
Pagi hari yang cerah, semburan warna merah jambu menyeruak melukis langit di pantai timur Pangandaran.
Afifa nampak segar dengan rambutnya yang masih basah tergerai panjang sampai pinggang, berpakaian santai dengan setelan rok plisket dan atasan kemeja panjang berwarna senada, dia kembali berdiri ditempat pavoritnya, memandang keluar jendela menyaksikan deburan ombak yang berlarian, lengkungan manis terus terukir dibibirnya, menyaksikan indahnya matahari terbit dari ufuk timur, suasana pagi yang memberi kita awal yang baru, kehidupan baru dan harapan baru.
Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa langit itu selalu biru, bunga selalu mekar dan matahari selalu bersinar, tapi Tuhan selalu memberi pelangi disetiap badai, senyum disetiap air mata, dan jawaban disetiap doa.
Afifa mengingat kembali setiap badai yang pernah menerjang diawal pernikahannya, perjuangannya, kesabarannya, hingga untaian do'a yang sering ia ucapkan sebagai pengaduan pada Tuhannya.
Kini pengorbanan itu terasa begitu manis saat ia merasakan indahnya karunia Tuhan yang telah diterimanya, Meski sesungguhnya tuhan memberi bukan semata karena do'a kita, tapi karena RidhoNyalah yang membuat kita memperoleh segalanya, maka sepantasnyalah kita bersyukur atas karunia yang telah diberikan diatas RidhoNya.
Fauzi baru saja masuk kekamar, masih mengenakan sarung dan kopiahnya, dia sengaja sholat subuh di mesjid yang terletak persis dipinggir hotel.
"Masih setia dijendela Dek?" Tanya Fauzi sambil menyimpan kopiah di atas meja.
Afifa tersenyum kearah suaminya, "Iya," Ucapnya.
"Kenapa?" Fauzi mendekat ke jendela, melihat apa yang membuat mata istrinya begitu terpesona.
"Warna langitnya indah ya Kak", Ucap Afifa tanpa mengalihkan pandangannya.
"Iya", Jawab Fauzi, "Mau lihat lebih jelas? ayo keluar!" Ajak Fauzi.
"Ayo", Jawab Afifa semangat.
"Sebentar!" Ucap Fauzi, dia membuka sarungnya lalu Afifa melipatnya, Fauzi memakai celana gunung pendek selutut berbahan kanvas berwarna Abu tua dengan kaos oblong ketat warna abu muda yang nampak pas di perut sixpack nya.
Afifa menatap tubuh pria dihadapannya,
Ya ampun...kalau melihat pemandangan ini, kenapa jadi aku yang pengen bergelayut manja dibahunya? ... hmmm... tapi nanti malah kebablasan lagi, hihi... gak jadi jalan-jalan deh pagi ini...hadeuuuuh Afifa...kondisikan otakmu. Gumam Afifa.
"Kenapa Sayang?" Fauzi menatap istrinya yang bengong melihat kearahnya.
"Hah? oh Enggak, Sebentar!" Ucap Afifa, dia mengambil sporthem casual milik suaminya dari lemari, lalu memakaikannya pada suaminya, dibiarkannya kancing sporthemnya terbuka semuanya, "Nah, begini kan lebih baik" Ucapnya sambil tersenyum merapikan pakaian suaminya.
"Hmmm...kenapa?" tanya Fauzi heran.
"Ini", Ucap Afifa sambil mengelus dada dan perut suaminya yang rata, "Jangan sampai wanita lain melihatnya", Lanjutnya sambil membalikan badan hendak menutup pintu lemari.
"Kenapa? gak rela ya hmm?" Fauzi tersenyum sambil berjalan mendekati istrinya, tangannya langsung melingkar diperut istrinya.
"Tentu saja" Afifa tersenyum.
Fauzi tersenyum semakin lebar, mengeratkan pelukannya dan menjatuhkan kepalanya dipundak Afifa, "Aku sama sekali tidak tertarik dengan wanita manapun selain istriku" Satu kecupan mendarat di pipi Afifa.
Afifa mengelus wajah suaminya, "Tapi bisa saja wanita lain yang tertarik padamu, kita tidak tau kan? jadi jangan mengundang mereka agar tertarik", Afifa melirik suaminya dengan ujung matanya, Fauzi masih setia dengan posisinya. "Meskipun dada dan perut seorang pria itu bukan aurat, tapi tidak baik kalau terlihat oleh lawan jenis yang bukan muhrimnya".
