
Afifa ingin sekali berteriak ... bak seorang istri yang mendapati suaminya selingkuh dihadapannya, tapi dia tidak serendah itu, dia tahan semua perasaannya, menunggu dan tetap menunggu sampai mereka sendiri yang memanggilnya.
30 menit berlalu, Afifa masih bertahan ditempatnya, dia membuka ponselnya untuk sedikit mengurangi kegelisahannya, sekedar membalas beberapa chat dari teman-temannya.
"Afifa..." Suara panggilan seorang Wanita menghentikan gerakan jarinya, dia menoleh, rupanya Wulan sudah ada dihadapannya, "Ayo makan dulu, pesanan sudah datang, tuh suamimu sudah menunggu", ucapnya kemudian, lalu dia berjalan menuju putrinya yang sedang asyik bermain mandi bola.
Afifa bangkit, lalu berjalan menghampiri Fauzi yang sedang konsentrasi menelpon seseorang, dia duduk dikursi tepat disamping suaminya.
"Eh sayang, sudah mainnya? ayo makan dulu!" ucap Fauzi santai.
Afifa hanya terdiam, dia merasa aneh dengan situasi ini, mengapa suaminya begitu santai setelah bicara dengan Wulan? Afifa semakin penasaran, apa sebenarnya
yang mereka bicarakan tadi?
"Kak...Apa tadi..." Ucapan Afifa terhenti karena kedatangan Wulan, dia datang sambil menuntun Talita.
"Nah...makanannya sudah datang, ayo makan dulu sayang", Ucap Wulan kepada putrinya, lalu Wulan duduk tepat dihadapan Fauzi, dan putrinya duduk disamping Fauzi. Empat piring Nasi, ayam goreng krispi saus dan sayuran lengkap dengan minuman sudah tersedia dimeja yang berbentuk bundar itu.
Afifa memandangi Fauzi dan Wulan bergantian, dia tidak habis fikir, ekspresi mereka sama, tidak canggung sedikitpun, Apa mereka sudah membuat satu kesepakatan? fikir Afifa.
"Talita mau Paman ambilkan ayamnya?" tanya Fauzi.
"Iya Paman" jawabnya sambil tersenyum.
"Jangan lupa baca Do'a dulu"
"O iya, Talita hampir lupa Paman" Talita segera mengangkat kedua tangannya dan berdo'a, Fauzi mengambil sepotong ayam dan diletakannya dipiring Talita. mereka terlihat begitu akrab layaknya seorang ayah bersama putrinya. Wulan tersenyum melihatnya.
Afifa hanya terdiam melihat pemandangan dihadapannya, ada perasaan aneh uang muncul difikirannya, mengapa rasanya begitu sakit? dia alihkan pandangannya kearah sepiring nasi yang ada dihadapannya, matanya berkedip-kedip, dia mengucek matanya beberapa kali untuk memperjelas pandangannya, mengapa nasi itu seolah menertawakan dirinya.
Ya Ampun...apa yang terjadi padaku? gumam Afifa.
Dia kembali mengangkat kepalanya, dilihatnya Talita sedang tersenyum kearahnya.
"Bu Guru kenapa diam saja, ayo makan, ini enak lo" Ucap bibir mungil Talita.
Afifa segera menepis fikiran aneh itu, dan berusaha tersenyum, ya... hanya anak itu yang membuat dirinya kuat saat ini.
Fauzi menatap Afifa, "Dek...makanlah!" tangan Fauzi memegang tangan Afifa yang kaku diatas meja, mungkin dia sedikit kaget karena tangan Afifa begitu dingin.
Tapi Afifa segera menarik tangannya, tidak nyaman juga karena berada dihadapan Wulan juga Talita.
"O Iya" jawab Afifa singkat, lalu mulai memasukan sesendok nasi putih tanpa lauk kemulutnya.
Fauzi yang sadar dengan kegelisahan istrinya, segera mengambilkan lauk untuknya, merekapun makan tanpa suara, kecuali Talita yang tak henti-hentinya berceloteh membuatnya semakin menggemaskan dan sedikit menghibur suasana hati Afifa yang sedang tak menentu.
Setelah selesai makan, Fauzi mengajak Talita jalan-jalan dan meninggalkan Afifa bersama Wulan dimeja itu, mungkin Fauzi sengaja melakukannya agar Wulan dapat bicara langsung dengan Afifa.
