
Afifa hanya tersenyum dan menggeleng. Dia bangkit dari duduknya dan menuju kasir, membayar makanannya. lalu memutar tubuhnya ke arah Farid yang masih duduk dikursi. "Aku duluan ya..." melambaikan tangan ke arah Farid.
Afifa keluar dari pintu resto, melangkah menuju pinggir jalan raya.
Kepalanya celingak celinguk mencari angkot tujuan rumahnya yang lewat.
"Tunggu di bawah pohon itu aja Fa...biar aku yang cari angkotnya." Ucap Farid menunjuk ke pohon rindang didepan resto, ternyata dia sudah berada di belakang Afifa.
"Nggak usah...aku aja." jawab Afifa
"Ini panas lho Fa...mataharinya terik banget. udah tunggu aja."
Afifa pun mengikuti saran Farid, memang sore itu matahari masih terasa terik. Afifa berjalan menuju bawah pohon.
Tak lama Angkot berwarna hijau jurusan rumah Afifa berhenti didepan Farid yang melambai-lambaikan tangannya. Farid memanggil Afifa dengan isyarat tangan.
Afifa menghampiri angkot itu, dan Farid mengantarnya memutari angkot menuju pintu disebelah kanan.
"Makasih ya Kak..." ucap Afifa sebelum berpisah.
"Sama-sama..." Jawab Farid. "Bang...pastikan Nona cantik ini selamat sampai tujuan ya..." Teriak Farid pada Abang angkot.
"Siap Mas..." Kata Bang supir tersenyum...diikuti senyuman penumpang lain didalam angkot. Afifa hanya tersenyum.
"Hati-hati Fa...sampai ketemu lagi..." Ucap Farid dengan suara agak meninggi karena angkot hampir melaju.
Afifa mengangguk dan merasa canggung juga jadi pusat perhatian para penumpang sambil senyum-senyum kearahnya.
"Pacarnya ya neng...?" Tanya seorang ibu muda sambil memegang belanjaannya yang cukup banyak.
"Bukan Ceu...Teman." Jawab Afifa tersenyum.
"Oh...perhatian banget kayak pacarnya"
Afifa hanya tersenyum kearah ibu itu.
Selama perjalanan Afifa termenung, fikirannya kembali terlintas pada keakraban dirinya dengan Farid di restaurant tadi. Afifa tidak menyangka Farid bisa sehangat dan seakrab itu berbincang dengannya. Jujur saja, meski Afifa pernah punya status pacaran dengan Farid dulu, tapi sebenarnya dia tidak pernah berbicara berdua langsung dengannya, hanya beberapa surat cinta yang dititipkan lewat teman satu kelas disekolahnya, tentunya sudah jadi langganan sebagai tukang pos dadakan waktu itu... haha... Jika sesekali ingin bertemu tentunya Sofi selalu jadi penengah mereka, dan waktu SMU mereka masih jaim-jaiman gitu...tidak sehumble Farid yang sekarang... Ya...namanya juga kisah cinta dipondok, mana berani Afifa ngobrol berduaan saja...takut yang ketiganya Syetan...😀. Sofi kali setannya...😀...Ups...😉😉😉.
Sekitar 20 menit Afifa sampai didepan rumahnya. Dia kembali ke toko suaminya untuk mengambil tas ranselnya, lalu berjalan menuju rumahnya.
Afifa bergegas membersihkan dirinya karena sebentar lagi waktu ashar tiba.
*****
Sudah hampir pukul tujuh malam Fauzi belum juga pulang. Afifa menelphon suaminya. Fauzi mengangkatnya dan mengatakan kalau dia akan pulang larut malam.
"Hhhhhhhh...." Afifa menghela nafas panjang. Kalau pulangnya larut aku gak bisa tanya malam ini donk... gumamnya. Afifa bergegas kedapur untuk menyiapkan makan malam. Siapa tau suaminya pulang cepat dan belum makan malam. Selesai dengan masakannya dia Sholat isya, lalu kembali duduk di sofa menonton televisi sambil menunggu suaminya pulang.
