Seikhlas Cinta Afifa

Seikhlas Cinta Afifa
Khitbah Sofi


__ADS_3

Afifa menghabiskan malam itu dengan kemarahan, rasa sakit yang tergores dihatinya begitu dalam, harapan dan penantian akan balasan cinta dari sang suami untuknya selama ini, kini telah sirna.


Hanya ratapan penyesalan yang kini ia renungkan, seakan bertanya mengapa semua ini harus terjadi pada dirinya.


Malam itu Afifa tidak beranjak dari duduknya, masih setia diatas sofa dengan televisi masih menyala yang sama sekali tidak dilihatnya. Cukup lama ia termenung dan sesekali masih menyisakan air mata, sampai akhirnya dia terlelap dengan bersandar diatasnya.


Pagi hari tepat adzan subuh berkumandang, Afifa terbangun, dia bergegas menuju kamar mandi yang berada didalam kamarnya. Ketika masuk kamar, dia tidak menemukan suaminya. Afifa pun tidak peduli, dia melanjutkan niatnya, mandi berwudzu lalu sholat subuh.


Saat Afifa di mushola terdengar suara pintu dibuka, Afifa segera melihat siapa yang datang. ternyata suaminya baru pulang dari mesjid, Afifa kembali ke ruang mushola, sama sekali tidak ada keinginan untuk menyapanya.


Fauzi sudah duduk disofa seperti biasa menunggu secangkir kopi yang dihidangkan istrinya.


Selesai dengan sholatnya, Afifa keluar dari mushola, matanya sempat melihat suaminya, dia segera kedapur, membuat secangkir kopi lalu mengantarnya kehadapan suaminya. Afifa meletakan kopi diatas meja tepat dihadapan suaminya, tapi tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Dia kembali ke dapur untuk melakukan aktifitas paginya. mulai dari cucu piring, cuci baju, menyapu, mengepel sampai membuat sarapan, beberapa kali Afifa melewati Fauzi namun mereka sama sekali tidak saling menyapa. Afifa terus bekerja tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya, itu membuat Fauzi cukup salah tingkah. Beberapa kali Fauzi tampak ingin mamulai menyapa istrinya, namun bebarapa kali juga dia urungkan niatnya. Suasana itu terus berlangsung sampai mereka sarapan dimeja makan.


"Apa hari ini ke kampus?" Tanya Fauzi.


Afifa menggeleng


"Ngajar?"


Afifa juga menggeleng.


"Hmmm...Jadi kerumah temen kamu?"


"Ya." Jawab Afifa singkat. Afifa bangkit dari kursi makan, lalu membereskan piring yang sudah kosong diatas meja dan membawanya kedapur, lalu mencucinya.


Fauzi tidak bertanya lagi dia masih duduk dikursi makan sambil terus memperhatikan gerak-gerik istrinya yang tidak mau juga bicara. Setelah sekian lama dia melangkah menuju kamarnya lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Afifa masih setia didapur mengerjakan apa yang bisa dia kerjakan saat Fauzi keluar dari kamar sudah dengan pakaian rapi lengkap dengan tas kerjanya dan kunci mobil ditangannya.


"Dek..." panggilnya. "Aku berangkat dulu."


Afifa tidak menjawab, dia hanya terdiam, berhenti sejenak dari aktifitasnya, tanpa membalikan badannya.


Beberapa saat Fauzi menunggunya, mungkin dia berharap Afifa akan menghampirinya dan mencium tangannya seperti biasa. Namun itu tidak terjadi Afifa hanya terdiam tidak bergerak. Akhirnya Fauzi pun melangkahkan kakinya menuju pintu depan.


Afifa masih terdiam, air mata mulai memenuhi kelopak matanya. Setelah terdengar suara mobil suaminya keluar dari pintu gerbang rumahnya, Afifa menangis tersedu-sedu seolah ingin meluapkan semua kekesalan, kekecewaan dan rasa sakit yang sempat ia tahan.


