Seikhlas Cinta Afifa

Seikhlas Cinta Afifa
Perasaan Itu....


__ADS_3

Masa KKN pun berlangsung, moment yang dinanti-nantikan oleh setiap mahasiswa. Afifa mengikuti semua kegiatan di tempat itu, meskipun terkadang Afifa merasa ada yang kurang. Fikirannya selalu teringat dengan Fauzi suaminya, bagaimana tidak sudah hampir satu bulan Afifa di lokasi KKN, tidak pernah sekalipun Fauzi menjenguknya, lain halnya dengan Widia temannya, Setiap hari minggu dia selalu dijenguk suaminya. Afifa terkadang pulang 2 minggu sekali ke rumahnya untuk menemui suaminya juga orangtuanya.


Hari Sabtu ketika Afifa sedang mengikuti kegiatan di suatu kampung, Afifa mendapat telpon dari Sofi, kebetulan hari itu Sofi jadwal piket posko.


Fa... kamu pulang dulu ke posko ya. ada tamu (Sofi)


"Siapa?" tanya Afifa.


Udah kamu liat aja nanti. pokonya pulang dulu sebentar.


Entah mengapa suara Sofi seperti berbisik-bisik.


"O... ya udah, sebentar aku izin dulu."


Yup... cepet ya. (Sofi)


Afifa mematikan telponnya. lalu meminta ijin pada ketua poskonya.


Selama perjalanan menuju posko Afifa menerka-nerka kira-kira siapa yang datang mengunjunginya.


Mudah-mudahan Kak Aji. Batinnya. Afifa tersenyum sendiri, dia sangat berharap suaminya datang menjeguknya.


Afifa tiba di posko, ada sebuah motor besar terparkir disana. Afifa memperhatikannya dan mengernyitkan dahinya, tanda dia tak mengenali motor itu.


"Assalamuakaikum" Seraya masuk ke ruang tamu posko.


"Waalaikum Salam."Jawab seseorang didalam rumah.


Afifa kaget, dia hanya mematung tepat di garis pintu, jantungnya berdegup kencang saat melihat orang yang duduk di kursi ruang tamu itu adalah Farid.


"Apakabar Afifa?" Sapa Farid


"A... Baik. aku baik..." Jawabnya terbata-bata. "Ada apa kamu kesini?" Tanya Afifa


"Fa... aku tinggal sebentar ya. "Kata Sofi


"Tapi Sof..." Afifa memegang lengan Sofi berusaha mencegahnya pergi. Sofi hanya tersenyum sambil melepaskan pegangan Afifa. lalu berjalan keluar rumah.


"Maaf...Apa kedatanganku membuat kamu tidak nyaman Fa?"


Afifa tidak menjawab.


"Sekali lagi aku minta maaf. Aku hanya ingin bicara sama kamu. apa boleh?"

__ADS_1


"Tentang Apa ya?" Tanya Afifa masih tetap berdiri.


"Lebih enak bicaranya sambil duduk Fa".


Afifa baru sadar kalau sedari tadi dia hanya berdiri. Afifa memberanikan diri duduk di kursi lumayan jauh dari Farid.


Farid hanya tersenyum. " Apa kamu masih marah sama aku Fa?" tatapannya tajam memperhatikan wanita yang sedang tertunduk dihadapannya.


"Kenapa aku harus marah?"


"Ya... karna no telpon kamu yang hilang waktu itu, yang membuat aku tidak bisa menghubungimu."


"Gak apa-apa. lupakan saja." Jawab Afifa datar.


"Tapi Fa... aku takut kamu marah. aku benar-benar menyesal. dan aku bersyukur ternyata Alloh masih mengizinkan aku untuk menemukanmu."


Afifa mulai gelisah. Apa yang dimaksud Farid ya? jangan bilang kalau dia tidak tau aku sudah menikah. ya ampuun... kenapa Kak Aji belum mengatakannya. Batin Afifa.


"Maksudnya?" tanya Afifa


"Fa... Aku tidak pernah berubah, selama 4 tahun ini selalu kamu satu-satunya wanita yang ada dalam fikiranku."


deg... Afifa kaget bukan main, ternyata dugaannya benar.


"Tapi Fa. Aku sangat mencintaimu, Aku berjanji akan menghalalkanmu, aku akan kembali ke semarang dan bilang pada orangtuaku." Tegas Farid meyakinkan.


"Kamu terlambat Kak. Aku sudah menikah." Jawab Afifa pelan.


Farid tersenyum tipis. "Itu hanya alasan kamu untuk menghindar dariku kan Fa?"