"Klik..." Suara pesan masuk. "Assalamualaikum..." tertulis dipesan Whatsaap.
Afifa berfikir sejenak, tidak ada nama dikontak pengirim, dia lihat profilenya tertulis beberapa tulisan huruf Arab yang intinya memberi motivasi. Afifa mengabaikannya.
"Klik..." bunyi pesan kedua. Afifa membukanya. "Jawab salam itu wajib lho..."
Siapa si...? tanya Afifa dalam hati.
diapun membalas pesan itu.
"Waalaikum Salam Warohmatulloh... Maaf...dengan siapa ya?" pesan terkirim.
"Wah...sudah lupa ya sama teman? 😉"
Afifa heran, keningnya berkerut. "Teman?" pesan terkirim.
"Iya...teman...kita berteman kan? aku sudah ada izin lho dari suamimu...😀"
"Ah...Kak Farid?" Afifa tertawa sudah bisa menebaknya.
"Siapa lagi 😅"
"Ada apa ya Kak...?" tanya Afifa to the point.
"Cuma mau memastikan kalau kamu selamat sampai rumah..."
"Ih...So perhatian banget...yang diperhatiin juga istri orang kali...yeeey..."
"Haha...udah tahu kali... gak usah di ingetin juga."
"Emang harus diingetin...biar gak kebablasan tuh godain istri orang 😀."
"Sebenarnya alu lagi bosan aja si...iseng-iseng cek nomor kamu."
__ADS_1
"Terus?"
"Ya...gak apa-apa hehe...O iya gimana skripsi kamu? beres?"
"Masih proses hehe..."
"Apa ada yang bisa aku bantu? Aku masih banyak buku referensi lho, aku kan baru lulus."
"Nggak usah...lagian jurusan kita beda, mana ada jurusan teknik sama pendidikan referensinya sama..."
"Ya kali aja Afifa... Kan ilmu dasarnya mh sama aja..."
"Iya juga sih...tapi gak usah deh..."
"Kenapa? Apa perlu aku minta izin dulu sama suamimu...?"
"Apaan si...mulai dech..."
"haha...ya udah aku kasih referensinya ya... nanti kamu kasih tau informasinya lewat Chat aja, tentang judul dan tema skripsi kamu."
"Iya dech...🖒"
"Assalamualaikum." Afifa mengakhiri chatingannya.
"Waalaikum salam."
*****
Pukul sepuluh malam Fauzi baru sampai kerumahnya. Afifa yang sudah tertidur diatas sofa terperanjat bangun mendengar suara motor berhenti didepan rumahnya.
Dia bergegas membuka pintu.
"Assalamualaikum" Ucap Fauzi
"Waalaikum salam. Kok larut banget pulangnya Kak?" Afifa mencium tangan suaminya.
"Iya...tadi sekalian lihat lokasi proyeknya."
"Oh...Sudah makan?" tanya Afifa.
"Sudah, tadi langsung makan bareng Kok Samsir. Gak enak juga nolak tawarannya... Apa kamu belum makan?" tanya Fauzi yang melihat ekspresi kecewa diwajah istrinya.
"Ah...gak apa-apa...Fifa gak lapar kok." Memaksakan tersenyum, padahal dia kecewa sudah lama menunggu suaminya untuk memakan masakannya.
"Makanlah dulu sebelum tidur, Nanti kalo sakit kita semua yang repot." Fauzi berlalu ke kamar mandi meninggalkan Afifa yang masih berdiri.
Apa? Cuma gitu aja...? Gak ada perhatiannya banget si sama istri... gumam Afifa kesal.
Afifa juga sudah tidak berselera makan, dia bergegas ke dapur dan memasukan makanannya kedalam pemanas.