*****


Sore hari pukul 05:00 Afifa berangkat menuju rumah Sofi dengan menggunakan sepeda motornya. tak lupa ia membeli sedikit buah tangan untuk keluarga Sofi. Hari sudah hampir gelap saat Afifa sampai di rumah Sofi. Afifa disambut dengan hangat oleh keluarga sahabatnya yang memang sudah lama dikenalnya. Rumah Sofi cukup ramai, keluarga besarnya sudah berkumpul ingin ambil bagian di malam spesial kali ini. Sebisa mungkin Afifa selalu tersenyum, meski ada rasa sakit yang ia tutupi dari semuanya.


Rombongan dari pihak pelamar datang tepat pukul 7 malam. disambut dengan sukacita oleh keluarga besar Sofi. Afifa duduk tepat disamping Sofi yang terlihat anggun dengan makeup tipis dan balutan busana sar'i, Afifa tidak bisa beranjak dari tempat duduknya karena Sofi tidak mau melepaskan genggaman tangannya. Tangannya terasa dingin, wajahnya merah merona. Afifa tersenyum mengingat kejadian yang sama saat dia dilamar oleh Fauzi, namun seketika senyumnya pudar setelah mengingat kembali kejadian semalam.


"Fa..." Panggil Sofi setengah berbisik membuyarkan lamunan Afifa "Sari Kok belum datang?"


"Sebentar aku telpon dia".


Terlihat Afifa berbicara sebentar di telpon sambil bisik-bisik. "Dia sudah didepan, terhalang oleh robongan dari pihak pria." bisik Afifa pada Sofi. Sofi tersenyum, dia senang kedua sahabatnya hadir di moment bahagianya ini.


Tampak seorang pria berpakaian kemeja putih dengan peci hitam masuk ke dalam rumah digandeng oleh orang tuanya. tentu saja Afifa mengenalnya, Kak Asfir...pria yang akan menghitbah Sofi. Mereka duduk di ikuti rombongan.


Tak lama Sari menghampiri Afifa dan Sofi masuk dari pintu belakang. "Hai...Sof, lihat calon suamimu ganteng". Bisiknya.


"Eh kamu nyelonong aja, bukannya ucapkan salam". tegur Afifa


"Hehe...lupa...Assalamualaikum."


"Waalaikum salam. Uh...dasar kamu ya..." Afifa mengarahkan telunjuknya ke arah Sari. Sofi hanya tersenyum melihat tingkah kedua sahabatnya.


"Eh Fa...bukannya itu Farid?" Tanya Sari yang sejak tadi mencuri-curi pandang ke arah semua tamu yang hadir.


"Mana?" Tanya Sofi penasaran.


"Itu...yang duduk dekat pintu. yang pakai kemeja abu-abu."


Sofi dan Afifa melihat ke arah yang ditunjuk Sari. Rumah Sofi memang cukup besar, sehingga rombongan yang berjumlah 12 orang itu bisa masuk kedalam rumahnya.

__ADS_1


Farid tampak duduk bersila diantara rombongan, wajahnya yang tampan dengan mengenakan kemeja abu-abu dugulung setengah lengan dipadukan dengan celana bahan berwarna hitam, membuatnya tampak berbeda dan menjadi pusat perhatian kedua setelah mempelai pria tentunya.


Seketika wajah Afifa pucat, fikirannya teringat kembali dengan apa yang sudah dikatakan Farid waktu dikampus kemarin.


"Iya bener Fa...Kok Farid bisa ikut rombongan ya?" tanya Sofi membuyarkan lamunannya.


"Iya...kenapa?". Afifa balik bertanya


"Itu...Farid kok bisa ikut rombongan?" Sofi mengulang ucapannya.


"Mungkin Kak Asfir yang minta. Dia kan temannya".


"O iya...mungkin."


"Wah...jadi mereka temenan? Kalau seandainya Afifa sama Farid kalian bisa dobble date tuh haha... Ups..." Sari menutup mulutnya. "Sory...keceplosan". Afifa hanya melotot ke arah Sari.


Suara salam pak ustad menghentikan pembicaraan antara ketiga sahabat itu.


"Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh...Alhamdulillah Rombongan yang ditunggu-tunggu sudah hadir ditengah-tengah kita semua. Sepertinya acara hitbah ini bisa segera kita mulai... bla... bla... bla...."