Fauzi melepaskan pelukannya lalu memutar tubuh istrinya, "Baik ibu guru..." Fauzi tersenyum.
"Apalagi...potongannya seperti ini", Afifa tersenyum menatap dada suaminya.
"Ha ha ha...Baiklah-baiklah, Ibu Guru Cantik, hatiku dan tubuhku ini hanya milikmu seorang," Fauzi menarik kepala Afifa kedadanya, tangannya mengelus rambut istrinya yang panjang.
Afifa tersenyum dibalik dada suaminya, "yuk ah keluar!", Afifa melepaskan pelukannya, lalu mengambil jilbab yang sudah ia siapkan terjuntai di kursi riasnya, dia segera mengenakan hijabnya dengan cekatan.
"Ayo Kak", Ajak Afifa pada Fauzi yang masih berdiri memperhatikan dirinya.
Fauzi tersenyum, lalu menggandeng tangan istrinya.
"Dek, kita ke atas, lihat sunrise diatas lebih indah, sekalian sambil sarapan".
"Iya" Afifa tersenyum.
Keduanya menuju restoran yang letaknya berada dilantai paling atas. Dan benar saja, dari restoran yang terbuka itu, warna langit nampak lebih indah, sebuah benda berbentuk bulat kemerahan muncul malu-malu dibalik lautan, bayangannya muncul diatas beriak air, seolah ada dua mentari kembar disana. Seketika langit berubah warna menjadi merah muda, hmmm...sungguh indah ciptaanMu.
Afifa berdiri dipinggir pembatas restoran yang berbentuk kapal pesiar itu, Fauzi menghampirinya, keduanya tertegun memandang lurus kearah munculnya sang mentari.
*****
Matahari sudah beranjak naik, mereka langsung sarapan disana, lalu turun untuk berjalan-jalan dipinggir pantai.
Orang-orang mulai ramai, ada yang berenang, bermain selancar, bermain ombak, bermain pasir, atau hanya sekedar duduk-duduk di warung-warung kecil menikmati semilir angin laut.
Fauzi membeli sebotol minuman dingin dan mengajak Afifa duduk dikursi yang terletak dibawah pohon rindang setelah cukup lama berjalan.
"Minumnya sayang!" Ucap Fauzi setelah membuka tutupnya.
Afifa tersenyum dan mengambilnya, lalu meminumnya beberapa teguk saja, kemudian gantian Fauzi yang meminumnya.
Afifa tak banyak bicara, hanya senyuman yang terpancar dari wajahnya, matanya lurus ke arah lautan, dia menyandarkan kepalanya dilengan suaminya, Fauzi membiarkannya.
"Assalamualaikum..." Ucap seseorang.
__ADS_1
Afifa langsung terperanjat membetulkan posisi duduknya, saat mendengar suara yang dikenalnya.
"Hei...pacaran aja kalian berdua", Asfir tertawa dihadapan mereka.
"Waalaikum salam", Jawab keduanya.
"Hei...sudah sampai kalian rupanya?" Ucap Fauzi. "Jam berapa dari rumah?"
"Abis Subuh, dia udah gak sabaran pengen kesini" Asfir melirik istrinya.
"Kan biar gak terlalu panas Kak...". Jawab Sofi
"Yuk duduk sini Sof" Afifa menggeser duduknya, meraih tangan sahabatnya yang hanya berdiri saja.
Sofi mengangguk lalu duduk, begitupun dengan Asfir, terjadi perbincangan seru diantara mereka.
"Nginap dihotel mana?" tanya Fauzi
"Menara laut" Jawab Asfir. "Kalian dimana?"
"Krisna" Jawab Fauzi. "sudah menyimpan barang-barang kalian?"
"Sudah, kita baru saja turun. Eh...Udah ke pasir putih belum?", tanya Asfir
"Belum" Jawab Afifa dan Fauzi.
"Yuk kita kesana", Ajak Asfir.
"Ayo".
Keempatnya berdiri dan berjalan menghampiri perahu motor yang biasa menyebrangkan pengunjung menuju pasir putih, setelah terjadi perbincangan dengan pemilik perahu, keempatnya naik dan memakai pelampung, perahu pun melesat membawa penumpangnya ke tengah lautan.