Kecanggunganpun terjadi, Afifa hanya terdiam, sambil meremas-remas jemarinya dibawah meja.
"Afifa..." Wulan memulai pembicaraannya.
"Ya..." jawab Afifa
"Sudah berapa lama kalian menikah?"
__ADS_1
"7 bulan lebih Mbak"
"Emmm...sudah cukup saling mengenal ya"
Afifa terdiam, tidak mengerti arah pembicaraan Wulan, dari nada bicaranya dia sama sekali tidak sedang bertanya.
"Apa kau sangat mencintainya?" Ucap Wulan lagi.
Afifa mengangkat kepalanya, menatap Wulan, wanita itu sama sekali tidak memandangnya, pandangannya lurus menerawang menatap eskalator naik turun yang sedang melaju dihadapan mereka.
"Tentu saja" Jawab Afifa, entah darimana datangnya keberanian itu, hati kecilnya seolah ingin mempertahankan miliknya.
"Aku juga dulu sangat mencintainya, bahkan aku mencintainya seperti orang gila saja". Ucap Wulan kemudian dengan nada santai tanpa mengalihkan pandangannya, "Aku akan melakukan apapun untuk mendapatkannya, bahkan meski harus memberikan kehormatanku sekalipun".
"Deg..." Jantung Afifa berhenti sejenak, meski dia sudah tau cerita itu dari Fauzi, tapi saat dia mendengarnya langsung dari wulan, ucapan itu seperti terdengar menakutkan.
"Mungkin suamimu sudah menceritakannya padamu, sehingga kau rela datang kepadaku untuk meminta maaf atas nama suamimu, benarkan?" tanya Wulan.
"Benar Mbak". Ucap Afifa pelan.
"Dulu aku juga sempat mencari keberadaan Fauzi, tapi aku tidak menemukannya, aku juga tidak punya keberanian untuk menanyakannya ke pihak sekolah, karena orang tuaku yang selalu over protektif terhadapku".
"Maaf Mbak...kalau boleh tau, bagaimana kondisi Mbak Wulan setelah kalian tidak pernah bertemu lagi?"
Wulan tersenyum memamdang Afifa, lalu pandangannya kembali kosong menerawang ke arah eskalator, "Setelah kejadian itu, pagi-pagi sekali Orang tuaku datang ketempat kostku, mereka begitu kaget saat melihat putrinya yang sedang tertidur tanpa sehelai pakaianpun menempel dibadanku, badanku yang polos hanya ditutupi selimut, pakaianku berserakan dikamar ditambah dengan bau Alkohol yang menyeruak disana" Wulan menghela nafas panjang.
Afifa masih setia mendengarkan cerita Wulan.
"Melihat kondisiku saat itu, Ibuku tiba-tiba pingsan dan dilarikan ke Rumah Sakit, dan ayahku langsung membawaku pulang dari tempat kost, aku juga tidak diizinkan datang lagi ke sekolah, bahkan hanya untuk mengambil ijazahku. Cukup lama ibu dirawat di Rumah Sakit, sampai aku tau ternyata beliau terkena serangan jantung kronis, ayahku terus saja menyalahkanku, dan itu semakin membuatku tertekan. Ibuku berbulan-bulan dirawat di Rumah Sakit sampai perawatannya dipindakhan ke Jakarta, 4 bulan sudah ibu dirawat, namun Tuhan berkehendak lain, semua usaha kami tidak membuahkan hasil, ibuku meninggal". Wulan menitikan airmatanya, Afifa semakin iba melihatnya.
Setelah 6 bulan aku mulai menyadari perubahan fisik dalam diriku, aku baru sadar akan dosa yang pernah aku lakukan, aku tidak berani mengatakannya pada siapapun termasuk ayahku, aku tidak mau semakin menambah beban fikirannya, aku mengambil cuti satu minggu dan kembali ke Bandung berniat untuk mencari Fauzi, dengan alasan ingin menengok makam Ibu, aku mendapat izin dari ayah, aku berangkat dengan bis malam.
Ketika diperjalanan, tepatnya di tol Cipularang, Bis kami mengalami kecelakaan, karena kelalaian supir yang mengantuk, saat itu aku terpelanting, perutku terbentur keras pada besi pegangan bis yang berada dibelakang supir, aku dilarikan kerumah sakit, dan ternyata aku keguguran," Air mata Wulan kembali mengalir deras, terlihat dia sangat berusaha melanjutkan ceritanya.