Acara khitbah akhirnya selesai dengan di akhiri pemberian sebuah kotak perhiasan berisi cincin dari ibu Asfir kepada ibunya Sofi, kotak itu dibuka oleh ibunya Sofi, diambilnya cincin itu dan fimasukan ke jari Sofi. Semua orang bertepuk tangan, mereka tampak bahagia.


Tibalah acara terakhir yaitu makan-makan... Halaman rumah Sofi sangat luas, ditumbuhi pohon-pohon rindang yang membuatnya terasa sejuk, terdapat teras yang luas pula dipinggir rumahnya dengan atap kanopi fiber, Keluarga Sofi sengaja menghidangkan makanan di teras pinggir rumahnya yang dibuat prasmanan. Untuk membuat para tamunya nyaman disediakan pula beberapa meja yang dikelilingi 4 kursi disekitarnya.


Afifa duduk bersama Sofi dan Sari di salah satu meja dekat dengan pohon, dengan makanan yang sudah tersaji dimejanya, mereka bertiga asyik ngobrol sampai makanan mereka habis.


Malam semakin larut, keluarga Asfir pamit pulang. merekapun bersalaman dan satu persatu pergi meninggalkan halaman rumah Sofi, begitupun dengan keluarga besar Sofi. Tetapi tidak dengan Asfir dan Farid, dia meminta izin kepada keluarganya untuk tinggal dulu sebentar dengan alasan ingin lebih mengenal jauh keluarga Sofi.


Ketiga sahabat itu kembali duduk di kursi tempat duduknya tadi, mereka berdua berencana untuk menginap malam ini. Dua orang pria berjalan menghampiri mereka. Sofi tampak canggung, wajahnya bersemu merah.


"Hai Sof...selamat ya" Sapa Farid kepada Sofi.


"Terimakasih Kak..." jawab Sofi sambil tersenyum.


"Boleh kita duduk disini?" tanya Asfir pandangannya tidak berpaling dari Sofi yang tersipu malu.


"Afifa sama Sari kok belum pulang?" Tanya Farid. menatap keduanya bergantian.


"Kita mau nginep di sini Kak...masa cewe malam-malam pulang sendirian". Jawab Sari. Afifa hanya terdiam membiarkan sari menjawab semua pertanyaan Farid.


"Oh...Fauzi gak kesini Fa?" Farid kembali bertanya berharap Afifa akan bicara.


"Tidak." jawabnya singkat


"Kenapa?"


"Ada pekerjaan."


"Sampai selarut ini?"


"Bukan urusanmu".


Sontak jawaban Afifa membuat Farid kaget begitu pula ketiga orang yang ada disana.


"Fa...Kamu gak apa-apa kan?" Tanya Sofi yang dibuat heran dengan sikap sahabatnya itu.


"Ah...Enggak...aku baik-baik saja." Jawab Afifa gelagapan, dia juga merasa heran dengan apa yang baru saja dia ucapkan. kata-katanya keluar begitu saja.


"Tapi kok...kamu..." Ucapan sari terhenti


"Sepertinya aku pulang saja deh Sof..." Afifa fikir sebaiknya dia pulang, kalau dia menginap di rumah Sofi, pasti semalaman akan terus diganggu dengan berbagai pertanyaan yang tidak ada habisnya dari kedua sahabatnya.


"Tapi Fa...ini kan sudah malam. nanti kalau ada apa-apa gimana, mana kamu bawa motor sendiri lagi?" Sofi khawatir


"Iya Fa...kita nginep aja". ucap Sari.


Afifa melihat pergelangan tangannya. " Baru jam sembilan, masih sore. Kalian tenang aja, Aku pasti baik-baik saja".

__ADS_1


"Kamu Yakin Fa?" tanya Asfir


"Iya."


"Begini aja, kalau kamu kekeh mau pulang, motormu titipin aja dulu disini, aku kan bawa mobil, biar aku antar".


"Emmm...sepertinya gak perlu Kak Asfir...Aku juga besok mau ngajar, repot juga kalau gak ada motor." Afifa meyakinkan.


"Fa...tapi kamu hati-hati ya..." Sofi memegang kedua tangan Afifa. Afifa tersenyum dan mengangguk. Mereka berpelukan begitupun dengan sari.