Afifa tampak pias saat perahu melayang-layang diatas lautan luas, sesekali deburan ombak membentur perahu, beberapa percikan air membasahi pakaiannya, tangannya berpegangan erat pada tangan suaminya, "Ini aman kan Kak?" tanyanya pada suaminya.
"Kenapa sayang? takut ya?" tanya Fauzi.
"Hehe...iya, agak ngeri aja"
"Tenang aja, ada aku, mamangnya juga udah profesional, iya kan mang?" tanya Fauzi pada pemilik perahu, tangannya menggenggam erat tangan istrinya.
"Iya, tenang aja neng, kita sudah bersertifikat kok", Jawab pemilik perahu sambil tersenyum.
Asfir dan Sofi tersenyum melihat keduanya.
"Wah...bagus ya Fir" Ucap Fauzi, "boleh tuh kita coba"
"Iya, nanti kita sewa peralatan dulu" Jawab Asfir.
"Eh...kalian mau ngapain? mau nyebur kelaut?" tanya Afifa heran, "Jangan ah...nanti kalau tenggelam gimana?"
"Ya enggak lah sayang, kita kan bisa berenang dan pake pengaman pula" ucap Fauzi.
"Ih...enggak ah, tetep aja namanya laut mah bahaya, nanti kalau terbawa arus dan gak balik lagi gimana?".
"Ha ha ha...kayak nya takut banget kehilangan aku istriku ini," Fauzi mencubit dagu istrinya.
"Tentu saja Kak, aku juga takut" Sofi menimpali.
"Ya... Gak jadi snorkeling dong kita" Asfir memelas.
"Ya udah pilih aja, mau kita atau mau snorkeling?" ucap Sofi lagi.
"Iya bener Sof" timpal Afifa.
"Wah...pilihan sulit ini Fir", Fauzi tersenyum melirik Asfir. "Ya udah kita jalan-jalan aja, hayuk mang lanjut pasir putih aja". Memberi kode dengan tangan pada pemilik perahu.
"Mangga A" jawab pemilik perahu sambil menghidupkan kembali mesin motor, perahupun melesat menuju pasir putih.
Perahu menepi, hamparan pasir putih disepanjang pantai nampak begitu indah, meski sebenarnya warna putih itu dihasilkan dari butiran terumbu karang yang terhempas terbawa arus ombak sehingga menepi ke bibir pantai. Mereka membuka pelampungnya dan satu persatu turun dari perahu.
Mereka berjalan menyusuri pantai yang mulai panas, banyak anak-anak bermain air disana sambil mencari terumbu karang dan binatang kecil yang sering disebut kumang. Karena panas Afifa dan Sofi duduk dibawah pohon, sedang suami mereka asyik bermain ombak.
"Fa...aku boleh tanya gak?" tanya Sofi.
"Kenapa?" Afifa balik bertanya.
"Bulan ini, aku tidak datang bulan Fa, apa mungkin aku langsung hamil ya? padahal aku kan baru beberapa bulan saja menikah".
"Udah di tespek belum?"
"Belum,"
"Belum cerita juga pada suamimu?"
__ADS_1
"Belum, aku takut Fa".
"Takut kenapa?"
"Takut kalau Kak Asfir belum mau punya anak, kita kan baru menikah".
"Hei...kok gitu si Sof, tujuan kita menikah itu kan karena ibadah, dan memperoleh keturunan yang soleh solehah, mengandung, melahirkan dan merawat buah hati kita dengan ikhlas, itu adalah ibadah yang sangat besar pahalanya, seorang wanita akan merasa sempurna tatkala dia menjadi seorang ibu, begitupun dengan seorang suami, dia akan merasa sempurna saat jadi seorang ayah, apalagi dari istri yang sangat dicintainya", Afifa tersenyum ke arah sahabatnya.
Sofi mulai tersenyum, "Apa kamu pernah telat datang bulan?"
"hmmmm..." Afifa berfikir sejenak, dia baru sadar kalau bulan ini dia belum datang bulan, seharusnya minggu ketiga menstruasinya sudah datang, tapi ini sudah akhir bulan. "Eh...sebentar, ini tanggal berapa?" Afifa terlihat menghitung jarinya.