Afifa menggeser tempat duduknya, lalu memegang tangan Wulan yang sangat dingin, Afifa merasa sangat prihatin dengan kisah pilu yang pernah dialami wanita dihadapannya.
"Jika Mbak Wulan sudah tidak sanggup lagi, tidak perlu diteruskan Mbak..." Ucap Afifa sambil menepuk-nepuk punggung tangan Wulan.
"Tidak apa-apa Afifa, aku harus menjelaskan semuanya padamu, agar tidak terjadi kesalah fahaman lagi". jawab wulan sambil berusaha tersenyum dan mengusap airmatanya dengan tisyu yang dipegangnya.
"Baiklah...tapi Mbak minum dulu ya!" Afifa memberikan segelas air putih kepada Wulan.
Wulan mengambilnya dan meminumnya setengah, "Aku sangat terpukul saat mengetahui aku telah kehilangan janinku, aku menangis histeris, bagaimanapun janin itu adalah buah cintaku dengan Fauzi. tapi kini semuanya sudah hilang, tidak ada lagi alasanku untuk mencarinya, karena akupun sadar bahwa semua yang kami lakukan dulu adalah suatu kesalahan yang tidak sengaja kami lakukan, atau lebih tepatnya, kesalahanku lebih besar disana, karena dengan sengaja aku menggodanya dengan memasukan obat tidur kedalam minumannya, hanya karena egoku yang ingin mendapatkan cintanya". Wulan terdiam sejenak, dan menatap Afifa.
Afifa hanya menggigit bibirnya, tidak percaya dengan tindakan nekat yang dilakukan wanita dihadapannya, hanya karena ingin mendapatkan cinta seorang pria.
Wulan kembali menarik nafas panjang, "Saat itu, ada seorang polisi yang mengantarkanku ke Rumah Sakit, mungkin dia merasa kasian padaku, karena tidak satupun keluarga yang bisa dihubungi, waktu itu ayahku tidak punya handphon apalagi telpon rumah, Selama 3 hari aku dirawat, polisi itu selalu mengunjungiku, membawakan makanan untukku dan dia bercerita banyak padaku, pribadinya sangat santun, bahkan selalu membimbingku untuk sholat lima waktu, aku banyak belajar agama darinya. Dari sana aku tau bahwa dia adalah seorang singel parent, istrinya meninggal saat melahirkan satu tahun yang lalu, aku memutuskan untuk kembali ke Jakarta, dan diantar olehnya.
Sejak saat itu dia banyak membantuku, sampai memasukanku ke sebuah perguruan tinggi di Jakarta, disana aku mengambil jurusan designer sesuai dengan cita-citaku, setelah satu tahun kamipun semakin dekat, aku dibawa kerumahnya, diperkenalkan kepada seluruh keluarganya, dari sana aku bertemu dengan putrinya Talita, umurnya baru 2 tahun, dia sangat manis dan menggemaskan, aku mulai dekat dengannya, aku juga menyayanginya seperti putriku sendiri, seolah-olah aku menemukan kembali putriku yang sempat hilang". Wulan mulai tersenyum,
Afifa tertegun mendengar cerita Wulan, "Jadi...maksud Mbak Wulan, Talita itu bukan anak Mbak Wulan?"
Wulan menggeleng sambil tersenyum, "Dia putri dari Suamiku, kami menikah 4 tahun yang lalu, dan Talita lah yang membuatku bangkit kembali dari keterpurukanku, saat suamiku juga meninggalkanku satu tahun yang lalu".
"MasyaAlloh Mbak...begitu rumitnya perjalanan hidupmu. aku merasa tidak ada apa-apanya dibanding perjuanganmu selama ini". Mata Afifa berkaca-kaca memandang wanita dihadapannya, wanita ini sungguh tegar dan kuat.
__ADS_1
"Jangan terlalu kagum dengan diriku Afifa, karena sesungguhnya, pernah terlintas fikiran jahat di kepalaku". Ucapnya masih dengan senyuman khasnya.
"Maksudnya?" tanya Afifa heran.
"Setelah suamiku meninggal aku memutuskan kembali ke Bandung dengan tujuan ingin mengubur kenangan pahitku di Jakarta, aku membuka butik disini, dengan keahlianku dan modal dari harta peninggalan suamiku aku mampu mengembangkan butikku hingga seperti sekarang ini.
