Seikhlas Cinta Afifa

Seikhlas Cinta Afifa
Makan Siang Part 2


__ADS_3

"Glek...." Afifa menelan salivanya saat mendengar namanya disebut suaminya. membuatnya berfikir Siapa yang baru saja menghubungi suaminya? Selama ini Afifa tidak pernah mengenal klien suaminya...Dia terus berfikir, dan entah kenapa jantungnya mulai berdebar.


Afifa memberanikan diri bertanya setelah Fauzi menutup telphonnya. "Siapa Kak?"


"Farid". Jawabnya santai


"Deg..." Afifa merasa jantungnya berhenti sejenak, wajahnya berubah pucat tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. hanya fikirannya yang berkecamuk.


Kenapa situasi ini harus terulang lagi?


Afifa membenahi posisi duduknya, berusaha bersikap normal. Tak lama pesanan mereka datang, semangkok bakso dan sepiring nasi lengkap dengan lauknya pesanan Fauzi tentunya, karena dia kurang suka dengan bakso.


"Silahkan..." Sapa pelayan ramah.


"Terimakasih." Jawab Afifa dan Fauzi, mereka mengambil pesanannya masing-masing. Fauzi belum sempat memakannya karena masih sibuk dengan ponselnya. sedang Afifa masih mengaduk bakso dihadapannya karena panas.


"Assalamualaikum..." Sapa seseorang memecah konsentrai mereka.


"Waalaikum salam" keduanya menoleh ke arah sumber suara.


"Eh...Sudah datang Rid...ayo gabung." Tersenyum dan mempersilahkan Farid duduk di kursi yang berada diantara mereka.


"O iya...Makasih Pak..." Ucap Farid duduk dan melirik ke arah Afifa yang terdiam tak bicara. "Apakabar Afifa?" Mencoba menyapa.


"Eh...Baik..." Berusaha tersenyum dan menganggukan kepala, sekilas pandangannya bertemu, lalu menunduk kembali fokus ke mangkok bakso dihadapannya. Sekuat tenaga Afifa berusaha terlihat normal, meski hatinya berkecamuk mengutuki situasi saat ini.


Kenapa harus datang disaat seperti ini si. Ah...semua rencana yang aku susun dan kata-kata yang sudah kupersiapkan untuk bicara dengan Kak Aji jadi berantakan. Semoga saja urusannya cepat selesai dan cepat-cepat pergi dari sini.


"Pelayan...!"Panggil Fauzi sambil melambaikan tangannya. Segera pelayan itu menghampirinya. " Mau makan Apa Rid? Ayo pesan sekalian biar makannya bareng."


Farid mengangguk dan menunjuk beberapa menu pada daftar. Pelayan itu mengangguk dan pergi meninggalkan mereka.


"Mana berkasnya?" tanya Fauzi.


"Ini Pak..." Farid memberikan satu bandel map plastik berwarna kuning.


"Canggung banget. gak usah pakai Pak...panggil Fauzi aja." Kata Fauzi tersenyum.


"Haha...apa gak kurang sopan?" tanya Farid


"Haha...kenapa harus sopan juga. bukankah kita teman?"


"Haha...bener juga. Baik Fauzi ini berkasnya, ada beberapa kwitansi yang harus ditandatangani. "Farid menggeser map dihadapannya dan mengeluarkan sebuah bolpoint dari saku kemejanya.


"Oke..." Fauzi mengambil bolpoint dan membubuhkan beberapa tandatangan di beberapa tempat yang ditunjukan Farid. "Selesai..." Ucapnya setelah lembaran terakhir. Mereka berdua tersenyum.


Tak lama pesanan Farid datang, dan mereka makan bersama. Afifa hanya terdiam mendengarkan perbincangan bisnis kedua pria dihadapannya.


"Dreeet...dreeet..." Ponsel Fauzi bergetar tanda panggilan masuk.


Fauzi melirik ponselnya dengan tetap mengunyah dan sendok masih ditangannya.


"Ya Ampuuun...sampai lupa...Aku ada janji sama Koko Samsir pukul dua siang." Fauzi melihat pergelangan tangannya, lalu meletakan sendok dan garfu dipiringnya. Fauzi menggeser tombol hijau dilayar ponselnya.