*****
Hari-hari berlalu Fauzi semakin sibuk saja, Apalagi setelah rencananya membuka cabang toko atas kerjasama dengan Kok Samsir sudah berjalan. Sedikit sekali frekwensi pertemuan mereka, hanya malam hari, itupun kadang Fauzi pulang larut. Begitupun Afifa, dia fokus menyelesaikan tugas akhirnya. Dengan bantuan Farid Afifa mampu dengan cepat menyelesaikan skipsinya, meski jarang bertemu, Farid selalu memantaunya dan memberi berbagai masukan tentang skirpsinya.
*****
Satu bulan berlalu, Hari ini Afifa merasa senang karena sudah melaksanakan ujian sidang skripsinya. satu tandatangan sudah ia dapatkan, hanya beberapa point saja yang perlu direvisi.
Afifa barusaja keluar dari ruang sidang saat waktu menunjukan pukul 4 sore, dia sempatkan ke mushola lalu berjalan menuju parkiran mengambil motornya.
"Kriiiing...kriiiing.. " Suara ponsel Afifa. Afifa segera morogoh tasnya mencari-cari benda yang menimbulkan suara. mengambilnya dilihatnya panggilan masuk dari nomor yang dikenalnya, " Kak Farid". Dia mengusap layar ponsel, menerima panggilan.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikum salam. Fa... aku ada dikafe depan kampusmu. aku tunggu ya."
"Hah...ada apa Kak?" tanya Afifa heran, baru kali ini Farid menemuinya dikampus.
"Datang saja. aku tunggu ya...Assalamualaikum."
"Trup"...suara panggilan di tutup.
"Waalaikum salam." jawab Afifa pelan, masih heran.
Afifa kembali menyimpan helm yang sempat dipegangnya tadi ke atas motor, lalu berjalan menyebrang jalan menuju kafe yang berada tepat didepan kampusnya. Afifa mencari-cari sosok Farid yang ternyata berada di bangku pojok belakang sudah menunggunya. Farid melambaikan tangan mengisyaratkan keberadaannya, Afifa ragu-ragu melangkahkan kakinya, Kok kesannya kayak orang pacaran gitu ya, pake duduk di pojokan lagi. Gumam Afifa.
"Fa...." panggil Farid yang melihat Afifa masih berdiri didepan kafe. "Disini..." sambil mrlambaikan tangannya kembali.
Afifa terpaksa masuk dan menghampiri meja yang diduduki Farid. Afifa melihat berkeliling, kafe itu lebih sepi dari biasanya. hanya ada 2 pelanggan disana, mungkin karena kelas bawah sedang libur, hanya ada mahasiswa semester akhir saja yang sedang ujian sidang, mungkin karena tegang mereka tidak duduk santai-santai di cafe, kebanyakan sedang menunggu giliran dipanggil, karna Afifa berinisial A, jadi dia lebih dulu masuk ke ruang sidang.
"Ada apa Kak...?" tanya Afifa lagi masih berdiri.
__ADS_1
"Duduklah..."
Afifa duduk berhadapan dengan Farid
"Gimana Sidangnya lancar?" tanya Farid
"Alhamdulillah...lancar. O ya...makasih ya Kak, udah bantu Afifa."
"Eits....kita kan teman, gak usah deh makasih-makasih segala. lagian aku gak banyak bantu kok...itumh emang dasarnya kamu aja yang cerdas sejak dulu haha..."
"Ya.. tapi kan tetep aja Kak Farid banyak bantu Fifa...Kak Farid juga dulu gak kalah cerdas, juara Umum lagi..." Afifa mulai tersenyum.
"Ha ha...jadi pengen balik ke masa lalu..." Farid cengengesan.
"Ah...mulai lagi dech..." Afifa tertawa, Entah kenapa Farid selalu membuat Afifa tertawa.
"Ha..ha...bercanda..." Farid mengibaskan tangan dihadapannya. "O ya...mau makan apa Fa...?"