"Aku benar-benar sudah menikah Kak. Aku..."


"Cukup Fa...cukup sekali saja aku kehilanganmu, aku tidak mau kehilanganmu untuk kedua kalinya."Suara Farid meninggi. "Kamu tau kan. Alloh mempertemukan kita kembali, itu artinya kita memang berjodoh." Farid menghela nafas.


Entah mengapa mata Afifa berkaca-kaca mendengar kata-katanya.


"Tapi aku sungguh sudah menikah Kak. Jangan pernah mengharapkanku lagi." cairan bening itupun jatuh dipipinya, Segera dia menyeka airmata itu. dia tidak mau Farid melihatnya.


"Kamu bohong Fa. Jangan hancurkan harapanku." Farid memandang wajah Afifa. "Aku juga yakin kamu masih mencintaiku, benarkan?" matanya berkaca-kaca.


"Lalu kemana saja kamu selama ini? apa kamu tau, empat tahun lamanya aku menunggu kabar darimu, sampai hatiku lelah rasanya." Suara Afifa tiba-tiba meninggi, dia seperti ingin meluapkan berbagai pertanyaan yang ia pendam selama 4 tahun ini.


Farid sampai kaget dibuatnya. rasa heran karna Afifa berani mengajukan pertanyaan itu terhadapnya, bercampur dengan rasa bahagia karena ternyata wanita yang dicintainya masih terus menunggunya.

__ADS_1


"Jadi kamu terus menungguku Fa?" Senyuman lebar terpancar diwajahnya.


"Itu dulu. sekarang tidak lagi. karna sudah ada seseorang yang mengisi hatiku." Jawab Afifa masih tertunduk, namun suaranya begitu tegas.


"Ah... apa kamu fikir aku akan percaya?" tanya Farid tersenyum sinis.


"Terserah padamu mau percaya atau tidak. yang pasti saat ini dalam hatiku hanya ada satu nama yaitu suamiku, Fauzi."


"Hei... bukannya Fauzi itu kakakmu?" Tanya Farid heran dia berdiri dari tempat duduknya.


"Dia Suamiku... " Tegas Afifa


"Ah... benarkah?" Farid menutup wajahnya dengan kedua tangannya, lalu menariknya ke belakang rambutnya. Kekecewaan yang begitu dalam terpancar diwajahnya.


"Maaf...Aku sungguh tidak tau kalau Kak Aji itu suamimu." Dengan lemas Farid kembali duduk dikursi. Cukup lama dia terdiam sambil menundukan kepalanya. entah apa yang ada dalam fikirannya.


"Ya... aku yang salah. maafkan aku Fa."


Afifa hanya terdiam.


"Baiklah aku permisi. Sampaikan pula maafku pada suamimu. Assalamualaikum." Farid berdiri dari tempat duduknya, dia melangkahkan kaki keluar rumah dengan begitu lemas. tak sekalipun dia kembali menoleh ke dalam rumah itu, dimana disana ada Afifa yang masih tak bergeming diam tertunduk di atas kursi yang didudukinya sejak tadi.


"Waalaikum Salam" Afifa menjawab Salam Farid yang sudah tidak lagi dihadapannya.


Afifa menyeka airmata yang tak pernah diundangnya.


Mengapa hatiku terasa sakit sekali. Ya Alloh... jangan biarkan hatiku goyah karena sesuatu yang bukan lagi menjadi hak bagiku. saat ini aku sudah menjadi seorang istri, aku sudah berjanji dihadapanmu untuk selalu mencintai suamiku, menjaga ikatan rumah tangga ini dengan kokoh. kumohon padamu, jagalah hati ini untuk beristiqomah demi ketentraman rumahtanggaku.


Aamiin...


Afifa bangkit dari duduknya. lebih baik aku kembalikan semuanya pada Alloh, Fikirnya, Afifa melirik jam dinding sudah menunjukan pukul 10 pagi. Ya ini waktunya Sholat dluha. Afifa segera pergi ke kamar mandi lalu berwudlu dan melaksanakan sholat sunat duha. dia tenggelam dalam sholat dan munajatnya kepada Alloh.


*****


Bersambung... 😊❤


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Salam readers... maaf ya kalau aku masih banyak kesalahan dalam menulis. ini adalah karya pertamaku.


Ditunggu saran dan kritiknya ya... 🤗


Jangan lupa **Vote dan tekan tanda ❤.

__ADS_1


Semoga kalian semua suka... 😙😙😙**


__ADS_2