa ramah.
"Waalaikum salam Ibu Afifa, Saya bundanya Talita, terimakasih sudah menjaga putri saya". jawabnya tak kalah ramah, senyumnya begitu manis, membuat Afifa terpesona dengan kecantikannya. "Maaf kalau putri saya sudah merepotkan Ibu".
"Tentu tidak bunda, saya sangat senang berbicara dengan Talita, benarkan sayang?" Afifa menoleh ke arah Talita yang sedang tersenyum memperhatikan dirinya.
"Iya Bunda, Buguru baik sekali". jawab Talita polos.
"Sekali lagi terimakasih, saya pamit dulu Bu guru, Assalamualaikum" ucap wanita itu kemudian.
"Waalaikum salam". Jawab Afifa. Afifa membalikan badannya, saat kakinya hendak melangkah samar-samar dia mendengar nama seseorang dipanggil.
Bunda Wulan, aku duluan ya...
Deg...Afifa tersentak mendengar nama itu, Dia membalikan badannya, Talita sudah masuk ke dalam mobil merah beserta bundanya, mobil itupun melaju, Afifa setengah berlari menuju gerbang, tapu mobil itu sudah jauh meninggalkannya.
Afifa terdiam sesaat mengingat-ingat wajah yang barusaja dilihatnya, wajah itu seperti tidak asing baginya.
*****
Bersambung...😊❤...
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Assalamualaikum readers semua...
Alhamdulillah hari ini aku bisa Up lagi.
Tetap kasih semangat dengan komentarnya ya...
jangan lupa like dan "Vote"... 😊
love you All ❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
__ADS_1
By : Rahma Khusnul