"Tanggal 29" Jawab Sofi, agak heran dengan pertanyaan sahabatnya.
"Hahhhh? berarti aku telat Sof..." Afifa menggenggam tangan Sahabatnya, wajahnya terlihat senang, matanya terlihat berkaca-kaca. Bagaimana dia bisa tidak sadar dengan keterlambatan datang bulannya? mungkin karena dia begitu menikmati masa-masa satu bulan terakhir ini bersama suaminya.
"Hah? benarkah?" Sofi tak kalah senang.
"Tapi aku belum yakin kalau belum di periksa," Afifa menatap kosong kearah lautan.
"Gimana kalau sepulang dari pasir putih ini, kita mampir ke apotek, kita diam-diam beli test pack, nanti kalau sudah fositif baru kita bilang pada suami kita". Ucap Sofi.
"Ah... iya benar", Afifa memeluk bahu Sahabatnya, begitupun dengan Sofi, mereka tampak bahagia, memandang lurus kearah lautan yang terbentang sepanjang mata memandang, secerca harapan mereka gantungkan, semoga kebahagiaan yang mereka dapatkan hari ini akan benar-benar hadir ditengah kehidupannya.
"Wah... maen peluk-pelukan nih, jadi iri kita ha ha..."Asfir menghampiri Afifa dan Sofi.
"Ngomongin apa si? seru banget kayanya," Tanya Fauzi.
"Ah... gak papa, iya kan Sof?" Afifa menyikut pelan lengan Sofi.
"Iya, Hanya obrolan sesama perempuan aja hehe..." Sofi menimpali.
"Hmmm...gitu ya," Asfir melipatkan tangannya didada.
"Udah mulai terik ni, kita kembali kehotel aja yuk!" Ajak Fauzi.
"Iya, sebentar lagi adzan dzuhur kayaknya", Jawab Asfir sambil melihat pergelangan tangannya.
Afifa dan Sofi mengangguk, keduanya berdiri, lalu berjalan menghampiri perahu motor yang terparkir dipinggir pantai.
Setelah bernegosiasi dengan pemilik perahu, mereka kembali menuju pantai barat, tak butuh waktu lama, 5 menit saja mereka sudah sampai.
"Kak, aku pamit dulu ke toilet ya", Ucap Afifa saat matanya melihat tulisan apotik, "Ayo Sof!" Ajaknya pada Sofi.
Sofi mengangguk dan tersenyum, sudah mengerti dengan maksud sahabatnya.
"Kita nunggu di warung itu ya", Ucap Fauzi sambil menunjuk ke sebuah warung.
"Iya" Afifa menarik tangan Sofi menuju Apotik, tentunya tanpa sepengetahuan suami mereka. Keduanya membeli test pack masing-masing 2 buah, mereka menyimpannya di tas masing-masing.
"Kalau sudah di tes, apapun hasilnya kasih kabar ya", Ucap Sofi.
"Oke..." Afifa tersenyum sambil mengedipkan sebelah mata.
Keduanya kembali berjalan menghampiri suami mereka yang sedang asyik ngobrol sambil minum air kelapa muda yang langsung dari buahnya.
"Emmm segernya", Kata Afifa sambil duduk dipinggir suaminya.
"Sudah selesai?" tanya Fauzi, "Sini!" katanya lagi sambil menarik tangan istrinya untuk duduk disampingnya, diangkatnya buah kelapa yang sudah ada sedotan diatasnya kehadapan istrinya.
Afifa tersenyum, lalu meminum air kelapa dihadapannya.
Fauzi merangkul bahu istrinya sambil memperhatikan bibir Afifa yang sedang minum dari sedotan yang sama dengan dirinya, seakan tak peduli dengan dua insan dihadapannya yang sedang bengong memperhatikan tingkah keduanya.
*****
Bersambung...😊❤...
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hai Readers...
Mohon maaf, dibulan suci ini, kayaknya aku gak bisa Up tiap hari...
Semoga kalian tetap setia menunggu ...😊
gak Up tiap hari rangkingnya turun drastis 😭😭😭
Ayo kasih vote dan komentar nya readers... biar Authornya tambah semangat...😉
LOVE YOU ALL...❤❤❤❤❤😙😙😙😙😙
By : Rahma Khusnul#
__ADS_1