Saat kau datang ke butikku dan mengatakan bahwa kau adalah istri dari Fauzi, tiba-tiba bayangan kelamku kembali muncul, aku merasa begitu sakit mengingatnya, rasa dendam dan rinduku pada sosok pria dimasa laluku bermunculan, aku bertekad untuk mengambilnya darimu dengan menggunakan Talita sebagai kekuatanku. Tapi setelah aku mendapatkan pesan darimu bahwa kau rela melepaskannya untukku hanya untuk mendapatkan satu kata maaf saja untuk suamimu, dari sana aku berfikir betapa besar cintamu untuknya.
Aku mulai menyelidiki asal-usul mu, aku sengaja tidak menghubungimu ataupun mengangkat telpon darimu sebelum aku benar-benar tau siapa dirimu sebenarnya. Dan setelah Apa kiyai menelponku, aku tau banyak tentangmu, kau adalah wanita solehah yang mencintai suaminya dengan ikhlas tanpa mengharapkan imbalan apapun darinya, jauh sekali dengan diriku, yang dengan gila mencintainya, namun menghalalkan segala cara untuk memilikinya." Wulan tersenyum ke arah Afifa, tangannya mengelus-elus punggung Afifa yang hanya terdiam kaku tak bicara, hanya airmatanya yang terus mengalir.
"Afifa...Kau pantas bahagia bersamanya, hiduplah dengan tenang, dampingi suamimu hingga masa tua kalian, Fauzi sangat mencintaimu, Aku sudah memaafkannya, dan mulai sekatang kita lupakan semuanya".
Afifa menatap Wulan, Wulanpun merangkulnya, Afifa menangis dipelukan Wulan, "Terimakasih Mbak..." hanya itu kata yang terucap dari bibir Afifa, dia tidak tau lagi apa yang harus diucapkannya untuk wanita tegar yang ada dihadapannya ini. Cukup lama wulan membiarkan Afifa menangis dipelukannya sampai Afifa merasa tenang.
Afifa melepaskan pelukannya, lalu menatap wajah Wulan, "Mbak Wulan, apa boleh aku tetap dekat dengan Talita?"
Wulan tersenyum, "Tentu saja, dia juga merasa nyaman bersamamu, kau boleh datang kapan saja untuk menemuinya".
"Terimakasih Mbak..."
"O ya...ini sudah cukup malam". Wulan melihat pergelangan tangannya, jam tangannya menunjukan pukul 9.30 malam, "Fauzi mengajak Talita kemana ya? di arena bermain juga tidak ada, biasanya dia sudah tidur jam segini".
"Fifa coba telpon ya Mbak"
"Iya"
Afifa menelpon Fauzi dan langsung dijawabnya, dia akan segera datang katanya.
Tak lama Fauzi datang dengan menggendong Talita yang sudah tertidur pulas dipunggungnya.
"Ya Ampun...Talita sampai merepotkanmu, Maaf ya Zi" ucap Wulan.
"Tidak apa-apa, ayo sekalian kita antar ke mobil ya sayang" Fauzi menoleh ke arah Afifa, Afifa mengangguk.
Wulan segera membayar tagihannya, dan mereka turun bersamaan menuju parkiran, Fauzi menggendong Talita dan membaringkannya dikursi belakang mobil wulan. Mobil Wulan lebih dulu meninggalkan mall besar itu, tentunya setelah berbagai drama saling bermaafan dari ketiganya.
Afifa masih berdiri bersama Fauzi menatap mobil merah milik Wulan sampai tak terlihat lagi. Setelah mobil itu benar-benar hilang, keduanya saling memandang, Fauzi meraih tangan Afifa, keduanya tersenyum, mata Afifa mulai berkaca-kaca, keduanya mendekat dan merekapun berpelukan diiringi isak tangis Afifa dibalik remang-remang lampu malam yang mulai sepi.
*****
Bersambung...😊❤...
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Readers....Author butuh konsentrasi ternyata untuk menulis part ini...
Hmmmm...setelah ini hubungan mereka gimana ya kira-kira??? 🤔🤔🤔🤔🤔
Kasih masukan di kolom komentar dong...😉
Like, komen dan Vote nya masih ditunggu ya... biar rangking SCA naik lagi Readers...
Authornya juga tambah semangat dech...😄
Love you All...❤❤❤❤❤❤😙😙😙😙
__ADS_1
By : @Rahma Khusnul # 😊