"Ya udah, aku pulang dulu ya...Assalamualaikum daaah..."


"Waalaikum salam...Hati-hati...!"teriak Sari dan Sofi setelah Afifa turun dari teras dan mengambil motornya. Farid memandang Afifa, dia merasa bersalah dengan ucapannya tadi.


Motor Afifa menyala dan mulai melaju pelan keluar dari halaman rumah Sofi...Tiba-tiba Farid berlari mengejar motor Afifa.


"Fa...tunggu...!" Tangan Farid sudah memegang bagian belakang motor Afifa, membuat Afifa menghentikan motornya yang sudah berada di pinggir jalan yang sudah sepi itu. "Apa kamu pergi karena keberadaanku?"


Afifa terdiam.


"Aku minta maaf Fa. dan tolong jangan membenciku".


"Aku tidak membencimu...aku hanya ingin kamu tidak ikut campur tentang kehidupanku".


"Tapi Fa..."


"Dan satu lagi...tolong lupakan semua yang pernah terjadi diantara kita". Afifa kembali menyalakan starter motornya.


Farid segera meloncat tepat kedepan motor, Badannya tersorot langsung oleh lampu motor, membuat Afifa kaget. hampir saja dia menabraknya. "Aku juga ingin sekali melupakanmu Fa... aku sudah berusaha, tapi aku tidak bisa, kenangan itu terlalu indah untukku."


"Hei...Sadarlah...Aku sudah menikah..." Suara Afifa meninggi.


"Aku tau...aku tau...tapi aku tau kamu tidak bahagia bersamanya".


"Glek...."Afifa menelan salivanya. "Tau apa kamu tentang hidupku?....kebahagiaanku?" Afifa memandang tajam mata Farid. Matanya yang bulat terlihat memerah tanda marah.


"Aku tau semuanya, aku tau kamu tidak bahagia, aku tau setiap malam kamu selalu menangis, aku bahkan tau, kamu belum pernah sedikitpun disentuh oleh suamimu itu." Farid membelalakan matanya, dia menutup mulutnya dengan satu tangan. Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya.


"Dueeeer..." Afifa merasa barusaja ada halilintar menyambar dan memekik telinganya...Seketika Afifa terdiam mematung...seluruh tubuhnya bergetar, wajahnya pucat, lututnya lemas sampai motor yang didudukinya hampir oleng karena kedua kakinya tak mampu menahan keseimbangan motor.


Dengan sigap Farid menahan motor Afifa. "Fa...kamu tidak apa-apa kan? Fa...Afifa..." Farid berteriak sambil menggoyang-goyang punggung Afifa karena Afifa hanya diam tidak bereaksi. Kaki Farid menurunkan standar samping motor Afifa. teriakan Farid terdengar sampai ke teras rumah Sofi. Seketika kedua sahabat Afifa dan Asfir berlarian menunu sumber suara.


"Aku minta maaf Fa..." Ucap Farid dengan nada memelas karna khawatir.


Afifa tersadar dari kagetnya. Dia segera menepis tangan Farid yang masih memegang bahunya. Menyalakan stater dan menaikan kembali standar samping motornya. Dengan cepat Afifa melajukan motornya meninggalkan Farid dan ketiga temannya yang baru datang menghampirinya.


"Ada apa Rid?" tanya ketiganya.


"Fir...cepat ambil mobilmu, kita harus ikuti Afifa".


"Tapi Afifa kenapa?" tanya Sofi dan Sari kebingungan.


"Sudah nanti aku jelaskan, Cepat Fir...!"


Tanpa basa basi Asfir berlari menuju mobilnya diikuti Farid. "Nanti aku telpon Sof..." teriaknya pada Sofi yang masih kebingungan.


Mobil Asfir keluar dari halaman rumah Sofi lalu melesat ke arah jalan menuju rumah Afifa.


*****


Bersambung...😊❤...


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Makasih banyak yang udah kasih komentar dan masukannya... jangan lupa "Vote" ....


Komentar kalianlah yang bikin Author semangat untuk melanjutkan ceritanya...

__ADS_1


love...you All....❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤


__ADS_2