"Halo....Baik Ko...Aku segera meluncur..." Fauzi kembali menutup Panggilan singkatnya. Dia menyeruput minumannya, lalu memgambil tisyu dan mengusapkannya dimulut, terlihat terburu-buru. Diambilnya dompet disaku celana dan mengeluarkan uang 5 lembar seratus ribuan.


"Dek...Maaf, Kak Aji harus bertemu Koko Samsir, dia sudah menunggu." Kata Fauzi sambil berdiri dari tempat duduknya dan menyerahkan uang ke arah Afifa untuk membayar makanannya.


"Tapi Kak..." Jawab Afifa


"Ka Aji pakai motor kamu dulu ya. sudah terlambat." Fauzi memotong ucapan Afifa.

__ADS_1


"Terus Afifa pulangnya?" Tanya Afifa bingung dengan sikap terburu-buru suaminya.


Fauzi melirik Farid yang sama bingungnya. "Rid...Maaf ngerepotin, boleh minta tolong nanti anterin Afifa pulang ke rumah ya...Aku buru-buru banget. Tau Sendiri Koko Samsir orangnya disiplin, kalau telat dikit aja bisa-bisa batal dech kontrak kita." Fauzi memohon, tidak peduli dengan ekspresi kaget dari Farid dan istrinya.


"Tapi Kak...aku gak bisa...." ucap Afifa


"Sudahlah...kalian masih boleh berteman kok..." Lanjut Fauzi tersenyum sambil mengambil kunci motor yang tergeletak di meja, membalikan badannya dan melangkah ke arah pintu. "Eh...kalian pulangnya setelah habiskan makanannya ya Dek..." Kembali menoleh kebelakang kemudian berlalu meninggalkan Afifa dan Farid yang masih kebingungan.


Afifa terdiam masih memegang sendok ditangannya. dipandangnya uang yang diberikan Fauzi dihadapannya dengan kesal.


Perasaannya penuh dengan kekecewaan, kenapa suaminya tega meninggalkan dia bersama pria lain disini, belum lagi rencananya kali ini benar-benar gagal, dan ah...apakah Farid benar-benar minta izin pada suaminya untuk berteman dengannya. Afifa tidak habis fikir.


Farid menyadari kekesalan diwajah Afifa. dia mencoba untuk memulai pembicaraan.


"Fa...kamu gak suka ya duduk disini bersamaku?"


Afifa mengangkat kepalanya. "Ah...Enggak."


"Habiskan dulu makanannya. mubadzir lho..." Farid tersenyum sambil melanjutkan menyuapkan makanannya sendiri kemulutnya.


Afifa mengangguk. dan mengaduk aduk baksonya, lalu memakannya sedikit, entah kenapa bakso yang menjadi paforitnya kini terasa hambar dilidahnya.


"O ya Fa...Bagaimana kabar Sofi?" Tanya Farid mencoba mengalihkan pembicaraan agar tidak ada rasa canggung diantara mereka.


"Baik." Jawab Afifa singkat.


"Bagaimana kelanjutan hubungannya dengan Asfir?"


"Asfir?" Afifa mengernyitkan dahinya mengingat-ingat nama yang disebut Farid. "Siapa ya?"


"Asep Firman...Keamanan pondok dulu." jelas Fauzi


"Haha....sejak kapan namanya berubah jadi Asfir?" Afifa merasa geli mendengar nama Asfir, kayak nama buah gitu.


Seketika mereka berdua tertawa mendengar penjelasan Farid.


"O ya...Orang Sunda itukan banyak yang namanya asep ya...kaya resto ini ni...ASTRO singkatan dari ASEP STROBERY...haha..."


Afifa tertawa lepas mendengar ucapan Farid. Rupanya Afifa baru sadar kalau didepan resto ini ada patung berbentuk srtobery yang sangat besar, menandakan hubungan pemilik restorant dengan strobery...😀. "Bahkan ada paguyubannya juga lho...PAGUYUBAN KANG ASEP...Aku dengar mereka sampai punya grup gitu, sesekali semua orang yang bernama Asep di seluruh penjuru dunia berkumpul disuatu tempat dan mengadakan suatu acara". Afifa menjelaskan dengan antusias tentang keunikan orang Sunda kepada Farid. Farid kan Orang semarang.