"Eeemmmm" Afifa berfikir
"Pasti bakso ya...haha..." Farid menebak pesanan Afifa, dia tau betul sejak dulu Afifa sangat suka makan bakso.
"Ih tau Aja..."
"Tau donk...haha..." Farid berdiri "Teh...Bakso 2 ya. sama es teh manis 2." teriak Farid pada pelayan Kafe.
Sebenarnya Afifa sudah gelisah, merasa tidak nyaman duduk disana, bagaimana kalau tiba-tiba saja Sofi tau pertemuannya dengan Farid, bisa salah faham dech.
"O...ya Fa...aku boleh tanya gak?" ucap Farid.
"Hmmm...kenapa?" Afifa mengangkat wajahnya
"Apa kamu punya masalah?" Farid memperlihatkan wajah serius, dengan pandangan menyelidik.
"Maksudnya?" Afifa mengkerutkan keningnya, berusaha tersenyum.
"Masalah... Ya masalah apa aja."
"Enggak...aku gak punya masalah kok..." tersenyum agak dipaksakan.
Pesanan mereka datang. "Makasih teh.." ucap keduanya. pelayan kafe mengangguk dan berlalu.
"Yakin?" Masih dengan tatapan selidik.
"Heem..."jawab Afifa singkat sambil menyuapkan mie bakso kemulutnya untuk menutupi tingkahnya yang kaku. Setelah beberapa lama mereka makan, Farid memulai lagi pembicaraannya.
"Apa kamu punya masalah dalam rumah tanggamu?" tanya Farid lagi
"Uhuk...uhuk..." Afifa yang sedang makan tersedak. reflek tengannya menyambar minuman dihadapannya.
"Maaf..." Ucap Farid menyodorkan tisu ke hadapan Afifa.
"Maksudnya apa ya Kak?" Tanya afifa dengan suara agak meninggi tanda tidak senang.
"Aku tahu aku tidak punya hak menanyakan hal pribadimu. Tapi aku hanya ingin kamu bahagia Fa..."
"Kenapa kamu bisa menyimpulkan kalau aku tidak bahagia?" Afifa berhenti mengunyah makanannya. disimpannya sendok dan garfu yang dipegangnya diatas mangkok yang masih terisi bakso setengahnya.
"Aku tahu Fa...Aku sangat mengenalmu, Maaf...kalau selama ini aku diam-diam selalu memperhatikan perilaku dan kehidupanmu."
"Apa??? atas dasar apa kamu ikut campur urusan pribadiku." Afifa bangkit dari duduknya. hendak melangkah, tapi langkahnya tertahan dengan tangan Farid yang menarik tangannya.
"Tunggu Fa...Aku mohon jangan membenciku."
Afifa mengibaskan tangannya. lalu pergi meninggalkan kafe menuju kampusnya. Afifa berlari menuju toilet kampus, sempat kakinya tersandung karena pandangannya tertutup oleh cairan bening yang mulai menggenang dikelopak matanya.
Farid berdiri hendak menyusul Afifa, tapi dia merasa percuma, tidak enak juga mulai diperhatikan pengunjung kafe yang lain. diapun hanya memperhatikan penggung Afifa yang berlari menjauhinya sampai tak terlihat lagi.
*****
Bersambung....😊❤...
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Maafin Author ya...lama gak Up... makanya kasih semangat dong...tinggalin jejak kalian dengan berbagai komentar ya...
Sebenarnya Author bukanlah penulis hebat ... Aku hanya senang bercerita dan menulis... jadi rating atau yang lainnya bukan masalah... 😉
Hanya saja kalau gak ada komentar jadi sedih juga sih...kadang mikir...
"mungkin Novelku jelek ya...orang2 pada gak suka...makanya di setiap part nya sering kosong komentar ...😭😭😭. "
__ADS_1
haha ngarep banget si lu thor...