"O ya... haha...kayaknya seru tuh..." Mereka berdua tertawa karena ucapannya sendiri.


Baru kali ini Afifa tertawa lepas setelah menikah, Entah kenapa suasananya terasa begitu hangat dan akrab, membuatnya sejenak melupakan semua masalahnya.


Farid begitu senang melihat Afifa tertawa lepas seperti tanpa beban.


"Apa Sofi pernah cerita soal Asfir yang bermaksud melamarnya?" Farid melanjutkan pertanyaannya.


"Uhuk...uhuk..." Tiba-tiba Afifa yang sedang minum tersedak mendengar ucapan Farid. "Apa? melamar?" Tanya Afifa setelah kembali mengontrol saluran tenggorokannya.


"Iya...Asfirkan sejak dulu suka sama temen kamu Sofi...Cuma dia tuh kebanyakan malu..." Farid meyakinkan.


"Dari mana kamu tau?" Afifa masih belum percaya.


"Tentu saja dari Asfir."


Afifa kembali mengernyitkan dahinya minta penjelasan.


"Jadi gini...pas Acara Reuni pondok tahun kemarin, aku datang ke pondok dan bertemu dengan teman-temanku, kami saling tukar nomor, dari situ aku jadi tau setiap kegiatan temenku, termasuk Asfir."


"Ooo..." Afifa hanya ber oh ria.

__ADS_1


"Dan waktu itu aku dan Asfir sempat menanyakan alamat Sofi dan kamu juga Fa ke ruang Rois."


Afifa langsung terdiam mendengar ucapan terakhir Farid, senyumnya langsung hilang. dan itu membuat Farid menyesal telah mengatakannya.


"Tapi sudahlah gak perlu bahas itu. Nanti coba dech kamu tanya ke Sofi..." Ucap Farid mengalihkan pembicaraan.


"Heemm..." Jawab Afifa singkat.


"Sampai kapan kamu di Bandung?" tanya Afifa.


"Aku kontraknya 6 bulan. mudah-mudahan dua bulan lagi kontraknya selesai." Jawab Farid.


"Ooo..."


"Kenapa? takut aku pergi ya? haha..."


"Ih...apaan si...gak lucu..."


"Haha...maaf bercanda. Kamu juga gak mungkin berpaling dari Pak Fauzi yang sempurna itu kan?" Goda Farid sambil tertawa.


"Tentu saja..." Jawab Afifa yakin.


"Jadi iri dech sama Fauzi..." Farid kembali menggoda Afifa...


"Udah Ah...istighfar kamu Kak..." jawab Afifa cemberut.


"Astaghfirulloh...aku udah goda istri orang ya...haha"


"Ih...gak ikhlas tuh istighfarnya..."


"Ya...gimana lagi...abisnya..."


"Apa?..."


"Enggak apa-apa si..." Farid terus tertawa meledek Afifa.


Makanan didepan mereka sudah habis.


"Udah mau ashar ni. Aku pulang dulu Kak." Afifa melirik pergelangan tangannya.


"Ya udah...aku antar ya." Farid bangkit dari duduknya.


"Nggak usah...aku bisa naik angkot." jawab Afifa tersenyum.


"Eh...kamu itu udah dititipin sama aku lho sama suamimu. jadi ini tanggung jawabku memastikan kamu selamat sampai tujuan." Ucap Farid dengan ekspresi bak seorang pahlawan.


"Apaan si...lebay tau....ini kan siang bolong, banyak angkot pula dari sini yang langsung sampai rumah." Afifa mengibaskan tangannya kehadapan Farid.


"Ya...gak jadi dianter dong" Ucap Farid kecewa namun tetap dengan candaan.


Afifa hanya tersenyum dan menggeleng. Dia bangkit dari duduknya dan menuju kasir, membayar makanannya. lalu memutar tubuhnya ke arah Farid yang masih duduk dikursi. "Aku duluan ya..." melambaikan tangan ke arah Farid.


*****


Bersambung...😊❤...


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hai Readers...jangan lupa like dan komennya ya...juga klik "Vote" diberanda depan.


Terimakasih dukungannya...

__ADS_1


Komentar kalian tetap yang bikin Author semangat...😉


Love...love...love...❤❤❤❤❤❤😙😙😙


__ADS_2